
Maya membuka matanya. Perasaan sepi yang mengisi membuatnya terbelalak dan kehilangan diri. Maya duduk diatas ranjangnya dan memandang ke sekitar. Hatinya gelisah dan dia merasa luar biasa sedih tanpa alasan.
Perlahan air mata jatuh membasahi pipinya. Maya bingung harus melakukan apa. Dia merasa sedih, namun tidak tahu sedih karena apa. Maya duduk di pinggir kasurnya dan menatap keluar jendela. Matahari sudah sejak tadi terbit tinggi.
Setelah agak lama, Maya akhirnya merasa baikkan. Maya membuka kulkas dan menuang segelas air. Tubuhnya menggigil akibat perasaan barusan. Lagi-lagi dia merasakannya. Maya menghela napas berat lalu meneguk air dingin sampai tenggorokannya terasa puas.
Setelah merasa cukup Maya mengambil terang bulang dingin dari dalam kulkas dan mengunyahnya. Maya lalu di atas karpet memandang kearah laptopnya. Dia menarik tangannya keatas lalu bergumam, "Kerja... kerja...."
***
Pukul 2 siang Maya yang masih di kamarnya rehat sejenak setelah menulis dan berbaring di karpet seraya memandang langit-langit sambil membayangkan bagaimana rasanya menjadi kaya dan bebas secara finansial. Ditengah itu semua mendadak ponselnya berdering.
Maya menyambar ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.
"Halo."
"Halo, May, mau duit gak?"
Maya mengerutkan dahi lalu mengecek nama yang tertera di panggilan tersebut. Dahlia, teman kuliahnya dulu. Mereka memang akrab dulunya, namun karena kesibukkan Dahlia yang bekerja di event organizer mulai beberapa tahun kemarin mereka jadinya jarang bertemu.
"Boleh, tapi gak yang aneh-aneh, 'kan?"
"Ga kok, lo cuman mesti pake gaun putih, sepatu hak tinggi, sama mahkota kristal."
"Jadi bidadari?"
"Hah? Bukan. Bidadari kan bersayap."
"Ada juga yang nggak lhoo."
"Masa sih?"
"Iya, kalau bukan bidadari berarti putri kerajaan, ya?"
"Yup! Mau ya? Orang yang harusnya jadi putri gak bisa datang soalnya."
"Acara apaan sih pake putri-putrian segala?"
__ADS_1
"Ulang tahun anak 6 tahun. Lo bisa, 'kan?"
"Boleh sih, gue gak mesti aneh-aneh, 'kan?"
"Lo tau putri mesti ngapain, 'kan?"
"Duduk diam kalem gitu?"
"Pintar. Gue kirim alamatnya sekarang. Gue tunggu sejam lagi lo mesti udah disini, ya. Byeee!"
Panggilan dimatikan. Maya menatap heran ke layar ponselnya. Menjadi putri sehari? Kenapa tidak pikirnya.
***
Maya memakai gaun putri ala barat lengkap dengan mahkota seolah dia baru saja balik ke masa lalu dan terlahir kembali sebagai seorang putri kerajaan. Setelah mengenakkan gaun putihnya, Maya yang tidak terbiasa tersenyum dan bertingkah ayu mendadak menjadi perwujudan putri yang selama ini ada di bayangannya
Senyum Maya secara wajar menunjukkan aura putri. Para pengunjung pesta yang mayoritas adalah anak-anak kecil yang melihatnya segera berlari dan mengerumuni Maya. Para tamu pesta mengantre demi bisa berfoto bersamanya dan mereka kelihatan begitu bahagia bisa berfoto dengan putri Maya.
Saat tengah berfoto, Maya menyadari sosok gerombolan pria rapi yang masuk ke halaman belakang dengan jas hitam dan nampak begitu rapi. Mereka berjabat tangan dengan pria yang menyewa Dahlia lalu memberikan sejumlah besar kotak hadiah kepada anak yang berulang tahun.
Maya yang melihat tumpukkan hadiah tersebut bertanya-tanya apakah isi kotak hadiah tersebut.
