
"Koyoke 'dia' butuh bantuan kita Pul" kata Ujang setelah kami duduk di kursi masing-masing.
"InsyaAllah nanti kita tanya apa keperluannya Jang" sahutku pada Ujang.
Tak lama kemudian masuk seorang ustadz muda, sebagai pengajar Bahasa Arab beliau memperkenalkan diri sebagai ustadz Imron.
Selama satu jam pelajaran aku di buat bingung dengan pelajaran yang baru saja ku dapatkan di pondok ini, akhirnya bel pergantian jam pun berbunyi membuatku bernafas lega.
"Nyapo kowe Pul" tanya Beni mengagetkanku.
"Ora iso blas aku ben mumet" jawabku membuat mereka tertawa.
"Saipul Bahri, ikut saya ke kantor sekarang" panggil seseorang dari arah pintu kelas berhasil membuatku terkejut.
"Saya ustadz, i...iya ustadz" jawabku berusaha menguasai keadaan, kemudian berjalan mengikuti ustadz Salim yang juga merupakan guru BP di sekolahku ini.
Sepanjang jalan menuju ruang kantor kami hanya diam tak ada percakapan di antara kami, sesampai di kantor beliau segera menuju ke ruangannya sementara aku hanya bisa mengikuti beliau.
"Duduk Pul" pinta ustadz Salim padaku.
"Inggih ustadz" jawabku sambil menarik tempat duduk.
"Pul, langsung ae yo saya udah dengar semuanya" ujar beliau membuka obrolan.
"Ma...maksudnya gimana tadz saya ga paham" tanyaku bingung.
"Kebetulan rumah saya di dekat lapangan desa sebelah" jelasnya padaku.
__ADS_1
"Owh njih ustadz" jawabku singkat pada beliau.
"Maaf Ustadz terus maksud saya di panggil untuk apa ya?" tanyaku langsung.
Beliau nampak lama terdiam sedang memikirkan sesuatu, sementara aku hanya duduk terdiam.
"Ngene Pul, sebenernya pak Salim mau minta tolong sampean sama temen-temen" kata ustadz Salim padaku.
"Insya Allah kalo bisa dan mampu pasti kami bantu ustadz" kataku pada beliau.
'Hmmm' terdengar beliau membuang nafas kasar.
"Jadi ngene Pul, besok sabtu kowe iso ke rumah ustadz?" tanya ustadz Salim padaku.
"Njih ustadz InsyaAllah bisa" jawabku menjawab permintaan beliau.
"Ngapunten ustadz kalo ga ada apa - apa lagi, saya izin kembali ke kelas" ijinku pada beliau, yang hanya di jawab dengan anggukan kepala.
Saat aku berjalan ke kelas bel istirahat berbunyi, semua tampak berlarian keluar kelas.
"Jawir" panggil seseorang dari arah belakang yang ternyata Reno baru kembali dari kamar kecil.
"Jianc***k, tak kiro sopo?" tanyaku sambil mengumpat, sementara dia hanya cengar cengir gak jelas.
"Kantin yok" ajaknya padaku.
"Lha liyane ndi? tanyaku pada Reno.
__ADS_1
"Wes neng cak Min" katanya menyebut salah satu warung langganan kami.
"Yo wes ayo" jawabku sambil berjalan ke arah kantin induk.
Sekitar 10menit berjalan kami pun memasuki area kantin induk, cukup rame para santri yang sedang makan siang sementara kami berdua langsung bergabung dengan yang lain.
"Pul, mau ustadz Salim nyapo?" tanya Andi padaku.
"Beliau minta kita sesok minggu ke rumahnya" jawabku sambil memesan sepiring nasi campur dan segelas es teh untuk menyegarkan tenggorokanku siang ini.
Kemudian ku lanjutkan ceritaku pada mereka semua, sementara pesananku datang.
"Tumben ustad Salim pengen kita ke rumahnya" kata Ujang tiba-tiba.
"Trus piye iso gak?" tanyaku meminta persetujuan mereka semua.
"InsyaAllah" jawab mereka bersama.
"Yo wes ayo sholat lohor sek neng mesjid terus balik sekolah" kataku pada mereka.
"Oke" jawab mereka kompak.
Kami pun kembali ke sekolah dengan berjalan kaki bersama, dan sampai bertepatan dengan bel masuk sekolah.
"Wir, deloken iku" ujar Andi si kutu buku yang kebetulan berjalan bersamaku.
Aku pun mengarahkan pandangan sesuai petunjuk Andi ke atas, tepatnya di salah satu ruangan kelas di lantai dua terlihat sosok wanita sedang menangis dengan gaunnya.
__ADS_1
"Wes njarne ae, lebih baik kita ga ikut campur urusan mereka kalo ora dimintain tolong" ucapku pada Andi.