Pesantren Impian

Pesantren Impian
Gundul Pringis 2


__ADS_3

Gus Fuad hanya mengangguk tanda setuju, kemudian dia meminum sedikit kopi di meja.


"Jadi pas cak Min masukin kelapanya ke keranjang di punggung tiba-tiba dia denger suara orang ketawa" kata gus Fuad.


"Terus lek" kata Ratna yang antusias mendengar cerita tersebut, sementara aku dan kyai Zaenal hanya diam mendengar.


"Terus Cak Min tengak tengok nyariin asal suara itu, ternyata ga ada orang karena Cak Min yaqin dia cari kelapa sendirian" lanjut lek Fuad lagi terus bunyi lagi tuh suara 'Enak banget malam-malam ada yang gendong' Cak Min pun nyari lagi darimana asal suaranya, sampai akhirnya dia kecapean terus duduk di pos ronda tapi kata dia malam itu sepi banget gak kaya biasanya lampu pos juga mati.


Eh dia denger lagi itu suara 'Suwon yo lek wes di gendong' karena penasaran akhirnya keranjangnya di turunin begitu di cek ternyata kepala orang alias 'si Gundul Mringis' ya cak Min akhirnya lari terus teriak minta tolong sama warga sekitar tapi setelah di cek si kepala itu hilang dan ganti jadi buah kelapa lagi yang bikin semua orang bingung.


"Separah kuwi si Gundul neror warga kampung" tanya kyai Zaenal.


"Njih mas kyai" jawab gus Fuad.


"Coba Pul karo kowe nduk, ndang crito ada apa tadi sore pas pulang sekolah" tanya kyai pada kami berdua.


"Gini Bi" jawab Ratna seraya bercerita panjang lebar, sementara aku sesekali menambahkan apa yang di rasa kurang.


"Terus menurut gus Fuad dan pak kyai apa yang harus kita lakukan?, apa kita menunggu sampai ada kejadian berikutnya?" tanyaku setelah Ratna menyelesaikan ceritanya.


'hmmm' terdengar gus Fuad menghela nafas panjang.


"Gini aja Pul sementara malam ini kita tunggu informasi dari warga, terus bilangin temen-temenmu besok malam siap-siap kita coba ke kampung belakang pondok" ujar gus Fuad tegas.


"Njih gus siap laksanakan" jawabku seraya memberi hormat pada beliau, pak kyai dan Ratna yang melihat itu terlihat menahan tawa.


Aku pun keluar dari 'ndalem' untuk menyampaikan kabar dari gus Fuad soal besok malam, terlihat mereka berlima tampak bercanda di depan kamar sambil makan cemilan yang mungkin mereka beli di kantin.


Belum sempat aku mengucap salam, ternyata Anto yang sudah melihatku berjalan mendekat kemudian memanggilku.


"Woy Pul ayo rene, mangan jajan" kata Andi sedikit berteriak, sementara aku mengacungkan jempolku tanda setuju.


"Assalamu'alaikum" ucapku pada mereka.


"Waalaikumsalam' jawab mereka serempak.


"Gimana Pul" tanya Ujang padaku.


"Jadi gini" akupun menceritakan semua yang udah kami bicarakan tadi.


Tiba-tiba kami melihat dari kejauhan beberapa warga dari arah perkampungan berlari-lari menuju ke 'ndalem'..


"Tolong...kyai Zaen..gus Fuad..." teriak salah seorang warga.


Kami berlima dan beberapa santri yang lain segera berlari ke arah 'ndalem' untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.


"Mas piye iki?" tanyaku pada salah seorang santri senior.


"Coba masuk sampean kan tinggal di ndalem " pintanya padaku.


"Oke siap" kataku menyetujui.


"Ono opo Pul?" tanya gus Fuad yang sudah berdiri di hadapanku.


"Anu gus warga kampung sebelah teriak-teriak di depan rumah minta tolong" kataku menyampaikan pada gus Fuad.


"Yo wes ayo di dep" kata gus Fuad.

__ADS_1


"Njih gus" kataku mengekor di belakang beliau.


"Pul, hubungi Huda lewat HT kon merapat ndalem" perintah gus Fuad padaku.


"Njih gus" ucapku.


Tak lama pak kyai terlihat mendekat ke arah kami, beliau hanya tersenyum dan mengangguk, setelah selesai memanggil kang Huda akupun segera menyusul ke depan.


"Sampun gus" aku menyampaikan pada gus Fuad.


"Sekarang kita bagi jadi dua kelompok, kelompok satu biar saya sama pak Asep yang pimpin, kelompok dua biar Fuad sama Saipul yang pimpin" ujar kyai Zaenal yang tampaknya tak mau membuang waktu.


"Ayo kelompok pertama kita berangkat dulu nanti kita ketemu di lapangan kampung sebelah" kata kyai Zaenal dengan tegas.


"Njih kyai" jawab kami semua.


Kelompok pertama pun berangkat lebih dahulu bersama beberapa santri senior serta Anto, Reno ada di sana.


Sementara aku, gus Fuad menunggu tim keamanan pondok yang sedang mengarah ke ndalem.


"Assalamu'alaikum" ujar beberapa tim keamanan yang baru datang langsung menyalami gus Fuad


"Waalaikumsalam" jawab kami bersama.


"Wes yuk kita susul kelompok pertama" ucap gus Fuad.


