
Bulan ini mal di pusat kota mengadakan diskon besar-besaran. Maya sudah nyaris dua kali mendapatkan notifikasi tersebut dari emailnya.
Diskon besar-besaran yang ditawarkan terdengar begitu menggiurkan. Ada berbagai macam keperluan sekunder yang dia inginkan dan Maya yakin dia bisa menemukannya di mal hari ini.
Namun wajahnya buru-buru masam saat ingat jumlah uang di rekeningnya. Dia bisa-bisa tidak punya cukup uang untuk makan sampai akhir bulan kalau dia pergi ke mal hari ini.
Maya menggeleng, lalu kembali berfokus menulis di laptopnya. Sepuluh menit kemudian pikiran itu datang lagi. Aroma baju baru, kotak sepatu yang terasa kasar setelah membeli, semua kenangan itu berputar di kepalanya.
Maya rasa-rasanya sudah tidak tahan lagi dan ingin pergi ke mal sekarang juga. Saat akhirnya dia mentok dengan tulisannya, Maya pun menjadikannya sebagai alibi.
Maya bangkit dan tanpa pikir panjang langsung berganti dengan pakaian jalannya. Dia akan ke mal. Dengan syarat hanya untuk melihat-lihat.
Setelah selesai berganti Maya langsung berjalan keluar kosannya menuju halte bis di jalan protokol. Hanya butuh waktu lima menit hingga bis arah tujuannya datang.
Perjalanan menuju mal berlalu dengan cepat. Selama itu juga Maya terus membayangkan tentang barang-barang indah yang mungkin saja dapat dia dapatkan dengan harga super murah.
Memang rasanya mustahil, tapi tidak ada salahnya mencoba kan?
Maya adalah wanita dewasa berusia 30 tahun. Dengan kondisi keuangannya, dia tahu kalau dia tidak akan pernah bisa jadi perempuan yang gila mereka dan membeli barang-barang mahal dan terkenal.
Oleh karenanya Maya selalu melatih kepekaannya untuk mendapatkan barang bagus di harga yang terjangkau. Sesampainya di mal, Maya langsung disambut oleh spanduk diskon yang digantung besar-besar.
Aroma mal yang khas dan AC dingin yang menerpa wajahnya dengan cepat mengkendurkan saraf-saraf tegang di kepalanya.
Maya dengan cepat melihat-lihat, pakaian, perlengkapan elektronik kecil, hingga beragam jenis furniture.
Melihat harga-harga yang ditawarkan, Maya hanya bisa menelan ludah. Meski setelah potongan, harganya masih terlalu mahal untuknya.
Itu membuat Maya sedih, sama menyedihkannya dengan kondisi dompetnya, tapi dia tetap memaksakan diri untuk melihat-lihat.
Segala jenis toko dimasukinya, furniture, pakaian, hingga sepatu. Maya beberapa kali bahkan mencoba beberapa pakaian untuk menghibur dirinya.
Setelah puas mencoba pakaian mahal yang tidak mungkin bisa dibelinya, Maya berhenti di sebuah toko perhiasan yang nampak megah dari luar.
Dari luar sini, toko perhiasan tersebut nampak cukup ramai. Para pegawai nampak sibuk melayani para pelanggan yang berhamburan.
Maya pun dengan usil memutuskan masuk dan melihat-lihat. Dengan kondisi seperti ini mustahil para pegawai akan menyadari keberadaannya dan dia bisa melihat-lihat tanpa ditanya ingin membeli apa.
Maya tiba di sebuah etalase yang memamerkan cincin-cincin indah seharga biaya kosnya selama setahun. Bentuknya indah dan nampak begitu memikat.
Maya mendekat dan terus mengaguminya. Andai saja ada yang mau membelikannya...
"Mbak, perimisi. Tolong yang ini."
Maya terkejut, mendadak merasa girang bukan main karena ada yang bisa membaca pikirannya dan membelikannya cincin tersebut. Maya berbalik dan nampak terkejut.
Itu adalah pria tempo hari yang menawarkannya pekerjaan modeling dadakan. Erwin Kolandam.
"Eh? Si pemilk café?"
"Wah, kita ketemu lagi. Mana gaun putri yang waktu itu?"
Maya mengernyit kan dahi sedikit terganggu dengan guyonan pria itu.
"Bercanda doang. Sepertinya lo lagi senggang hari ini."
"Lumayan. Btw, terimakasih untuk pekerjaan kemaren. Gue gak nyangka bayarannya sebanyak itu."
"Bukannya bayaran model emang segitu?"
"Masa?"
"Iya. Biasa emang lo dibayar berapa?"
