Pesantren Impian

Pesantren Impian
Tragedi Di Sekolah


__ADS_3

Akhirnya kami tiba di Asrama, dan berkumpul di rumah pak kyai Zaenal dengan di suguhi beberapa sajian jajanan khas.


"Alhamdulillah" kata pak kyai dan gus Fuad bersama.


"Pul, Huda matur nuwun berkat kerjasama kalian semua bisa terselesaikan" tutur kyai Zaenal pada kami.


"Njih kyai, tapi jujur aja kalo ga ada Saipul mungkin saya ga bisa cara berkomunikasi sama makhluk itu kyai" jelas kang Huda selaku koordinator keamanan senior di pondok.


"Yo wes sekarang kalian kembali ke asrama masing-masing, terima kasih atas bantuan kalian semua" ujar gus Fuad pada kami semua.


Akhirnya satu persatu santri pun undur diri termasuk kang Huda sebagai salah satu santri paling senior di antara kami semua, kini tinggal menyisakan aku dan ke empat sahabatku yang masih duduk di teras ndalem.


"Piye Pul?" tanya gus Fuad padaku.


"InsyaAllah udah aman gus" jawabku pada gus Fuad dan pak Kyai.


"Wes ayo istirahat besok kalian mesti sekolah kan?" perintah Kyai Zaenal pada kami.


"Njih kyai" jawab kami takdzim seraya undur diri untuk beristirahat.


...****************...


...****************...


Kumandang adzan Shubuh dari masjid besar pondok, membangunkan kami dari rasa lelah serta mimpi indah kami semalam, ku basuh tubuh lelahku dengan air wudhlu kemudian ku langkahkan kaki ke masjid besar setelah sholat di lanjutkan dengan pengajian kitab Bulughul Marrom dari kyai Burhan pengasuh asrama V.

__ADS_1


Setelah selesai kami para santri berlarian kembali ke asrama masing-masing, untuk mempersiapkan diri menuju sekolah, kami berenam berkumpul di depan ndalem membuat barisan terpisah dengan yang lainnya dengan Reno sebagai pemimpin barisan, sekitar 5menit berjalan kamipun sampai di sekolah dan melaksanakan apel pagi sebelum mulai pembelajaran hari ini.


'Aaarrrghhh' terdengar teriakan beberapa santriwati di kelas 1C tepat di sebelah ruangan kelas kami.


"Rek ono sing kesurupan" teriak Rizal ketua kelas kami dari depan kelas.


Beberapa anak langsung berhamburan keluar untuk melihat yang terjadi.


"Haduuuhhh opo maneh" kata Ujang terlihat kesal


"Apa perlu kita lihat" kata Beni menimpali.


"Gak usah biarin aja, paling lagi ngelamun" kataku cuek.


"Sopo Zal?" tanya Reno.


"Fani anak Samarinda itu?" tanya Reno penasaran.


"Emange ada piro Fani kelas C" sahut Rizal balik bertanya.


"Owh" jawab Reno sambil manggut-manggut.


Setengah jam berlalu suasanapun kembali tenang, bel tanda istirahatpun berbunyi semua segera keluar kelas, kami segera duduk-duduk di depan kelas.


"Woy JAWIR" teriak seseorang yang ternyata empat orang kakak kelas kami yang salah satunya adalah kak Bambang.

__ADS_1


"Mau apalagi sih mereka" tanya Reno yang terlihat marah.


"Wes sabar No" kataku mencoba mendinginkan Reno.


"Wir, matur nuwun yo berkat sampean dan teman-teman kebunku wes aman" katanya sembari menyalamiku.


"Sami-sami mas" kataku menyambut tangannya.


"Mengko istirahat kedua kabeh tak traktir mangan neng kantin yo" ucap Bambang lagi.


"Serius iki mas" tanya Reno.


"Iyo Ren tenang ae" sahut Bambang lagi.


Akhirnya bel masukpun berbunyi kami semua masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.


"Astaghfirullah" ucap Andi terkejut.


"Ono opo Ndi?" tanya Ujang.


"Rek ono sing ngintip dari sebelah" kata Andi sambil menunjuk ke arah papan tulis, sementara kami mencermati arah yang di tunjuk oleh Andi.


"Owh itu makhluk yang tadi merasuki si Fani" ucapku santai.


"Mungkin dia mau minta tolong kita Pul" kata Reno.

__ADS_1


"Ya wes ben wae kita fokus sinau sek" kataku pada Reno kemudian kembali ke bangku masing-masing.


__ADS_2