
Mina keluar dari kamar untuk mengambil makan malam Safi , saat menunggu sang Ibu mengambil makanannya Safi termenung dengan tatapan kosong.
Ia masih teringat kejadian saat bersama Haydar kejadian seakan menghantuinya dan tidak akan pernah hilang , bahkan untuk bertemu Ayahnya saja tidak sanggup lagi .
Safi anak ke 2 dari 2 bersaudara yang berarti ia anak terakhir , Safi memiliki seorang Kakak perempuan bernama Amanda Shaella Putri seorang Kakak yang baik dan perhatian , berwajah cantik , senyumannya bagaikan matahari yang menyinari bumi membuat orang yang dingin menjadi mencair saat melihatnya berjalan .
Amanda sekarang menjadi pendiri Mall terkenal bernama Ella , awalnya impian Amanda ingin menjadi model terkenal namun setelah tau Adiknya juga menginginkan hal yang sama , Manda memilih untuk mengalah karena takut bersaing bersama sang Adik tersayangnya , ia justru mendukung impian Adiknya tersebut agar Safi tetap semangat dan tidak putus asa .
Untuk saat ini Safi merasa putus asa sebab Phobianya yang makin menjadi jadi , meski sudah sering terapi dan mencoba untuk selalu santai dengan hati yang selalu tenang , Tetap saja itu tidak cukup .
" Kenapa ini terjadi padaku , mungkin sebaiknya aku mengalah pada saat itu agar tidak menggangu impian Kakak "
" Mengapa ini terjadi , mengapa ini terjadi kepadaku ? Apakah lebih baik aku tidak ada ?. sebab kehadiran aku hanya membuat mereka kesusahan dan kerepotan, hampir semua masalahku diselesaikan oleh mereka "
Safi selalu menyalahkan dirinya sejak awal kejadian itu Safi suka menarik rambutnya hingga tercabut , seakan ia melakukannya karena ingin merasakan apa yang mereka rasakan walau sebenarnya orang tuanya tidak merasa seperti itu .
Amanda masuk kekamar untuk mengantar makan malam Safi dengan bantuan Troli Service Stand , pintu terbuka saat melihat Safi yang menarik narik rambutnya membuat Amanda sontak kaget dengan tingkah laku Adiknya.
Manda langsung menuju pinggir tempat tidur lalu memeluk Adiknya sambil memohon agar ia tidak seperti ini lagi , semua ini dilakukan oleh keluarga untuk melindungi Safi dan bukti kasih sayang keluarga kepada Safi .
__ADS_1
Safi tertegun sejenak sambil menatap Kakaknya yang memeluknya erat sambil menahan tangis , Safi mencoba untuk melepas pelukan dari sang Kakak tetapi Manda enggan untuk melepasnya .
" Tidak , aku tidak akan melepasmu sebelum kau berhenti bersikap seperti ini , kau tidak perlu merasa bersalah karena ini keinginanku sendiri ."
Ucapan yang diucapkan oleh Manda membuat Safi tersadar betapa sayangnya keluarganya , bahkan semua perkataan Safi selalu dipercaya oleh keluarganya .
Air mata penyelasalan keluar dari mata Safi , pelukan yang hangat membuat suasana hati mendukung tangis saudara perempuan terdengar dari kamar .
Pagi hari telah tiba
Safi masuk sekolah seperti biasa dengan baju yang kelonggaran memakai jaket tanpa make up , rambut sedikit berantakan dengan tas yang biasa saja .
Sesampainya dikelas tidak ada yang menyambut kedatangannya , duduk sendiri dibangku paling belakang lebih tepatnya disampingnya jendela yang menghadap sebuah gedung Eskul .
Meski begitu Safi tetap menjadi juara berturut dikelas sejak pindah 1 tahun setengah lalu , banyak rumor bukan berarti membuat Safi patah semangat meski sebagai kunci keberhasilan agar dapat membuktikan bahwa Ia tidak seperti yang mereka bicarakan .
Saat Safi duduk dibangkunya sambil menatap sinar mentari yang menyinari ruangan kelas , Alfa yang baru saja datang langsung menuju bangku Safi , padahal saat itu beberapa teman kelasnya menyapanya .
Alfa berdiri tepat disamping bangku Safi yang di duduki , karena saat itu mata Safi tertuju pada suasana diluar jendela .
__ADS_1
Suara bisikan seorang murid membuat Safi tersadar dari lamunannya , saat melihat kesamping kanan ternyata ada Alfa yang sedang berdiri .
Safi langsung terkejut hingga membuat jatuh dari kursinya , Safi yang tersungkur ke lantai hingga membuat kacamatanya terjatuh karena kaget kacamata terjatuh Safi langsung mengambil kacamata yang terjatuh tidak jauh jadi dirinya .
Saat ingin mengambil justru Alfa sudah mengambilnya terlebih dahulu , tangan Safi langsung reflek mundur untuk mengambilnya .
" Kau cantik tanpa memakai kacamata kenapa kau memakainya , kau minus tapi lebih baik kalau cari kacamata yang sesuai dan tidak kebesaran agar terlihat lebih cantik " Alfa memuji Safi sambil memegang kacamata Safi .
Semua mata tertuju pada mereka , saat melihat kejadian itu Raisa terlihat iri dengki kepada Safi yang selalu terlihat menonjol dimata Alfa .
Hanger kacamata mulai dibuka oleh Alfa seperti ingin memakaikannya kepada Safi , karena tau apa yang ingin dilakukan Alfa Sagi langsung berdiri dan meminta kacamatanya untuk dikembalikan dengan muka kesal .
Melihat cara kesal Safi yang menunjukkan wajah kesal malu tapi imut dengan rambut yang bergerak seakan menunjukan sikap lucu , membuat Alfa teringat pada seorang gadis yang pernah ia temui .
Alfa tertawa kecil melihat reaksi Safi yang lucu , Safi tersadar ia menatap Alfa terlalu lama tanpa sadar karena tangan yang gemetaran membuat Safi harus pergi kekamar mandi dengan tergesa gesa .
Alfa yang melihat Safi pergi ingin memegang tangannya untuk menghentikannya namun gagal sebab Safi sudah terbiasa menghindar sehingga menjadi Reflek , saat sampai dikamar mandi Safi langsung mengunci kamar mandi dan ketakutan yang ia tahan saat berjalan .
Ketakutan menatap pria , trauma yang meancam dirinya , Safi menangis tanpa suara di toilet karena perasaan yang lama ini membuat Safi sendiri stres berat .
__ADS_1
Tak lama kemudian Safi mulai tenang dengan mengingat perkataan sang Kakak yang selalu ada disampingnya dan mendukung semua kegiatan positif Safi sendiri.