Pesona Gadis Buruk Rupa

Pesona Gadis Buruk Rupa
Gadis di bawah hujan


__ADS_3

Kanaya merasa dirinya seperti sedang kejatuhan bulan. Bagaimana tidak? Dalam waktu sekejap, nasibnya berubah 180 derajat. Sang bos yang awalnya dingin dan datar kini mendadak baik dan sangat ramah. Seperti sekarang. Ia bahkan diantar pulang mengendarai mobilnya yang mahal. Sebabnya apa? Kanaya bahkan masih bertanya-tanya.


"Terimakasih ...," ucap Kanaya ramah saat Arya membukakan pintu mobil untuk dirinya. Mobil sudah berhenti tepat di depan rumahnya, dan sekarang ia bergerak dengan anggun untuk turun dari kereta kencana.


Astaga, perlakuan manis Arya membuatnya seperti Cinderella. Demi apa ia melakukan ini semua jika bukan untuk mengambil hati Arya sepenuhnya. Bahkan Kanaya rela mengaku kerja naik taksi dan meninggalkan mobil keluarga di tempat parkir kantor tempatnya kerja demi diantar pulang seorang Arya Wiguna.


"Mau mampir dulu?"


"Emm, boleh."


Betapa berbunga-bunganya hati Kanaya saat Arya menerima tawarannya. Keduanya berjalan bersisian menuju ke teras rumah diiringi senyuman malu-malu di wajah Kanaya.


"Sampai sekarang kamu belum dapat kerja juga? Dasar anak sial. Pergi sana! Jangan pernah pulang sebelum dapat kerja!"


"Ampun, Ma ... Gadis lagi nggak enak badan. Gadis izin mau istirahat sebentar. Gadis janji bakalan dapatin kerjaan secepatnya."


"Ahhh, bodo!"


Sial, baru sampai di beranda rumah, keduanya sudah disuguhi pemandangan tidak mengenakkan. Sarah memaki Gadis seenaknya. Meski Gadis sudah mengiba, ia tetap mendorong tubuh ramping itu hingga tersungkur.


Sungguh, aksi seperti itu sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang pendatang pada pemilik sah sebuah rumah. Apalagi disaksikan langsung oleh pemuda terhormat seperti Arya Wiguna.


Ma, ngapain hajar Gadis di saat seperti ini, sih ...! Mana ada Arya, lagi, gerutu Kanaya dalam hati. Gadis itu menoleh pada pria di sampingnya lalu tersenyum kecut pada Arya yang saat itu juga menoleh kepadanya.


Sementara Arya sendiri terlihat menunjukkan ekspresi biasa saja, bahkan masih berusaha tersenyum pada Kanaya kendati mata itu mengamati kejadian di depannya dengan cermat.


Entah apa yang pemuda itu pikirkan, Kanaya berharap itu tidak akan mengubah pandangan Arya terhadapnya. Ia baru saja bahagia mendapat rezeki nomplok bisa sedekat ini dengan Arya. Jangan sampai peluang emas ini lenyap hanya karena kelakuan buruk yang dilakukan ibu kandungnya pada Gadis tadi.


"Itu adik tiri saya, Pak. Hehe maklum, anaknya bandel. Suka bikin mama saya jadi emosi." Kanaya menjelaskan tanpa Arya minta. Gadis itu langsung bergegas menghampiri keduanya untuk mendinginkan suasana. "Mama!" panggilnya pada Sarah dengan nada yang ditekan.


Sarah yang menyadari kedatangan Kanaya awalnya hendak menyembur gadis itu dengan kalimat keluhan. Namun, melihat sosok tegap yang berjalan di belakang putrinya, seketika bibirnya tertahan oleh pesona yang dipancarkan. Ia langsung mematung dan terdiam seribu bahasa dengan bibir yang ternganga.


