
"Kamu yakin ini ampuh?" tanya seorang gadis pada pria berjaket hitam usai menerima sebuah ramuan yang dikemas dalam botol kecil dari dia. Wajah pria itu tak terlihat sebab mengenakan masker hingga bawah mata, ditambah pula sebuah topi sebagai pelindung kepala. Keduanya bertemu di tempat sepi dan tak ada orang yang mengetahui.
"Yakin, Bos. Ini lebih ampuh dari sebelumnya. Percaya deh."
Gadis yang rupanya adalah Kanaya itu terlihat celingukan melihat ke sekitar. Saat dirasa aman, ia mengambil beberapa lembar uang dari tasnya lalu menukar itu dengan ramuan tadi.
"Pergi sana. Ingat, jangan sampai ada orang yang tau mengenai ini," usir Kanaya tanpa melupakan peringatan seperti biasanya. Ya, kenapa dikatakan biasanya? Sebab ini bukan yang pertama kali Kanaya lakukan.
***
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore saat Gadis keluar pintu dari sebuah coffee shop di ibukota, tetapi matahari masih terasa terik sore itu.
Ia menghembuskan napas lelah usai menempati sebuah kursi besi tak jauh dari sana, lantas meneguk air mineral dingin yang baru saja dibelinya.
Mencari pekerjaan ternyata bukanlah perkara gampang untuk dirinya dengan kondisi fisik seperti sekarang. Seluruh tempat yang didatangi Gadis menuntut penampilan menarik sebagai persyaratan diterima kerja, sedangkan dirinya saja sangat jauh dari kata cantik dan menarik. Sepertinya hari ini Gadis harus pasrah mendengar omelan Sarah lagi lantaran belum berhasil mendapatkan pekerjaan. Ia juga tak berniat menghindar andai kata kembali menjadi bulan-bulanan. Ia sudah terbiasa.
Sebenarnya, secara finansial keluarga mereka masih berkecukupan dengan adanya kafe peninggalan Papa. Sayangnya Sarah tak mengizinkan Gadis membantunya di sana, pun dengan memberikan jatah uang jajan seperti dulu kala. Sarah mengurangi uang saku Gadis dengan alasan penghematan. Kafe mereka sekarang sepi dan pendapatan tak seperti dulu lagi.
Apakah Gadis percaya begitu saja? Tentu saja tidak. Diam-diam Gadis memantau perkembangan kafe itu dan ia merasakan tak ada perubahan. Justru dinilainya kafe itu semakin ramai karena Sarah adalah wanita ulet dan rajin berinovasi.
Gadis hanya berusaha menghindari pertengkaran dan memilih cari aman. Ia juga tak mempermasalahkan perihal pilih kasih dalam perlakuan Sarah terhadap dirinya dengan Kanaya. Maklum jika Kanaya mendapatkan perhatian lebih dan fasilitas memadai sebab Kanaya adalah anak kandung dari Sarah. Berbeda dengan dirinya yang kini tak lagi punya siapa-siapa. Seperti saat ini dan setiap hari, ia harus keluar rumah menggunakan angkutan umum, sedangkan Kanaya selalu memakai mobil pribadi yang dulu papanya beli. Benar-benar kesenjangan sosial antara kedua putri itu sangat kentara.
Sejauh ini ia merasa tak peduli jika memang mama tirinya itu berniat menguasai. Toh sertifikat kafe itu atas nama dirinya dan hingga saat ini masih tetap aman berada di tangannya, begitu juga dengan surat-surat kendaraan dan bangunan yang mereka tempati saat ini.
Saat tengah merenung sendirian tiba-tiba sebuah suara gaduh terdengar dan sukses menarik perhatian Gadis. Gadis seketika menoleh ke sumber suara dan keningnya dibuat berkerut oleh pemandangan di depannya.
Seorang wanita tua tampak memunguti sayuran dan beberapa macam buah yang bercecer di jalanan. Sepertinya belanjaan nenek tadi tumpah oleh karena sesuatu hal.
__ADS_1
Ketika merasa diri tak berguna, Gadis selalu ingat bahwa tujuan hidup ini bukanlah untuk mewujudkan apa yang orang lain harapkan. Namun, untuk apa kita dihidupkan.
Seketika ia beranjak dan membantu nenek itu penuh kesungguhan. Bukankah hidup lebih bermakna jika seseorang bisa bermanfaat untuk orang di sekitar?
