Pindah Akun

Pindah Akun
CPTR I: dan DIMULAI


__ADS_3

Maya melompat turun dari taksi lalu berlari sekuat tenaga kedalam restoran. Meski sudah berlari secepat mungkin rambutnya tetap basah akibat diguyur hujan yang tengah melanda kota.


Sesampainya di dalam Maya buru-buru mengecek rambut pendek model bobnya di kaca.


"Maya?"


Maya buru-buru melirik kearah sumber suara. Disana berdiri wanita lain dengan rambut panjang yang sama basah dengannya. Wanita itu buru-buru berlari kearahnya dan keduanya berpelukan erat.


"Baru datang juga?" tanya Maya.


"Iya, hujannya deras, ya?" balas Hilda.


Keduanya pun ngobrol seraya berjalan menuju meja yang telah mereka pesan tadi siang. Di meja tersebut muncul sosok wanita lain dengan gaun hitam tengah menikmati anggur dari gelas kaca elegannya.


Wanita itu tersenyum mengejek, Maya dan Hilda buru-buru berlari menghambur kepada wanita tersebut dan memeluknya erat. Ketiganya berpelukan lama lalu duduk ke kursi masing-masing.


"Sumpah, Ros, lo ke restoran gini doang keliatan kayak orang mau party tau nggak?" kata Maya mengomentari sosok sahabatnya yang meneguk anggur dengan gaun hitam mahalnya.


"Jangan banyak protes, deh. Lo berdua mau wine juga, gak?" tawar Rosa pada keduanya.


"Sorry, gue besok masih harus ke kantor pagi-pagi." tolak Hilda halus.


"Gue juga." kata Maya sambil mangguk-mangguk.


"Bukannya lo pengangguran, ya?" balas Rosa sambil tersenyum kearah Maya.


Maya mengerutkan dahi lalu membalas, "Tolong bedakan penulis freelancer sama pengangguran. Dasar ibu rumah tangga."


Rosa meletakkan gelas anggurnya. "Eh, jangan salah, ibu rumah tangga juga di gaji, lho!"


"Iya-iya, tahu, mentang-mentang yang suami baru dapat promosi."


Rosa mendengus bangga. "Iya dong, makanya lo juga cepat minta di nikahin! Pacaran doang yang lama tapi gak nikah-nikah!"


Maya buru-buru menunduk tidak berani membalas. Rosa mengerahkan tatapannya ke Hilda lalu mengomelinya juga, "Ini juga, hutang bapak lo kan udah lunas, sekarang waktunya istirahat dan senang-senang. Kerja mulu kayak kuda. Mau jadi perawan tua? Udah umur segini masih aja jomblo."


Mendadak dari arah depan muncul suara baru yang lebih maskulin yang bertanya, "Siapa yang jomblo?"


Maya, Hilda, dan Rosa, buru-buru berbalik menuju sumber suara. Ketiganya tersenyum kemudian berkata, "Yang terakhir datang yang traktirin!"


Mendengar tiga sahabatnya itu Vino hanya tersenyum lalu mengambil tempat duduk disebelah Rosa. Dengan begitu maka lengkap lah empat serangkai tersebut. Tiga wanita di umur awal 30-an mereka plus satu pria di awal 30-an juga.


Berteman sejak masih kuliah, awet hingga sekarang, persahabatan mereka tidak pernah pisah hanya karena jarak dan waktu, sebaliknya itu membuat mereka semakin erat.


Pertemuan rutin mereka sebulan sekali dimana mereka berempat datang berkumpul untuk membahas kejadian hidup mereka lalu membandingkan punya siapa yang lebih seru.


Setelah basa-basi singkat Rosa membuka duluan, "Jujur, gue gak ada kejadian apa-apa bulan ini. Anak-anak gue ya gitu-gitu aja. Suami gue juga. Next, deh."


Rosa adalah seorang ibu rumah tangga. Kegiatan sehari-harinya adalah mengurus anak dan suaminya. Namun kalau pergi keluar maka dandanannya akan jadi mirip anak yang baru lulus SMA. Tentu, meskipun baju dan dandanannya anak SMA, muka dan body-nya tetap wanita 30-an. Jadi bisa dibayangin sendiri deh gimana jadinya.


Vino meneguk air yang baru saja dibawakan pelayan lalu berkata, "Kerjaan gue numpuk minggu ini. Gak ada yang bisa diceritaiin. Next."


Pewaris perusahaan ekspor-impor besar dari ibukota. Seorang pria bujangan dengan watak keras dan terkenal sebagai bos yang dingin. Satu-satunya momen dia menunjukkan senyum adalah saat bersama tiga wanita ini. Selebihnya hanya soal kerjaan dan bagaimana caranya menghasilkan lebih banyak uang untuk perusahaan kakeknya.


