
Dentuman keras yang menggelar di tengah malam berhasil mengejutkan sesosok tubuh mungil yang tengah duduk memeluk lutut. Gadis itu sontak menghentikan tangis, mengangkat wajah, lalu bangkit dari duduk.
Suara seseorang meminta tolong kemudian terdengar di antara deru mesin mobil yang masih menyala di ujung jalan sana. Tidak salah lagi, suara dentuman tadi berasal dari mobil yang baru saja lewat dengan kecepatan tinggi.
Mengusap wajah basahnya, perempuan bernama Gadis itu kemudian lari tunggang langgang tanpa berpikir panjang. Ia memang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, tetapi orang di dalam mobil itu sedang membutuhkan pertolongannya dengan segera. Terlebih lagi, tak ada orang lain selain dirinya di sana.
Benar saja, pemandangan mengerikan langsung menyambutnya begitu Gadis tiba. Sebuah mobil Mercedes Benz E-Class warna hitam berhenti dalam keadaan terbalik. Sedangkan si pengemudi yang terjebak di dalamnya, tengah berjuang sendirian untuk bisa keluar.
Aroma bahan bakar tercium sangat pekat, lalu tak lama kemudian terlihat percikan-percikan api dari sana. Mobil itu mengalami kebocoran bahan bakar dan bisa dipastikan akan meledak.
Gadis tidak tega. Jiwa kemanusiaannya meronta-ronta. Tak ada lagi yang terbesit di pikirannya selain berusaha menyelamatkan korban itu sekarang juga.
Apa lagi yang ia takutkan? Toh nyawanya sudah tak lagi berharga. Ibunya sudah tiada dan sang kekasih baru saja memutuskan dia. Bahkan beberapa saat lalu sempat terbersit di benaknya untuk mengakhiri hidup dengan cara apa saja.
Andai kata kelak dia mati dalam upayanya menyelamatkan korban, Gadis berharap Tuhan akan mengampuni segala dosanya karena telah mengorbankan nyawa. Bukankah ini adil? Ia tak ingin lagi hidup di dunia, sedangkan orang itu menyayangi nyawanya.
Kepulan asap yang tiba-tiba muncul membuat Gadis terperanjat. Sadar tak memiliki waktu banyak, ia memutuskan bergerak dengan cepat.
"Bertahanlah. Saya janji akan menyelamatkan Anda." Ia berucap mantap pada sang korban dari balik pintu. Berusaha meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.
Tanpa menunggu jawaban orang asing itu, Gadis mulai berusaha membuka pintu. Rupanya proses evakuasi korban kecelakaan bukanlah perkara gampang. Meski Gadis sudah melakukan segala cara dan mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi pintu mobil itu belum juga berhasil terbuka.
Sementara di dalam sana, si korban yang awalnya berusaha keras untuk keluar dari mobilnya sejenak mematung melihat perjuangan seseorang di luar sana. Dalam keadaan sesak, sakit dan terjepit, ia masih bisa merasakan haru yang luar biasa. Dalam hati ia berkata, siapa pun sang penolong itu, ia bersumpah akan bersikap baik seumur hidupnya.
__ADS_1
Api membesar, sedangkan usahanya belum menunjukkan titik terang membuat Gadis nyaris putus asa. Lebih-lebih lagi gadis itu melihat keadaan sang korban di dalam sana kian lemas tak berdaya.
Menatap ke sekeliling untuk mencari-cari sesuatu, mata Gadis tampak berbinar saat mendapati sebuah bongkahan batu. Dia harus menyelamatkan orang itu. Paling tidak, pengorbanannya itu tidak sia-sia meski kelak ia berakhir kehilangan nyawa.
Gadis mengambil batu itu dan mulai membenturkannya pada kaca. Berulang-ulang hingga kaca itu retak dan kemudian pecah dengan puing berserakan. Gadis itu bernapas lega sebelum akhirnya mengulurkan tangannya.
"Kemarilah! Anda harus keluar sebelum mobil ini meledak! Apakah Anda bisa mendengar saya? Tolong jawab." Kepanikan tergambar jelas dari nada bicara Gadis, tetapi ia berusaha tetap tenang.
Pria di dalam mobil itu bergerak perlahan lalu berusaha menyambut jemari Gadis. Tak ada ungkapan yang terlontar dari bibirnya.
Seolah tak ingin membuang waktu, Gadis langsung menarik pria itu dengan kuat untuk keluar dari sana. Susah payah. Penuh perjuangan. Hingga pada akhirnya sosok tubuh jangkung itu berhasil ia keluarkan.
Yakin, ingin mati? Baru ledakan kecil begitu saja kau sudah ciut nyali. Gadis itu membatin, meremehkan diri sendiri.
Sementara itu si pria korban kecelakaan, dengan kesadaran penuh, antara hidup dan mati, ia masih bisa memperhatikan sosok penolongnya dengan sangat jelas. Rupanya dia hanya seorang wanita dengan tinggi badan sebatas bahunya saja. Dari suara jeritan tadi ia bisa memperkirakan umurnya masih muda.
Sayangnya, masker kain yang menutupi wajah si gadis membuat pria bernama Arya itu tak bisa mengenali bagaimana rupanya. Yang Arya tahu, saat ini sang penolong tengah menggigil dengan kedua tangan menutup erat telinganya. Jelas sekali, ekspresi gadis itu menggambarkan rasa takut yang luar biasa.
Tanpa Arya sangka, tiba-tiba gadis berambut panjang itu bangkit tanpa beban, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Rasa takut yang sempat menguasai seperti sirna tiba-tiba. Dia memegangi lengannya dengan erat, lalu kemudian berbicara dengan nada mendesak.
