
Hilda keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Sambil mengeringkan rambut Hilda berkata, "Air panasnya masih ada. Mandi gih."
Maya mengangguk kecil masih sibuk berkutat dengan laptopnya. Jemari Maya melompat dari satu tombol ke tombol lain dengan cepat. Mengukir kata, merangkainya menjadi cerita yang diinginkannya.
Melihat ini Hilda memutuskan untuk duduk di ranjang sambil menatap Maya yang masih sibuk mengetik. Disebelah Maya ada sekaleng kopi yang tengah diminumnya. Nampaknya dia akan begadang malam ini.
Hilda berniat memulai pembicaraan dengan sahabatnya tersebut, namun melihat Maya serius begini dia jadi mengurungkan niatnya. Hilda menempelkan kepalanya di kasur lalu mengerjapkan mata beberapa kali. Tanpa disadari, dia malah ketiduran.
.
.
.
Pukul 3 pagi Hilda terbangun oleh suara aneh dari dalam kamar. Lampu sudah dimatikan dan suasana gelap mengisi ruangan ini. Hilda pelan-pelan memutar tubuhnya lalu memandang kearah sumber suara. Rupanya itu adalah Maya yang tengah menangis di sebelahnya.
Melihat ini Hilda segera bangun lalu menggoncang tubuh Maya ringan. Tidak ada reaksi apa-apa. Hilda mengintip wajah Maya yang basah karena air mata dan sadar kalau ternyata gadis ini menangis dalam tidurnya.
Hilda menghela napas dalam lalu kembali berbaring disebelah Maya. Hilda memeluk Maya erat. Saat seperti ini hanya itu satu-satunya yang dapat dia lakukan. Beberapa menit kemudian Hilda pun kembali terlelap.
***
RIIIIIIIIIIINNNNGGGGGGG!!!!!
Suara alarm Hilda yang menggetarkan otak membuat Hilda langsung meraih ponselnya lalu mematikan alarm. Hilda mengecek jam dan waktu menunjukkan sudah pukul 6. Hilda langsung bangun dengan gerakkan serba mendadak dan tidak sengaja menginjak Maya.
Hilda lari ke kamar mandi lalu buru-buru mandi asal-asalan. Setelah selesai, dengan badan yang belum benar-benar kering Hilda langsung mengenakkan kemejanya lalu bersiap-siap. Maya sendiri yang terbangun akibat kehebohan Hilda langsung membuka pintu kulkasnya dan menyerahkan sepotong roti kepadanya.
"Makan dulu." kata Maya sambil menguap lebar.
"Makasih. Nanti gue makan di jalan."
"Sekarang."
Maya menarik hair dryer dari atas meja riasnya lalu mulai mengeringkan rambut sahabatnya. Hilda pun menurut lalu mulai memakan roti yang diberikan Maya dengan lahap.
Keheningan mengisi ruang diantara mereka. Hilda bukan tipe orang yang pandai memulai pembicaraan. Biasanya selalu Maya yang berinisiatif. Namun mengingat kejadian semalam saat dia menangis, Hilda memaksakan dirinya untuk bertanya.
"Lo tidur jam berapa?" tanya Hilda sambil mengunyah roti.
"Entah. Jam 1 mungkin."
"Nyenyak?"
Maya mengangguk. "Lumayan."
Hilda tahu bahwa Maya bohong. Menangis saat tidur hanya membuktikan bahwa stress seseorang tengah berada di puncaknya. Tapi melihat Maya yang masih bisa bertingkah normal begini membuatnya semakin khawatir. Maya selalu melampiaskan emosinya ke cerita yang tengah ditulisnya. Entah apa yang tengah ditulisnya kalau sedang stress begini.
"Sudah." kata Maya merapikan rambut ikal Hilda.
"Lo mau makan malam apa? Gue pulang cepat hari ini."
"Nginap lagi? Ah, ngerepotin banget, deh. Ada rumah malah repot-repot tidur di kamar sepetak gini. Yaudah, lalapan aja. Sambelnya banyakkin."
