
Bukan! Bukannya Viki tidak mau menjalankan kewajibannya. Dia sudah menerima dengan ikhlas pernikahan ini. Apalagi tadi ia sudah diberi wejangan oleh sang ibu. Meskipun, nama Reyhan masih terpatri dihatinya. Tapi....
" Bang... Kan Abang tahu, kalau aku sedang haid ". ucap Viki bingung dengan sikap Tama.
Lemas sudah tubuh Tama. Kenapa ia bisa lupa?...
Dia pun melorotkan badannya, mensejajarkan wajah pada dada Viki. Modus ceritanya...
" Ya sudah lah, aku tidur sambil peluk kamu aja" ucap Tama menduselkan kepala pada dada Viki, dan melingkarkan tangan pada pinggang Viki.
Tubuh Viki langsung menegang.
Ya, memang mereka sudah sah. Tapi, untuk berinteraksi seintim ini, ia masih canggung.
Menyadari ketegangan Viki, Tama pun terkekeh.
" Santai aja sayang... Nggak usah tegang gitu. Lagian juga nggak Abang apa-apain. Kan lagi palang merah " .
Blush...
Kenapa Tama menyadarinya?. Kan Viki jadi malu.
" Abang nggak usah godain aku... ishh " rengek Viki. Begitulah sifat Viki yang sebenarnya, akan terkesan manja.
Sebenarnya, Tama ingat jika Viki sedang haid. Dia hanya berusaha mengakrabkan diri dengan Viki sebagai pasangan suami-istri dengan pura-pura lupa, agar tidak terasa canggung.
" Sayang "... panggil Tama, masih dengan posisi yang sama.
Serr...
Bukan, Bukan karena panggil Tama padanya. Tapi, dia ingat saat-saat Reyhan memanggilnya Sayang . Raut wajah Viki pun berubah sendu, meski Tama tidak melihat itu.
" Kita sudah menjadi suami-istri. Apakah kamu tidak ingin memperlihatkan keindahan mu padaku? " ucap Tama. Membuyarkan lamunan Viki.
" Maksud Abang? " tanya Viki bingung.
Tama mendongakkan kepala. Ia usap lembut pipi Viki.
" Apa kamu akan tetap menggunakan kerudung, meski saat kita berdua dikamar? ".
Deg!..
Apa iya, dia harus membuka kerudungnya?. Tama memang suaminya, tapi dia belum siap. Viki kembali melamun.
Menyadari mungkin Viki belum siap, Tama tersenyum dan berkata " Tak apa jika kamu belum siap. Setidaknya jangan bersikap canggung terhadap Abang " .
Di usapnya pipi Viki lembut " jika kamu tidak bisa menerima Abang sebagai suami, setidaknya bersikaplah seperti Viki, adik Abang yang ceria, manja terhadap Abang "
" Abang tidak ingin kita berjarak. Abang ingin kita akrab seperti biasanya " lanjut Tama tersenyum. Masih menatap wajah Viki.
__ADS_1
Tama sadar, sejak setelah ditetapkan perjodohan mereka, Viki terkesan menghindarinya. Bahkan saat dia sudah berada di Semarang, saat berkunjung dirumah Rahman, Viki pun terkesan cuek padanya.
Setelah mendengar penuturan Tama, Viki jadi merasa bersalah. Dia sudah diberi wejangan oleh sang ibu, tapi seakan dia mengabaikannya.
" Maaf Bang, jika Viki keterlaluan. Viki hanya sedang berusaha " Berusaha ikhlas dengan takdirku. Sambungnya di dalam hati.
Tama tersenyum. Ia membenahi posisi tidur, agar sejajar dengan Viki.
" Tak apa... Abang juga minta maaf. Tapi satu yang harus kamu tahu, Abang sangat mencintaimu. Dan Abang siap menunggumu sampai bisa menerima Abang " ucap Tama sambil memeluk Viki.
Viki tak membalasnya atau pun menolak. Ia sedang berusaha menerima setiap perlakuan Tama terhadapnya. Meski belum sepenuhnya bisa menerima Tama sebagai suami, termasuk dengan hatinya.
" Tak apakan, jika Abang tidur sambil memelukmu? " tanya Tama tersenyum, menatap wajah Viki.
Dan Viki pun ragu-ragu mengangguk.
##############
Satu minggu kemudian...
Di sebuah universitas ternama di Semarang, sedang diadakan acara wisuda. Ada beberapa keluarga mereka yang mendampingi, termasuk Viki yang didampingi keluarganya lengkap dengan Ilham dan Nadhifa.
