Pesona Gadis Buruk Rupa

Pesona Gadis Buruk Rupa
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya


__ADS_3

Gadis turut senang dengan kebahagiaan yang Kanaya rasakan. Sejak kedatangan pemuda bernama Arya itu di kediaman mereka, Kanaya selalu menceritakan hal indah-indah yang baru saja dialaminya.


Kanaya seperti dapat rezeki nomplok mengenal pemuda itu. Bukan hanya fasilitas antar jemput langsung oleh Arya sendiri dan merasakan makanan mahal di berbagai restoran mewah, Kanaya juga diperlakukan istimewa di kantor tempatnya bekerja. Enak sekali, bukan? Dia orang baru tetapi sudah menjadi ratu.


Lebih-lebih Sarah. Wanita yang selalu memandang apa pun dari materi itu tentu saja silau dengan kekayaan yang Arya miliki. Melihat putrinya diperlukan bak ratu, tentu saja ia terus mendorong Kanaya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan semacam itu.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Pak Arya? Sepertinya semakin dekat saja. Apa kalian sudah berpacaran?" tanyanya penasaran suatu ketika.


Kanaya yang saat itu tengah duduk di meja rias menghentikan sejenak ritual memoles wajahnya dengan make-up untuk sejenak. Ia mengerutkan keningnya seperti mengingat-ingat lalu sejenak kemudian bahu rampingnya mengedik.


"Entah."


"Loh, kok entah." Sarah terlihat tak puas mendengar jawaban putrinya. "Masa iya belum jadian? Bukannya kalian udah kemana-mana berdua? Tiap berangkat dan pulang kerja Arya selalu antar jemput kalau nggak sibuk."


"Emang iya," jawab gadis itu santai yang ternyata justru dihadiahi cubitan di lengan kirinya. "Ih, Mama! Apa-apaan sih cubit-cubit! Sakit tau nggak!"


"Siapa suruh kamu bercanda di saat Mama sedang serius tanya!"


Kanaya tak membalas bentakan mamanya. Gadis itu hanya sebatas memanyunkan bibir sembari mengusap kulit bekas cubitan Sarah tadi. Sebenarnya Kanaya hapal tabiat Sarah yang suka main tangan saat sedang kesal. Salahnya juga yang mencari gara-gara dengan memancing kekesalan mamanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjelaskan dengan panjang lebar.


"Iya, iya. Pak Arya memang memperlakukanku dengan baik. Tapi sampai sekarang dia belum pernah menyatakan cinta. Bagi Naya sih itu nggak masalah, Ma. Yang penting kami selalu bersama dan aku dianggap orang spesial untuk dirinya. Berpikir positif aja lah, Ma. Barangkali aja Pak Arya itu tipe cowok serius yang tak suka mengumbar janji dan kata-kata cinta, tapi dia lebih suka aksi nyata."


Sarah yang sejak tadi mendengar dengan serius akhirnya manggut-manggut tanda paham. "Oh, jadi gitu?"


"He'em." Kanaya mengangguk.


"Kalau sudah sedekat itu, sepertinya Pak Arya itu bakal melakukan apa saja buat kamu. Kenapa nggak kamu ambil kesempatan emas ini aja? Minta mobil sama dia, kek? Kalau perlu renovasi rumah sekalian! Mama udah capek gantian mobil sama kamu. Mama udah bosen tinggal di rumah reot kayak gini ...!"


"Ih, Mama ...!" Kanaya mendelik memberi peringatan. "Di mana-mana ... mau sekaya apa pun dia, laki-laki itu nggak ada yang suka sama cewek matre. Mama mau aku dicap matre dan ditinggalin Arya gitu aja? Sabar dulu lah, Ma. Jangankan cuma rumah dan mobil, Mama minta pesawat juga bakal aku beliin!"


"Kamu serius?" Sarah langsung merapat pada Kanaya dengan mata yang berbinar.


"Serius. Kalau udah dinikahi Arya, tapinya." Gadis itu menambahkan yang seketika membuat Sarah kegirangan.

__ADS_1


"Yeyyy, akhirnya nanti Mama jadi orang kaya ...!" Sarah mengangkat kepalan tangannya penuh kemenangan. Tak tergambarkan bakalan sebahagia apa jika keinginannya terkabulkan. Ah, ini semua terjadi karena anak kandungnya. Iya, lah.


Ia melirik sang putri, beringsut mendekatinya, kemudian berkata. "Susah ya kalau jadi orang cantik. Pandangan pertama aja bisa bikin orang jatuh cinta."


Kanaya diam sejenak sebelum menanggapi pujian mamanya.


"Agak ambigu juga sih, Ma. Entah karena dia cinta, atau cuma balas budi saja."


"Balas budi? Kok bisa?" Sarah bertanya memastikan dan langsung dibalas Kanaya dengan anggukan.


