
Gadis mengusap wajahnya dengan handuk kecil untuk mengeringkan air. Mencuci muka dengan facial foam rupanya sedikit memberikan efek nyaman. Melihat wajahnya dari pantulan cermin, gadis itu terpaku untuk sesaat.
Lihatlah wajahnya sekarang. Penuh dengan jerawat dan tak jarang muncul ruam merah yang terasa amat perih dan gatal. Sungguh sangat miris, bukan? Berbanding terbalik dengan Kanaya yang mulus dan berkilau tanpa setitik pun noda di sana.
Gadis cukup sadar diri. Pantas saja Galang lebih memilih Kanaya dibanding dirinya. Penampilannya sekarang tidak ada apa-apanya dibandingkan Kanaya.
"Gadis, aku boleh masuk?" Suara Kanaya terdengar dari balik pintu. Ia juga tak lupa mengetuknya.
Gadis menoleh sebentar lalu menghela napas pelan. "Masuk aja, Naya. Nggak dikunci!" serunya.
Pintu terbuka, lalu sosok Kanaya muncul dari sana. Gadis itu selalu menampilkan senyuman ceria setiap kali jumpa dengan siapa saja.
"Kamu habis cuci muka?" tanya Kanaya usai melihat wajah saudarinya. Ia hanya mendapat jawaban anggukan pelan dari Gadis.
Meski begitu Kanaya tak lantas merasa tersinggung dengan sikap tak acuh Gadis. Mungkin Gadis hanya sedang sedih saja lantaran dipermalukan oleh Galang di pesta ulang tahun teman mereka tadi.
"Tapi belum pakai skincare malam, kan? Lihat ini, aku bawain dua paket skincare baru. Satu buat aku, satu buat kamu." Ia menunjukkan dua paket produk perawatan wajah merk terkenal kepada Gadis, tetapi jauh dari perkiraannya ternyata Gadis hanya menanggapi dengan lesu.
"Apaan lagi sih, Naya. Skincare merk apa pun yang kamu bawa, pasti hasilnya gini-gini juga. Udahlah, kamu nggak perlu repot-repot lagi beliin aku skincare baru. Aku udah pasrah dengan keadaanku sekarang kok."
"Eh, jangan nyerah gitu dong, Dis. Cobain ini sekali aja. Kita bareng-bareng karena aku juga bakalan pakai produk ini."
"Mendingan jangan deh, Nay," sahut Gadis mengingatkan. "Nanti wajah kamu ikutan rusak kayak aku. Kan sayang banget."
"Nggak bakal." Kanaya meyakinkan. Ia lantas menyodorkan satu paket skincare yang dibawa ke arah Gadis. Gadis tertegun sejenak memandangi skincare itu. "Tunggu apa lagi? Ini pakai! Biar wajah kamu balik mulus lagi kayak dulu. Ayo dong semangat. Semangat demi Galang biar dia nyesel dan ngajak balikan lagi. Asal kamu tahu ya, Dis, aku tuh sedih lihat keadaan kamu kayak gini."
__ADS_1
Gadis menerima itu lalu menatap Kanaya dengan wajah heran. "Ngapain sih, kamu masih berharap aku balikkan lagi sama Galang? Itu nggak mungkin banget, Kanaya. Lebih baik kamu aja yang jadian sama dia. Aku ikhlas kok."
"Nggak ada kata jadian sama Galang dalam kamus hidup aku, Gadis. Galang itu milik kamu, dan aku nggak mungkin ganggu kalian. Kalian harus balikan, oke!" Begitulah Kanaya. Ia selalu mendukung Gadis apa pun yang terjadi.
Mungkin hanya karena terlahir dari rahim berbeda saja yang membuat status mereka sebagai saudari tiri. Namun, sejatinya hubungan mereka sangatlah akur layaknya saudari kandung. Usia yang sepantaran malah membuat mereka sangat akrab layaknya sahabat, tepatnya sejak dua tahun lalu, di mana kedua orang tua mereka disatukan dalam ikatan pernikahan.
