
Berprofesi sebagai sekretaris rupanya tak segampang apa yang dipikirkan Kanaya. Semula, ia membayangkan pekerjaan sekretaris hanya sebatas berpenampilan menarik lantaran harus mendampingi atasan serta mencatat dan memfotokopi dokumen-dokumen saja, tetapi nyatanya ia salah besar. Kelak ia harus disibukkan dengan banyaknya pekerjaan hingga membuat Kanaya ingin hari cepat berlalu agar dirinya juga bisa cepat pulang sekadar untuk melepas penat di hari pertama kerja.
Ya. Semudah itu ia merasa penat. Bahkan baru memikirkan pekerjaan saja ia sudah merasa sangat penat. Maklum, selama ini Kanaya memang tidak pernah memikirkan ataupun melakukan hal-hal berat.
Padahal hari pertama bekerja ia hanya bergerak sesuai yang diarahkan sekretaris senior di sana, tetapi Kanaya sudah merasa tertekan oleh pekerjaannya. Seharusnya gadis itu bersyukur karena banyak hal baru yang ia temui. Bisa mendapatkan banyak pelajaran. Namun, ia justru fokus mengangumi kemegahan tempat kerja dan mencari incaran pria baru yang lebih mapan. Alhasil, ia lengah dan sempat melakukan beberapa kali kesalahan.
Beruntungnya, sekretaris senior yang membimbingnya sangat baik hati dan mau memaklumi. Jelas Kanaya mengangumi sebab wanita bernama Adista itu sangat cantik dan juga berkelas. Kanaya bertekad, kelak dirinya harus lebih menarik dari Adista dari segi apa pun juga.
Di hari kedua bekerja, Kanaya lebih mematangkan persiapannya. Ia makan lebih banyak demi stok energi, dan berdandan lebih cetar demi mendapatkan pria mapan. Sayangnya sampai saat ini ia belum bertatap muka dengan pemilik perusahaan sebenarnya. Berpapasan pun tidak pernah sebab jajaran tinggi di perusahaan ini memiliki jalur khusus untuk sampai ke ruangannya.
Konon kata karyawan lain pemimpin perusahaan tempatnya bekerja masih muda berwajah sangat tampan. Dan yang paling membuatnya bersemangat, adalah beliau masih lajang. Ah, sepertinya sangat cocok untuk dijadikan incaran.
"Kanaya."
"Iya, Bu?" Kanaya langsung menanggapi dengan cekatan saat Adista memanggilnya penuh keramahan.
"Yuk, ikut saya. Saya akan perkenalkan kamu sama CEO perusahaan ini. Ini penting karena kelak kamu akan bersinggungan langsung dengan beliau."
__ADS_1
"Oh, baik Bu." Kanaya langsung menyahuti penuh semangat. Bagaimana tubuhnya tidak panas dingin? Inilah yang ditunggu-tunggunya sejak kemarin. Bertatap muka secara langsung dengan orang nomor satu di perusahaan tempatnya bekerja. Sebuah pencapaian besar dalam hidup bagi Kanaya. Lebih-lebih lagi jika mampu menarik perhatiannya. Ah, dengan penampilan yang ia miliki, pria mana yang tidak akan tertarik, sih?
"Selamat siang, Pak," sapa Adista pada seseorang di dalam begitu dirinya membuka pintu. Kanaya yang baru sekali menginjakkan kaki ke tempat itu hanya bisa diam sambil memperhatikan ke sekeliling.
Rupanya Adista menyapa seseorang yang duduk pada kursi kebesarannya membelakangi mereka berdua. Dari puncak kepala yang sedikit terlihat, Kanaya memperkirakan itu adalah seorang pria.
"Seperti yang Bapak minta, saya sudah datang bersama sekretaris magang yang kelak akan menggantikan saya."
Kursi berputar dan menunjukkan sosok sebenarnya yang duduk menempatinya. Dan seketika itu juga bola mata Kanaya membulat dengan mulut sedikit ternganga. Bukan lantaran ngeri melihat wajahnya, melainkan terpesona dengan pahatan Tuhan yang begitu sempurna. Dunia Kanaya seperti berputar saat itu juga.
"Terimakasih, Adista." Pria itu berucap datar.
Kanaya pikir dengan keahliannya berkomunikasi dan kecantikan yang dimiliki, sang CEO akan terpesona dan terpikat kepadanya. Namun, lagi-lagi dirinya salah. Arya hanya menanggapi datar tanpa senyum keramahan. Bahkan pria itu malah memilih menerima panggilan dari ponsel di mejanya yang berdering. Entah berbicara dengan siapa, tapi wajah pria itu menunjukkan keseriusan.
"Baik. Aku akan ke sana sekarang juga." Arya berujar, lalu menutup teleponnya.
Demi apa pun, Kanaya merasa sebal lantaran diabaikan. Bahkan sebelum perkenalannya kelar.
__ADS_1
"Adista, kau saja yang urus dia ya. Saya ada urusan mendadak."
"Baik, Pak." Adista mengangguk patuh.
Kanaya benar-benar dibuat kesal. Sudah dandan secantik itu masih juga tidak dipandang. Masih dengan perasaan tak karuan ia memperhatikan langkah pria itu. Dan saat sesuatu terjatuh dari saku celana Arya, mata Kanaya mendelik seketika.
"Gelangku?" Ia menyipitkan mata demi menajamkan penglihatannya. Sesuatu tak asing yang teronggok di lantai itu. Lantaran tak puas hati, ia berjalan mendekat kemudian berjongkok memungutnya demi untuk memastikan. Dan seketika mulutnya ternganga. Kanaya tampak bahagia seperti menemukan sesuatu yang berharga. Ia bahkan sampai memeluk gelang itu. "Benar, ini gelangku! Oh gelangku, akhirnya aku menemukan kamu ...."
"Gelangmu?" Pertanyaan Arya menginterupsi kebahagiaan Kanaya. Gadis itu langsung menoleh pada dia.
"Benar, Pak. Ini gelang saya. Gelang yang sudah tiga bulan ini menghilang."
"Kamu yakin itu gelang kamu?"
"Sangat yakin, Pak. K ini adalah inisial nama saya. Ini adalah gelang kesayangan saya, kado dari almarhum papa ketika saya berusia lima belas tahun. Oh ya, bagaimana bisa gelang ini ada pada Anda?"
Bukannya menjawab keingintahuan Kanaya, Arya justru merengkuh tubuh gadis itu dan memeluknya dengan erat. Aksi tiba-tiba Arya itu bukan hanya membuat Kanaya membelalak, tetapi juga Adista yang masih berada di sana dan melihat semuanya.
__ADS_1
Bukannya gadis itu tidak suka, hanya saja ia merasa bingung dan aneh saja. Dipeluk pria tampan siapa yang tidak suka, coba? Lebih-lebih oleh harum aroma parfum mahal yang menguar. Keheranan Kanaya bahkan semakin bertambah oleh ungkapan penuh syukur yang kemudian Arya lantunkan.
"Terimakasih, Tuhan. Akhirnya aku menemukan orang yang selama ini aku cari."