
Kanaya mengusap dadanya sambil mengembuskan napas panjang usai keluar dari kamar Gadis. Sepertinya gadis itu merasa lega lantaran berhasil mengelabui sang saudari tiri untuk yang kesekian kalinya.
"Kanaya, itu apa?"
"Ah, bukan apa-apa kok. Ini cuma botol pengembang kue titipan Mama sore tadi." Kanaya mendahului Gadis yang sudah membungkuk untuk memungut ramuan itu. Ia buru-buru menyimpannya kemudian pamit keluar demi menghindari kecurigaan Gadis. Cepat-cepat kabur adalah satu cara paling ampuh untuk menyelamatkan diri.
Sampai di anak tangga, ia berpapasan dengan Sarah yang tengah melangkah hendak naik. Wanita itu baru tiba di rumah setelah seharian beraktivitas di luaran. Bukan hanya mengurus kafe peninggalan papa tirinya. Kanaya tahu betul jika Sarah adalah wanita masa kini yang suka menghambur-hamburkan uang demi untuk kesenangan.
"Nay, kamu kenapa kok kelihatan tegang gitu?" tanya Sarah yang merasa aneh dengan sikap anaknya.
"Mama?" Awalnya, Kanaya yang gelisah sempat terkejut melihat kemunculan mamanya yang tiba-tiba. Namun, setelah menyadari itu Sarah, ia pun bernapas lega dan menarik Sarah untuk berbicara di tempat yang aman. "Ma, hampir aja aku ketahuan sama Gadis," ujarnya setengah berbisik tapi diberi tekanan pada kalimatnya.
"Ketahuan apanya?" Sarah yang tak paham mengerutkan keningnya.
"Gadis tiba-tiba pulang sebelum aku sempat keluar dari kamarnya. Udah gitu, ramuan yang aku beli tadi pake jatuh segala lagi."
__ADS_1
Sarah yang mendengar sontak membulatkan matanya. "Terus gimana? Dia curiga?"
"Syukurnya enggak, Ma. Dia percaya gitu aja pas aku bilang itu pengembang kue titipan Mama."
"Ah syukurlah. Lain kali hati-hati, Naya. Kalau dia tau bisa bahaya!" Sarah memperingatkan setelah tadi sempat bernapas lega. Tak disangka, orang yang begitu kejam terhadap Gadis ternyata memiliki rasa khawatir juga.
"Iya, Ma. Lain kali aku bakal hati-hati. Sekarang ... aku ada berita bagus buat Mama. Aku, udah diterima kerja."
"Oh ya? Memang kerja apaan?"
"Serius?" Sarah membelalak tak percaya mendengar penuturan Kanaya. Ia menatap putrinya lekat-lekat demi menyelami kebenarannya. Dan usai melihat anggukan penuh yakin gadis itu, ia pun berteriak girang bukan kepalang. "Akhirnya ...! Kamu jadi sekretaris, Sayang. Kerja di kantoran dengan gaji sangat besar! Selamat Sayang."
Kanaya merengkuh tubuh mamanya saat Sarah merentangkan tangan. Keduanya lantas berpelukan dengan erat penuh kebahagiaan.
"Aku seneng banget, Mama. Aku seneng banget," ucap Kanaya sambil memejamkan mata penuh perasaan. Ia bahkan semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Apa lagi Mama, Sayang. Mama bahagia, banget. Akhirnya cita-cita kamu kesampaian. Oh iya, kalau anak itu gimana?"
Kanaya mengurai pelukan mereka dan bertanya memastikan. "Maksud Mama siapa? Gadis?"
"Iya lah. Siapa lagi?"
"Owh, Gadis. Yang kudengar tadi sih dia belum dapat kerja."
"Bagus. Jangan sampai kamu kalah saing sama dia."
"Aku? Kalah saing sama dia?" Kanaya berucap dengan nada meremehkan. "Cih, nggak level."
Jika Kanaya mengira Gadis percaya dan mudah dikelabui begitu saja, maka gadis itu salah besar. Sepeninggalnya Kanaya dari kamarnya, Gadis buru-buru menghampiri meja rias dan memeriksa keadaannya.
Benar saja, ia mendapati sejumlah keganjilan dari barang-barang miliknya. Tutup serum wajah yang tidak tertutup rapat dan letak alat kosmetik lain yang bergeser dari tempatnya semula. Jelas, ini adalah sesuatu yang janggal. Mungkinkan ini penyebab dari kerusakan parah di wajahnya?
__ADS_1
Sepertinya Gadis perlu melakukan penyelidikan. Jika memang demikian benar adanya, entah apa yang akan dilakukannya kelak pada Kanaya.