Vino melirik kearah Hilda.


Hilda merupakan seorang guru les di sebuah lembaga swasta. Sejak dulu Hilda selalu suka mengajar dan bermain bersama anak-anak. Tapi karirnya sebagai seorang pengajar sudah dimulai jauh sebelum mereka bertemu.


Hilda mulai memberikan pelajaran ke anak-anak tetangga sejak dia masih SMA. Dia harus membantu keuangan keluarganya karena hutang-hutang bapaknya yang menggunung. Kini hutang itu sudah lunas tahun lalu, Hilda bisa sedikit lebih santai dalam menjalani hidup.


Hilda melirik sejenak kearah Maya menyangka Maya akan bercerita duluan. Namun Maya sendiri hanya diam. Maya adalah penulis lepas dan tidak terikat kontrak.


Satu-satunya karyanya yang berhasil di publikasi adalah karyanya waktu masih kuliah dulu. Sebuah cerita cinta melodramatic khas remaja. Setelah lulus kuliah Maya memutuskan menjadi penulis. Maya kemba


Hilda diam untuk sejenak lalu menghela napas panjang, "Rekan kerja gue... Si Guru Matematika.... Beberapa hari lalu gue ngeliat pacar Si Guru Matematika jalan sama cowok lain."


"Woah..." Rosa menunjukkan ekspresi kagetnya yang khas.


Vino cuman tersenyum dan nampak tertarik.

__ADS_1


Maya masih diam sambil menundukkan wajahnya.


Hilda melanjutkan. "Karena penasaran, gue ngikutin mereka. Lalu... Mereka malah masuk ke hotel berdua."


"WAAAAH! Terus-terus?"


"Hmm, bukannya harusnya giliran Maya dulu?" tanya Hilda.


"Halah, palingan juga dia bahas soal kerjaan. Gak guna. Lanjutin aja soal yang tadi, Hilda! Lo ngikutin mereka sampai kedalam hotel?" tanya Rosa menggebu-gebu.


Vino tertawa kecil, "Etdah, sabar napa. May, giliran lo."


Rosa mendengus mendengar ini. Maya sendiri mengumpulkan keberaniannya, mengangkat wajah kemudian berkata, "Gue putus sama Rio."


Rosa yang tengah meneguk anggurnya langsung tersedak. Mata Hilda melotot lebar. Sementara fokus Vino langsung sepenuhnya tertuju pada Maya.


Melihat ekspresi teman-temannya Maya buru-buru tersenyum lalu berkata dengan nada menghibur, "Haha apaan sih, orang udah dari berapa hari kemarin kok. Bukan masalah besar juga!"


"Kenapa gak cerita ke kita lebih awal, May?" tanya Hilda dengan suara sedih.


"Gak mau ngerepotin aja."


Rosa membanting gelasnya agak keras. "Dasar anak ini... Ayo! Kita samperin dia sekarang juga! Berani-beraninya! Pacaran 5 tahun terus putus gitu aja! Dikira pacaran waktu segitu cepat apa! Ayo kita ke rumahnya sekarang!"


Rosa hendak berdiri namun Vino dengan susah payah menahannya. Sementara Vino sibuk berkutat dengan Rosa, Hilda kembali bertanya, "Kalian berdua sebelumnya ada masalah ya?"


Maya memandang Hilda lama kemudian memaksakan senyumnya. Lagi-lagi pertanyaan itu lagi. Hubungan keduanya beberapa tahun terakhir semakin lama memang semakin memburuk. Keduanya berhenti peduli satu sama lain, jarang menanyakan kabar, tidak lagi telfonan hingga berjam-jam, semuanya dilakukan hanya untuk formalitas belaka.


Maya tidak pernah benar-benar tahu bagaimana jadinya hubungan keduanya bisa seperti ini. Layaknya cerita cinta pada umumnya, keduanya bertemu, berkenalan, lalu mulai menghabiskan waktu bersama. Kedekatan keduanya dimulai saat Maya yang saat itu tengah datang ke café untuk menulis naskah barunya tersanjung oleh suara merdu Rio. Rio adalah vokalis dari band café tempat Maya biasa nongkrong sendiri.


Sejak itu Maya selalu hadir untuk menonton Rio. Maya datang paling awal dan pulang paling akhir. Tidak butuh waktu lama bagi Rio untuk menyadari keberadaan sosok Maya.