"Njih gus" jawab kami serempak, dan berjalan menuju kampung sebelah.


"Huda, Saipul" panggil gus Fuad.


"Piye berani kan?" tanya gus Fuad pada kami.


"Insya Allah gus" jawab kami bersama, sekitar sepuluh menit berjalan kami pun tiba di lapangan yang telah berkumpul banyak orang sedang melingkari sesuatu.


"Nuwun Sewu" (permisi) ucap kami sambil merangsek maju diantara kerumunan tersebut.


"Astaghfirullah" ucapku terkejut saat melihat sosok kepala tanpa tubuh di hadapanku.


"Darimana asalmu" tanyaku pada makhluk itu.


'Jauh' jawabnya sambil menggelinding ke kanan dan ke kiri.


Sebagian orang mulai berteriak-teriak ketakutan melihat "aksi" dari kepala tersebut.


'Kembalikan badanku' katanya lantang.


Sementara kami dan para santri yang lain segera membuat pagar betis di sekeliling untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan terjadi.


"Maaf tapi kami semua gak tahu dimana badanmu" ujar gus Fuad dengan nada lembut.


"Gus biar tak coba" kataku pada gus Fuad dan di jawab anggukan oleh beliau.


'Pegang kepalaku' pinta makhluk itu padaku.


"Pul, ati-ati" kata gus Fuad mengingatkan.


"InsyaAllah gus" jawabku pada beliau.

__ADS_1


"Bismillahirrohmanirohim" ucapku dalam hati kemudian menyentuhnya.


Kembali aku melintasi 'lorong waktu' tak berujung, tiba-tiba aku berdiri di sebuah tanah lapang namun kali ini sepi tanpa ada kerumunan dari pak kyai serta rekan-rekan santriku serta masyarakat sekitar sejauh mata memandang hanyalah areal sawah dan perkebunan.


Terlihat beberapa orang sedang berdebat sengit, kalo ku lihat dari sini seperti kyai Zaenal beserta gus Fuad dan beberapa santri bersama seorang berpakaian serba hitam dengan kepala plontos tengah tertawa congkak.


"Aku iki ra iso mati, ra ono sing ngalahne aku" katanya Congkak.


"Ojo sombong kowe Wiro" teriak gus Fuad lantang.


"Majuo kowe kabeh ra bakal mundur aku" teriaknya lagi.


Gus Fuad terlihat mengeluarkan golok dari punggungnya, 'Criing' terdengar suara golok di keluarkan dari sarungnya.


"Hahahaha, golok mainan kuwi ra bakal mempan neng badanku Fuad" teriak Wiro dengan Sombongnya.


Setiap tebasan golok ke tubuh Ki Wiro terasa sia-sia karena apa yang tertebas dan menyentuh tanah akan kembali menyatu dengan tubuhnya tanpa luka.


Terlihat seseorang seumuran gus Fuad tampak maju.


"Gus, tak bantu sampean" teriak orang tersebut yang ternyata adalah ayahku.


"Rawa Rontek, tebas waktu di udara jangan sampe tubuhnya menyentuh tanah" bisik ayah menjelaskan pada gus Fuad, yang di jawab anggukan dan senyum oleh gus Fuad.


Dan pada akhirnya Ki Wiro pun berhasil terpenggal kepalanya, dengan pertarungan yang di lakukan mereka bertiga di udara dan ayah dengan sigap menerima tubuh ki Wiro sebelum menyentuh tanah.


"Alhamdulillah" ucap semua yang ada di situ.


...****************...


...****************...


Tiba-tiba aku kembali ke tempatku semula masih memegang kepala tersebut.


"Astaghfirullah hal adzim" ucapku.


"Apa maumu sekarang ki Wiro" teriakku pada kepala yang tengah menggelinding ke sana kemari tersebut.


Gus Fuad dan kyai Zaenal terkejut mendengarku menyebut nama tersebut.


"Ja....jadi itu ki Wiro le?" tanya gus Fuad kepadaku.


"Njih gus" jawabku pada beliau.


"Gus, biar Ipul coba lempar ke atas kepala itu, nanti gus Fuad hancurkan" pintaku di jawab anggukan oleh gus Fuad.


"Bismillahirohmanirrohim" ucapku dalam hati, kemudian berlari mengejar si Gundul Pringis tersebut di bantu oleh kang Huda yang sebelumnya di minta bersiap oleh gus Fuad.


Dengan berbekal Syurban akhirnya kami berdua berhasil mengangkat kepala tersebut dari tanah.


"Sekarang kang" pintaku pada kang Huda untuk menendang kepala itu setinggi mungkin di susul dua buah kilatan anak panah di sertai sebuah ledakan yang terdengar sangat keras.


"Alhamdulillah" ucap kami bersama termasuk warga yang ada di lapangan ini.


"Semua udah selesai, sakniki Bapak-bapak lan Ibu-ibu silahkan kembali ke rumah masing-masing" teriak kyai Zaenal untuk membubarkan kerumunan warga.


Dan kamipun para santri kembali ke lingkungan pondok dengan ramai-ramai berjalan kaki dengan di pimpin oleh kyai Zaenal dan gus Fuad di depan, sementara Aku, kang Huda, dan ke empat sahabatku bersama para santri yang lain berada di belakang beliau berdua.

__ADS_1


__ADS_2