Pertigaan Cinta

Pertigaan Cinta
( Bukan ) Malam pertama..


__ADS_3

Tadi saat Tama masih berkumpul dengan para orang tua dan Viki ke kamar terlebih dahulu, Syafiqa meminta izin terhadap Tama untuk menemui Viki.


Karena bagaimanapun Viki sudah menjadi tanggung jawab Tama.


" Iya Mamak.. " jawab Viki dari dalam, saat mendengar suara sang Ibu.


Cklek..


" Viki sedang apa... " basa-basi Syafiqa. Sambil masuk kamar sang pengantin.


Viki yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias menoleh." Ini, baru selesai mandi Mamak" jawab Viki tersenyum.


Syafiqa duduk di bibir ranjang, "Nak.. Ada yang ingin Mamak sampaikan".


Viki menghampiri sang Ibu, duduk disebelahnya.


" Nak, kamu sudah menjadi seorang istri, jadi kamu harus melakukan apa yang menjadi kewajibanmu terhadap suami "


Viki hanya diam mendengarkan sambil menunduk.


" Dan satu yang paling penting. Jangan pernah menanyakan perihal laki-laki lain, meskipun itu sepupumu sendiri "


Deg!


Viki mendongakkan kepala seketika.


" Maksud Mamak? " tanya Viki lirih.


Syafiqa tersenyum, di usapnya rambut Viki.


" Mamak tahu apa yang kamu rasakan nak, tentang kamu dan Abang kamu, Reyhan ".


" Mamak... " hanya itu yang bisa Viki ucapkan. Matanya pun sudah berkaca-kaca.


Syafiqa tetap tersenyum, mencoba untuk memenangkan sang putri. Ia genggam kedua tangan Viki.


" Kamu tahu nak... Apa yang kita sukai, belum tentu itu yang terbaik untuk kita " dia mencoba membesarkan hati sang putri. Karena ia tahu bukan hal mudah melepas seseorang yang kita cintai.


" Dan meskipun kamu mencintai Bang Reyhan, Tapi apalah daya jika Allah menjadikan kamu istri Bang Tama ".


Saat dilihatnya Viki menangis, ia langsung memeluk sang putri, sambil mengusap punggung Viki.


" Mamak tidak akan memaksamu untuk melupakan Bang Reyhan. Kamu hanya perlu mencoba membuka hati untuk Bang Tama " nasehat Syafiqa.


" Kamu faham maksud Mamak kan? "


Viki hanya mengangguk sambil masih sesenggukan.


##########


Cklek...


Setelah berkumpul bersama keluarga agak lama, baru Tama naik keatas dan masuk kamar. Saat masuk ternyata Viki sedang tidur, berbalut selimut tebal.

__ADS_1


Namun tujuannya saat ini adalah kamar mandi. Dia harus segera membersihkan diri, karena belum melaksanakan sholat dhuhur, padahal sudah jam dua.


Setelah melaksanakan kewajiban, Tama ikut berbaring di ranjang, sambil memeluk sang istri.


" Aaaaa! "


Belum sempat Tama memejamkan mata, malah dikagetkan dengan pekikan Viki.


" Viki.. Ada apa sayang? " Tanya Tama panik. Ia buru-buru bangun, khawatir jika sang istri mengalami mimpi buruk.


" Abang kenapa masuk kamar Viki?... Viki kan nggak pakai kerudung!! " pekik Viki lagi.


Seketika Tama ngelag.....


Terus masalahnya dimana....


Setelah persekian detik baru Tama tertawa. Ia faham sekarang. Jadi ceritanya Viki lupa kalau sudah bersuami?


Saat melihat Tama tertawa, Viki malah jadi sensi sendiri.


" Abang kenapa ketawa!! "


" Kamu lagi pms ya? " tanya Tama geli.


" Ya, kalau aku pms, masalahnya di Abang apa? " Viki malah jadi tambah sensi.


Tama langsung mengusak rambut Viki, saking gemasnya. Jika Viki sedang marah-marah begini, maka terlihatlah keimutannya.


" Viki... Sayang, coba lihat jari tangan kanan kamu" ujar Tama lembut, setelah tawanya reda. Ia menunjuk dengan dagunya.


Viki yang masih belum sadar setelah bangun tidur, mengikuti arah tunjuk Tama.


" Itu dijari manis kamu ada cincin, sama dengan milik Abang " ujar Tama lembut, sambil menunjukkan jari tangan kanan.


" Itu tandanya kita sudah menjadi pasangan suami-istri, sayang.... Jadi sah saja jika Abang masuk kamar kamu" lanjut Tama bercanda.


