Pesantren Impian

Pesantren Impian
Pengen Mondok


__ADS_3

Hari ini hari minggu, tepatnya seminggu sudah aku lulus dari smp, aku hanya duduk bersantai di teras rumah menunggu ayah dan ibuku pulang dari sawah, jam di dinding sudah menunjukan pukul 15.00 atau jam 3 sore biasanya jam segini orang tuaku sudah nampak dari kejauhan membawa ubi yang di rebus ibu sebagai cemilan kami sambil menikmati sore hari yang cerah beserta seteko teh hangat.


Dari kejauhan terlihat ayah dan ibu sedang bergurau sambil memasuki rumah kami yang sederhana ini, tentunya dengan menenteng ubi sebagai hidangan kami saat bercengkerama.


"Assalamu'alaikum" ucap ayah dan ibuku bersama.


"Waalaikumsalam" jawabku kemudian bangkit membantu ibu membawa ubi hasil kebun kami ke belakang. Sementara ayah langsung duduk di halaman sambil mengipas tubuhnya dengan caping yang biasa dipakai ke sawah.


Setelah membantu ibu meletakan dan menanak ubi di dapur, kemudian aku menemani ayah di depan rumah.


"Wes ngashar kowe?" (udah sholat ashar kamu?) tanya ayahku yang menyadari kehadiranku.


"Sampun yah" (sudah yah) jawabku singkat.


"Pul, kowe tenan pengen mondok" tanya ayah nampak serius.


"Inggih yah" (iya) jawabku singkat.


"Opo alasanmu pengen mondok le?" (apa alasanmu pengen mondok) tanya ayah lagi.


"Ipul pengen dadi ustadz kados ayah"( ipul pengen jadi ustadz kaya ayah) jawabku singkat.


Mendengar jawabanku ayah hanya tersenyum, terlihat ibu keluar dari dalam rumah sambil membawa ubi rebus serta teh hangat, aku segera berdiri menghampiri ibu membantu membawa nampan dan menyajikannya pada ayah.


"Yah, coba nanti malam ayah hubungi kyai Zaenal atau gus Fuad adiknya pak kyai, siapa tau saipul bisa tinggal di ndalem kyai paling ora lebih mengirit pengeluaran". kata ibu pada ayah.


"hmm, ya wes nanti abis magrib ayah coba telepon yo" jawab ayah.


sementara aku cuma tersenyum mendengar percakapan beliau berdua.


Kami melanjutkan obrolan ringan sambil menikmati cemilan ubi rebus kegemaranku, akhirnya malam semakin larut kami segera masuk ke dalam rumah untuk bersiap menunaikan sholat magrib berjamaah.

__ADS_1


Seusai memanjatkan do'a aku kembali ke teras rumah, disusul oleh ibuku, sementara ayah menuju ke ruang keluarga untuk menelepon pak kyai.


"Pul, mengko kowe nek neng pondok sing ati-ati, ra usah ngurusi sing ra penting" pesan ibu padaku.


"Nggih bu" jawabku singkat.


"Piye yah?" (gimana yah?) tanya ibu pada ayah yang sudah selesai telepon.


"Alhamdulillah bu, tadi pak kyai dawuh kalo besok senin udah mulai pendaftaran" jelas ayah pada kami.


"Pul, mumpung masih jam segini siapin semua berkas pendaftarannya, besok pagi habis shubuhan kita berangkat ke pondok" kata ayah sambil menyerahkan uang lima puluh ribu padaku buat keperluan fotokopi dan lain-lain.


"Nggih yah, matur nuwun" jawabku segera masuk ke rumah mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran untuk besok.


Pagi hari setelah sholat shubuh aku segera bersiap dengan baju seadanya yang aku bawa untuk ganti di pondok selama beberapa bulan, karena ayah pernah bilang kalo mondok biar betah minimal harus enam bulan lamanya gak boleh pulang ke rumah, kupersiapkan segala keperluanku sendiri termasuk semua peralatan sekolah.


"Piye pul wes siap adoh wong tuo"( gimana udah siap jauh dari orang tua) tanya ayahku.


kemudian ibu memelukku erat sekali, "kowe wes gede le" (kamu udah besar nak) bisik ibu padaku kemudian kami pun segera sarapan bersama, lalu berpamitan pada ibu.


Kurang lebih dua jam perjalanan kami memasuki area pondok, suasana tampak berbeda terasa begitu "sejuk" namun sepi ayah bilang karena masih suasana libur jadi banyak santri yang pulang ke rumah masing², mungkin nanti sore mereka mulai kembali ke pondok karena pembelajaran akan segera di mulai. Akhirnya kami sampai di sebuah asrama "Nur Ilmi" atau dalam bahasa indonesia artinya cahaya ilmu, kami berdua segera berjalan menuju ndalem kyai Zaenal dan gus Fuad bersama.


Tok...tok...tok


"Assalamu'alaikum" ucap kami bersama, kemudian duduk di karpet yang memang di sediakan untuk menemui wali santri yang ingin sowan atau berkunjung ke ndalem.


"Waalaikumsalam, yo tunggu" terdengar jawaban dari dalam.


ceklek...ceklek (suara anak kunci yang diputar 2x).


"Kang Anwar, ya Allah udah lama sampean gak ke pondok kang" ucap orang tersebut melihat ayah, sementara ayah yang merasa namanya di sebut segera berdiri, dan berpelukan sangat erat, terlihat keduanya sangat lama tak bertemu kemudian mereka duduk kembali bersama.

__ADS_1


"mana kang anakmu yang kamu ceritakan kemarin" tanya gus Fuad pada ayah.


"ini gus" jawab ayah sambil menunjukku.


"Ya wes ayo kita langsung ke kantor ae kang biar segera di proses pendaftarannya, kebetulan kang kyai juga ada di kantor pusat.


Kemudian kami segera jalan kaki bertiga ke kantor pusat guna menyerahkan berkas pendaftaranku, sekitar sepuluh menit kami sampai di kantor pusat aku langsung mengurus semua administrasi pendaftaran sementara gus Fuad dan ayah berbincang di kursi tunggu, kira-kira sekitar lima belas menit selesai sudah segala urusan administratifku aku kembali menuju tempat ayah sementara gus Fuad mohon diri untuk memanggil kyai Zen.


"Piye pul wes beres?" tanya ayah padaku.


"Sampun yah" jawabku.


Kemudian ayah pergi untuk menelepon ibu, sementara dari jauh terlihat gus Fuad bersama kyai Zen berjalan ke arahku, saat dekat aku segera menyalami mereka berdua.


"Ini putra kang Anwar mas" jelas gus Fuad pada kyai.


"Kowe mirip sari ibumu, duwe linuwih sing ati-ati le" kata kyai padaku sambil memperhatikanku dari atas ke bawah, sementara aku hanya mengangguk sambil mencerna kata beliau.


Tak lama ku lihat ayah berjalan mendekati arah kami


"Kyai" sapa ayah sambil menyalami beliau takdim.


"Piye kabarmu war?" tanya pak kyai.


"Alhamdulillah sehat kyai" jawab ayah.


"Wes beres kabeh tho?, ayo balik ke rumah dulu" kata kyai Zen


"Iya kyai" jawab kami bertiga bersama.


Selepas magrib ayah mohon diri untuk pulang setelah sebelumnya menitipkanku pada gus Fuad untuk tinggal di ndalem, akupun bercengkrama sebentar dengan gus Fuad beliau banyak bercerita tentang masa lalu ayah dan ibu selama di pondok kemudian akupun berpamitan untuk mempersiapkan diri guna ujian besok.

__ADS_1


__ADS_2