Pesona Gadis Buruk Rupa

Pesona Gadis Buruk Rupa
Gadis ber-hoodie


__ADS_3

Alam kembali menunjukkan pesonanya ketika langit perlahan menggelap dan rintik gerimis kemudian turun membasahi bumi. Beberapa orang tampak berlarian dengan panik seperti pengecut yang takut terguyur basah untuk mencari tempat bernaung, dan sebagian lagi memilih berteduh di teras kedai kopi yang berjejer rapi, menunggu gerimis reda untuk melanjutkan aktivitasnya.


Namun, dari sekian manusia yang memilih berlindung dari serangan air hujan ada juga yang bersikap tak peduli dan memilih menikmati desaunya sambil berjalan dengan santai. Ialah gadis ber-hoodie hitam yang menggunakan penutup kepalanya dengan sempurna hingga tak menampakkan sedikit pun rambut panjang indahnya. Masker penutup wajah juga tak pernah tertinggal setiap kali dirinya keluar rumah.


Ia terus melangkah tanpa berniat untuk bernaung. Katakan saja itu adalah hal konyol, sebab ia bukan lagi kanak-kanak yang masih suka bermain hujan seperti masa silam. Ia sudah remaja yang sekarang sedang gencar mencari kerja. Rasa dingin yang dibawa hujan juga tak terasa olehnya, sebab hati sudah beku sejak tiga bulan lalu, tepatnya ketika Galang mempermalukan dirinya di depan umum.


Dalam kurun waktu tiga bulan itu seharusnya Gadis sudah bisa mengobati luka dan menata hati untuk menyongsong bahagia. Namun, nyatanya Gadis gagal, sebab setiap kali mengingat Galang maka luka itu akan kembali menganga seperti semula.


Gadis adalah wanita yang ahli dalam berpura-pura. Ia bisa tersenyum lebar, bahkan tertawa kencang sekalipun hatinya tengah terguncang.


Seperti yang terjadi barusan, Gadis mengulas senyum semanis gula, bertingkah baik-baik saja saat melihat Galang dengan penuh perhatian memayungi Kanaya yang kehujanan. Ia bahkan dengan tegas menolak ajakan Kanaya untuk pulang bersama mereka. Saudari tirinya itu terlihat pasrah ketika Galang bertingkah laku layaknya pahlawan. Tidak ada penolakan yang ditunjukkan.


Jika memang di antara Kanaya dan Galang tidak pernah ada apa-apa, bukankah seharusnya Kanaya bisa menolak setiap perlakuan manis yang Galang berikan? Paling tidak hanya saat Gadis ada di antara mereka. Paling tidak hanya sekadar menjaga perasaan Gadis saja. Atau memang Kanaya tidak tahu Gadis benar-benar terluka karena itu? Entahlah ....


Sakit. Perih. Dan panas. Namun, Gadis rela terluka asalkan Kanaya bahagia. Setulus itulah kasih sayang Gadis pada Kanaya karena Kanaya selalu mengutamakan Gadis di atas dirinya. Gadis berpikir, mungkin ini adalah timbal balik yang seimbang sekalipun dia harus mengorbankan cintanya.


Di waktu yang sama, di tempat yang tak jauh dari Gadis, ada seorang pemuda yang tengah duduk di jok sebuah mobil mahal yang terjebak kemacetan panjang, tepatnya di kursi penumpang bagian belakang.


Wajah tampan itu terlihat murung dan sangat lelah. Ia menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Kedua lengan kokohnya bersidekap dada, menghalau rasa dingin yang menusuk tulang.


Hari ini adalah hari yang sangat sibuk. Ia masih mempunyai banyak urusan, tetapi harus terganggu oleh kemacetan yang panjang. Ia merasa bosan sebab hanya bisa duduk tanpa kepastian. Gendang telinga rasanya ingin pecah sebab dipaksa mendengar suara klakson orang-orang tak sabaran.


Andai saja kecelakaan mobil tiga bulan lalu tak pernah terjadi, mungkin sekarang ia sudah mengendarai motor besarnya sendiri. Membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi dan menghindari kemacetan seperti ini.


