
Viki tertegun...
Ya, sudah sejauh itulah perasaan mereka. Reyhan yang mengetahui semua kesukaan Viki, dan Viki yang mengetahui semua kesukaan Reyhan.
Membayangkan itu saja, sesak rasanya di dalam sana. Bahkan setelah melihat chat dari Reyhan, pipinya sudah basah oleh air mata.
Tok... Tok... Tok
" Boleh Mamak masuk? " terdengar suara Syafiqa dari luar kamar.
Tadi saat Reyhan pergi dari taman belakang, selang sebentar Viki juga beranjak.
"Ya, Mamak pintunya tidak dikunci" jawab Viki setelah menghapus air matanya.
Cklek...
Ternyata bukan hanya Syafiqa yang masuk, namun Rahmanuddin juga ikut Masuk.
Setelah itu keduanya ikut duduk bibir ranjang, berdekatan dengan Viki.
" Bapak"
Karena Viki sudah tidak tahan, akhirnya dia tumpahkan segala sesak, dengan menangis didalam pelukan Rahman.
Kedua orang tuanya pun hanya diam, membiarkan Viki meluapkan segala emosinya. Sambil sesekali mengelus punggung, guna untuk menenangkan.
Setelah Viki lebih tenang, baru Rahman melepaskan pelukannya. Di tatapnya wajah Viki yang basah oleh air mata.
"Boleh bapak cerita? " ucap Rahman, sambil menghapus air mata di wajah Viki.
" Dulu, Bapak hanya anak dari seorang petani, di desa kita tinggal. Nenek dan Kakek mu setelah menikah lama tidak juga dikaruniai anak. Nenek melahirkan Bapak sa'at usia beliau 35 tahun, sedangkan Kakekmu saat itu sudah berusia 40 tahun".
"Kita tinggal di Rumah yang jauh dari kata sederhana, Bapak, Nenek dan Kakek mu hanya makan dari hasil sawah. Itupun yang masih terlihat layak dikonsumsi. Karena yang benar-benar layak, kita jual ke juragan sayur"
Viki masih diam mendengarkan.
Melihat Viki mulai tertarik, Rahman melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
" Namun lama kelamaan, karena kondisi Kakek dan Nenek semakin tua, sebenarnya belum terlalu tua, namun saat itu Nenek Jatuh sakit bertepatan dengan hari kelulusan Bapak di SMA. Padahal tiga hari sebelumnya beliau sangat bahagia, saat tahu Bapak mendapatkan beasiswa kuliah di jogja" Rahman menceritakan itu, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Saat itu karena kondisi desa yang jauh dari perkotaan, tempat berobat hanya ada puskesmas. Karena di puskesmas perlengkapan belum lengkap, beliau dirujuk untuk berobat disalah satu rumah sakit di kota. Dan saat diperiksa,ternyata Beliau mengidap penyakit gagal ginjal. Yang mengharuskan check up setiap obat habis. Belum lagi biaya untuk cuci darah"
Rahman menghela nafas, demi mengurangi rasa sesak di dada.
" Saat itu Bapak dan Kakek sangat bingung, Harus mencari kemana biaya untuk pengobatan Nenek mu. Belum lagi jika ingin check up harus pergi jauh ke kota "
" Setelah itu Bapak nekad untuk tetap mengambil beasiswa itu. Bapak bertekad akan berkuliah sambil bekerja apapun itu, asal dapat melanjutkan pengobatan Nenek ".
" Namun semua tidak semudah apa yang kita bayangkan. Satu bulan Bapak dijogja, Bapak hanya mendapatkan pekerjaan part time yang hanya bisa mencukupi kebutuhan Bapak di jogja. Hingga suatu ketika Bapak ada dititik terendah. Bapak mendapat telpon dari Kakek mu, bahwa Nenek dirawat dirumah sakit. Dan keadaannya semakin kritis".
" Saat itu Bapak sudah tidak bisa fokus kuliah. Yang Bapak lakukan menangis didalam perpustakaan. Karena ditempat itu, terdapat rak-rak buku. Sehingga Bapak bisa menyembunyikan tangisan disana". Rahman terkekeh sambil berkaca-kaca saat ingat hari itu.
" Namun ada satu orang yang mengetahui Bapak menangis, dia adalah Syahira, salah satu senior ayah disana. Dia juga sahabat dari Ayah Ilham. Dia menuntut Bapak untuk bercerita, sampai Bapak menceritakan semuanya".