Rio pun rupanya memiliki perasaan yang sama. Rio mengajaknya berkenalan, lalu ngobrol semalaman di café bersama Maya. Keduanya saling bertukar cerita dengan asyik hingga tak terasa matahri telah terbit di ufuk timur.


Maya ingat betul pagi itu Rio mengantarnya sampai stasiun. Keduanya berjalan bersebelahan sambil menikmati sinar mentari yang perlahan menyinari. Momen indah.


Saat akhirnya Rio berkata, "Kita udahan aja. Kamu gak bahagia. Aku juga. Kayaknya kita emang gak cocok." Entah mengapa Maya sama sekali terkejut. Seolah sudah menduganya lebih awal, Maya telah menyiapkan diri untuk ini semua sejak jauh-jauh hari. Maka dengan begitu keduanya putus baik-baik.


Maya pulang ke kosannya dengan pikiran kosong sepanjang jalan. Saat akhirnya Maya menutup pintu kamarnya barulah hatinya bergetar. Sekujur tubuhnya lemas dan Maya jatuh bersandar ke pintu. Hari itu Maya hanya berdiam diri kamar sambil meratapi nasib percintaannya.


Kemarin saat membuka pesan group dan menemukan ajakkan Rosa untuk kumpul bulanan, Maya merasa ragu. Dia tidak ingin merepotkan teman-temannya. Maka Maya menata perasaannya terlebih dahulu sebelum pergi ke acara malam ini.


Dia berusaha kuat menutupi patah hatinya. Namun pilihannya berkata jujur malah kesalahan yang harusnya tidak pernah dia lakukan. Karena terkadang kebohongan menyelesaikan masalah lebih baik ketimbang berkata jujur.


Kini dia duduk dihadapan ketiga sahabatnya. Menatap ketiganya dengan senyum palsu yang dibuat-buat. Maya adalah pembohong yang buruk.


Hilda melingkarkan tangannya di leher Maya lalu memeluknya erat. Rosa disisi lain masih nampak geram dan liar. Vino hanya bisa melihat Maya dengan tatapan kasihan. Vino pun bertanya, "Kenapa putus? Gue kira kalian baik-baik aja?"


Maya menghela napas dalam. "Entahlah. Gak tahu juga. Mungkin kami hanya bosan pada satu sama lain. Tapi jangan khawatir. Kami berdua putus-putus baik-baik kok. Kami saling mengerti kalau gak ada lagi yang bisa diperjuangin dalam hubungan ini. Kalau udah begitu, lebih baik putus, 'kan?"


Maya menatap Vino. Vino berdalih dengan meneguk minumannya. Giliran Rosa yang bertanya dengan sebal, "Dia selingkuh, ya?"


"Ga kok. Dia selalu ngabarin kalo dia mau kemana. Gue juga sering nanya ke teman-teman bandnya dan mereka bilang dia gak pernah ketemu cewek sama sekali. Kayaknya emang karena bosan."


"Lah terus kenapa bosan?" tanya Rosa putus asa.


Maya menghela napas berat. "Ada kalanya kita ngerasa jenuh sama orang kita sayang tapi terlalu takut untuk bilang. Kita takut orang itu bakalan sakit hati, lalu pergi meninggalkan. Lo semua tahu gue orangnya pengecut. Gue selalu milih diam dan mendam perasaan. Rio sama persis kayak gue. Ya, walau, dia gak sepengecut gue, tapi kami sama-sama lebih suka mendam perasaan. Akibatnya kalau ada masalah apa-apa kita berdua lebih milih diam dan gak nyelesaiin itu semua. Lama-kelamaan masalah itu menumpuk, menggunung, sampai akhirnya tiap kali dengar nama orang tersebut kita jadi jengkel sendiri. Kira-kira begitu perasaan gue ke Rio belakangan ini. Ada terlalu banyak masalah sampai gue bingung harus nyelesaiin darimana lagi."


Baik Rosa, Vino, dan Hilda, tidak mengatakan apa-apa lagi. Maya baru saja mengkokohkan posisinya dan dia sudah pasti ingin mengakhiri hubungannya dengan Rio. Maka dengan begitu, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.


Steak pesanan Rosa akhirnya tiba. Para pelayan menyajikannya diatas meja lalu Rosa langsung menancapkan garpunya ke atas steak dengan kesal. Rosa memasukkan potongan daging kedalam mulut lalu berkata dengan mulut penuh, "Gue maswih sebel lo poutus setelah pacaran lama. Kayak sia-sia gitu."


"Iya, pacaran 5 tahun itu bukan sesuatu yang cepat lo, May. Lo juga udah ngenalin dia ke keluarga lo begitu juga sebaliknya. Putus kayak gini bukan berarti lo putus sama dia doang, tapi juga dengan keluarganya." kata Vino serius pada Maya.