Sial. Kecelakaan tiga bulan lalu berimbas buruk pada kesehariannya. Hampir sebulan dirinya mendapatkan perawatan. Luka akibat kecelakaan itu memang sudah pulih, akan tetapi karena kecelakaan itu orang tua Arya melarangnya bepergian sendirian. Paling tidak harus ada sopir yang mengantar. Menyebalkan. Ia benar-benar kehilangan kebebasan.


Selama tiga bulan itu pula ia belum menemukan gadis pemberani yang berhasil menolongnya. Dua bulan dalam pencarian ia belum mendapatkan titik terang. Gadis itu seperti hilang ditelan bumi. Arya juga menyangkal keras akan perkataan orang yang mengatakan itu hanya ilusi. Ia yakin malam itu dirinya tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Gelang lucu bertuliskan inisial K yang digenggamannya setiap saat adalah saksi bisu kejadian itu.

__ADS_1


Arya yakin pasti, suatu saat akan menemukan gadis itu. Meski dia tak pernah menunjukkan rupa. Bahkan suaranya juga hanya terdengar samar lantaran dirinya yang nyaris hilang kesadaran, tetapi gelang itu adalah sebuah petunjuk besar bagi Arya.


Mata Arya seketika mengerjap melihat pemandangan di tepi jalan raya. Seseorang dengan balutan hoodie hitam berjalan santai di bawah hujan. Dari gaya berjalannya, Arya meyakini jika itu adalah wanita. Celana jeans ketat yang melekat, serta sepatu sneaker wedges yang menjadi alas kaki sebagai bukti.


"Bodoh." Tanpa sadar Arya mengumpat hingga menarik perhatian sang sopir yang duduk di depan. "Mau cari penyakit atau gimana tuh orang. Sudah tau hujan malah jalan santai basah-basahan."


"Tuan Arya. Ada masalah?" Sopir bernama Mu'in itu bertanya memastikan. Ia sedikit bingung dengan tingkah putra atasannya yang tiba-tiba.


"Enggak, Pak. Abaikan aja." Arya menjawab dingin yang segera ditanggapi anggukan kepala oleh Mu'in.


Jujur, Arya merasa kesal sendiri oleh tingkah konyol orang itu. Namun, entah mengapa ia sulit mengalihkan perhatian dari dia. Hingga tak lama kemudian, Arya dibuat membelalak oleh sebuah kejadian.


Gadis itu tiba-tiba tersungkur usai menabrak pintu mobil parkir yang mendadak dibuka. Mungkin lantaran ia berjalan menunduk atau kurang fokus pada sekitar. Alih-alih membantu bangkit, penumpang mobil justru mengumpat dan mengatai dia.


Ingin abai, tapi Arya barusan melihat dengan mata kepalanya. Jiwa kemanusiaannya meronta-ronta. Dulu ia adalah pemuda cuek yang tidak suka ikut campur urusan orang. Namun, usai mengalami kecelakaan, Arya perlahan jadi orang yang peduli lantaran pertolongan gadis misterius itu. Tanpanya mungkin Arya sekarang hanya tinggal nama.


"Kamu ini gimana sih? Punya mata nggak! Jalan bukannya lihat-lihat ke depan!" Itu suara pria yang mengumpat.


"Saya udah lihat depan, Pak. Tapi justru Bapak yang buka pintunya tiba-tiba."


"Halah alasan! Mau balik nyalahin saya kamu! Sengaja ya? Mau minta ganti rugi? Owh ... jangan-jangan kamu ini golongan penjahat yang kerjaannya nipu orang kayak gini? Ngaku lo! Kalau nggak bakal gue tonjok!"


Gadis menggeleng kuat-kuat memberi sangkalan. Ini sungguh fitnah kejam. Ia tak sengaja melakukannya. Tidak ada orang yang dengan sengaja ingin membahayakan diri. Apalagi dengan cara seperti ini.


"Ngaku lo!" Pria itu kembali mendesak. Bahkan mencengkeram bagian leher hoodie-nya seraya mengacungkan kepalan tangan bersiap untuk memukul. Gadis sangat ketakutan saat ini.


