
Suara musik disko sudah terdengar dari kejauhan. Lebih tepatnya disko tahun 80-an. Vino memarkir mobilnya di sudut jalan yang diterangi lampu jalan dan menatap rumah yang sedang heboh digoyang pesta diseberang jalan.
Vino mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Rosa. Tidak diangkat. Vino beralih pada kontak Maya tapi setelah nada tunggu tetap tidak diangkat. Terakhir adalah Hilda. Diangkat.
"Halo, Hil, ini rumahnya yang lagi mutar lagi diskoria, 'kan?"
"Hah? Kenapa?!"
Vino mengerutkan dahi lalu menaikkan suaranya beberapa oktaf, "RUMAHNYA YANG LAGI NYETEL MUSIK DISKO, 'KAN?"
"Kenapa Vin?! Ga kedengaran"
"LO BUDEK BANGET SUMPAH!"
"Hah? Apaan sih? Awas ya kalau ketemu liat aja!"
Vino tertawa kecil lalu mematikan telfon lalu mencabut kunci mobilnya dan berjalan menuju rumah tersebut. Dari luar Vino dapat menemukan sosok orang-orang muda dengan dandanan tahun 80-an. Jaket denim, make up menor, serta pakaian warna pastel yang selalu dibencinya.
Sementara Vino memandangi orang-orang, orang-orang ini juga memandang Vino dengan sama anehnya. Pasalnya saat ini Vino menggunakan kemeja hitam isi dalam dengan celana chino kremnya. Sama sekali tidak sesuai dengan tema pesta dan nampak terlalu formal. Dia baru pulang dari kantor dan dipaksa kesini, mau tidak mau dia harus datang dengan pakaian kerjanya.
Vino tiba di ruang tamu lalu ke sekeliling. Tidak ada sosok Rosa, Maya, ataupun Hilda disana. Yang ada hanya orang-orang dewasa yang tengah bercengkrama sambil meneguk minuman beralkohol. Vino hendak pergi ke halaman belakang namun seseorang menyebut namanya.
"Vin! Vino! Vino, 'kan?"
Vino berbalik dan mengerutkan dahi. Itu adalah mantannya Jessie.
"Halo, Jess."
Jessie tiba-tiba mengulurkan tangan meminta jabat tangan. Vino memandang Jessie dalam-dalam. Matanya merah dan ada rona merah disekitar pipinya. Seketika Vino langsung sadar kalau wanita ini sepertinya setengah mabuk.
Vino menjabat tangan Jessie. Jessie pun tersenyum dan berkata, "Ngapain lo kesini pake baju gituan? Kayak orang kantoran aja... Haha..."
Vino tidak menggubris pertanyaan Jessie. "Lo liat Rosa, Maya, atau Hilda gak?"
"Hmm?"
"Teman-teman cewek gue."
"Oh, iya-iya, tiga cewek yang bikin kita putus, kan?"
__ADS_1
Vino menghela napas berat.
Jessie tertawa kecil lalu meninju pundak Vino. "Becanda doang. Kaku banget kayak patung. Kenapa sih lo gabisa seasyik pas kalo lagi bareng teman-teman cewek lo?"
"Yaudah kalo gatau."
Vino hendak berjalan pergi namun tiba-tiba Jessie menangkap tangan Vino dan berbisik di telinganya, "Gue tau."
Vino melirik kearah Jessie. Matanya nampak serius. Saat keduanya berpandangan mendadak lampu ruang tamu dimatikan dan berganti pada lampu yang lebih temaram. Alunan lagu disko dengan cepat berubah jadi lagu romansa yang lebih lembut.
Vino dengan cepat mengenali lagu yang sedang dimainkan. Itu adalah The Lady in Red. Kesukaan mendiang ibunya dulu. Jessie mendadak terkekeh dan berkata, "Satu dansa dan gue bakalan kasih tahu mereka dimana."
Belum sempat Vino membalas Jessie sudah lebih dulu menarik tangan Vino dan membawanya ke tengah ruang tamu yang disulap jadi tempat dansa. Keduanya menyelinap masuk ketengah dan Jessie langsung meletakkan kedua tangannya di pundak lebar Vino.
Vino untuk kedua kalinya menghela napas lalu memegang pinggang Jessie dengan hati-hati. Itu membuat Jessie tersenyum. Keduanya pun mulai berdansa menikmati alunan musik orang kasmaran.
"Lo kesini bareng pacar lo?" tanya Vino.
"Hah?"
"Jangan pura-pura. Kita ketemu kemaren di restoran. Lo kayak biasa pura-pura ga liat."
Vino tidak membalas hal tersebut dan tetap diam..
"Gimana kabar pacar lo?" tanya Jessie sambil diam-diam melirik pada Vino.
"Ga punya."
"Ah, gitu ya, masih belum move on dari gue?" tanya Jessie sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
"Iya."
Jawaban itu langsung membuat jantung Jessie berdebar keras. Jessie langsung memalingkan wajahnya karena malu.
"Tapi bohong." kata Vino datar.
Jessie menatap Vino dengan kecewa. Namun kemudian tertawa kecil.
"Padahal kita belum resmi putus, lho. Statusnya sekarang kita masih lost contact. Selama lo belum bilang putus kita sekarang masih pacaran. Jadi gue bebas dong ngelakuin ini." Jessie tiba-tiba memeluk erat Vino.
__ADS_1
Jessie membenamkan wajahnya ke dada bidang Vino lalu diam sejenak disana. Langkah kakinya masih tetap mengikuti kaki Vino. Jantungnya kini berdebar tak karuan. Campuran antara perasaan kangen dan kandungan alkohol yang memutar cukup untuk membuat siapapun berbuat segila ini.
"Tapi becanda doang. Santai aja, Vin. Gue cuman mabuk, kok."
"Iya, tau."
"Maaf, gue tiba-tiba ngilang dulu."
Vino cuman mengangguk kecil.
"Gue juga tahu lo nyariin gue kemana-mana. Kalo diinget-inget, tingkah lo lucu banget pas gue ngilang. Kayak anak SMA aja. Segitunya lo suka sama gue.... dulu?"
"Iya."
"Kalau sekarang?"
Jessie memandang Vino dalam-dalam. Vino pun membalas, "Ga tau."
Vino menghentikan langkah kakinya kemudian bertanya dengan nada serius, "Udah. Sekarang dimana-"
Jessie tiba-tiba melayangkan satu ciuman mesra yang begitu mendadak. Ciuman itu mendarat dengan mulus di bibir Vino. Saat itu tidak hanya Vino yang terkejut. Suara gelas pecah terdengar dari sudut lain ruangan dan itu adalah Rosa yang baru saja menjatuhkan gelasnya di lantai.
Melihat ini Rosa melotot dan bergumam dengan nada kesal, "Bocah satu ini...."
________________________________________________________________________________
Hey, your author here, makasih banyak udah baca.
Maaf banget kalau ada salah-salah, bakalan di revisi kok suatu hari nanti.
Kalau ada saran atau rekomendasi alur cerita bisa langsung komen aja.
Semoga harimu menyenangkan~ 👌🏼
__ADS_1