Seketika raut wajah Viki berubah murung.


Jadi... Semua itu bukan mimpi? kenapa suamiku bukan Abang Reyhan....


Sadar dengan perubahan raut Viki, Tama pun langsung memeluknya. Sedangkan Viki hanya diam kaku, tidak membalas atau pun menolak.


" Maaf jika Abang memaksakan kehendak. Tapi Abang sangat mencintai kamu. Sudah cukup selama ini Abang berjauhan denganmu, sekarang Abang sudah tidak sanggup lagi ".


Ya, mungkin dia terkesan egois. Tapi, apakah salah jika dia memperjuangkan cintanya? Meskipun terkesan memaksa...


Namun, sangking semangatnya Tama memperjuangkan cinta, sampai dia lupa memastikan perasaan Viki terhadapnya.


##########


Sore setelah acara selesai, Ilham dan Nadhifa langsung kembali ke Jakarta, katanya mereka memiliki acara yang mendesak.


Malam harinya, keluarga kecil Rahman beserta sang menantu, sedang melahap hidangan malam. Kadang diselingi pembicaraan singkat.

__ADS_1


" Mamak, Bapak, saya meminta izin besok akan membawa Viki ke apartemen baru di Semarang kota " tutur Tama lembut, setelah mereka selesai makan. Sedangkan Viki hanya diam menundukkan kepala. Berat rasanya ia harus berpisah dengan orang tua.


" Sebenarnya, saya betah tinggal di sini. Namun, jika menghitung jarak sampai ke restoran, akan lebih dekat dari apartemen ".


Memang kediaman Rahmanuddin terletak di sebuah desa yang asri. Jadi akan terasa jauh jika menempuh perjalanan sampai Semarang kota.


" Apa tidak terlalu buru-buru? ini belum ada lima hari dari akad kalian. Bahkan satu hari saja belum ada " tutur Rahman.


Ya, salah satu adat Jawa, ada yang tidak memperbolehkan pasutri baru, bepergian sebelum sampai lima hari setelah akad. Istilah jawanya sepasar.


" Bapak... Tama dan Viki kesana kan ada urusan pekerjaan. Bukan untuk jeng-jeng. Jadi aku rasa tidak masalah " sela Syafiqa.


" Lagian, apartemen kan memang tempat tinggal Tama di Semarang Pak " lanjut Syafiqa.


Huh! Rahman menghela nafas. Sebenarnya bukan masalah mereka tinggal dimana. Namun, beratnya rasa saat melepaskan putri semata wayangnya.


" Baiklah, kamu suaminya. Jadi kemanapun kamu membawanya, Bapak akan mengizini. Asal kamu harus menjamin kebahagiaan putriku ".


Tama tersenyum " Insya Allah, Bapak. saya tidak bisa berjanji, tapi saya akan berusaha " ucapnya sambil merangkul Viki.


############


Saat Tama dan Viki berada di kamar mereka di kediaman Rahmanuddin, mereka saling diam karena canggung. Lebih tepatnya Viki. Seolah lupa, bahwa tadi siang dia sudah dipeluk oleh Tama, hanya sebatas peluk tidak lebih.


Mereka sudah duduk dengan nyaman di atas kasur.


Sedangkan Tama, sedang fokus pada ponselnya. Entah apa yang sedang dia lihat diponsel.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan ponsel, Tama meletakkan ponsel itu di nakas.


Saat menoleh, ternyata Viki sudah tertidur membelakanginya.


Tama pun ikut merebahkan badan menghadap Viki, sambil memeluk sang istri dari belakang. Di kecupnya kepala Viki bagian belakang gemas, meski tertutup kerudung.


Padahal tadi sudah lihat... kenapa ditutup lagi sih... Gerutu Tama


Tanpa sadar, Tama mengikuti nalurinya sebagai pria. Di sibaknya kerudung Viki, lalu ia kecup tengkuk Viki lama.


" Abang... " ucap Viki lirih.


Viki yang tadi ingin pura-pura tidur pun sudah tidak tahan dengan sentuhan Tama. Bukan karena berhasrat, tapi lebih ke merinding karena pertama kalinya di sentuh pria.


Sadar karena Viki terbangun, Tama pun membalik badan Viki agar menghadapnya.


" Sayang... Bolehkah Abang meminta hak sebagai suami sekarang...? " pinta Tama , sambil mengusap pipi Viki lembut.


Raut wajah Viki yang tadi sudah mengantuk, berubah bingung.


Maksudnya apa...? ?


Bersambung....


Maaf typo bertebaran... Novel pertama guys...

__ADS_1


__ADS_2