
Maya menempelkan jidatnya diatas keyboard berharap ide baru merasuki otaknya tanpa terkecuali. Namun hasil yang ada nihil. Dia masih kosong dan malah merasa semakin tidak bersemengat.
Maya memandang ke sekeliling. Kamar kosannya rapi. Tidak ada alasan untuknya untuk melarikan diri dari menulis dan membersihkan kamar. Lalu tiba-tiba perutnya berbunyi. Maya dengan semangat menggebu menjadikan kesempatan ini untuk minggat dari depan laptonya.
Saat membuka kulkas rupanya tidak ada satu makanan pun yang tersisa. Maya teringat kalau makanan terakhirnya sudah diberikannya tadi pagi pada Hilda. Maya meraih dompet lalu mengecek isinya. Kosong melompong. Maya mengerutkan dahi.
Maya tidak kehabisan akan lalu menyambar ponselnya lalu mulai menggeser daftar kontak. Pilihannya saat ini hanya dua, Vino atau Rosa. Kalau minta pada Rosa sudah pasti akan di marahi terlebih dahulu sementara kalo Vino pasti cepat tapi Maya tidak yakin dengan selera makan Vino akan tepat dengan suasana hatinya yang sekarang.
Maka Maya menekan tombol telfon nomornya Rosa lalu berkata, "Hai, makan siang diluar yuk. Mumpung gue lagi gak sibuk nih. Kita udah lama lo gak makan siang berdua doang."
.
.
.
Dalam hitungan menit sebuah taksi biru sudah tiba di depan kosan Maya. Maya langsung turun dan masuk kedalam dan menemukan sosok Rosa tengah duduk di kursi penumpang di bagian belakang sementara ada bocah kecil yang tengah menonton dari iPad di kursi samping supir.
Maya tersenyum dan duduk di samping Rosa dengan tenang. Maya pun dengan usil mencubit pipi bocah itu yang dengan cepat bereaksi dengan menggigit tangan Maya.
Rosa menghela napas berat. "Jangan digangguin napa. Dia awalnya gak mau pergi tadi. Anak zaman sekarang harus disogok dulu baru mau gerak."
"Haha dia minta apaan emang kali ini?"
"Game baru di Online Store PS-nya. Lo tahu kan game di PS itu mahal-mahal. Lagian paling cuman dimainin seminggu doang abis itu bosan lagi. Dasar." Rosa menoyor kepala anaknya.
Maya hanya tertawa kecil melihat tingkah anak-ibu ini. Selama perjalanan keduanya terus membicarakan tentang anak Rosa yang kedua Remi yang tengah ikut bersama mereka. Saat ini usianya 5 tahun dan siap bersekolah tahun depan.
Rosa terus mengeluh soal Remy yang suka kabur kalau guru lesnya datang. Kadang bersembunyi di bagian sepi rumah, kadang juga lari ke rumah tetangga dan tidak ada yang dapat Rosa lakukan kalau anaknya sudha kabur begini selain muncul sendiri beberapa jam kemudian.
Taksi berhenti di tempat drop out penumpang dan Rosa segera membayar. Ketiganya turun dan langsung berjalan masuk kedalam mal. Siang itu suasana mal jauh lebih padat karena diskon yang tengah diadakan. Tanpa sadar tiba-tiba Remi melingkarkan tangan mungilnya untuk menggenggam Maya dan Maya pun tersenyum melihat ini.
Ketiganya pergi ke salah satu restoran keluarga. Sementara menunggu makanan mereka diantarkan, Remi pergi main bersama anak-anak lain di play area yang sudah disediakan. Tentu, dari jarak yang bisa diawasi oleh Rosa.
"Jadi, gimana tulisan lo?"
Maya menghela napas berat. "Dikit lagi sih. Tapi mentok. Bingung mau dibikin gimana akhirnya. Salah-salah disuruh ganti lagi nanti sama editor."
"Tentang remaja lagi?"
"Iya, seputaran itu lah."
"Gila, padahal udah tante-tante gini tapi lo masih bisa nulis begituan."
"Etdah, jangan salah, anak remaja zaman sekarang ga ada bedanya sama zaman kita dulu."
Rosa mangguk-mangguk. "Kalau emang lagi mentok gitu tandanya harus refreshing, 'kan?"
__ADS_1
"Ga tau ya. Gue yang penting dikasih duit sih. Moodbooster banget."
"Matre lo ga ilang-ilang emang. Btw, malam ini gue sebenarnya ada undangan party sih. Mau ikut gak? Nanti ajakkin anak-anak juga."
"Emang party apaan?"
"House party biasa gitu. Temanya 80-an. Lo masih punya jaket denim waktu masih kuliah kan? Pake gituan aja. Gue juga pakai yang simpel doang."
Maya berpikir sejenak. "Emang mereka ngijinin bocil kayak Remi masuk? Kayaknya ga deh."
