Phobia Artis Yang Langka

Phobia Artis Yang Langka
Masalah ?


__ADS_3

Zoya berhenti bercerita , mulai mengganti topik lalu karena matahari sudah terbit dan Zoya belum berganti pakaian.


Nanda mengangguk dan Zoya mulai mengganti pakaiannya . Keluar kamar menuju tempat makan .


Memakan makanan bersama keluarga itu menyenangkan , makanan terasa lebih enak dan terasa jelas bumbunya .


Sandwich sayur dan buah yang menyegarkan , ditambah topik pagi yang seru membuat Zoya merasa dirinya menjadi lebih semangat menjalani kehidupan sekolahnya .


" Aku berangkat "


Sebuah ucapan berpisahan sementara antara dunia santai dan dunia tantangan , sesampainya di sekolah .


Perkataan caci maki mulai terdengar saat aku menaiki mobil yang mewah , semua siswa merasa aku hanya menumpang saja tidak memiliki mobil itu .


Beberapa Siswa juga merasa bahwa Zoya tidak pantas menaiki mobil mewah itu , Zoya hanya berjalan menuju pintu masuk gedung dengan muka tertunduk .


Tanpa sadar Zoya menabrak seseorang , ucapan maaf keluar dari mulut Zoya , saat Zoya mendongak kepalanya ia menjadi sangat terkejut .


" Ohh ternyata si miskin tak kirain lalat dari tong sampah yang lewat "


Ucapan menusuk Raisa yang membuat orang disekitar mereka menatap Zoya dengan sinis , melipat kedua tangan di dada dan menyipitkan sedikit matanya .


" Lo ya sudah gak pintar, jelek , dekil , lihat pakaian lu udah kayak bekas pemulung aja , bau banget kek bau tong sampah . Lo gak mandi ya ke sekolah pasti gak punya air "


Perkataan itu seperti makanan dari Zoya setiap pagi , caci maki yang semakin lama semakin terlihat jelas dan semakin berani melakukan tanpa dibalik bayangan .


Setelah perkataan itu Raisa langsung mengambil rujak ditangan salah tau siswa dan menumpahkannya ke badan Safi dengan Rujak itu , rambut dan pakaian menjadi pedas sepedas perkataan mereka ke Safi .


" Maaf ya tangan gue licin "


Sebuah perkataan yang jelas sengaja dilakukan .


Gelak tawa terdengar dari mana mana , Safi hanya bisa tertunduk dengan muka murungnya , dari ramainya perkataan jarum ada 1 perkataan plester yang membuat Safi mendongakan kepalanya untuk melihat siapa yang mengatakan perkataan itu .


" Raisa , dia itu dikelmu jaga sikapmu , Safi kamu gak papa , ada yang sakit tidak ? "

__ADS_1


Perkataan yang lembut itu membuat mata Safi berbinar-binar . Dengan cepat siswa itu memegang tangan Safi keluar dari kerumunan cobek itu .


Disaat berlari di koridor kelas , Safi menatap Siswa itu meski ia sedang berbalik badan .


Tangan yang lembut dan wangi seakan Safi ingin memeluknya dengan erat . Dalam sekejap Safi sadar dan memberhentikan langkah kakinya yang membuat Siswa itu kaget lalu ikut berhenti .


" Anu maaf , aku ini bau jadi kau bisa pergi terlebih dahulu , aku bisa membersihkan diri ditoilet . Makasih ya kak "


" Tak apa , kau ini manis jika tersenyum "


Siswa itu berbalik badan , sosok wajah yang Ganteng terlihat jelas di mata Safi .


Suara yang lembut dengan tatapan hangat menatap Safi , saat itu Safi hanya bisa menatap wajah Siswa itu .


Dengan cepat Safi tersadar dari lamunannya dan langsung pergi kekamar kecil tanpa berkenalan atau berpamitan dengan Siswa itu .


" Kenapa tuh anak ? "


Ucap Siswa itu dengan menggaruk kepalanya dengan bingung , Safi yang memasuki kamar mandi dengan tergesa gesa menutup pintu dan menatap dirinya di cermin depan wastafel .