Kanaya paham betul dengan hubungan kurang baik yang terjalin antara mamanya dengan Gadis. Sarah berwatak keras dan tidak suka pura-pura, sementara Gadis sendiri masih belum move on dari almarhumah ibu kandungnya meski sudah memiliki pengganti mama Sarah. Itulah yang membuat Sarah merasa sebal. Jadi, sebisa mungkin Kanaya bersikap adil membagi kasih sayangnya pada mereka.
"Yuk, kita skincare-an bareng," ajak Kanaya yang disambut anggukan antusias oleh Gadis.
Sementara itu di tempat lain, sirine mobil ambulans tak henti berbunyi saat membawa korban kecelakaan yang kini tak sadarkan diri. Selain warga sekitar yang datang, terdapat juga beberapa orang dari pihak kepolisian tengah menyisir tempat kejadian.
Mobil milik korban meledak dan dipastikan tidak ada korban lain selain pengemudinya. Beruntung, pemilik mobil mewah itu berhasil keluar sehingga nyawanya bisa tertolong.
Saat dihubungi, Cakra Wiguna sendiri tengah berada di luar negeri, sehingga beliau hanya mengutus orang yang dipercaya untuk mengurus segala keperluan Arya.
Sementara Arya dalam perawatan, polisi juga bekerja keras untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang dialami oleh putra orang kaya itu, karena tidak tertutup kemungkinan kecelakaan itu terjadi karena unsur kesengajaan.
***
Beberapa hari kemudian ....
Gadis terjaga dari tidur setelah merasakan sesuatu pada wajahnya. Sesuatu tidak mengenakkan yang membuat tangannya refleks meraba di sana.
Wajah gadis itu menunjukkan raut tidak nyaman. Ia memaksa tubuhnya bangkit melangkah menuju meja rias sekadar melihat wajahnya dari pantulan cermin.
__ADS_1
"Astaga." Ia menggumam panik. Kulit wajah yang beberapa hari ini menunjukkan tanda pemulihan kini tiba-tiba muncul ruam merah. Semakin digaruk makan akan terasa semakin gatal. Jerawat bahkan tumbuh di mana-mana. Yang membuat Gadis makin tak tahan adalah rasa gatal yang begitu menyiksa. Pedih. Panas. Mungkin ia tak akan bisa beraktivitas seperti biasa andai tak segera meminum obat alergi dan pereda nyeri yang setiap waktu ada di dalam tasnya.
"Kok gini lagi, sih? Padahal semalam masih baik-baik aja. Sebenarnya yang salah dari aku tuh apa? Ini kulit wajah nggak berhenti-berhentinya buat ulah." Setitik air mata mengalir saat Gadis meloloskan keluhan. Ia meraih tasnya, mengambil dua butir obat di sana lalu meminumnya.
Gadis berbaring lagi usai mencuci wajahnya seperti biasa. Ia terdiam dengan lelehan air mata.
Kenapa harus wajah?
Pertanyaan itu bercokol di benaknya. Gadis sudah merasa sangat lelah menghadapi ini semua. Dijauhi teman. Ditinggalkan pacar. Dan ia selalu menjadi bahan gunjingan orang.
Dalam keadaan seperti ini ia hanya ingin tidur sampai bosan. Menghindari pertemuan dengan siapa saja dan melupakan rasa sakitnya walau sejenak. Ia yakin akan baik-baik saja sebab sudah terbiasa menikmati kesendirian.
Tok tok tok.
Baru juga memejamkan mata, ketukan pintu sudah mengusiknya. Sebenarnya Gadis malas menanggapi, tetapi suara yang kemudian terdengar membuatnya terpaksa membuka mata.
"Dis, kok nggak turun buat sarapan? Kamu belum bangun ya?" Itu suara Kanaya. Hanya saudari tirinya itu yang selalu memberikan perhatian lebih kepadanya.
"Udah jam setengah delapan loh. Bukannya kamu harus kuliah?" Lagi, suara Kanaya terdengar seperti mendesak.
Gadis menghela napas lelah. Jika saja itu bukan Kanaya, ia takkan mungkin membuka pintu dan menunjukkan rupa buruknya.
Wajah ceria Kanaya langsung menyambutnya begitu Gadis membuka pintu. Namun, senyum secerah mentari itu seketika memudar melihat pemandangan di depannya.
"Gadis? Wajah kamu kenapa!"
__ADS_1