"Ya ga ngajak anak gue juga kali! Ah lo mah! Kan ada laki gue oon."
"Jadi lo ninggalin anak sama laki lo dirumah buat pergi party? Wah gila sih. Istri panutan banget sumpah."
Setelah berbincang lebih lama lagi akhirnya makanan mereka datang. Rosa langsung menghampiri Remi dan menyeretnya balik ke bangku mereka dan makan.
Maya sedikit tertegun melihat bagaimana Rosa menyuap anaknya sambil dia sendiri makan. Nampak sangat merepotkan namun dilakukan dengan sangat terlatih. Setelah makanan mereka selesai Maya pura-pura mengeluarkan dompet hendak pergi ke kasir tapi Rosa buru-buru mengehentikannya dan berkata, "Gue aja. Lo jagaiin aja bocah ini biar ga betingkah."
Dengan begitu Rosa pergi ke kasir untuk membayar. Maya senyam-senyum sendiri. Maya menatap Remi yang tengah memandanginya.
Remi bertanya, "Tante aku suka cover novel yang waktu itu."
"Yang tante kasih buat hadiah ulang tahun kemarin?"
Remi mengangguk.
"Gak tahu, tante. Mama ga ngijinin aku baca. Katanya belum cukup umur."
Maya mengerutkan dahi. Maya pun mengingat-ingat. Dia yakin betul padahal dia sama sekali tidak memasukkan adegan 18+ di novelnya yang itu.
Setelah Rosa kembali Maya langsung bertanya, "Lo ga ngijinin Remi baca novel gue?"
"Iya."
"Kenapa? Aman kok, gak ada adegan aneh-anehnya."
"Iya, tahu kok. Tapi dialog lo kasar banget. Anak gue jadi kurang aja nanti."
"Ah, iya dialognya rada keras sih. Yaudah, Remi, kalo udah SMA baru baca, ya?"
Remi pun hanya mengangguk kecil patuh.
Setelah selesai makan Remi merengek minta main ke arcade yang ada di mal. Maka ketiganya pergi ke tempat main tersebut. Rosa mengeluarkan kartu main dan memberikannya kepada Remi. Remi sendiri langsung menerimanya dan cabut begitu saja.
Maya dan Rosa duduk di bangku tunggu sambil terus mengawasi gerak-gerik Remy.
"Anak lo cepet banget metabolismenya. Liat, udah loncat-loncat aja. Padahal baru setengah jam abis makan."
__ADS_1
"Kayaknya Remi doang. Kakaknya gak secepat itu proses nyerap makanannya."
"Begitu, ya."
Keduanya terdiam sambil menonton Remi bermain. Setelah saling mendiamkan cukup lama tiba-tiba Rosa bertanya, "Lo benar-benar putus sama Rio?"
Maya mengangguk mantap. "Iya."
"May, bukannya gue sok ngatur atau apa ya. Tapi di usia kita gini kita harus hati-hati kalo putus. Kita udah ga di usia dimana putus itu jadi hal yang gampang banget. Lo berdua kan udah pacaran lama banget. Masa sih putus cuman gara-gara bosan doang."
Maya tetap diam maka Rosa melanjutkan.
"Saran gue sih, mending lo pikirin baik-baik. Kalau emang lo gak punya perasaan ke dia ya udah gapapa. Tapi buat kedepannya tolong jangan gini lagi dong. Gue ga tega aja sahabat gue di usia segini menjomblo."
"Iya, makasih sarannya, ibu rumah tangga. Wait, gue kan baru jomblo berapa hari doang. Kok lo ga pernah ngomong gini ke Hilda atau Vino sih?"
"Kalo Hilda kan emang dulu dia sibuk banget. Lo tau sendiri hutang bokapnya sebanyak apa. Gak mungkin dong gue desak dia buat pacaran kalau dia lagi fokus ngurus masalah yang lebih besar."
"Terus Vino? Dia gak punya hutang. Kaya malah."
"Hmm, kalo dia gimana ya. Orangnya gila kerja jadi bebal kalo dikasih tau."
Maya mangguk-mangguk. Lalu tiba-tiba Rosa teringat.
"Tapi kemarin gue nanya katanya dia udah ga tertarik ama cewek lagi sih."
"Halah, alibi buat ga pacaran doang kali."
"Hmm, iyasih. Ah, gara-gara dia becandanya datar gue jadi salah sangka."
"Eh, Ros, kayaknya anak lo muntah deh..."
"Hah?! ASTAGA REMIIIIII!!!"
________________________________________________________________________________
Hey, your author here, makasih banyak udah baca.
Maaf banget kalau ada salah-salah, bakalan di revisi kok suatu hari nanti.
Kalau ada saran atau rekomendasi alur cerita bisa langsung komen aja.
Semoga harimu menyenangkan~ 👌🏼
__ADS_1