
Jessie bertubuh ramping dengan rambut panjang yang menyentuh punggung. Wajahnya tirus dengan warna kulit pucat yang khas.
Sejak awal mengenalnya, Vino selalu merasa Jessie seperti puzzle yang harus disusun. Wanita misterius dengan sejuta teka-teki yang melingkarinya.
Saat masih kuliah dulu Jessie terkenal karena permainan pianonya. Dia selalu mengikuti pentas dan naik panggung kapan pun diminta. Dia gadis ceria dengan senyum manis yang hangat.
Keduanya bertemu saat awal semester baru tahun kedua. Karena sekelas, keduanya mulai berkenalan dan setelah agak lama akhirnya memutuskan untuk pacaran.
Semuanya berjalan baik hingga Vino pun mulai bergaul dengan Maya, Rosa, dan Hilda. Meski Jessie tidak pernah nampak keberatan, Vino selalu bisa melihat raut wajah terganggu Jessie yang selalu disembunyikannya dengan baik.
Meski begitu, Jessie tidak pernah membicarakannya. Dia tetap diam dan tidak pernah komplain soal teman-teman Vino.
Suatu hari Jessie memutuskan ikut ajang pencarian bakat. Vino mendukungnya dan nyaris setiap hari Jessie berlatih terus. Di kampus, di rumahnya, di cafe semua tempat yang menyediakan keyboard.
Saat hari H-nya tiba, Vino mengantar Jessie ke tempat audisi yang terletak di pusat kota. Disana antrian panjang dan lautan manusia berhambur sepanjang mata memanjang.
Dibawah terik matahari, keduanya menunggu dalam antrian yang bergerak begitu lambat. Vino beberapa kali pergi ke mini market terdekat hanya demi membeli payung dan minuman untuk Jessie yang kepanasan.
Saat akhirnya keduanya berhasil mengantri sampai kedalam gedung dan jauh dari panasnya terik matahari mendadak Vino mendapat telfon. Awalnya Vino mengabaikannya.
Namun telfon itu terus datang. Merasa risih, Jessie pun meminta Vino untuk mengangkat telfon tersebut. Saat akhirnya Vino mengangkat telfon tersebut Vino langsung bangkit dari kursi dan berkata dia harus pergi.
Saat Jessie bertanya ada apa, Vino menjawab Rosa sedang dalam masalah. Seketika wajah Jessie berubah muram tapi Vino tidak menyadarinya dan pergi begitu saja.
Jessie terus memperhatikan Vino bergerak menjauh darinya. Maka pada akhirnya, dia sendiri. Jessie tetap melanjutkan audisinya. Namun semua latihannya terasa sia-sia.
Dia beberapa kali menekan tuts yang salah saat tampil, pikirannya bergejolak kemana-mana. Saat dia selesai dan para juri mengumumkan bahwa dia tidak lolos, Jessie yang sudah terlanjur jengkel dari awal hanya bisa mengucap terimakasih lalu menunduk sebagai tanda hormat.
Sesampainya diluar, Jessie sama sekali tidak menemukan Vino. Jessie menghubungi Vino, namun tidak diangkat.
Lalu dia terus menunggu, dan menunggu, lalu menunggu lagi. Vino tetap tidak kunjung datang.
Saat hari mulai gelap hujan akhirnya turun. Jessie memandang langit lalu menarik napas berat. Dia mematikan ponsel dan mulai berjalan dibawah serbuan tetesan air hujan menuju stasiun.
__ADS_1
Malam itu ada perasaan kecewa yang nyata yang membuat Jessie sulit terlelap. Air matanya mengucur deras meluapkan segala kekecewaan yang menggunung.
Jessie pun memantapkan hatinya, dia memutuskan untuk jadi kuat. Untuk itu, dia harus menjauhkan Vino dari hidupnya.
Keesokan paginya baru lah Jessie menerima telfon dari Vino. Jessie mematikan telfon lalu memblokir nomor Vino.
Hari itu adalah hari terakhir semester 6. Pada akhirnya selama liburan semester genap itu keduanya tidak bertemu apalagi berhubungan.
Seolah tidak pernah kenal pada satu sama lain, Jessie pun melanjutkan hidup. Dia kembali bermain piano, kembali mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan produktif yang membuatnya tidak punya waktu mengkhayal saat tidur malam.
