Pindah Akun

Pindah Akun
CPTR X: TERIMAKASIH


__ADS_3

Vino menghentikan mobilnya tepat di rumah kecil Hilda. Dia melonggarkan kerah bajunya dan membuka kancing paling atas untuk celah udara.


Seraya menunggu, Vino sekali lagi mengecek pesan masuk dari Raika yang mengatakan kalau Hilda tahu soal dirinya yang selama ini diam-diam membantu.


Vino tidak membalas pesan tersebut. Dia masih tidak habis pikir bagaimana mungkin Raika dan Aulia memberitahu Hilda soal ini.


Vino menghela napas berat lalu keluar dari mobil. Di waktu yang bersamaan Hilda juga keluar dari luar rumahnya. Keduanya bertukar pandang sejenak dan Hilda pun memberi satu senyum pahit yang menyakitkan.


Vino kenal betul senyum penuh tipu daya itu.


"Hai, lo udah makan?" tanya Hilda.


Vino mengangguk.


"Mau temenin gue ke swalayan depan?"


"Boleh."


"Kalau kita jalan aja boleh nggak?"


"Ok."


Maka dengan begitu Vino pun dengan cepat mengikuti langkah kaki Hilda menuju jalan keluar kompleks yang tadi barusan dia lalui.


Keduanya berjalanan bersebelahan sambil saling bungkam satu sama lain. Hilda terus memandang langit malam yang begitu sepi.


Tanpa bintang, tanpa bulan. Satu-satunya pencahayaan hanya lampu jalanan yang kerlap-kerlip ditemani kunang-kunang malam.


Vino yang sudah tahu apa yang hendak dibicarakan Hilda memutuskan untuk tetap diam dan terus menunggu Hilda membuka pembicaraan mereka.


Angin berhembus kencang malam itu. Hilda memeluk tubuhnya dengan kedua tangan, mencoba merekatkan cardigan biru tua yang sudah sangat kecil.


Pakaian tipis itu lama-kelamaan membuatnya kedinginan. Pada akhirnya Hilda bersin dan membuat Vino meliriknya.


Hilda buru-buru menyapu hidungnya namun tiba-tiba Vino malah menggantungkan jaket kulitnya di kedua pundak Hilda.


Hilda hendak membalas namun Vino dengan cepat mendahului.


"Pegangin. Gue kenapanasan."


Hilda menatap Vino sejenak kemudian mengangguk kecil.


Sifat Vino yang seperti itu yang selalu membuatnya sulit untuk menolak. Pria ini dari dulu selalu terkesan kaku dan dingin.


Tapi dia tidak pernah segan menunjukkan sifat aslinya dihadapan teman-temannya. Hilda selalu merasa nyaman di dekat pria ini. Perasaan yang sama saat dia bersama Maya dan Rosa.


Hilda menghela napas kemudian memberanikan diri untuk bercerita.


"Lo tahu, papa gue sebenarnya bukan orang yang buruk-buruk amat." Hilda menatap Vino dan tersenyum.


Hilda melanjutkan, "Meskipun dia berhutang sana-sini, sering mabuk-mabukan dan pulang malam, dia sama sekali tidak pernah memukul kami bertiga dan gue benar-benar bersyukur."

__ADS_1


Vino mengangguk kecil dan menunggu Hilda melanjutkan.


"Sebenarnya kalau dilihat dari keadaannya, gak bisa jug ague salahin dia jadi kacau begitu. Mama ninggalin papa pas Aulia baru masuk TK. Papa dipaksa besarin kita semua seorang diri. Wajar aja dia terpukul banget."


"Mama lo dimana sekarang?"


"Sama keluarga barunya. Anak barunya. Juga suami barunya yang lebih mapan." Hilda menghela napas panjang dan melanjutkan. "Mama memang dari awal gak tahan dengan kondisi hidup yang serba pas-pasan jadi ya.... Begitulah."


Hilda tertawa kecil mencoba menghibur dirinya sendiri. "Oleh karena itu gue benar-benar menghormati papa. Dia pria yang tangguh. Dia memang bukan pria hebat yang tahu caranya menghasilkan uang, tapi dia sama sekali gak pernah marah kepada kita bertiga dan itu aja udah cukup."


Vino terus memperhatikan wajah Hilda yang kembali memerah.


Hilda menghela napas berat, hidungnya dengan cepat terasa tersumbat.


"Gue tahu lo niatnya ngebantu. Tapi gak bisa gitu juga, Vin."