"Terimakasih atas bantuannya, Nak. Kamu baik sekali," ujar nenek itu usai mendapat bantuan dari Gadis.
"Sama-sama, Nek. Lain kali Nenek hati-hati ya. Jangan menyeberang jalan sendirian. Bahaya. Oh iya, rumah Nenek di mana? Biar sekalian Gadis antar pulang."
"Wah jadi ngerepotin, nih. Memangnya Gadis nggak keberatan?" Kendati senang tetapi Nenek merasa tak enak hati.
"Enggak ngrepotin kok, Nek. Sekalian gadis pulang."
Nenek tersenyum hangat. "Syukurlah. Kalau gitu Nenek jadi nggak sungkan. Yuk, antar Nenek. Rumah Nenek nggak jauh, kok. Tuh di daerah sana," ujarnya sambil menunjuk ke arah barat. Gadis mengangguk paham. Tak lupa ia membawakan barang-barang si nenek saat mengantar.
Hari sudah menggelap saat Gadis sampai rumah. Ia langsung bergegas menuju kamar sebab tak menjumpai siapa pun di dalam rumah.
Gadis berhenti sejenak di depan kamarnya dengan kening berkerut menatap pintu yang sedikit terbuka. Ini aneh. Bukankah ia selalu mengunci pintu kamarnya saat keluar rumah?
Benar saja, sosok Kanaya muncul dari sana dengan menunjukkan wajah kaget melihat sosok saudarinya.
"Kanaya?"
"Gadis?"
Mereka menyebutnya nama lawan di waktu yang hampir bersamaan.
"Eh, kamu udah pulang?" Kanaya berusaha tersenyum meski wajahnya sedikit memucat. Entah Gadis menyadari atau tidak jika Kanaya melakukan itu demi menyembunyikan kegugupan.
__ADS_1
"Iya. Baru aja," jawab Gadis datar masih dengan wajah heran. "Kamu ngapain di sini? Bukannya pintu kamar ini aku kunci?"
"Ih, siapa bilang. Kamu tuh lupa, Gadis. Buktinya aku bisa masuk." Tawa sumbang Kanaya menggelegar saat menjelaskan. "Nih, kalo nggak percaya. Kuncinya aja masih nyangkut di pintu. Mana nggak ditutup pula sama kamu. Aku barusan masuk karena pengen cek aja kamu udah balik apa belum. Eh, ternyata kamunya nggak ada."
Mendengar perkataan Kanaya Gadis jadi berpikir. Mungkin benar jika hari ini dirinya kelupaan. Ah, ini pasti efek dari buru-buru. Hampir saja ia mencurigai Kanaya yang tak melakukan apa-apa.
"Maaf ya, Nay karena aku sempat curiga. Aku pikir kamu mau apa."
Kejujuran Gadis membuat Kanaya tertawa sambil menepuk pundak Gadis. "Apaan sih, Dis. Kalau nggak berkepentingan mana mungkin aku masuk kamar kamu."
"Oh ya? Memang kamu ada kepentingan apa?" tanya Gadis polos.
"Aku ... udah dapat ker-ja-an. Aku bakal kerja di kantoran, Gadis. Jadi sekretaris magang!"
Mendengar pengakuan penuh antusias Kanaya Gadis refleks ikut bahagia. "Serius, Nay?"
"Ho'oh!"
"Yeyy ...!" Tanpa sadar keduanya berpelukan dan berjingkrak saking girangnya.
"Selamat ya, Nay. Aku ikut bahagia atas keberhasilan kamu," ucap Gadis tulus sambil memeluk erat Kanaya.
"Makasih, Gadis. Ini juga berkat doa-doa kamu." Kanaya mengeratkan pelukannya. Bahkan ia memejam penuh penghayatan.
"Yeyy, selamat selamat selamat!" Gadis kembali bersorak dan keduanya kembali berjingkrak kegirangan.
Namun, ada sesuatu hal yang terjadi di luar dugaan. Sebuah botol kecil tampak terjatuh dari saku Kanaya dan menghantam lantai di bawah mereka.
__ADS_1
Suara jatuh itu menarik perhatian mereka dan menginterupsi selebrasi keduanya. Ekspresi keduanya memang sama saat pandangan tertuju pada benda itu. Namun, siapa yang tahu bagaimana perasaan mereka?
"Nay, itu apa?" Tiba-tiba Gadis melontarkan pertanyaan yang membuat Kanaya sulit memberi jawaban.