"Ah, iya, gue belum bilang ke mama soal ini..."


Hilda mengusap puncak kepala Maya kemudian berkata, "Gue yakin mama lo pasti paham kalau ngomongnya baik-baik."


Maya mengangguk. "Yah, gitu deh pokoknya, ayo pesan makanan! Lapar banget nih!"

__ADS_1


***


Keempatnya pun makan malam bersama sambil menghindari obrolan soal hubungan Maya lagi. Mereka kembali bergurau, meledek kehidupan masing-masing seperti biasa dan akhirnya kembali seperti semula.


Selesai makan, Vino menuangkan lebih banyak anggur ke gelas Rosa, Rosa pun berkata, "Hah, gak bersasa kita semua udah 30 tahun, ya? Bentar lagi jadi tante-tante dan om-om deh."


Ketiganya tertawa kecil mendengar omongan Rosa. Hilda yang duluan menanggapi, "Tapi badan gue rasanya masih ok kok. Gak pernah pegal linu atau apa gitu. Kayaknya gue badan gue belum mau tua deh."


Rosa mendengus, "Tunggu aja sampai lo melahirkan nanti. Rasaiin tuh hamil, ngurus anak, belum lagi harus ngeladenin bacotan suami pulang kerja."


Saat akhirnya semuanya puas ngobrol Vino akhirnya bangkit dari kursinya dan berjalan ke kasir untuk membayar. Disana matanya dengan cepat menangkap sosok wanita berambut panjang yang baru saja masuk kedalam restoran bersama kekasihnya. Perhatian Vino untuk sejenak terfokus pada wanita itu.


Namun tiba-tiba Rosa dari belakang menepuk dan mengagetkannya, "Bengong aja! Liatin siapa sih?"


Rosa mengikuti arah pandangan Vino lalu menangkap sosok cantik yang tengah dipandang Vino. Rosa langsung mendesis lirih seraya berkata, "Siapa namanya? Jessie? Mantan lo yang hobi naik gunung itu, 'kan?"


Vino mengangguk. "Iya. Berapa semuanya mbak?"


"Gak mau lo samperin?"


"Nope."


Vino membayar tagihan makan mereka lalu memberikan satu tatapan terakhir untuk Jessie lalu kembali bergabung di meja mereka. Setelah mengemas barang masing-masing keempatnya berjalan keluar lalu Rosa tiba-tiba berkata, "Hilda, lo jadi nginap dikosan Maya malam ini?"


Hila menatap bingung kearah Rosa. Rosa pun melotot kode menyuruhnya. Hilda menjawab, "A-Ah, jadi kok. May, gapapa kan gue nginap ditempat lo malam ini?"


"Boleh sih. Tapi bukannya lo masuk pagi besok?"


"Gapapa bisa kok berangkat kerja dari tempat lo."


Rosa menahan taksi yang lewat lalu menyuruh Hilda dan Maya masuk kedalam. Keduanya masuk lalu melambaikan tangan pada Vino dan Rosa. Taksi berjalan lalu tenggelam dalam padatnya jalanan ibukota.


Rosa menghela napas berat, "Dasar anak itu... Di usia gini putus tanpa alasan jelas itu benar-benar gawat."


Vino cuman mengangguk.


Rosa melirik kearah Vino, "Lo kapan nikah?"


"Gue gak tertarik sama cewek."


"Minta digampar sumpah. Lo kalo becanda ekspresif dikit napa, bikin orang salah sangka aja."


"Haha maaf. Lo mau langsung pulang juga? Gak minta jemput sama suami lo?"


"Jangan, dia baru pulang kerja. Pasti capek. PNS beda kali sama pengusaha kayak lo."


"Yaudah, gue antar aja kalo gitu. Lagian abis ini gue masih harus ketemu klien."


"Semangat kerjanya."


Dengan begitu keduanya masuk kedalam mobil dan langsung pergi meninggalkan restoran. Persahabatan yang dimulai waktu masa kuliah. Berlanjut hingga kini dan seiring waktu keempatnya tumbuh dewasa bersama.


Kisah keempat sahabat di awal 30'an mereka, dimulai!


 


_______________________________________________________________________________________________


Hey, your author here, makasih banyak udah baca.


Maaf banget kalau ada salah-salah, bakalan di revisi kok suatu hari nanti.


Kalau ada saran atau rekomendasi alur cerita bisa langsung komen aja.


Semoga harimu menyenangkan~ 👌🏼


 


 

__ADS_1


__ADS_2