Dengan begitu, dia menghilangkan Vino dari pikirannya.
Saat semester baru dimulai, Jessie masuk ke gedung fakultasnya menyiapkan diri untuk segala kemungkinan. Orang pertama yang menyapanya hari itu adalah Rosa.
Jessie memaksakan senyum dan mencoba berusaha nampak bersahabat. Keduanya pergi ke cafeteria dan Rosa mulai menjelaskan.
Tapi selama penjelasan itu sorot mata Jessie kosong. Dia menolak percaya segala alasan yang coba Rosa berikan untuk membela Vino. Meski tetap mendengarkan, pikiran Jessie sudah lama menguap dan hanya mengangguk sebagai kesan sopan.
Saat akhirnya Rosa selesai, Jessie menghabiskan minumannya dengan satu tarikan kemudian berkata terimakasih dan pergi begitu saja.
Jessie beberapa kali melihat Vino di kampus, saat Vino mencoba mendekatinya, Jessie dengan sigap menghindarinya.
Vino terus mencoba, namun tetap tidak berhasil. Maka pada akhirnya, mereka pun saling mendiamkan. Hal itu berlanjut hingga keduanya lulus, mulai bekerja, dan Jessie perlahan memulai membuka hatinya untuk orang lain.
Dari kejauhan Vino terus memperhatikannya. Selalu mengamati layaknya bayangan dalam kegelapan.
Suatu hari keduanya hadir di acara pernikahan teman kuliah mereka, keduanya dipertemukan dalam kondisi yang tidak mengenakan.
Jessie membawa pacar barunya bersamanya, sementara Vino datang seorang diri. Teman-teman kampus yang mengetahui kondisi hubungan mereka, sebisa mungkin menjauhkan keduanya.
Namun tanpa diduga Vino menghampiri Jessie dan pacar barunya. Jessie berusaha kuat dan memperkenalkan pacarnya. Vino mengangguk, menjabat tangannya lalu ngobrol seperti biasa.
Malam itu Vino lebih banyak menghabiskan waktu berbicara dengan pacar baru Jessie. Keduanya akrab dengan cepat. Melihat gaya bicara Vino, tawanya, serta kebiasaannya dengan cepat membuat hati Jessie terasa nyeri.
__ADS_1
Hanya butuh beberapa saat untuk menyadari kalau perasaannya pada Vino masih sama. Jessie lalu dengan mudahnya ijin ke kamar mandi dan menghabiskan beberapa waktu yang cukup lama disana untuk merenung.
Air matanya beberapa kali hampir mengucur namun sebisa mungkin dia mencoba kuat.
Jessie tiba-tiba tersenyum dan merasa lucu dengan perasaannya sendiri. Dia menarik napas dalam dan memutuskan untuk menghadapi Vino dengan normal setelah ini. Bahkan mungkin, pelan-pelan membangun komunikasi keduanya.
Saat Jessie keluar kamar mandi dan kembali untuk menemui keduanya, disana sudah ada Rosa, Maya, dan Hilda yang bergabung.
Mendadak Jessie naik pitam dan jadi tidak tahan lagi. Niatnya untuk berbaikkan dengan Vino pupus dan akhirnya menangkap lengan pacarnya dan mengajaknya pergi begitu saja.
Jessie bak orang kerasukan merasakan benci yang begitu dalam pada ketiga teman Vino.
"Wow." kata Maya.
Vino tersenyum dan menghabiskan kopinya.
"Gue gak nyangka ternyata salah kita bertiga lo jadi kayak gini."
"Gak usah dipikirin. Jessie-nya aja kok yang terlalu sensitif."
"Eh, tapi kalau gue di posisi Jessie gue juga pasti marah dong pacar gue temannya cewek semua. Kok lo sama Rosa gak pernah cerita ini ke kita berdua sih?"
"Udah lah, masalah lama juga."
"Ya tapi kan gabisa gini!"
"Santai aja. Lagian mau gimana lagi."
Maya terdiam dan menatap Vino dengan sorot mata sedih. Entah mengapa dia merasa begitu gak enak dengan Jessie sekarang.
Maya terus mengamati perubahan ekspresi Vino. Pria itu diam dan tersenyum, mencoba menyembunyikan rasa perihnya dengan rapi.
__ADS_1