
Setelah menikmati makanan yang lezat, kami segera pamit pada bu Jum dan Marni untuk kembali ke pondok.
"Salam nggo bapak ibumu yo le, sepurane bulek ra percoyo karo kowe"(salam buat bapak ibumu ya, maaf tante ga percaya sama kamu) ucap bu Jum saat aku menyalami beliau sambil mengusap kepalaku.
"Njih" jawabku singkat.
"Wes geh yu tak tinggal balik pondokan sek" ucap gus Fuad.
"Njih gus" jawab bu Jum dan Marni bersamaan, sambil mengantar kami keluar ke halaman rumah.
Alhamdulillah selesai sudah satu masalah, ujarku membatin sendiri.
"Ayo, awas alon-alon nyebrang rel" kata gus Fuad.
"Njih gus" jawab kami bersama
Kami melewati gang kecil menuju ke arah belakang pos keamanan, waktu menunjukan pukul 18.30 gak terasa lumayan lama juga di rumah bu Jum.
"Assalamu'alaikum" ujar gus Fuad.
"Waalaikumsalam" jawab para santri senior yang sedang berjaga di pos depan gerbang utama pondok, mereka segera berdiri dan menyalami gus Fuad.
"Wes yo tak mlaku sek, Assalamu'alaikum" (udah ya aku jalan dulu) ujar gus Fuad setelah berbasa basi sejenak dengan mereka semua.
"Waalaikumsalam" ujar mereka semua, yang memandang mobil gus Fuad, sementara beliau menjalankan mobilnya ke arah kota, sementara kami berlima hanya diam melihat-lihat pemandangan tanpa ada satupun yang bertanya tujuan kami.
__ADS_1
Kami berhenti di salah satu warung nasi pecel lele di salah satu sudut alun-alun kota Jombang.
"Ayo mangan sek"(ayo makan dulu) ujar gus Fuad kepada kami.
"Njih gus" sahut kami berlima kompak.
Setelah memesan makanan kamipun duduk lesehan melingkar, sambil menunggu pesanan kami datang tiba-tiba gus Fuad bertanya.
"Piye perasaanmu rek?" (gimana perasaanmu)
"Yang pasti seneng gus, satu misteri berhasil terpecahkan" jawab Reno diamini oleh anggukan kami semua.
"Ini masih awal cah, ke depan pasti banyak misteri-misteri lain yang butuh kerja sama kalian" terang gus Fuad pada kami.
"Tapi gus, apa menurut gus kami mampu menyelesaikan semua?" tanyaku kepada beliau.
Tak lama kemudian makanan yang kami pesanpun datang.
"Alhamdulillah, wes ayo makan dulu, anggep ae slametan atas keberhasilan kalian mengungkap misteri yang terjadi 7 tahun lalu". ajak gus Fuad pada kami.
"Alhamdulillah" ucap kami bersama.
Kamipun menyantap pesanan kami dengan lahap dan berjalan-jalan menikmati suasana alun-alun kota jombang di malam hari.
Setelah menikmati suasana di alun-alun dan membeli cemilan sekedarnya kamipun kembali ke pondok.
__ADS_1
Suasana khas ala pondokpun terlihat dari saat kami melintasi pos keamanan depan, para santri senior yang melihat mobil gus Fuad pun tunduk takdim di pinggir jalan.
Tepat pukul 21.30 kami tiba di asrama, Ujang, Beni, Andi, dan Reno segera mengucapkan terima kasih dan menyalami tangan gus Fuad kemudian kembali ke kamar mereka.
Sementara aku dan gus Fuad bersama-sama masuk ke Ndalem,
"Assalamu'alaikum" ucap kami bersama.
"Waalaikumsalam" jawab pak kyai.
Yang ternyata Kyai Zaenal menunggu kami di ruang keluarga.
"Piye Ad wes beres" tanya kyai pada gus Fuad.
"Alhamdulillah mas" jawab gus Fuad yang kemudian berjalan di depanku untuk menyalami tangan pak kyai.
"Kowe bener-bener nurun ibumu" kata pak kyai lagi.
"Kene le, lungguh kene"(sini nak duduk sini) kata pak kyai padaku.
"Njih" jawabku sopan tanpa berani menatap wajah beliau yang penuh wibawa.
Beberapa wejangan beliau sampaikan padaku, yang hampir sama dengan gus Fuad sampaikan saat di alun-alun tadi
"Ojo duwe roso Sombong lan Takabur" (Jangan mempunyai rasa sombong dan takabur), OJO RUMONGSO ISO, TAPI ISOO RUMONGSO" (jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa).
__ADS_1
"Wes ngunu wae, saiki ndang istirahat wes dalu" (udah gitu aja, sekarang cepat istirahat udah malam) ucap pak kyai padaku.
"Njih kyai, Assalamu'alaikum" ucap salamku pada beliau sambil menyalami tangannya, kemudian beranjak ke kamarku.