Pesona Gadis Buruk Rupa

Pesona Gadis Buruk Rupa
Drama Kanaya


__ADS_3

Sebuah mobil sport warna hitam tampak memasuki pelataran rumah Sarah. Mobil itu berhenti usai parkir dengan baik, lantas tak lama kemudian sesosok tubuh tegap keluar dari kursi tempat kemudi.


Arya tampak bersemangat melangkah menuju teras rumah. Pemuda tampan itu selalu terlihat menawan dengan apapun yang ia kenakan. Ia lantas mengucapkan salam ketika mencapai dan berhenti di ambang pintu kayu berukir yang terbuka itu.


"Waalaikumsalam," sahut seseorang dari dalam. Namun, itu bukanlah suara Kanaya melainkan suara milik Sarah.


"Pagi, Tante. Apa Kanaya sudah siap?" tanya Arya langsung pada inti ketika wanita itu menghampiri. Tentunya dengan sikap ramah seperti biasa.


"Nak Arya mau jemput Kanaya ya?" Pakai ditanya. Tentu saja Arya jadi mengernyit heran karenanya. Terlebih lagi dengan gesture Sarah yang sepertinya agak gelisah.


"Betul, Tante. Saya sudah mengajak Kanaya dan tadi Kanaya sudah menyetujuinya," balas Arya menjelaskan.


"Iya sih. Tadi saya lihat Kanaya sudah bersiap-siap dan dandan cantik. Tapi ... nggak tau kenapa tiba-tiba Naya bilang perutnya Mulas. Dia sudah beberapa kali bolak-balik toilet. Badannya sampai lemas, Nak Arya. Jadi sepertinya anak Tante nggak bisa ikut ke acara yang akan dihadiri oleh Nak Arya deh."


"Diare tiba-tiba, Tante? Memangnya Kanaya salah makan atau bagaimana?" tanya Arya seketika. Terang saja pemuda itu merasa heran sekaligus cemas. Beberapa saat yang lalu Kanaya masih baik-baik saja.


"Kurang tau, Nak Arya. Tapi memang anak itu susah banget jaga pola makan. Rada-rada bandel untuk urusan kesehatan. Yang dipikirkan cuma kerja, kerja dan kerja." Namanya juga anak sendiri, Sarah pasti memuji anaknya setinggi langit.


"Sudah ke dokter?"


"Belum." Sarah menggeleng.


Arya terdiam beberapa saat. Sepertinya pemuda itu tengah memikirkan sesuatu hal yang serius.


"Tante, boleh saya ketemu Kanaya sebentar? Saya mau lihat keadaannya."

__ADS_1


"Ah, lebih baik jangan. Keadaan Kanaya sedang tidak baik-baik saja sekarang, takutnya bikin Nak Arya jadi ketularan. Nggak usah, ya," cegah Sarah. Sayangnya alasan Sarah itu tidak masuk akal bagi Arya.


"Nggak papa, Tante. Justru karena Naya sedang tidak baik-baik saja itulah dia perlu diperhatikan. Atau kalau perlu saya antar ke dokter sekarang."


"Eh, nggak perlu. Nanti malah ngerepotin."


"Ah, nggak repot kok. Saya boleh masuk ya."


Sarah hanya bisa tersenyum kecut membiarkan Arya menerobos cegatannya. Wanita itu menggaruk kepala yang tak gatal, mulai resah, lalu berlari kecil mengikuti Arya yang sudah beberapa meter meninggalkannya. Mau bagaimana lagi, pria itu memaksa. Semoga saja Kanaya di kamarnya totalitas dalam membuat drama, sehingga kebohongan ini tidak tercium oleh Arya.


"Sini Nak Arya. Kamarnya di sini." Sarah menunjuk sebuah pintu yang terletak di lantai dua. Pintu itu masih tertutup rapat, sehingga Arya perlu menunggunya membuka dulu untuk bisa masuk ke sana. Tentunya setelah Sarah yang notabenenya sebagai tuan rumah mempersilahkan dia.


Sarah yang sempat merasa khawatir akhirnya bernapas lega melihat putrinya rebahan di ranjang. Kanaya memejamkan mata, bahkan membungkus seluruh tubuhnya sebatas leher dengan selimut tebal motif bunga-bunga. Sangat meyakinkan sekali jika dirinya sedang sakit. Ah, anaknya itu memang selalu bisa diandalkan.