"Setelah tahu kesedihan Bapak, Syahira mau meminjamkan uang untuk biaya pengobatan Nenek. Dengan bayaran Bapak Harus bekerja di restorannya. Bahkan saat Bapak pulang untuk mengurus semua kebutuhan Nenek, Syahira dan Ayah Ilham menemani Bapak"
" Namun Tuhan berkehendak lain. Saat Bapak sampai rumah sakit, Nenek sudah meninggal. Dan satu hari setelahnya Kakek meninggal. Karena mungkin beliau begitu mencintai Nenek, sehingga Allah mentakdirkan mereka meninggal beriringan " Rahman bercerita sambil menangis.
" Sampai tujuh hari meninggal Kakek dan Nenek, Syahira dan Ayah Ilham masih menemani Bapak"
" Ayah Ilham adalah orang yang baik nak. Kamu harus tahu, kita bisa sampai sekarang ini berkat Ayah Ilham".
" Dan Bapak menyetujui perjodohan ini, karena Bapak yakin, Abang kamu Tama adalah orang yang baik seperti Ayah Ilham "
" Dan satu lagi Tama bukan hanya menyayangimu, tapi dia juga mencintaimu "
Deg!
Viki terkejut, langsung mendongakkan kepalanya.
Apa? Tama mencintainya? kenapa bisa? . Memang Tama terlihat sangat menyayangi Viki, tapi selama ini dia hanya menganggapnya sebagai kakak.
" Viki dengarkan Mamak nak, alangkah baiknya kita menerima orang yang mencintai kita. Karena Mamak yakin dia yang mencintai kita, akan memperlakukan kita dengan baik " Sambung Syafiqa.
Ya, memang benar apa yang dikatakan Mamaknya. Tapi bagaimana dengan hatinya, dia mencintai Reyhan, bukan Tama.
__ADS_1
Sedangkan Bang Tama, dan Bang Reyhan sama-sama putra dari Ayah Ilham. Dan dia juga tidak sanggup membantah ucapan orang tua nya.
" Kamu mau ya nak, menikah dengan Bang Tama ? Mereka sudah sangat baik pada kita nak" lanjut Rahman.
Secara tidak langsung Bapak menikahkan Viki dengan Tama, guna untuk membalas budi. Tapi... Baiklah, dia akan menekan egonya, demi orang tua.
" Aku ikut Mamak, Bapak saja. Baiknya bagaimana " jawab Viki sambil menunduk.
Ya, mungkin ini yang dapat dia lakukan untuk membalas semua kasih sayang Ilham dan Nadhifa padanya. Meskipun harus mengorbankan perasaannya terhadap Reyhan.
Kedua orang tuanya pun langsung tersenyum lebar.
" Alhamdulillah... "
#############
Pagi hari, semua orang tengah berkumpul dimeja makan untuk bersarapan. Namun ada satu orang yang tidak ikut bergabung, yaitu Reyhan.
" Viki... Nanti kita jalan-jalan yuk... Kemana saja. Tenang nanti Abang yang traktir " ucap Tama ditengah-tengah sarapan mereka dengan khas senyum manisnya.
Tadi malam setelah orang tua Viki keluar dari kamarnya, mereka langsung memberi tahu Tama dan orang tuanya, bahwa Viki menerima perjodohan ini. Jadi dia tidak canggung untuk mengajak jalan Viki.
Karena terang saja, setelah pembahasan tadi malam, dia khawatir kalau-kalau Viki menolaknya.
" Ah... iya. Kalian memang butuh waktu berdua. Ya, meskipun kalian sepupu, tapi kan tetap harus ada pendekatan. Lagian Viki juga pulangnya lusa kan? " sahut Nadhifa dengan antusias.
Dan bersamaan dengan itu, Reyhan masuk ke ruang makan. Untuk mengambil air minum.
Saat dia hendak pergi disela oleh ucapan Nadhifa. " Kamu cuma minum Rey.... nggak sarapan dulu? "
" Maaf bun... Rey ada urusan " jawab Reyhan, sambil menatap datar Viki.
Setelah itu dia pergi tanpa bicara apapun lagi. Bahkan dia tidak mencium punggung tangan para orang tua.
Nadhifa hanya bisa menatap sendu Reyhan yang langsung di tutupi dengan senyum manisnya.
Sedangkan Ilham hanya menatap sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya lagi.
__ADS_1
Bersambung...
maaf banyak typo guys...