"Iya. Seperti balas budi. Aneh nggak sih? Padahal aku nggak melakukan apa-apa untuknya. Ah, tapi biarlah. Mumpung dapat rezeki nomplok satu paket, mendingan dinikmati aja. Ngapain dibikin pusing, ya kan?"


"Betul-betul. Kamu hebat," puji Sarah pada Kanaya sambil mengacungkan dua jari jempol.


"Iya, dong. Siapa dulu, aku gitu loh," ujar Kanaya membanggakan dirinya sendiri. Bahkan parahnya lagi sampai meremehkan saudarinya sendiri. "Enggak kaya anak Mama yang satu lagi tuh. Boro-boro dapat cowok tajir, dapat kerja aja enggak."


"Anak Mama? Anak Mama yang mana?" tanya Sarah pura-pura tak paham. Dan kurang ajarnya lagi Kanaya justru menyebut nama seseorang sambil tertawa.


"Tuh si Gadis. Kan dia anak Mama juga."


"Oh ya? Ih kasihan ... tuh anak nggak ada yang ngakuin, haha!"


Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Ternyata Kanaya mewarisi sifat ibunya. Keduanya tertawa penuh kemenangan.


Saat itulah tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Itu ponsel milik Kanaya dan si empunya langsung meraih benda miliknya. Ia melihat nama yang tertera di layarnya lalu memberi kode pada Sarah untuk diam.


"Siapa?" tanya Sarah dengan bahasa bibir.


"Arya," balas Kanaya dengan mimik yang sama.


"Cepat angkat."


"Oke." Kanaya mengacaukan jempolnya. Ia menggeser gambar telepon warna hijau lalu menaruh ponselnya dekat telinga. "Halo, Pak Arya. Ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


Kebetulan hari itu hari Minggu. Kanaya tidak bekerja lantaran memang hari libur kerja.


"Nay, kamu bisa temani saya hari ini?"


"Temani, Pak?" Mata Kanaya dan Sarah membulat bersamaan. Langsung terbayang di pikiran mereka Kanaya akan diajak Arya berliburan ke tempat-tempat indah. Namun, sayangnya angan-angan itu terpaksa lesap oleh jawaban Arya kemudian.


"Iya. Hari ini saya ada bakti amal ke panti-panti sosial. Kamu mau ikut, kan? Ini saya sedang di jalan ke arah rumah kamu. Kamu cepat siap-siap, ya. Sebentar lagi kita ketemu."


Panggilan berakhir dan menyisakan Kanaya dengan bola mata membuatnya.


"Panti sosial? Apa itu artinya Arya bakal ajak aku ke tempat-tempat kumuh, begitu?"


"Bisa jadi." Sarah menimpali.


"Hah?" Kanaya terperangah, lalu sesaat kemudian godamnya yang tidak jelas itu keluar. "Huaaaaaaa ... nggak mauuu! Aku nggak mau, Mama! Aku nggak mau ke tempat-tempat kayak gitu ...! Panas-panasan. Ketemu orang-orang nggak jelas. Pasti bakal capek banget, Mama. Percuma dong selama ini aku perawatan. Entar yang ada burik lagi gara-gara kena polusi!"


"Lah terus gimana dong? Orang Arya-nya udah mau ke sini."


"Tapi aku kira bakal diajak jalan-jalan, Mama. Taunya pergi ke panti sosial. Pokoknya aku nggak mau!"


"Eh, harus mau!" tegas Sarah setengah memaksa. "Kamu harus tau, orang melakukan pendekatan itu jangan cuma mau enaknya aja. Susahnya juga, dong! Mama tau Arya begini karena ingin menguji kamu."


"Pokoknya nggak mau ya nggak mau!" pekik Kanaya. Ia kemudian meraih lengan Sarah dan melancarkan aksi merengeknya. "Mama harus cari alasan biar Arya batal ajak aku. Ya, Ma. Pliiiiis." Ia bahkan menangkubkan telempapnya seperti memohon.


Sarah menggeleng kesal. Bagaimana tidak? Ini kesempatan emas untuk mengambil hati Arya justru Kanaya menyiakannya. Namun, anak tetaplah anak dan ia tak bisa melihat Kanaya berada dalam situasi sulit.


Oleh desakan Kanaya akhirnya wanita itu berpikir keras. Dan setelah beberapa saat, ia berucap dengan mata berbinar.


"Aha! Sepertinya Mama dapat ide, Nay."


"Oh ya? Apa itu Ma."


"Sini Mama bisikin."

__ADS_1


Kanaya mendekatkan telinganya pada Sarah untuk kemudian mendengarkan. Tentu saja Sarah tidak bisa bicara keras-keras agar pembaca tidak dengar, hehe.


Kira-kira ide gila Sarah itu apa ya?


__ADS_2