Hilda tersenyum mendengar balasan Maya lalu mengangguk.
.
__ADS_1
.
.
Pada akhirnya Hilda tiba di tempat kerjanya sedikit agak terlambat. Siswanya sudah datang dan menunggu, Hilda buru-buru masuk ke kelas lalu menyapa siswa-siswanya dan mulai mengajar. Dari luar etalase kelas Hilda dapat melihat sosok direktur yang memandangnya dengan tatapan memburu. Hilda mengangguk kecil tahu bahwa dia akan dimarahi setelah ini karena keterlambatannya.
Setelah kelas paginya berakhir dan semua siswanya keluar, Hilda mengintip keluar mencari sosok Pak Direktur yang mungkin bersiap memarahinya. Hilda mengendap dari satu ruangan ke ruangan lain.
"Ngapain ngendap-ngendap gitu sih?"
Suara itu membuat Hilda melonjak kaget. Hilda buru-buru berbalik dan menemukan sosok Toni rekan kerjanya. Si Guru Matematika. Yang mana pacarnya tempo hari selingkuh bersama pria kaya dan pergi ke hotel.
Hilda nampak sedikit lega namun juga risih berhadapan dengan Toni. Dia bingung harus bagaimana menghadapi rekan kerja yang pacarnya yang selingkuh. Hilda pun tertawa canggung dan berkata, "Hehe nggak, Pak Direktur kemana, ya?"
"Oh Si Bos udah pergi makan siang tadi. Kenapa? Lo ada janji sama dia?"
"Nggak kok. Justru bagus."
"Yaudah, pergi makan yuk."
"Ah, em, kita berdua?"
"Iya, si Sherly lagi diet, jadi kayaknya kita berdua doang."
".... Ok deh."
Maka keduanya keluar dari lembaga kursus tersebut dan pergi ke luar dimana terik panas matahari langsung menyambut mereka. Keduanya masuk ke warung soto depan kantor dan langsung memesan mangkuk untuk dua orang.
Keadaan warung soto itu luar bisa penuh oleh para pekerja seperti mereka. Warung ini memang terkenal. Harganya juga terjangkau. Selama bekerja 7 tahun disini entah sudah berapa mangkuk yang disantap Hilda disini.
"Gila, panas banget ya hari ini?" tanya Toni sambil membuka kancing paling atasnya.
"Habis ini lo masih ada kelas lagi?"
"Dua doang."
"Enak banget. Gue sampai malam hari ini."
"Sibuk ya."
"Haha, iya nih, harus kerja keras mumpung masih muda." Toni memainkan gelas tehnya kemudian berkata, "Sebenarnya, sekarang ini gue lagi ngumpulin duit."
"Ada yang mau dibeli, ya?"
"Gak juga, cuman buat nikah aja." kata Toni sambil tersenyum lebar.
Mendengar itu Hilda langsung merasakan ada peniti yang mencongkel-congkel hatinya. Bukan karena dia punya perasaan ke Toni, lebih kepada karena dia tahu pada kenyataan soal pacarnya Toni yang baru beberapa hari kemarin selingkuh.
"Wah, selamat." Hilda memaksakan satu senyum simpul.
"Haha, makasih. Nyokap gue dari dulu pengen banget punya cucu dari gue. Mungkin karena anak-anak kakak gue pada bandel semua makanya dia pengen cucu dari gue. Namanya juga orang tua kan, pasti banyak maunya, haha."
Hilda semakin risih karena Toni yang membawa-bawa orang tuanya. Kalau saja mereka tahu soal kebenaran tentang calon menantu mereka... Hilda sebagai seorang yang peka merasa sangat sensitif saat berada di posisi seperti ini. Dia tidak suka. Tapi dia memilih untuk diam dan tidak ikut campur dengan urusan Toni.
"Lo sendiri kapan nikah?"
Pertanyaan itu membuat Hilda tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Emm, gak tahu, ya."
"Pacar lo yang waktu itu datang pake mobil, 'kan?"
