
Maya meneguk minumannya sampai habis lalu memandang kearah Vino dengan senyum lebar di wajahnya. Vino yang masih tidak mengerti maksud Maya yang tiba-tiba mengundangnya ke café hanya bisa memandang Maya dengan tatapan keheranan.
"Tumben ngajak gue ke café." kata Vino.
"Haha, gue barusan dapat job sambilan. Uangnya lumayan. Makanya gue langsung ngajak lo kesini."
"Buat apa?"
"Ngelunasin hutang gue yang waktu itu. Terakhir kesini kan lo yang bayarin semuanya. Sekarang giliran gue deh."
Vino mangguk-mangguk lalu mulai menyeruput kopi panasnya. "Job apaan emang?"
"Jadi putri kerajaan."
"Udah gue duga pasti kerjaan gak jelas."
"Eh cosplaying di pesta anak umur 6 tahun itu benar-benar normal lho!"
"Hedeh, lagian siapa sih yang nawarin kerjaan ginian ke orang kaya lo?"
"Ada deh teman gitu. Nih, salah satu foto barusan. Gue keliatan cantik banget, 'kan?"
"Iya, cantik."
Maya terkekeh lalu dengan muka picik berkata, "Tadi gue juga jadi model brand ambassador juga tau! Keren kan?"
"Ambassador apaan?"
"Gak tahu, kopi-kopian café gitu pokoknya."
"Gitu."
"Mungkin gue lebih baik jadi model aja kali ya?"
Vino menatap Maya dengan geli kemudian lanjut menyeruput kopinya.
Suasana café malam itu cukup padat ditemani alunan live musik dari band penggiring. Di dalam group mereka, hanya Maya dan Vino yang suka ngopi.
Rosa berhenti minum kopi semenjak menikah sementara Hilda gak kuat sama kafein. Hal itu menjadikan Vino satu-satunya teman ngafe Maya.
Keduanya sering kesini dan menikmati kopi bersama sambil ngobrol ringan.
Maya mengusap permukaan bibirnya dengan tisu kemudian bertanya pada Vino, "Jadi, lo gak mau cerita soal si Jessie?"
Vino menatap malas kearah Maya. Vino meletakkan cangkirnya kemudian membalas, "Kayaknya nggak deh."
"Dih pelit banget. Masa Rosa tahu gue nggak."
"Hilda juga gak tau kan?"
"Iya tapi kan gue kepo!"
__ADS_1
Vino tertawa geli mendengar kejujuran Maya. Vino menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menawarkan sesuatu pada Maya, "Kalau lo cerita kenapa lo barusan putus sama Rio, gue bakal cerita soal hubungan gue sama Jessie."
Maya berpikir sejenak. Ingatan masa lalu soal dia bersama Rio mendadak membuatnya lemah. Vino yang menyadari perubahan wajah Maya langsung sadar kalau wanita ini tidak akan mampu.
Maya memandang kedalam isi cangkirnya seolah disana ada jawaban. Lalu dia menarik napas, kini menatap langit-langit diatasnya.
Setelah merasa cukup mantap baru Maya berkata, "Ok, boleh."
Vino sedikit terkejut dengan jawaban Maya. Tapi dia sendiri tidak mau mundur dan mengalah. Vino mengangguk sebagai kode untuk membiarkan Maya cerita lebih dulu.
"Lo mau tau darimana?" tanya Maya.
"Semuanya."
"Dari kita awal ketemu?"
"Kayaknya bakalan lama. 6 bulan belakangan deh."
"Well, kita mulai jarang kontakkan sejak awal tahun. Tiba-tiba berapa minggu kemaren dia nelfon. Kita ngobrol panjang terus tiba-tiba dia bilang, 'Aku kayaknya udah gak bisa lanjutin hubungan kita. Maaf.' Terus dia.... Ngilang aja gitu. Gue coba telfon balik dia gak angkat."
"Lo sempat coba ke rumahnya?"
Maya mengangguk kecil.
"Hasilnya?"
"Gue kayak orang bodoh nunggu depan pagar sampai tengah malam. Sampai hampir di angkat satpam kompleks bayangin!"
Maya mengaduk kopinya kemudian melanjutkan, "Kadang gue sering heran. Kenapa sih kita harus berubah. Gue ingat banget dulu kita selalu kemana-mana bareng. Telfonan berjam-jam sampai kuping gue panas. Tapi makin lama kayak rasanya perasaan kita itu ya.... Kayak ilang gitu."
