
Sang fajar telah menampakan secerca sinarnya, selepas pengajian shubuh aku menceritakan semua pengalamanku kemarin malam pada gus Fuad, beliau mendengarkan setiap detail ceritaku tanpa menyelanya sedikitpun sambil berusaha mengingat peristiwa yang terjadi tujuh tahun lalu.
"Pul, saiki kan sampean libur?" tanya gus Fuad padaku.
"Njih leres lek" (iya bener om) jawabku pada beliau.
"Panggil teman-temanmu ke sini lek Fuad tunggu di ruang depan" perintahnya sambil beranjak ke depan.
"Njih" jawabku sambil menuju asrama di depan 'ndalem'.
"Assalamu'alaikum" ucapku di depan kamar para sahabatku itu sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam, sekedap" (sebentar) terdengar jawaban dari dalam.
"Eh Pul, ayo mlebu" ucap Reno sambil membuka pintu.
"Kita di panggil gus Fuad di ruang depan" kataku singkat.
Mereka segera bersiap menghadap gus Fuad bersamaku, tak lupa mengunci semua pintu dan jendela kamar.
"Assalamu'alaikum" ucap kami bersama setelah sampai di 'ndalem'.
Waalaikumsalam, ayo sini duduk" ucap gus Fuad mempersilahkan duduk..
"Nana.. na.." panggil gus Fuad ke arah dalam rumah.
"Dalem lek" terdengar suara perempuan yang kemudian keluar menemui gus Fuad.
"Nah ini kenalne putrine Kyai Zen mulai besok dia bersekolah di sekolah kalian juga, namanya Ratna selama ini dia mondok di rembang, baru dateng tadi pagi" jelas gus Fuad pada kami, sementara kami hanya mengangguk tanpa berani memandang.
"Wes kowe mlebu neh" (udah kamu masuk lagi) kata gus Fuad.
"Njih lek" ucapnya sopan.
"Sopo sing pengen cerito?" (siapa yang mau cerita) tanya gus Fuad pada kami.
"Misi gus, jadi begini" jawab Ujang menceritakan kejadian yang kami alami kemarin, sementara gus Fuad dengan ekspresi yang sama pada saat mendengar ceritaku tadi.
"Kurang lebih begitu ceritanya gus" ungkap Ujang mengakhiri ceritanya.
"Terus apa yang bisa tak bantu?" tanya gus Fuad pada kami berlima, kami saling memandang satu sama lain.
"Anu Gus, gimana kalo njenengan anterin kita ke rumah mbak Aisyah" usul beni, gus Fuad terlihat manggut-manggut dengan usul Beni.
"Njih gus untuk menghindari salah paham, selebihnya biar kami yang tanggung jawab" jelasku pada beliau.
"Yo wes kalo gitu nanti ba'da Ashar kita ke sana" ujar gus Fuad mengambil keputusan.
"Alhamdulillah" ucap kami bersama.
Selepas sholat Ashar kamipun berkumpul di depan Asrama menunggu gus Fuad datang.
"Assalamu'alaikum, piye wes siap" tanya gus Fuad kepada kami.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah sampun gus" jawab Andi sambil menyalami tangan beliau satu persatu.
"Ya wes yuk berangkat keburu malam" ujar gus Fuad.
"Njih gus" ucap kami bersama.
__ADS_1
Kamipun berangkat menaiki mobil gus Fuad karena memang jarak rumahnya yang lumayan jauh bila di tempuh berjalan kaki, kemudian mobilpun berhenti di depan pos keamanan karena beliau adalah penanggung jawab keamanan pondok beberapa santri setingkat mahasiswa pun menghentikan aktifitas mereka dan berdiri mengetahui mobil gus Fuad berhenti.
"Assalamu'alaikum gus" ujar mereka.
"Waalaikumsalam, nitip mobil yo?" ujar gus Fuad seraya mengeluarkan sebungkus rokok dari saku bajunya.
"Gus, ngapunten niku sinten?" (maaf itu siapa) tanya salah satu dari mereka.
"Owh yo kenalne iki anake kang Anwar jenenge Saipul Bahri, nek sing liyane wes kenal tho?" jawab gus Fuad pada salah satu santri senior tersebut.
"Kang Hasan Anwar yang dulu kepala keamanan itu gus, yang terkenal tegas" tanyanya terkejut.
"Iyo opo ono Anwar liyane tho neng kepengurusan pondok" tanya gus Fuad.
"Kenalne le jenengku Huda, panggil kang Huda wae" katanya sambil menyalamiku.
"Jadikan keamanan pondok mawon gus, biar kaya bapaknya" ujar kang Huda.
"Halah gampang kuwi, yo wes tak tinggal sek" ujar gus Fuad.
"Njih gus Hati-hati" katanya sambil menyalami gus Fuad kembali.
Kamipun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, kira-kira 5 menit kamipun sampai di warung kopi milik keluarga Aisyah.
"Assalamu'alaikum" ucap kami bersama.
"Waalaikumsalam" terdengar jawaban dari dalam.
"Eh gus Fuad monggo mlebet gus" (silahkan masuk) yang ternyata adalah Marni adik dari almarhumah Aisyah.
