Pesantren Impian

Pesantren Impian
Gundul Pringis


__ADS_3

Selesai sudah hari pertama sekolah kami berenam, yah semua jadi enam orang setelah "Hukuman" ku berjalan mulai hari ini, yaitu mengawasi ning Ratna di sekolah.


Kamipun berjalan sambil bergurau di jalan.


"Woi Jawir" panggil seseorang di belakang kami, kami berhenti sejenak ternyata kak Bambang bersama tiga orang kakak kelas kami yang tinggal di belakang sekolah yang memanggil.


"Ono opo bengak-bengok" (ada apa teriak-teriak) tanya Reno dengan gayanya yang khas.


"Wir, eh maap maksude Ipul anu kita mau minta tolong" kata kak Bambang dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Maaf tapi ada apa ya kak" tanyaku pada mereka bertiga.


Mereka pun menceritakan apa yang mereka alami di kebun kelapa belakang rumah kak Tresno waktu mereka nongkrong malam-malam, kemudian saat mereka akan mengambil kelapa itu dari jarak 5meter kelapa itu berubah jadi kepala manusia sementara kami berenam mendengar cerita mereka dengan seksama.


"Maaf sebelumnya mas memotong cerita, dari cerita kalian tadi apa yang bisa kami bantu?" tanyaku pada mereka bertiga.


"Wong kami ini sama seperti yang lain juga gak bisa apa-apa dan juga punya rasa takut" jelasku lagi.


"Mas Saipul aku tenan minta tolong banget mas, apapun yang kalian minta pasti kami turutin karena kami udah dengar cerita tentang kalian dari teman-teman santri lainnya" jelas Bambang lagi.


"Maaf ya mas tapi kami lagi di hukum sama gus Fuad, jadi aku harap mas-mas ini juga mengerti keadaan kami" jawab Beni.


Akhirnya mereka pun undur diri, kamipun melanjutkan perjalanan kami pulang ke Asrama.

__ADS_1


"Pul, piye menurutmu?" tanya Reno padaku.


"Apane?" tanyaku.


"Tentang masalahe si Bambang karo Tresno" jelas Reno.


"Biarin dulu No, toh belum terlalu meresahkan warga" jawab Andi.


Kami pun tiba di asrama, kami segera membubarkan diri, aku dan ning Ratna masuk 'ndalem' sementara yang lain masuk ke kamar mereka.


"Assalamu'alaikum" ucap kami bersama masuk ke 'ndalem'.


"Waalaikumsalam" ucap kyai Zaenal dan gus Fuad yang sedang ngobrol di ruang tamu.


Seneng dong pak Min ga perlu naik pohon buat ambil kelapa, cerita gus Fuad pada pak kyai sementara pak kyai cuma manggut- manggut mendengar cerita gus Fuad.


"Assalamu'alaikum" terdengar suara ning Ratna yang hadir di tengah-tengah beliau berdua.


"Piye sekolahmu nduk" tanya gus Fuad.


"Alhamdulillah lek, o iya lek Fuad sama Abi lagi cerita apa sih kok Nana denger dari dalem kayanya seru banget" tanya Ratna.


"Ora opo-opo nduk" kata gus Fuad berusaha menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


"Ya wes kalo Abi sama Lek ga mau cerita Nana juga gak cerita" kata Ratna dengan nada mengancam


"Kamu itu wes gede kok masih suka ngancem nduk, gimana kalo udah rumah tangga nanti" tanya gus Fuad menggoda.


"Buktinya lek Fuad juga belum nikah sampe sekarang weeekkk" ledek Ratna sambil menjulurkan lidah.


Semuanya terdengar tertawa bahagia, aku pun memutuskan untuk keluar kamar.


"Assalamu'alaikum" salamku pada mereka semua.


"Waalaikumsalam" jawab mereka semua kompak.


"Pul, sini" panggil gus Fuad padaku.


"Dalem gus" jawabku pada beliau.


"Duduk sini bentar" perintahnya.


"Njih" jawabku mengiyakan kemudian mengambil duduk di sebelah kanan beliau.


"Sekarang kalian cerita apa yang kalian tahu" kata gus Fuad.


Sementara aku dan Ratna hanya bisa saling pandang.

__ADS_1


"Maaf kyai, gus sebelum saya cerita mungkin gus Fuad mau melanjutkan cerita tentang pak Min yang sempat terpotong tadi?" pintaku pada beliau.


__ADS_2