Setelah acara selesai, Mereka melakukan foto bersama di depan kampus setelah mencari tempat yang pas untuk berpose.
Namun tidak ada yang menyadari, ketika Viki Diam-diam memperhatikan sekitar seakan tengah menunggu datangnya seseorang.
Rasanya Viki ingin menangis saat menerka jika Reyhan tidak akan datang. Padahal dia sudah mencoba memberi chat pada Reyhan, dan terlihat sudah dibaca meski tidak ada balasan.
" Ayo... Sekarang Tama dan Viki foto bersama " ucap Nadhifa antusias. Menyadarkan Viki dari lamunannya.
" Yang mesra hlo ya. Kan udah halal " lanjut Nadhifa.
Tanpa aba-aba, Tama langsung merangkul pinggang Viki.
Eh?
Viki yang kaget seketika menoleh ke arah Tama. Sedangkan Tama memandang Viki sambil tersenyum.
Ckrek...
Nadhifa pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memotret, setelah melihat pose mereka berdua. Meskipun tanpa ada kesengajaan.
" Nah kalau begini kan bagus... " ucap Nadhifa sambil melihat ponsel yang digunakan untuk memotret bersama Syafiqa.
" Selamat untuk putri Bapak atas kelulusannya " saat dua ibu rempong sedang mengamati hasil potret, Rahman menghampiri sang putri, memeluk dan mencium keningnya.
Ilham yang melihat itu pun langsung melerai pelukan mereka berdua " Rahman, udah gantian aku. Ini juga putri kesayanganku " ucap Ilham sambil memeluk Viki.
" Selamat ya sayang, putri kecil Ayah... Ayah bangga terhadapmu " ucap Ilham disela pelukannya. Viki tersenyum didalam pelukan Ayah Ilham, sejenak lupa tentang Reyhan.
__ADS_1
Sedangkan Rahman dan Tama hanya tersenyum melihat itu.
Alhamdulillah... Kamu menjadi istri dan menantu dari orang yang tepat putriku.... Semoga kamu selalu bahagia... batin Rahman
###########
Didalam perjalanan, Tama dan Viki yang berada dalam satu mobil hanya ditemani oleh keheningan.
Viki yang sibuk dengan pikirannya. Sedangkan Tama, ia sudah kehabisan kata untuk mengajak Viki bicara.
Sedari selesai acara Wisuda, Viki lebih banyak diam. Jika ditanya hanya menjawab ala kadarnya.
Sampai....
" Abang... Jalan ke apartemen kan kesana " ucap Viki menoleh ke arah Tama, sambil menunjuk arah kirinya yang sudah mereka lewati.
Tama terkekeh. Tuhkan, Viki bahkan tidak fokus dengan apa yang di bicarakan Tama dan ke dua orang tua mereka saat makan bersama tadi.
" Kita memang Tidak pulang ke apartemen, sayang... " jawab Tama sambil mengusap kepala Viki gemas.
" Kita akan merayakan kelulusanmu berdua saja " lanjut Tama, sambil mengerlingkan mata sebelah.
Raut wajah Viki masih terlihat bingung.
" Sudah... Nggak usah bingung. Ayo turun, kita sholat isya' dulu " ucap Tama mengusap puncak kepala Viki, setelah memarkirkan mobil di pelataran masjid.
############
Tama memarkirkan mobilnya di depan villa yang sering digunakan keluarga mereka untuk berlibur. Ia menoleh, dan ternyata Viki baru saja bangun dari tidurnya. Mungkin dia sudah merasa lelah karena acara tadi siang.
" Kita di Villa, berdua Bang? " Tanya Viki, setelah menyadari keadaan sekitar.
" Iya sayang. Kita butuh waktu untuk berdua, mumpung Abang ambil cuti " Jawab Tama, menoleh kearah Viki.
Viki mengernyitkan dahi bingung, " Kita kan di apartemen cuman berdua " sahut Viki dengan polosnya.
Tama terkekeh. Kenapa Vikinya ini polos sekali...
" Sayang... Maksud Abang, kita butuh waktu untuk tidak memikirkan hal lain. Selain tentang kita " ucap Tama.
" Selain itu, Abang juga ingin memahami kamu lebih jauh... Biar kamu nggak cuekin Abang terus " Tama terkekeh saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
Deg!
Ya Allah... Aku banyak berdosa terhadap suamiku....
Viki menunduk menyadari kesalahannya.
Bersambung....
__ADS_1