
Kami berlima berjalan ke arah belakang gedung asrama putri yang sedang dalam proses pembangunan itu, semakin kami masuk semakin pengap pula udara di ruangan ini walaupun di gedung terbuka keriuhan di depan gedung sekolahpun semakin menghilang dari pendengaran kami, Andi dan Reno menyalakan senter yg sengaja di bawanya dari asrama kami lalu memasuki ruangan kamar lantai 1 yang sudah berbentuk ruangan luas
'Hiiks...hiiiks... tolooong aku' tiba - tiba terdengar suara tangisan dan meminta tolong, kami mempertajam indra pendengaran kami sambil berpencar di ruangan yang cukup luas.
"Disini rek" kata Beni dengan teriakan yang tertahan, kami segera menengok dan berjalan ke arah beni bersama.
"Tuh" tunjuk Beni ke arah bawah dengan isyarat mata...
"Astaghfirullah" ucap kami terkejut bersama, dengan perasaan takut aku dan Ujang berjongkok untuk melihat lebih jelas sosok yang ada di hadapan kami saat ini.
'Tolooong' pintanya terlihat mengiba.
"Maaf sebelumnya, tapi kami ini gak tau siapa kamu dan apa maumu?" tanyaku pada sosok tersebut.
'Aku mau minta maaf sama ibuku' katanya lirih masih dengan tangisnya.
"Tapi kami ga tau siapa ibumu dan dimana rumahmu?" kali ini Ujang bertanya lebih dulu.
Dia pun berdiri dan melayang mengelilingi kami berlima, aku dan Ujang segera berdiri menunggu dan melihat apa yang terjadi selanjutnya, tiba - tiba dia berbicara.
Namaku Aisyah, rumahku di dekat rel kereta, aku cuma ingin minta maaf sama ibu, dia jahaaaaaaat' teriaknya cukup memekakan telinga sehingga membuat kami menutup mata dan telinga.
Saat membuka mata aku hanya mendapati Reno di sampingku yang tak kalah terkejut dan bingung sama denganku, ku lihat seorang gadis dengan seragam SMA dengan nama AISYAH di dadanya. Aku saling melihat dengan Reno.
"Mas dimana ini, ndi liyane?"( mana yang lain) aku hanya mengangkat kedua bahuku tanda kebingunganku.
__ADS_1
"Syah, putuso karo dimas, ibu rasa dia ga baik buat kamu kowe iki ayu syah" kata seorang ibu yang kemungkinan besar adalah ibu dari Aisyah.
"Wes to bu, Aisyah wes gede wes ngerti ndi sing apik lan elek gawe Aisyah" katanya membentak sang ibu.
Tiba-tiba tubuh kami tertarik ke tempat yang berbeda tepatnya di belakang pasar, ada sekitar lima orang pemuda sedang merencanakan sesuatu.
"Gimana dim, wes mbok pikirne?" kata seseorang yang kemungkinan besar adalah ketua dari mereka.
"Ingat utangmu udah banyak sama kita, opo mau ku tagih ke orang tuamu?" tanyanya terdengar seperti ancaman.
"Ja....jangan mas iso mati aku engko" kata dimas
Sementara kami berdua hanya menebak kemana arah dan maksud dari obrolan mereka.
Kami seperti baru saja terbangun dari tidur panjang.
"Ayo cepet balik ke lapangan sebelum yang lain curiga" kata Beni menyadarkan kami berdua.
"Wes ayo, bener kata Beni tuh" sahut Andi.
Kami berlima segera meninggalkan tempat tersebut untuk kembali mengikuti acara terakhir yaitu 'Jurit Malam', untungnya ga ada seorangpun dari panitia yang curiga atas "hilang"nya kami berlima kemudian atas instruksi panitia Osis kami pun membentuk kelompok kecil beranggotakan lima orang, karena jumlah kami udah berlima kami segera menunggu giliran berjalan, setiap kelompok diberi jeda waktu sekitar 20menit untuk menyusul kelompok di depan ternyata kami mendapat giliran kelima dalam acara ini, saat giliran kami berjalan mengelilingi kawasan sekitar pondok sengaja tim panitia memposisikan beberapa 'setan' buatan yang membuat para siswa/ siswi baru banyak yang berteriak histeris, karena kebanyakan dari mereka berasal dari sekolah umum yang mungkin sangat awam melihat penampakan seperti itu.
Tiba giliran kami berjalan, yang aku tau dari hasil obrolanku dengan mereka ternyata mereka berempat berasal dari mts pondok ini, yang letak gedungnya tepat di sebelah selatan gedung sekolahku, kami melihat beberapa bayangan siluet dari kakak kelas kami, yang membuat kami cuma bisa cengar-cengir.
"Gimana kalo kita kerjain balik mereka?" kata Reno memberikan usul.
__ADS_1
"Wes ra usah iseng" kataku mengingatkan mereka.
"Rapopo mas sekali sekali kita ngerjain balik mereka" kata Andi.
"Yo wes karepmu lah" ujarku ke mereka.
Tak lama terlihat Reno berkonsentrasi sambil membaca do'a, sementara aku dan yang lain hanya melihat apa yang akan terjadi selanjutnya dari ekor mataku terlihat sekelebat bayangan putih mendekat pada para anggota Osis yang berdandan ala pocong tersebut.
Terlihat mbak kunti tepat di atas "pocong" sambil tertawa merdu 'hiiiiii...hiiii...hiii...' sementara kedua anggota OSIS tersebut tampak kebingungan mendengar suara tawa khas dari mbak kunti.
'aku di atas sini' kata kunti tersebut dengan baju kebesarannya berwarna putih.
"kak, ada apa tuh di atas pohon?" kata Ujang yang mulai bersandiwara.
Salah satu anggota osis yang bernama Hendra segera menengok ke atas.
"Nang...nang.. see...seetaaaaann" ujar Hendra berlari menjauh.
"Woi j*nc*k ndra, liat apaan sih" seru Danang si "pocong" yang belum menyadari kehadiran sang penunggu pohon.
'Mas ocong liat atas dong' seru mbak kunti dengan suara yang dibuat centil bin genit.
"Seeeeeetaaaaan, toloooong" teriaknya sambil jumpalitan dengan baju ala-ala ocongnya tersebut.
Kamipun tertawa ngakak melihat kejadian itu sambil melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda karena permainan Reno yang ingin ngerjain kakak kelas yang iseng tadi, sampai di titik pemberhentian kami diberikan beristirahat sejenak sambil menikmati kue seadanya yang telah di sediakan panitia, lalu salah seorang panitia berkata kepada kami agar kami segera melanjutkan perjalanan kami sampai POS I.
__ADS_1