"Naya, bangun Nak. Ada Pak Arya." Ia menghampiri ranjang lalu bersikap sedang membangunkan putrinya.


"Ma ...." Ia melenguh.


"Perutmu bagaimana? Lihat tuh, ada Pak Arya. Pak Arya sudah datang." Sarah menoleh pada Arya sebentar sebelum kembali menatap Kanaya. Arya yang berdiri di sampingnya menunjukkan sebuah senyum ramah.


"Pak Arya. Bapak sudah sampai di sini?" Kanaya bertanya lemah usai tatapan mereka bertemu. Sebagai bentuk hormatnya pada atasan, gadis itu bahkan berupaya untuk bangkit meski menunjukkan ekspresi lemas.


"Nggak usah banyak gerak, Naya, kamu lagi sakit kan. Aku antar ke dokter aja ya biar sakit kamu nggak berkelanjutan, oke." Sikap lembut penuh perhatian seperti inilah yang membuat Kanaya makin jatuh hati pada Arya. Ia tak menyangka ternyata Tuhan begitu baik yang dengan tiba-tiba menurunkan malaikat cinta dalam bentuk sesempurna Arya. Sambil meringis ia kembali pada posisinya semula. Tentunya dengan bantuan tangan Arya.


"Nggak perlu repot-repot pergi ke dokter, Pak. Cuma diare biasa kok. Saya udah minum obat. Saya hanya perlu istirahat sebentar, mungkin bangun tidur nanti kondisi saya sudah lebih baik."

__ADS_1


"Serius, Naya. Biarpun cuma diare biasa tapi tetap perlu pemeriksaan. Saya antar ke dokter, ya."


Sungguh, andai saja sakitnya bukan pura-pura tentu Kanaya langsung mengiyakan ajakan Arya. Ia akan bersikap seolah-olah dirinya sakit parah hingga membuat Arya tak tega meninggalkannya. Siapa yang nggak mau dua-duaan sama Arya lama-lama? Lebih-lebih lagi dengan perhatian sepenuh jiwa.


"Terimakasih, Pak. Tapi saya merasa kondisi saya sudah lebih baik. Hanya perlu istirahat. Hanya saja ... saya mohon maaf sekali tidak bisa menemani Anda untuk hadir di panti asuhan."


Arya tampak menyesal. Namun, bagaimanapun juga pria itu tak bisa memaksa. Ia harus memahami keadaan Kanaya. Belum sempat Arya menjawab sepatah kata tiba-tiba seseorang muncul dari arah belakangnya. Ialah Gadis yang terlihat panik usai melihat keadaan saudari tirinya.


"Naya kamu kenapa? Kamu sakit? Sakit apa?"


"Aku nggak papa, Gadis. Cuma diare biasa sampai harus bolak-balik kamar kecil. Kayaknya ini adalah hasil dari hobiku yang demen makan pedas, deh." Kanaya sedikit nyengir.


"Sudah minum obat?"


"Sudah kok. Kamu nggak perlu khawatir ya."


"Aku antar ke dokter ya."


"Heh, apa-apaan kamu? Awas awas. Biarin Kanaya istirahat." Sarah yang sejak kedatangan Gadis hanya diam rupanya diam-diam tidak suka dengan sikap sok perhatian Gadis. Wanita itu akhirnya menarik lengan sang anak tiri lantaran tak bisa menahan kesal. Ia dengan sengaja menjauhkan Gadis dari Kanaya. Eh bukan. Tepatnya dari Arya. Ia tak rela anak itu berdekatan dengan pemuda yang tengah dekat dengan putrinya.


Gadis yang benar-benar tulus pada Kanaya akhirnya menyadari kesalahannya. Benci tetaplah benci dan tak mungkin Sarah menerima dengan lapang niatan baiknya. Seharusnya ia sadar, tak perlu sepanik ini melihat keadaan Kanaya. Toh ada pemuda yang bernama Arya juga, kan? Jadi sama sekali tidak ada yang membutuhkan dirinya.


Gadis menghela napas. Ia menarik pelan langkahnya ke belakang untuk kemudian berbalik badan. Namun, saat hendak keluar meninggalkan kamar, tiba-tiba suara Kanaya yang memanggil sukses menghentikan langkahnya.


"Gadis. Aku boleh minta tolong nggak? Bisa gantiin aku temenin Pak Arya ke panti asuhan nggak?"

__ADS_1


Seketika Gadis menoleh dengan pandangan tak percaya.


__ADS_2