Sejenak bumi rasanya seperti berhenti berputar. Namun, saat kesadarannya telah kembali, otak Sarah menginstruksikan agar tindakannya terkendali. Jangan sampai ia dicap ibu tiri jahat oleh pemuda tampan yang masih asing ini.

__ADS_1


"Eh, Kanaya. Kamu pulang sama siapa?"


"Mama ngapain hajar Gadis sih, Ma? Kalau dia bandel ya udah biarin aja. Mungkin Gadis belum ngerti mana yang baik dan yang nggak baik buat dia." Alih-alih menjawab pertanyaan Sarah, Kanaya justru berbicara hal yang tidak sesuai dengan faktanya. Ia lantas jongkok dan bersikap penuh perhatian pada Gadis. "Dis, kamu baik-baik aja? Mama apain kamu?"


Gadis menggeleng lemah. Meskipun merasa kesal ia tetap menjawab Kanaya dengan nada rendah. "Aku nggak papa, Nay."


"Sini aku bantu berdiri."


"Nggak usah, Nay. Aku bisa sendiri, kok." Gadis menolak halus bantuan Kanaya. Toh hanya bangkit dan berdiri, ia bisa melakukannya sendiri. Gadis tak ingin memicu pertengkaran Kanaya dengan Sarah seperti biasanya, sebab pada akhirnya dia sendiri lah yang akan menjadi korban.


Gadis tak terlalu memperhatikan sekitar, sampai-sampai ia tak tahu ada orang luar di antara keluarganya. Dan saat dirinya bertemu pandang dengan Arya, matanya seketika membola.


Bukankah dia ....


***


"Ma, kenalin ini Pak Arya, CEO di perusahaan Kanaya kerja."


Kali ini pandangannya tertuju pada Arya seperti memastikan. Sementara yang ditanya sekadar mengangguk tipis sambil mengulas senyum.


Terang saja, pandangan penuh kekaguman langsung berkilat di mata Sarah. Perempuan itu tersadar lantas sibuk mempersilahkan tamu agungnya untuk duduk.


"Mari Pak, mari silahkan duduk. Maaf rumah kami hanya rumah sederhana."


"Terimakasih, Tante, tapi sepertinya saya harus buru-buru," jawab Arya, menolak dengan halus.


"Ih ... mau buru-buru ke mana? Mampir dulu sebentar."


Karena tak ingin menyinggung perasaan Sarah, akhirnya Arya mengalah dan duduk pada salah satu sofa.


"Kanaya, bikinin minum dong Pak Arya-nya. Kasihan Pak Arya. Pasti haus," titah Sarah yang langsung dipatuhi oleh Kanaya.


"Sebentar ya, Pak. Saya bikin minum dulu," pamit Kanaya yang dibalas anggukan oleh Arya.

__ADS_1


Pemuda itu masih di tempatnya dan sesekali mengobrol dengan Sarah selagi Kanaya di belakang. Namun, entah mengapa ia sukar mengalihkan perhatian dari pintu di ujung sana. Sebuah pintu tempat berlalunya sosok gadis bernama Gadis tadi usai diusir oleh ibu tirinya.


Arya memiliki daya ingat sangat kuat. Tak mungkin ia lupa jika Gadis adalah gadis dibawah hujan yang ia temui tempo hari. Ternyata rumahnya di sini.


***


Gadis masuk ke kamar lalu menutup pintunya setengah membanting. Ia lantas mengempaskan tubuh ke atas pembaringan. Entah perasaan apa yang saat ini sedang berkecamuk di dada, yang jelas ini membuatnya tidak nyaman.


Kenapa? Kenapa orang itu datang di saat tidak tepat? Gadis ingat betul pemuda yang datang bersama Kanaya tadi adalah pemuda yang menolongnya tempo hari.


Sebelum-sebelumnya Gadis hanya bisa diam setiap kali Sarah memakinya tanpa perasaan, bahkan tak jarang melakukan kekerasan fisik, menjadikan Gadis pelampiasan jika dirinya sedang marah. Ia pasrah lantaran menganggap wanita itu sebagai pengganti orang tuanya di saat Gadis hanyalah anak sebatang kara.