"Monggo pinarak, ngapunten reget ngunjuk nopo gus" (silahkan duduk, maaf kotor minum apa?) tanyanya lagi.
"Wes kopi ae 6 yo nduk" (udah kopi aja 6 ya) kata gus Fuad.
"Taseh Asharan ten lebet gus" (masih sholat ashar di dalam) ujar marni sambil mempersiapkan kopi panas untuk kami.
"Sekedap gus, kulo timbalaken" (sebentar gus, saya panggilkan. ujarnya mohon diri kedalam di jawab anggukan oleh gus Fuad.
"Assalamu'alaikum gus" ujar sang ibu.
"Waalaikumsalam, eh yu Jum piye kabarmu" tanya gus Fuad yang sepertinya sudah kenal lama.
"Ngapain lagi kalian kesini" tanya ibu itu ketus.
"Sabar yu, iki ngunu anake kang Hasan Anwar" jelas gus Fuad pada beliau.
"Wes ayo duduk dulu semua" perintah gus Fuad.
Semua pun duduk melingkar di ruang tamu dengan kursi seadanya.
"Siapa duluan yang mau mulai cerita?" tanya gus Fuad.
"Biar Ipul aja gus yang cerita semuanya dari awal sampai akhir, karena ipul sama saya yang 'diajak' Aisyah 'melihat' kejadiannya" kata Reno menjelaskan.
"Ayo le, critakne" kata gus Fuad, ku jawab dengan anggukan.
"Jadi ceritanya gini waktu pertama di kelas aku dengar suara cewek nangis sambil minta tolong terus aku celingukan mencari sumber suara itu"
FLASHBACK ON
__ADS_1
"hiks....hiks.... tolooong aku mau minta maaf sama ibu"
kemudian waktu malam penutupan MOS kami berlima sepakat mencari sumber suara itu ke tempat pembangunan asrama putri yang baru.
setelah ketemu ternyata suara perempuan dengan tujuh luka tusukan dan beberapa sayatan di wajahnya.
"Dia Jahaaaaattt" teriak perempuan itu.
Lalu aku "di tarik" ke sebuah pasar ada tiga lelaki salah satunya bernama Dimas, dia terlilit hutang pada kedua lelaki itu yang ternyata juga menyukai Aisyah. mereka berencana untuk menodai Aisyah dan membunuhnya untuk menghilangkan barang bukti.
FLASHBACK OFF
Ibu mendengar ceritaku sambil berlinang air mata, kemudian beliau memelukku.
"Maafin ibu le" katanya sambil menangis.
"Njih bu, mboten nopo-nopo" jawabku.
Tiba-tiba ada angin di dalam rumah ini.
"Waalaikumsalam ya ghoib" jawabku pada Aisyah yang telah 'hadir' di tengah-tengah kami.
"Ndi minggir" pintaku pada Andi, Andi yang udah tahu maksudku langsung berdiri.
"Ibu Aisyah 'ada' disini" jelasku pada beliau dan Marni putrinya.
"Apa ibu kalian Marni mau 'lihat' Aisyah?" tanyaku pada beliau.
"Monggo Istighfar riyen ping tigo mripate merem, terus pegang tangan kiri Marni"(silahkan istighfar dulu tiga kali) jelasku pada beliau.
Tak lupa ku panjatkan do'a pada Allah untuk mempermudah semua proses ini, kemudian ku usapkan tanganku beberapa senti di depan wajah mereka berdua.
"Monggo bu dibuka mripatipun"(silahkan di buka matanya) kataku pada mereka berdua.
"Ya Allah Aisyah" teriak sang ibu yang tangisnya langsung pecah, sementara Marni tak bisa berkata apa-apa hanya bisa menutup bibirnya dengan tangan kanannya.
"Maafin Aisyah bu" katanya sambil menangis.
sementara gus Fuad cuma bisa melihat "pertemuan" ini.
"Iya nduk ibu wes Ikhlas, kowe yo sing ikhlas trimo dalane gusti" kata sang ibu sambil berlinang air mata.
"Njih bu, Aisyah pamit, ni dijogo ibu yo dek" katanya pada Marni adiknya, sementara Marni hanya bisa mengangguk lemah.
"Mas-mas semua matur nuwun njih kulo nderek pamit sampun nepangaken kulo kaliyan ibu lan adik, Assalamu'alaikum" pamitnya kepada kami.
"Waalaikumsalam" jawab kami bersama seiring 'menghilang'nya Aisyah dari hadapan kami semua.
"Ibu, Marni sampun njih monggo merem malih" (sudah ya, silahkan tutup mata lagi) pintaku pada mereka berdua.
"Alhamdulillah, sampun bu" ucapku sambil meminta mereka kembali membuka matanya.
"Wes yo ra ono beban neh ikhlasne, sing wes yo wes" ujar gus Fuad.
"Njih gus" ujar bu Juminten.
"Nduk siapne daharan gawe dayone"(nak siapin makan buat tamu) sambung bu Jum lagi.
"Ra usah repot-repot yu" kata gus Fuad.
__ADS_1
"Mboten repot gus, sak eneke" (gak repot, seadanya. ujar bu Jum.
Usai makan dan ngobrol-ngobrol kamipun mohon diri pada bu Jum untuk kembali ke pondok.