Pesantren Impian

Pesantren Impian
Masa Orientasi


__ADS_3

Tak terasa hampir tiga minggu aku berada di pondok ini setelah mengikuti ujian masuk sekolah dan ternyata namaku berada di urutan 115 dari total 250 orang yang di terima dengan 20 orang cadangan, belum banyak orang yang ku kenal karena aku lebih memilih untuk memfokuskan diri dalam pengajian yang diadakan di ndalem, suatu pagi saat selesai melaksanakan sholat shubuh berjamaah di masjid induk, aku kembali seorang diri karena gus Fuad masih mengisi pengajian di masjid, terlihat di depan salah satu kamar empat remaja seusiaku lagi nongkrong santai sambil cekikikan.


"Misi mas" ucapku ke mereka, yang nampaknya santri senior di sini.


"Heh rene kowe" ucap salah seorang dari mereka.


"Iya mas" jawabku sambil berjalan ke arah mereka.


"Cah anyar yo?, asrama ndi?" ucapnya lagi setengah membentak.


"Iyo mas, aku cah anyar" jawabku


"Woyyy" tiba-tiba terdengar teriakan dari arah belakang kami, yang membuat kami semua menengok ternyata gus Fuad yang baru selesai mengisi pengajian. Mereka berempat terlihat menunduk ketakutan "wah konangan, bahaya iki" bisik-bisik mereka yang masih bisa terdengar olehku.


"Ngapain kalian gak melu pengajian malah cangkrukan" ucap gus Fuad saat sudah dekat.


"Anu gus, itu..." jawab mereka kebingungan mencari alasan.


"Opo ona anu, ganggu santri lain wes jagoan kalian?" bentak gus Fuad.


"Kamu cepet masuk, siap-siap" kata gus Fuad ke arahku.


"Njih gus" jawabku seraya menyalami beliau.


Akupun segera berlalu menuju kamarku melalui pintu samping ndalem meninggalkan gus Fuad bersama mereka berempat, saat masuk rumah aku segera menyelesaikan pekerjaan di dapur dan mandi yah ini adalah hari pertamaku masuk sekolah, setelah menyelesaikan semua aku lalu bersiap dengan seragam SMPku karena emang belum di bagikan seragam.


"Pul" panggil gus Fuad saat aku keluar kamar.


"Dalem gus" jawabku.


"Ayo sarapan" ajak beliau padaku.


"Njih gus, niki mau beli sarapan di kantin sebelah" jawabku pada beliau.


"Ngapain beli, ayo sarapan bareng-bareng" ajak beliau lagi.


"Njih" jawabku singkat.


Sambil sarapan beliau bercerita tentang masa sekolahnya belasan tahun yang lalu bersama ayah dan ibu, sementara aku hanya mendengarkan saja tanpa berani mengajukan pertanyaan, kemudian beliau berpesan kalo gak ada orang atau santri lain aku di minta memanggilnya lek atau om dan akupun menyanggupinya.


Terlihat barisan para santri yang menuju unit pendidikan masing - masing, aku segera memasuki salah satu barisan tersebut untuk menuju ke sekolah, sekolahku merupakan salah satu sekolah percontohan hingga santriwan dan santriwatinya di campur di dalam kelas, selama ini menunjukan prestasi yang membanggakan di beberapa lomba KIR (Karya Ilmiah Remaja) tingkat Nasional. Tak terasa sepuluh menit perjalanan dari asrama menuju sekolah kami mengikuti apel pagi, untuk mendengarkan sambutan dari bapak kepala sekolah, serta pengenalan lingkungan oleh kakak OSIS.

__ADS_1


Kamipun menuju mading sekolah untuk melihat pembagian kelas masing - masing, ternyata aku berada di kelas 1.4 yang berada di lantai 2 paling ujung dekat dengan pembangunan asrama putri yang baru dan ternyata aku sekelas sama keempat 'preman' itu, tak lama kemudian masuk beberapa orang 'kakak Osis' dengan tampang yang di buat-buat sedemikian rupa.


Pada saat mereka memberikan tugas terdengar suara tangisan dari arah luar tepatnya di belakang ruang kelas kami, suara tangis yang memilukan serta permintaan tolong, aku pun celingukan ke arah belakang sementara ku perhatikan mereka berempat melakukan hal yang sama sepertiku dan teman-teman yang lain melakukan kegiatan seperti biasa.


"Apa ini?, siapa yang nangis?" tanyaku dalam hati, kemudian colekan teman di belakangku mengagetkanku.


"Tuh dipanggil ke depan" katanya.


Ternyata kami berlima di panggil maju ke depan kelas, dan apesnya aku yang di tanya oleh mereka,


"Nama?" tanya salah seorang dari anggota osis yang bernama Nanang ini dengan sikap 'SOK' galaknya.


"Saipul Bahri kak" jawabku tenang.