"Gak ada yang bakalan terus sama, May."
"Iya, gue tahu. Tapi tetap aja rasanya nyebelin."
Maya menghela satu tarikan napas panjang kemudian melanjutkan, "Meskipun gue ama Rio udah lama gak kontakkan, rasanya tetap nyakitin pas kita putus. Mendadak semua barang-barang di kamar gue rasanya jadi ada kaitannya sama dia."
"Wah...."
"Iya, lo ingat boneka yang dia menangin di pameran pas kita masih kuliah?"
"Boneka beruang kutub yang gede banget itu?"
"Yup, terpaksa gue jual. Gue gak kuat liat boneka itu tiap kali mau tidur."
"Sampai segitunya...."
Maya meraih cangkir kopinya dan meneguk hingga habis.
Maya kemudian melanjutkan, "Padahal gue kira dia mau serius sama gue. Pacaran selama itu terus putus, konyol banget...."
"Nikah?"
__ADS_1
"Iya dong. Dia orangnya bukan family-oriented. Tapi gue yakin gue bisa merubah dia."
Vino mangguk-mangguk.
"Gue sebenarnya takut banget, Vin."
"Takut kenapa?"
"Kita nikah sama orang yang salah. Terus ngehabisin seumur hidup sama dia. Gak bisa dibayain bosannya kayak apa."
"Mendingan gitu ketimbang tua nanti lo sendiri kan?"
"Hmm, iya juga sih. Mudah-mudahan gak dua-duanya sih."
Maya menyandarkan punggungnya, untuk kesekian kalinya menatap band yang lagi manggung di bawah sana. Maya ingat betul di awal-awal pacarannya sama Rio, hampir tiap hari dia ke café hanya untuk mendukungnya.
Maya keluar kamar pukul 6 sore dan terus disana sampai Rio selesai manggung. Hari-hari semacam itu selalu membuat hidup Maya terasa berwarna.
Hal yang sepele, tapi cukup membuatnya bahagia. Entah sejak kapan Maya mulai berhenti datang untuk menonton Rio. Mereka memang tidak pernah bertengkar hebat, selalu memendam dan baikkan dengan cepat.
Tapi hal itu bukan tehnik penyelesaian masalah yang baik, pasalnya dendam di hati yang tidak pernah dibicarakan membuat keduanya jadi lebih sensitif tiap kali selesai bertengkar.
Perlahan, Maya tidak lagi menjadi gadis yang selalu mengikuti Rio. Dia berhenti posesif dan perlahan mulai terbiasa saat Rio dikerumuni fansnya.
Maya tidak lagi memberikan perhatian selayaknya orang pacaran, bahkan sesekali kadang merasa keberatan apabila harus keluar bersama Rio.
Maya menghela napas berat. Mungkin dia bosan saat itu. Mungkin di satu titik dia merasa jenuh dengan hubungan mereka. Namun tetap saja, walau sudah tahu cepat atau lambat akan berpisah, saat itu semua terjadi, Maya tetap terkejut.
Perlahan kesehatannya juga terpengaruh. Sedih yang perlahan menggerogoti jiwanya membuatnya lemah. Dia jadi mudah menangis dan selalu sensitif nyaris di segala hal.
Maya tahu penyebabnya, akan tetapi dia memutuskan untuk menahan diri dan tidak terlibat lagi dengan Rio. Maya sebisa mungkin mencoba bertingkah selayaknya wanita di usia 30-annya.
Dia mencoba dewasa. Menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Tapi rasanya sakit.
Tanpa sadar air mata mengucur lagi. Maya buru-buru mencari tisu dari dalam tasnya tapi Vino tiba-tiba melepas jaketnya dan melemparkannya kearah Maya.
Maya buru-buru bersembunyi di balik jaket Vino mencoba sebisa mungkin berhenti menangis tapi itu sulit untuknya.
Sementara Maya tengah bergumul dengan perasaannya Vino tiba-tiba berkata, "Maaf."
Maya ditengah isak tangisnya mengintip keluar kemudian tersenyum pada Vino, "Buat apa?"
"Karena bikin lo cerita gini."
"Gak apa juga kali. Oh ya, sekarang giliran lo cerita."
Vino menunjukkan satu senyum mengejek lalu berkata, "Mau mulai darimana?"
__ADS_1