Namun, sejak dirinya menyimpan kecurigaan pada Kanaya dan Sarah atas yang terjadi pada wajahnya, lidah Sarah bagaikan belati tajam yang menimbulkan luka di setiap gerakannya. Belum lagi ada orang asing yang turut menyaksikan betapa dirinya direndahkan. Mengenal atau tidak, tetap saja keberadaan pemuda itu semakin mengerdilkan hati Gadis.


Rasa malu ini kian menambah rentetan penderitaannya. Apakah ia sehina itu sampai-sampai harus mendapatkan perlakuan buruk setiap waktu? Tak ada yang benar dari setiap tindakannya di mata Sarah. Tak ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk mengambil simpati Sarah. Gadis tidak pernah minta banyak. Ia hanya ingin diperlakukan layaknya manusia.


Hufthh ... menangis bukanlah jalan keluar yang tepat. Air mata bukanlah penyelesaian sebuah masalah. Gadis mengusap wajah basahnya lalu bangkit dari tempatnya. Saat mengusirnya tadi Sarah sempat memberinya perintah untuk menyiram tanaman bunga. Wanita itu akan terus mengomel andai Gadis tak melakukannya.


Gadis menukar pakaiannya dengan pakaian rumahan yang nyaman usai membersihkan wajah. Ia juga mengikat rambut panjangnya dengan asal agar tidak gerah. Tidak masalah jika harus menyiram bunga, toh dia memang suka merawat tanaman. Setidaknya dengan memandang warna-warni bunga ia bisa melupakan sedikit masalahnya.


Sebuah selang kecil yang tergeletak di sisi kran air Gadis ambil untuk kemudian ia pergunakan. Selang air itu memang biasa difungsikan untuk menyiram tanaman yang berada di taman samping rumah. Sebuah lagu yang sedang viral tak lupa ia senandungkan. Gadis tak peduli suaranya merdu atau justru dapat merusakkan gendang telinga, yang jelas ia melakukan itu hanya untuk menghibur hatinya saja.


Suara obrolan beberapa orang yang terdengar dari arah depan rumah membuat Gadis menghentikan nyanyian dan mengalihkan pandang ke arah sana. Ia mematikan kran air hanya untuk memastikan suatu hal.


Ternyata pemuda itu keluar dari rumah diikuti Kanaya dan Sarah di belakangnya. Sepertinya Arya pamit pulang, sedangkan dua wanita beda usia itu mengantarnya sampai ke depan. Dari tempatnya berdiri, Gadis bisa melihat ketiganya mengobrol dengan sangat jelas.


Kanaya terlihat tak banyak bicara, hanya senyuman malu-malu yang tak pernah luntur dari wajahnya. Beda lagi dengan Sarah yang sok perhatian dan gencar mencuri simpati dari calon mantu. Sedangkan Arya sendiri tetap terlihat tenang dan selalu menanggapi perkataan Sarah dengan sikap sopan. Sangat berkelas.


Saat Gadis menatap Arya penuh kekaguman tanpa sadar, ternyata di saat bersamaan mata pemuda itu juga menemukan sosoknya tanpa sengaja. Alhasil, mata keduanya bertaut pandang untuk sesaat, sebab beberapa detik kemudian Gadis membuang muka dan mengakhiri segalanya.


Kikuk dan salah tingkah, sampai-sampai tangan Gadis gemetaran saat menyalakan kran. Ia bahkan sampai tak sengaja menendang vas bunga. Bukannya jatuh cinta, hanya saja ia merasa malu lantaran kedapatan sedang curi-curi pandang.


Tanpa Gadis tahu, rupanya pemuda itu diam-diam mengulas senyum sebelum kemudian masuk ke dalam mobil dan akhirnya melaju untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2