"Kemaren itu yang pertama."
"Serius? Berarti lo bukan model?"
Maya menggeleng.
Erwin terdiam sejenak lalu tertawa kecil, "Gila, gue benar-benar gak sadar."
Maya hanya mengangguk kecil kikuk.
__ADS_1
Disaat keduanya asik berbincang, karyawan toko dengan cepat memberikan tagihan pada Erwin dan Erwin segera menyerahkan kartu kreditnya.
Melihat semua ini Maya hanya terdiam sambil menelan ludah.
Saat akhirnya karyawan tersebut menyerahkan bungkusan rapi berisi cincin Maya langsung berkata, "Pacar lo beruntung banget."
"Oh ini? Ini buat adik gue. Dia hari ini ulang tahun. Gue gak tahu mau kasih apa makanya gue kesini. Cewek suka kan yang beginian?"
Maya mengangguk kecil.
Erwin tersenyum lalu keduanya perlahan berjalan keluar toko. Diluar sana mendadak Erwin harus menerima telfon.
"Maaf." Erwin segera pergi ke salah satu pilar terdekat dan mengangkat telfonnya disana.
"Iya, tentu saja. Ah, itu merepotkan. Bilang saja pada Gama aku gak bisa datang, Ma. Oke. Terimakasih banyak. Minggu depan? Entahlah. Ok, dah."
Wajah Erwin dengan cepat berubah kusut setelah menerima telfon tersebut. Maya yang penasaran dengan cepat berguyon dengan bertanya, "Kenapa nyokap lo?"
"Ah, iya, biasa ada pertemuan keluarga gitu."
"Wah keluarga kalian akrab ya."
"Haha nggak juga. Eh lo malam ini sibuk ga?"
"Nggak kayaknya, kenapa emang?"
"Gimana kalau datang ke café gue? Ada yang mau gue tunjukkin."
"Apaan?"
"Udah datang aja."
Maya pun akhirnya mengangguk. Erwin tersenyum puas lalu mengeluarkan ponselnya seraya berkata, "Boleh minta nomornya?"
Maya melakukan apa yang diminta Erwin lalu mengisi kontaknya.
"Ok, jangan lupa ya ntar malam!"
Maka dengan begitu Erwin pergi begitu saja. Maya masih berdiri di tempat bingung dengan kejadian barusan.
Maya mengangkat bahunya mencoba mengikuti kemana arus membawanya.
***
Kumpulan asap putih mengepul saat adik perempuan Hilda mengangkat penutup penggorengan. Hilda, kakak perempuannya, dan adik perempuannya kini duduk mengitari kompor kecil di tengah ruang tamu mereka untuk acara bakar-bakar kecil-kecilan mereka.
Di dalam rumah peninggalan orang tua mereka, ketiganya duduk berdekatan untuk menjaga kehangatan yang tersisa.
Rumah tua yang dibeli saat Hilda masih kecil ini kini ditempati oleh Hilda seorang diri. Kakak perempuannya yang bernama Raika hidup di kota sebelah dan bekerja disana.
Sementara adik perempuannya Aulia tinggal bersama suaminya di sudut lain kota.
Ketiganya dari dulu selalu akrab, bermain bersama, bahkan memiliki barang-barang yang sama bukan lah hal yang aneh.
Saat akhirnya ayah mereka meninggal, ketiganya terpaksa mewarisi hutng-hutang ayah yang menumpuk.
Ketiganya membagi rata jumlah hutang yang ada. Meski begitu, karena kesibukkan pribadi dan kebutuhan juga, pada akhirnya Hilda yang menanggung paling banyak.
Meski begitu Hilda tidak pernah protes atau komentar soal semua itu.
Dia selalu memberikan seluruh gajinya untuk membayarkan hutang dan menyisihkan sedikit uang untuk kebutuhannya sehar-hari.
Akibatnya Hilda tidak dapat membeli baju-baju baru yang cukup layak, dia menggunakan sepatu yang sama dalam 10 tahun terakhir, bahkan menggendong tas yang sama sejak kuliah.
Namun kini dia bisa sedikit bernapas lega. Seluruh hutang ayahnya baru saja lunas seminggu yang lalu. Kini mereka bertiga bisa menjalani hidup dengan lebih damai.
Raika mengambil potongan daging paling besar yang telah matang lalu meletakannya diatas mangkuk nasi Hilda. Hilda tersenyum. Namun akhirnya dia menyadari adik perempuannya Aulia ternyata mendambakan daging tersebut.
Hilda pun memberikannya begitu saja dan Aulia memakannya dengan penuh semangat.