" Lihat dirimu Zoya , kau harus menatapnya biasa saja tanpa ada rasa itu lagi . " Lagi " ya , perkataan itu muncul lagi "


" Didalam ada orang kah ? "


Suara berat terdengar dari luar kamar mandi , yang membuat Safi kaget . Mengintip di celah kunci pintu dan melihat ada seorang siswa yang menunggu diluar bersama teman temannya .


Safi yang kaget langsung melihat sekeliling dan ada logo pria di samping wastafel ke 3 , muka kaget dan malu terlihat jelas di wajah Safi .


" Aduh bagaimana ini , aku salah masuk juga . Sepertinya hari ini hari terburuk yang terselimuti hari keberuntungan " batin Safi dengan pasrah .


Tak lama bel berbunyi yang membuat pada siswa itu masuk ke kelas merka masing-masing , Safi bernafas lega . Bunyi bel masuk selalu menjadi penyelamat Safi sehari hari .


Di kelas Safi duduk sambil mencatat pelajaran dari Guru dan memerhatikan penjelasan Guru , Safi terus giat belajar . Namun ia selalu dapat nilai jelek .


Berbeda dengan Raisa yang selalu bermain main saat jam pelajaran tetapi ia selalu dapat nilai tertinggi di kelas , semua orang memujinya karena mendapat nilai tertinggi tanpa belajar .

__ADS_1


" Aku belajar keras saat di rumah loh , tetapi Disekolah aku tidak belajar karena aku mencium bau orang miskin yang membuatku tidak fokus belajar " ejek Raisa secara terang-terangan .


Safi yang mendengar hanya terdiam sambil menatap kertas ulangan yang jelek , anehnya tulisan itu terlihat bukan tulisan miliknya karena tidak terima Safi memutuskan untuk kekantor guru dan menanyakan .


Saat istirahat


Safi menghela nafas dan menyiapkan beberapa kata untuk berjaga jaga .


" Permisi bu , pak " ucap Safi sambil mengetuk pintu dengan pelan .


" Silakan masuk " ucap seseorang di dalam ruangan .


Safi membuka pintu dan melihat banyak meja guru dan beberapa kertas yang cukup banyak memenuhi meja guru .


Guru yang berada didekat pintu bertanya kepada Safi ia sedang mencari siapa , Safi menjawab sedang mencari Bu Tuti .


Guru itu langsung menunjuk salah satu meja Guru dan menyuruh Safi untuk kesana , Safi mengangguk lalu berjalan menuju meja itu .


Meja yang cukup rapih , dengan atas meja bertulis " Ibu Tuti " ya meja itu milik Bu Tuti .


Anehnya kursi kosong tidak ada orang , Safi melihat kesana kemari dan bertanya ke salah satu Guru yang duduk di samping meja itu .


" Permisi pak , ini Bu Tutinya di mana ya ? "


" Ya , Bu Tuti sedang ada tamu . Tunggu saja di luar nanti juga ke sini "


" Hemm , makasih pak infonya maaf mengganggu "


Safi langsung keluar menuju di samping pintu seperti orang hilang , beberapa menit berlalu akhirnya Bu Tuti keluar dari ruang tamu dan belakangnya terdapat seorang Ibu yang dari mukanya terlihat mirip Raisa .


Safi yang merasa ini bukan waktu yang tempat langsung pergi tanpa memberi tau Bu Tuti , berjalan sambil berpikir bahwa Bu Tuti di sogok oleh Ibu Raisa .


Tetapi Safi membuang pemikiran itu jauh jauh , ia tau bahwa memfitnah orang tanpa mencari tau faktanya itu tidak baik .


Saat jam pelajaran 2

__ADS_1


Bu Tuti tidak menanyakan atau berkata sepatah kata pun kepadaku yang kemungkinan ia tidak peduli pada Safi .


" Apa benar pemikiranku itu ? " tanya Safi dalam hati .


__ADS_2