"Kita harus bergerak menjauh sebelum mobil ini benar-benar meledak! Anda masih bisa berdiri dan berjalan, kan?"
__ADS_1
Antara bingung dan tak percaya, Arya masih bisa menganggukkan kepalanya. Pemuda itu susah payah bangkit dibantu oleh Gadis. Keduanya berjalan tertatih menjauhi mobil, hingga tak lama berselang, dentuman keras kembali terdengar setelah api besar benar-benar melalap mobilnya.
Kedua manusia itu terpental dengan posisi terpisah jauh. Puing-puing badan mobil berhamburan. Suara keras yang ditimbulkan sukses menarik perhatian, hingga tak lama kemudian banyak orang-orang yang berdatangan.
Dalam keadaan terkapar, Arya masih bisa melihat tubuh gadis asing itu terkulai tak berdaya. Dengan rasa sakit tak terperi, ia berusaha untuk bangkit.
Sayangnya, kondisi Arya benar-benar tidak memungkinkan untuk bisa bangun hanya sekadar memastikan keadaan penolongnya. Kepalanya terbentur. Ia merasakan pusing yang hebat. Matanya berkunang-kunang. Pandangannya perlahan meredup, lalu tak lama kemudian semuanya terasa gelap dan akhirnya Arya benar-benar hilang kesadaran.
***
Gadis menyeret kakinya menjauhi keramaian. Ia memutuskan untuk pergi setelah banyak orang berdatangan. Ia merasa lega. Setidaknya korban itu mendapatkan pertolongan. Kendati kakinya terluka. Kendati tak ada orang yang berupaya menolongnya.
Semak-semak tempatnya mendarat usai terpental tadi memang menghalangi jarak pandang. Terlebih lagi oleh pekatnya malam tanpa penerangan. Akibatnya tidak ada seorang pun yang menemukan keberadaan Gadis di sana.
Namun, gadis itu tetap bersyukur, setidaknya dengan begini ia masih aman sehingga tetap sadar sampai sekarang. Nyawanya masih melekat pada raga. Bahkan bisa berjalan meski tertatih sampai ke depan pintu rumahnya. Lagipula dengan buru-buru pergi ia bisa terhindar dari rasa malu akibat maskernya menghilang entah ke mana.
Pintu terbuka dan menampilkan dua wanita beda usia yang tengah duduk di sofa. Melihat kedatangan Gadis yang tiba-tiba, keduanya menampilkan ekspresi keterkejutan, lalu seketika senyuman di wajah mereka memudar melihat kondisi Gadis yang baru datang.
"Gadis? Kamu kenapa? Kamu dari mana saja kok aku cari-cari nggak ada?" Kanaya, saudari tiri Gadis menunjukkan kecemasan. Ia menghampiri gadis yang terpaku di depan pintu, lalu memeriksa keadaan saudari tiri yang seumuran dirinya itu dengan seksama. "Astaga, kakimu terluka. Kamu kenapa Gadis? Kamu tidak berniat macam-macam setelah tadi Galang mencampakkanmu, kan?"
Mood Gadis seketika hancur mendengar nama Galang disebutkan. Pemuda itu adalah cinta pertamanya. Namun, hanya karena kondisi kulit wajahnya yang tiba-tiba berjerawat Galang lantas mencampakkannya, bahkan terang-terangan mengakui jatuh cinta pada Kanaya.
Inikah definisi cinta hanya karena memandang rupa? Gadis akui, kini ia tak lebih cantik dari Kanaya. Namun, pantaskah ini jadi alasan Galang untuk pergi meninggalkannya? Dua tahun mereka menjalin cinta. Dan selama itu mereka baik-baik saja.
Kenapa harus pada Kanaya Galang berpaling? Apa hanya Kanaya satu-satunya wanita selain Gadis? Atau hanya agar lukanya kian terasa?
"Gadis, kamu baik-baik saja?" Kanaya mengguncang bahu adiknya. "Aku benar-benar cemas saat tadi kamu tiba-tiba ngilang. Padahal ada sesuatu penting yang ingin kujelaskan. Plis, jangan dengerin omongan Galang ya. Dia itu ngaco. Bisa-bisanya dia suka sama aku sedangkan aku ini saudari kamu. Itu nggak mungkin terjadi, Gadis! Kamu tenang aja ya. Besok aku akan ngomong baik-baik ke Galang biar kalian bisa balikan."
"Nggak perlu, Kanaya. Aku baik-baik saja."
"Tapi yang aku lihat nggak gitu!" Kanaya bersikeras. Matanya memperhatikan luka Gadis serta keadaannya yang kacau untuk meyakinkan. "Lukanya sangat dalam. Biar aku obati supaya tidak terjadi infeksi."
"Ini hanya luka kecil yang tidak ada hubungannya dengan Galang. Tidak perlu secemas itu, Kanaya." Gadis kembali menyeret langkah melewati Kanaya. Di sofa ruang tamu ia mendapati Sarah yang menyambut kedatangannya dengan acuh tak acuh.
Begitulah Sarah sejak menikah dengan papanya. Wanita itu tak pernah menunjukkan kasih sayang, apalagi di belakang papanya. Berbeda dengan Kanaya yang selalu baik terhadap Gadis. Selalu melindungi setiap kali Gadis menjadi korban kemarahan Sarah. Bahkan tak jarang ibu dan anak itu terlibat pertengkaran hanya karena membela Gadis yang mendapat hukuman.
__ADS_1
Dan sekarang, akankah Gadis menjadi penghalang jika Kanaya dan Galang benar-benar saling cinta?