__ADS_1
Raika yang sebal mengetuk kepala Aulia dengan sumpit dan Aulia mengerang kesakitan.
"Aduh! Sakit tau!"
"Itu buat Hilda! Kenapa malah kamu yang ambil?"
"Orang kak Hilda yang kasih kok!"
Hila tersenyum melihat tingkah keduanya kemudian berkata, "Makan aja, gue gak terlalu suka daging kok."
Hilda lalu menggoreng kol dan memakannya dalam diam. Melihat ini semua Raika hanya bisa menghela napas panjang. Kebiasaan Hilda yang selalu mengalah kadang kali membuatnya sebal.
Mereka bilang dalam sebuah keluarga anak pertama dan terakhir selalu berebut. Mereka jarang membicarakan sifat anak tengah yang harus mengalah dalam segala situasi.
Dengan pola pikir seperti itu akhirnya Hilda belajar untuk mengalah dan tidak mempermasalahkan hal-hal kecil seperti makanan.
Dia makan apa yang tersisa, dia mengambil apa yang tidak diinginkan, dengan begitu, dia tumbuh menjadi wanita kuat yang tidak banyak pilih-pilih.
Ditengah itu semua, Raika yang tengah membalik dagingnya tiba-tiba bertanya, "Gimana kabarnya Vino?"
Aulia menelan dagingnya kemudian ikut bertanya juga, "Iya, kak Vino kabarnya gimana?"
"Baik kok. Dia belakangan ini lagi sibuk ngurus proyeknya."
Aulia mangguk-mangguk, "Kak Vino emang paling top deh. Udah keren, baik, karirnya mantap juga. Suami idaman banget."
Hilda memicingkan matanya kemudian bertanya, "Lo lagi gak mau selingkuh sama Vino kan?"
"Heh? Nggak lah!"
Hilda terus mengamati raut perubahan ekspresi Aulia. Disbelahnya Raika juga nampak mencurigakan lalu segera memutar bola matanya.
Hilda yang mencium bau-bau ketidakjelasan langsung bertanya, "Kenapa sih tiap kali kita ngumpul yang dibahas Vino mulu? Kalian pada suka ya sama dia?"
Raika meletakkan piringnya kemudian membalas, "Suka sih. Tapi bukan suka yang mau ngejadiin dia pacar gitu."
Aulia mangguk-mangguk setuju dengan perkataan Raika.
"Ya terus?" tanya Hilda.
"Kita berdua udah ngomongin ini beberapa kali, kayaknya, lo cocok deh sama Vino."
Hilda langsung memasang ekspresi heran dan memandang keduanya bergantian.
"Apaan sih? Kok jadi ngebahas ginian?"
Aulia dan Raika saling pandang. Keduanya diam sejenak kemudian Raika mulai bercerita, "Gini, jadi ada yang mau gue ceritaiin. Sebenarnya.... Selama ini gue sama Aulia sama sekali gak sanggup kumpulin duit buat patungan bayar hutang bokap kita."
Hilda mengerutkan dahi, "Maksudnya? Orang tiap bulan lo berdua selalu transfer ke rekening gue buat patungan kok."
Aulia dan Raika saling pandang sekali lagi. Aulia pun yang menumpahkan semua kejujuran pada akhirnya, "Sebenarnya kak.... Yang bayarin bagian Aulia sama kak Raika itu kak Vino. Dari awal dia yang bayarin. 8 tahun yang lalu kita berdua ketemu sama dia di bank. Kita cerita soal masalah hutang papa. Dia akhirnya nawarin buat bantuin. Asal, jangan bilang ke kak Hilda."
Raika menghela napas panjang. "Sekarang kan hutangnya bokap udah selesai. Jadi gue rasa gak apa buat cerita ini."
Hilda menatap keduanya tak percaya. Matanya berbinar dan entah mengapa mendadak penuh dengan air. Ada rasa kecewa yang mendalam yang mengikis permukaan hatinya.
Hilda meletakkan piring lalu berdiri dan pergi begitu saja.
Dengan langkah cepat dia pergi keluar rumah masih sambil bertelanjang kaki. Dia memandang ke udara dan menghela napas panjang.
Dia tidak menyangka kalau Vino selama ini selalu membayar bagian Raika dan Aulia tiap bulannya. Jumlahnya tentu jadi lebih banyak dari bagian Hilda sendiri.
Hilda menghela napas, air mata perlahan mengucur membasahi pipi.
Napasnya jadi tak terkendali akibat perasaan nyeri di hatinya.
Hilda mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi Vino.
"Halo."
"Halo, Vin. Lo dimana? Ada yang mau gue omongin."
"Ok."
__ADS_1