"Hah?"
"Itu, yang pake jas, mobil sedan mahal, dia bos besar, ya?"
"Yang mana?" tanya Hilda bingung.
"Itu lho yang waktu itu ngejemput elo pas kita sama anak-anak lagi nunggu hujan reda depan kantor."
Hilda tiba-tiba tersadar dan tahu siapa yang dimaksud Toni. "Ah, bukan, itu sahabat karib gue. Namanya Vino."
"Seriusan? Gue kiraiin dia pacar lo. Wah, sayang banget. Kenapa gak jadian aja? Dia single juga, 'kan? Lo berdua keliatan cocok padahal."
"Dia emang single sih. Tapi gue gak pernah ngerasa deg-degan sih kalau sama dia. Lagian dia orangnya gak tertarik sama cinta-cintaan. Buat dia kerja itu nomor satu."
"Workaholic ya... Hmm, emang udah berapa lama kalian temenan?"
"Dari masih kuliah. Jadi ceritanya gue punya teman cewek namanya Maya sama Rosa. Terus hari itu kita ada kegiatan camping dari kampus tapi pada bangun telat. Sampai di kampus kita ternyata ketinggalan bus. Terus tiba-tiba ada anak kelas yang ternyata juga telat dan dia kebetulan bawa mobil. Akhirnya kita pada nebeng aja ke dia. Di jalan ngobrol banyak dan akhirnya kita jadi akrab deh. Eh, astaga, maaf, malah jadi cerita gak jelas gini. Gue sering kelepasan kalo lagi bahas mereka bertiga."
"Hahaha ini pertama kalinya gue lihat lo semangat banget cerita. Lo berempat pasti akrab banget. Masih sering jalan bareng sampai sekarang?"
Hilda mengangguk. "Kita selalu ketemuan tiap bulan. Ya walau ga nentu waktunya karena masing-masing punya kesibukkan gitu."
"Begitu, ya. Seru banget punya sahabat kayak gitu."
Hilda meneguk es teh manisnya kemudian berkata, "Sebenarnya salah satu sahabat gue baru aja putus. Dia orangnya ceria dan seru banget tapi luar biasa tertutup. Dia bilangnya sih putus sama pacarnya baik-baik. Tapi ya, dia keliatan stress gitu."
"Hmm, orang kayak begitu justru bahaya kalau dibiarin sendiri."
"Iya gue juga ngerasa gitu. Karena dia orangnya tertutup gue jadi ngerasa dia punya banyak yang disembunyiin. Menurut lo gue mesti maksa dia jujur?"
"Menurut gue mending jangan. Biarin aja. Yang penting kalian ada terus buat dia. Nanti juga ada saatnya dia terbuka sendiri kok. Haha, sebenarnya teman lo itu sama persis kayak tunangan gue si Rika. Dia orangnya juga tertutup banget. Tapi gue tetap ngehargaiin privasinya. Gue yakin dalam hubungan itu yang terpenting adalah kepercayaan. Makanya, gue percaya terus sama dia."
Mendengar itu untuk kedua kalinya hati Hilda terasa nyeri. Dia memang tidak ingin ikut campur dalam urusan Toni dan pacarnya tapi melihat ketulusan Toni membuat Hilda gak tegaan kepadanya.
"Toni sebenarnya-"
"Sotonya dua ya?" tanya pemilik warung sambil meletakkan soto mereka diatas meja.
"Iya, makasih, Bu. Kenapa? Tadi lo mau bilang apa?" tanya Toni sambil menambahkan kecap kedalam sotonya.
Hilda menatap Toni lama-lama. Lalu kemudian tersenyum dan berkata, "Gak. Lupaiin aja."
________________________________________________________________________________
Hey, your author here, makasih banyak udah baca.
Maaf banget kalau ada salah-salah, bakalan di revisi kok suatu hari nanti.
Kalau ada saran atau rekomendasi alur cerita bisa langsung komen aja.
Semoga harimu menyenangkan~ 👌🏼
__ADS_1