Vino masih diam gak membalas.


"Itu hutang bapak gue, gak seharusnya orang luar kayak lo tanggung jawab sampai sebesar itu. Jadi.... Gue bakal balikkin semua duit lo. Maaf ya Vin udah ngerepotin."


Mendengar itu semua tiba-tiba Vino menghentikan langkah kakinya. Matanya menatap lurus kearah Hilda yang dengan cepat berbalik sadar kalau Vino berhenti di belakangnya.


Vino memandang ke sekitar sejenak, lalu menatap tajam kearah Hilda.


Dengan cepat Hilda bisa merasakan perubahan atmosfer yang perlahan memanas. Sorot mata Vino yang tajam membuatnya lemas seketika.


"Sudah berapa lama kita temanan?"


"Dan lo masih ngeraguiin gue?"


"Bu-Bukan begitu!"


"Kalau gitu terima aja bantuan gue dan gak usah bawel! Apa salahnya sih gue bantuin lo?"


Hilda terdiam. Hilda dengan cepat menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya. Hilda terbiasa memendam perasaannya dan membiarkan pikiran orang lain mendominasinya.


Namun kali ini dia sudah tak tahan lagi. Rasa mencekam yang menghantuinya semakin lama semakin membuatnya gelisah.


Dihadapan Vino yang begitu keras, Hilda tidak lagi bisa menahan emosinya lebih lama lagi.


Namun Hilda buru-buru menghela napas, mengeluarkan sedikit aura buruk dari udara yang dihembuskan.


Hilda berkata, "Gue bakalan balikkin duit lo."


"Tsk, anak satu ini, udah dibilang—"


"Ya gue gak enak, Vin!" jerit Hilda.


Vino sedikit tersentak dengan Hilda yang tiba-tiba menaikkan suaranya.


Hilda memandang Vino lekat-lekat kemudian lanjut berkata saat air mata mulai mengucur, "Gue gak suka berhutang gitu ke orang-orang.... Selama ini gue selalu bikin gue susah tidur saat malam. Gara-gara hutang gue juga gak pernah bisa jadi kayak cewek-cewek lain yang ngehabisin gajinya buat beli baju baru, sepatu baru, lo pikir gue gak mau itu semua? Cuman karena gue selalu pakai barang yang sama tiap tahun bukan berarti gue gak mau Vin!"

__ADS_1


Hilda menarik napasnya yang tersengal-sengal. Sambil susah payah menghapus air mata, Hilda terus memutar otak memikirkan langkah selanjutnya.


Bicara begini membuat hatinya sedikit lebih lega. Namun tetap saja dia harus memikirkan bagaimana caranya mengembalikan uang Vino.


Ditengah itu semua tiba-tiba Vino mengangkat tangannya dan meletakkan tepat di puncak kepala Hilda. Vino mengusap pelan kepala Hilda lalu tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Dari dulu kenapa lo selalu keras kepala banget sih?" tanya Vino.


Hilda tidak membalas dan masih sibuk menghapus air matanya.


"Lo seriusan mau bayar balik hutang-hutang lo ke gue?"


Hilda mengangguk tanpa suara.


"Kalau begitu balikkin aja kalau emang lo udah ada duitnya."


"Hah? Maksudnya?"


"Kembaliin aja kalau udah kekumpul semua."


"Gak bisa nyicil?"


"Gak."


Hilda mengerutkan dahi. Dari reaksi Vino, dia tahu kalau Vino merencanakan hal lain.


"Gak usah mikir yang aneh-aneh gitu." Vino tertawa kecil kemudian melanjutkan, "Mulai sekarang lo gak perlu ngerasa keberatan gitu."


Hilda terdiam.


"Ok?" Vino memastikan.


Hilda mengangguk kecil.


Vino mendengus kemudian berjalan melewati Hilda. Hilda sendiri buru-buru mengekor dibelakang Vino. Hilda terus memandangi punggung lebar Vino.


Satu-satunya pria yang selalu melindunginya dan menolongnya di kala dia butuh tempat bersandar. Hilda tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya membalas semua kebaikkan Vino.


"Vin, makasih ya."


"Santai aja."


Keduanya berjalan terus hingga tiba di jalan utama. Keduanya pergi menuju swalayan dan mengambil beberapa barang secara acak.


Ditengah itu semua, teman kerja Hilda yang bernama Toni yang berada diluar swalayan memandangi keduanya dalam diam.


Keduanya tampak begitu serasi bersama.


 


 

__ADS_1


__ADS_2