"Asal mana?" tanyanya lagi dengan tampang yang ngeselin.


"Kediri kak" jawabku lagi


Teeett.....Teeeettt (huft save by the bell)


"Oke kalian istirahat pertama ya, waktunya 15menit" ucap salah seorang panitia.


"Ya kak" jawab kami kompak.


"Maaf mas boleh gabung?" tanya si songong.


"O iya monggo mas" jawabku sesopan mungkin.


"Anu mas, kami mau minta maaf soal tadi pagi kami ga tau kalo sampean ternyata ponakannya gus Fuad" katanya menjelaskan soal 'gangguan' padaku tadi.


"Halah santai wae" kataku lagi.


"O ya jenengku Reno, ini Ujang dari bandung, yang pake kacamata itu Beni, yang itu anak kalimantan namanya Andi" katanya memperkenalkan diri mereka sambil menjabat tanganku.


Teeeeett.....teeettt.... suara bel masuk berbunyi, kamipun segera memasuki kelas.


"O ya kalian tadi denger suara nangis sama minta tolong gak?" tanyaku sambil berjalan ke kelas.


"Iya, sampean juga denger?" tanya reno yang hanya ku jawab dengan anggukan kepala.


akhirnya nanti sepulang sekolah buat telepon ibu atau ayah dari wartel dekat asrama.

__ADS_1


Hari pertama orientasi pengenalan sekolah ku lewati dengan lancar, walaupun aku dapat julukan baru JAWIR dari panitia Osis mungkin karena kulitku yang sawo busuk.


Kami segera membentuk barisan untuk melaksanakan apel pulang tepat pukul 15.00wib, nampak wajah-wajah lelah namun penuh semangat kali ini kami berbaris menurut kelas masing-masing mungkin dengan tujuan mengenal satu sama lain.


Mulai besok kami di berikan tugas untuk meminta tanda tangan para panitia Osis, setelah semua selesai kami segera membentuk barisan untuk kembali ke asrama masing-masing bersama keempat sahabat baruku.


Sesampai asrama aku segera pamit pada gus Fuad untuk ke wartel untuk mengabari ayah dan ibu, beliau hanya mengangguk setuju.


"Assalamu'alaikum bu" ucapku setelah digit angka di bilik wartel menunjukan angka 159 tanda telepon sudah tersambung.


"Waalaikumsalam pul, piye sekolahmu pul?" jawab ibuku.


"Alhamdulillah lancar bu", kemudian ku ceritakan pada ibu apa yang kualami hari ini sementara ibu hanya diam mendengarkan.


"Kira-kira gimana bu?" tanyaku pada ibu.


Hmmm terdengar ibu menarik nafasnya berat.


"Kowe udah cerita gus Fuad sama Kyai Zaenal?" tanya ibu kemudian.


"Dereng bu" (belum) kataku lagi, kemudian ibu menjelaskan panjang lebar kenapa dan mengapa aku "bisa" mendengar dan melihat 'mereka', aku cuma bisa manggut-manggut mendengar penjelasan ibu.


"Terus ipul mesti gimana bu?", tanyaku pada beliau.


"Ra popo le, wes garis turunmu" kata ibu lagi.


"Nggeh bu, sampun riyen nggih, Assalamu'alaikum" pamitku pada beliau.


"Yo le, Waalaikumsalam" jawab ibuku.


Ada sedikit perasaan lega setelah menceritakan semua pada ibu, keluar dari wartel aku segera menuju kantin untuk membungkus makanan dan beberapa gorengan untuk di kamar.


Di depan ku lihat Kyai Zaenal sedang bercengkrama dengan keluarganya, segera aku menuju kamar Andi dan yang lain untuk menumpang makan sekalian main.


"Assalamu'alaikum" ucapku sambil mengetuk pintu kamar mereka.


"Waalaikumsalam" terdengar suara Ujang


"Eh pul ayo masuk" katanya mempersilahkan masuk, setelah menyelesaikan makanku kami segera bercerita tentang banyak hal ternyata mereka pun sama denganku mendapat 'kemampuan' itu dari turunan Ayah ibu maupun dari kakek neneknya.


_____________________________________

__ADS_1


Tak terasa hari ini masa terakhir masa orientasi sekolah dan pondok, kami di kumpulkan jadi satu di Aula sekolah untuk menyaksikan atau lebih tepatnya ikut serta dalam drama para pengurus Osis mulai dari emosi sampai dengan mellow yang sengaja di setting sedemikian rupa, cukup banyak juga yang menangis.


Malam harinya di adakan acara penyambutan siswa baru, kami berlima sepakat memecahkan mistery suara tangis yang terdengar sangat jelas dan menyayat hati tersebut dengan 'pakaian kebesaran' pondok yaitu kain sarung tjap Gajah Tengkurep dan kaos. Kami berlima segera menuju ke bangunan asrama yang sedang di bangun tersebut


__ADS_2