"Ampun, Pak. Itu tidak benar. Tolong lepaskan saya."

__ADS_1


"Buka masker kamu! Melihat penolakan kamu kayak begini bikin saya tambah curiga tau nggak!" Dengan paksa ia menarik masker Gadis dan melepaskan kupluk hoodie-nya.


Otomatis gadis bergerak refleks menunduk demi ingin menyembunyikan wajah lantaran upayanya mempertahankan itu tak berarti apa-apa. Bukan karena merasa bersalah, tetapi karena malu dengan keadaan wajahnya yang begitu mengenaskan. Keterkejutan yang ditampakkan pria tadi menjadi bukti jika wajahnya begitu mengerikan.


"Wajahmu?" pekik pria itu hingga nyaris melepaskan cengkeramannya. Saat itulah ia merasakan sesuatu menghampiri lengannya. Sebuah cengkraman yang teramat kuat hingga kepalanya refleks bergerak menoleh. Seraut wajah tampan dengan tatapan tajam langsung mengintimidasi tanpa suara.


"Lepas." Arya memperingatkan. Alih-alih melepaskan, si pria justru menatapnya dengan bingung, sehingga mau tak mau Arya kembali mengingatkan dengan nada lebih keras. "Lepas!"


"Si-siapa kamu datang-datang ikut campur? Ini urusan saya dengan dia ya!" Pria itu mengelak sambil menuding wajah Gadis.


"Saya hanya saksi yang melihat kejadian ini dengan mata kepala sendiri. Kamu mau saya laporkan ke polisi? Saya ada kok bukti rekamannya." Arya merogoh saku jaketnya hendak mengeluarkan ponsel dari sana. Si pria melihat itu dan langsung menunjukkan kepanikan di wajahnya.


"Dia yang salah! Bukan saya. Awas kamu ya." Dasar. Si pria masih sempat-sempatnya mengintimidasi Gadis sebelum dirinya beranjak pergi.


Arya masih diam mengamati pria berkaus putih itu hingga menghilang di balik pintu toko. Selanjutnya, perhatiannya beralih pada gadis yang sekujur tubuhnya basah dan masih tertunduk itu. Rambutnya yang hitam panjang akhirnya keluar dari persembunyian. Sepertinya ia kesakitan. Terlihat dari gerakannya yang menaikkan lengan baju seperti ingin memastikan sesuatu. Ternyata benar. Lengan kanannya yang mulus itu kemerahan.


"Kamu nggak papa?" tanya Arya sembari berjongkok.


Si gadis hanya menggeleng tanpa bersuara. Ia juga enggan mengangkat kepalanya.


"Rumah kamu di mana? Kok hujan-hujanan?" Arya tak putus asa untuk bertanya. Ia melihat ke sekeliling, mencari tahu barangkali si gadis memiliki kenalan yang menghampiri. Tapi sepertinya tidak ada.


"Bangun! Kamu nggak bisa berlama-lama kayak gini. Kamu bisa sakit!" Arya ingin membantu Gadis bangkit, tetapi gadis itu justru menolak mentah-mentah.


"Saya bisa sendiri."


Terpaksa Arya membiarkan Gadis bangun dan berdiri. Sepertinya pantat gadis itu kesakitan, terlihat dari gerakannya yang pelan-pelan. Bahasa tubuh Gadis yang terkesan menyembunyikan wajah justru menimbulkan kecurigaan. Arya merasa penasaran. Jangan-jangan tuduhan pria tadi itu benar.

__ADS_1


"Heh kamu ...." Arya mencengkeram lengan Gadis hingga membuat ia refleks menoleh. Arya mengubah mimik wajahnya. Dan gesture terkejut yang ditunjukkan Arya itu membuat Gadis sadar ia sudah melakukan kesalahan. Ia telah membuat takut orang- orang. Tak seharusnya ia menunjukkan wajahnya yang mengerikan. Dan seketika itu pula Gadis berusaha melepaskan diri dan berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan Arya yang terbengong di tempatnya.


__ADS_2