
"Tuan, Anda baik-baik saja?"
Arya masih terpaku ketika Pak Mu'in tergopoh-gopoh datang untuk memayungi. Arah pandangnya masih tertuju pada gadis itu.
"Apa Tuan Arya mengenalnya?" Mu'in kembali bertanya, tetapi yang ia dapat hanya gelengan kepala Arya.
"Kembali ke mobil," titah Arya kemudian setelah beberapa saat dirinya terdiam.
"Tapi Anda basah kuyup. Kita bisa cari baju ganti di butik sekitar sini. Saya khawatir Anda sakit."
Arya hanya mengangguk samar. Ia tak terlalu memikirkan keadaannya yang basah. Bahkan rasa dingin tak dirasakannya. Fokusnya justru tertuju pada gadis itu.
"Pak Mu'in, apa kau melihat gadis tadi?" tanya Arya tiba-tiba, yang seketika membuat Mu'in mengerutkan keningnya.
"Tidak. Saat saya tiba dia sudah pergi begitu saja."
"Menurutku ada yang aneh dengan dia," jelas Arya tanpa Mu'in minta. Wajahnya menunjukkan keseriusan. "Wajahnya rusak parah, tetapi kulit tubuhnya baik-baik saja. Aku melihat sendiri kulit lengannya tadi putih dan mulus. Lantas ada apa dengan wajahnya?"
"Mungkin gadis tadi hanya salah menggunakan skincare perawatan wajah. Zaman sekarang kan banyak bermunculan merk-merk baru skincare abal-abal, Tuan. Jadi nggak heran. Bukannya malah cantik, tetapi malah bikin wajah rusak parah," jelas Mu'in seraya mengemudikan mobil tuannya.
***
__ADS_1
Gadis berhenti sejenak di depan sebuah rumah berlantai dua. Itu adalah rumah yang selama ini ditempatinya. Rumah peninggalan orang tua yang saat ini sudah dikuasai oleh mama tirinya.
Ternyata, sudah sejauh ini ia menyeret langkah. Gadis benar-benar jalan kaki, dan sampai di rumah pada saat langit sudah menggelap.
Pagar setinggi dada orang dewasa ia buka tanpa suara. Sampai di ambang pintu berhenti sejenak, mendengarkan dengan ekspresi aneh suara tawa menggelegar dua orang yang berbeda. Itu suara Kanaya dan Mama. Kanaya sudah tiba lebih dulu ternyata. Pasti, lah. Galang mengantar Kanaya dengan mobilnya.
Entah apa yang sedang mereka tertawakan, tapi sepertinya mereka sedang bahagia. Gadis tak mau ambil pusing mengenai ini. Ia hanya ingin cepat masuk, membersihkan diri lalu bergulung di bawah selimut.
"Kamu?" Sarah menyambut kedatangan gadis dengan wajah ketus seperti biasa. Tawa keduanya seketika hening mendapati kehadiran Gadis.
Ia bangkit dari duduk, berjalan menghampiri gadis, melotot tak percaya melihat penampilan sang anak tiri yang seperti ini.
"Enggak, Ma. Tadi Gadis mengalami sedikit kecelakaan ...."
"Halah alasan!" sambar Sarah meremehkan.
Berbeda dengan Sarah yang tak peduli perasaan Gadis, Kanaya justru mendekat dan terlihat cemas mendengar saudari tirinya mengalami kecelakaan.
"Kamu habis celaka, Gadis? Kamu ditabrak seseorang?" Ia bertanya penasaran dengan raut penuh kekhawatiran.
"Cuma kecelakaan kecil, Naya. Cuma baju aja kok yang kotor. Selebihnya aku nggak papa." Gadis meyakinkan.
__ADS_1
"Gadis ..., harusnya kamu pulang bareng aja sama aku tadi–"
"Pulang bareng?" Sarah langsung menyahuti dengan nada merendahkan. "Yang ada kalian bakal sial karena ada dia, Naya! Lihat wajahnya itu! Itu karma gadis pembawa sial!"
"Mama stop!" Teriakan Kanaya menginterupsi hinaan Sarah. "Berhenti ngatain Gadis anak sial. Aku nggak terima, Ma. Dia itu tetap saudari aku!"
"Naya jangan bentak mama kamu seperti itu." Gadis yang Kanaya bela, tetapi Gadis juga yang tak terima. Ia akui memang tidak bisa menjadi seperti yang Sarah inginkan, tetapi jangan sampai pembelaan Kanaya terhadapnya justru memicu perpecahan antara Kanaya dan mamanya.
"Biar, Gadis. Biar Mama tau kalau kamu nggak seburuk itu!"
Sesuatu dengan apa yang Gadis takutkan. Pembelaan Kanaya terhadapnya ternyata semakin membuat kemarahan Sarah meradang.
"Lihat kelakuan kamu, Gadis!" Tanpa peringatan Sarah menarik rambut gadis. "Gara-gara kamu anak aku jadi berani seperti ini! Pembangkang! Berani pada orang tua! Berdosa besar kamu udah bikin dia seperti ini!"
"Ma ampun, Ma. Sakit." Gadis memekik saat Sarah menjambaknya tanpa ampun. Sayang, ringisnya tak dihiraukan meski ia sudah memohon. Sarah justru menguatkan tarikan hingga rasanya rambut itu seperti ingin terlepas dari kulit kepala.
"Sakit, kamu bilang? Mana yang lebih sakit daripada ditentang anak sendiri!"
"Mama sudah! Jangan sakiti Gadis seperti ini!" Kanaya yang berniat menengahi justru melakukan kesalahan dengan menarik tangan Sarah. Akibatnya, Gadis justru tersungkur oleh tarikan yang lebih kuat, dan di sini rasa sakit Gadis terasa berkali-kali lipat.
Entah ada unsur kesengajaan atau bagaimana, yang jelas kejadian semacam ini bukan hanya sekali dua kali terjadi. Tanpa ia sendiri sadari dirinya seperti dihajar dua orang. Gadis seperti dijadikan bulan-bulanan. Namun, sifat polosnya membuat ia tak mau berburuk sangka sebab Kanaya hanya berniat menolongnya.
__ADS_1