Para gerombolan pria berjas itu lalu duduk di salah satu meja yang disediakan. Pria yang menyewa EO Dahlia juga duduk bersama mereka. Namun pria yang tadinya bertatapan dengan Maya kini terus memperhatikannya.
Maya yang diperhatikan merasa tidak enakkan. Tapi dia terus memaksakan senyumnya dan bekerja dengan baik. Tiba-tiba saja pria itu bangkit dari kursinya dan berjalan kearah Maya. Mata Maya langsung melotot dan dia pun mulai salah tingkah.
Pria muda di awal 30-an. Tampan tidak cukup untuk menggambarkan wajah datarnya. Dilengkapi jas hitam dan nampak begitu mencolok, dia merupakan pria yang membuat orang-orang berpaling untuk melihatnya.
Pria itu memotong antrian anak-anak dan berdiri tepat di depan Maya. Maya memandangnya heran. Pria itu mengangkat tangannya di udara seolah tengah memegang sesuatu kemudian berkata, "Maaf, bisakah Anda berpose seperti ini?"
"Hah?"
"Seperti ini. Seolah sedang minum menggunakan sedotan."
Maya menatap heran pada pria itu tapi pada akhirnya melakukan apa yang dimintanya.
Pria itu tersenyum lebar kemudian berkata, "Wah, hebat, lebih cocok Anda yang melakukannya ketimbang wanita-wanita itu. Apa Anda seorang model?"
__ADS_1
Maya yang masih bingung menggeleng.
"Saya seorang pemilik café, ah sebentar," pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyodorkannya pada Maya. "kalau tidak keberatan Anda mau berpose begitu sambil memegang salah satu produk kami? Tenang saja, bakalan dibayar kok."
Maya yang masih kurang paham menjawab, "Oke....?"
"Baiklah, tunggu sebentar, ya."
Pria itu berlari kembali pada gerombolannya lalu kembali pada Maya dengan semua teman-temannya. Mereka mengeluarkan kamera DSLR, peralatan make up, serta berbagai kebutuhan pengambilan gambar.
Maya yang sama sekali tidak paham langsung bertanya pada pria yang barusan menawarkannya pengerjaan dadakan, "Anu... Maaf, apa kita akan melakukannya sekarang?"
"Tentu saja. Anda tidak keberatan bukan? Tema kami kali ini adalah mengenai putri kerajaan. Anda sudah kelihatan cantik kok seperti itu."
Pipi Maya merona merah saat disebut demikian. Setelah semuanya siap, pria itu langsung mengkomandoi pemotretan mereka. Maya memegang sebuah cup plastik kopi dengan logo café mereka. Pria itu nampak sangat bersemangat namun Maya yang sebelumnya tidak pernah bekerja sebagai model bingung harus berbuat apa.
Dia hanya melakukan hal-hal yang mereka beritahu. Dia merasa begitu kaku namun pria yang menyebutnya cantik tetap menyemangatinya. Setelah pemotretan hampir selesai pria tersebut tiba-tiba menerima panggilan.
"Aku dirumah Ferry sekarang. Anaknya ulang tahun. Hah? Baiklah.... Aku akan kesana sekarang. Tidak apa-apa. Oke."
Pria itu berjalan mendekati Maya lalu berkata, "Maaf, tapi saya harus pergi sekarang. Mengenai bayarannya akan kutransfer ke rekening Anda nanti. Kirimi saja nomor rekeningnya. Sekali lagi, terimakasih atas kerjasamanya."
Belum sempat Maya membalas pria tersebut sudah berjalan pergi meninggalkan venue pesta. Maya mengeluarkan kartu nama yang barusan diberikan lalu membalik bagian yang berisi nama pemilik dan nomor telponnya.
Erwin Kolandam. Nama itu dengan cepat membekas diingatan Maya.
________________________________________________________________________________Hey\, your author here\, makasih banyak udah baca.
Maaf banget kalau ada salah-salah, bakalan di revisi kok suatu hari nanti.
Kalau ada saran atau rekomendasi alur cerita bisa langsung komen aja.
Semoga harimu menyenangkan~ 👌🏼
__ADS_1