
...----------------...
Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian itu. sekarang mereka tengah saling mengakrabkan diri dan bercerita satu sama lain.
Tsunade pun sudah tau bahwa ada orang yang berniat jahat pada keponakannya, dan dia memutuskan untuk segera menyelidiki hal ini.
walau pertemuan pertama mereka tidak terlalu baik sebagai pencuri dan korban, sekarang mereka sudah mulai dekat, yang awalnya canggung namun sudah saling nyaman satu sama lain sekarang.
Jiwa anak kecil di dalam diri Tsumaki pun bangkit ketika bertemu dengan Tsunade, dia yang awalnya dingin dan kasar menjadi ceria dan cerewet seperti anak kecil seumurannya.
Shizune yang menyadari perubahan positif dari mereka berdua hanya bisa tersenyum bahagia, hatinya menghangat ketika melihat interaksi manis di depannya, di matanya nona Tsunade dan Tsumaki itu saling bengobati luka satu sama lain.
Sekarang Tsumaki tengah belajar menulis di temani dengan Tsunade yang sesekali mengomel karena kejahilan Tsumaki.
lagi lagi Tsunade berdecak kagum karena baru 3 hari Tsumaki belajar menulis darinya dan sekarang dia sudah lancar membaca dan menulis, gen orang tua memang tidak pernah salah.
......................
"Bibi Shizune, lihat aku sudah bisa menulis sekarang," ujar Tsumaki ceria menunjukan hasil tangannya kepada Shizune.
terlihat di belakang tubuhnya Tsunade yang menunjukan raut wajah puas penuh kebanggaan.
"Kau hebat sekali Stumaki-chan," jawab Shizune bangga.
"Tentu saja! karena aku akan menjadi kunoichi yang pintar seperti ayah dan cantik seperti ibu dan juga bibi," balas Tsumaki riang tersenyum lebar.
"Tentu saja itu harus," ujar Tsunade menganggukan kepalanya singkat.
"Karena kau sudah pandai membaca dan menulis mulai besok kita akan mulai pembelajaran medis," lanjut Tsunade.
__ADS_1
"Haik! " Tsumaki tersenyum semakin lebar, dia sudah tidak sabar ingin belajar dan berlatih hal-hal baru dari bibinya ini.
Tsunade dan Shizune tersenyum mendengar jawaban semangat dari anak kecil di hadapan mereka.
"oh ya, kita juga harus pergi dari sini besok," ujar Tsunade
"kemana tujuan kita bsk, bibi? " tanya Tsumaki penasaran
"Kita akan pergi ke desa di sebelah selatan, aku penasaran dengan desa itu, karena kata orang orang, didesa itu banyak di tumbuhi tanaman obat yang langka," ujar Tsunade menjelaskan
"Jadi otomatis disana juga tempat yang sangat cocok untuk mu belajar tentang medis, " lanjutnya.
Tsumaki mengangguk paham.
"Baiklah,kalau begitu aku akan menyiapkan berbekalan untuk kita nona," ujar Shizune beranjak dari duduknya untuk menyiapkan hal hal yang sekiranya akan di butuhkan dalam perjalanan
"Aku ingin membantumu bibi Shizune." Tsumaki mengangkat tangan dengan semangat meminta ijin
"ikuzoo," balas Stumaki tak kalah semangat.
"Kalo begitu, aku juga ingin ikut. kebetulan ada beberapa hal yang harus ku beli," ujar Tsunade menambahkan.
...----------------...
Tsumaki pov
Ini kali pertama aku berbelanja baju bersama orang lain. Awal nya aku menolak dibelikan baju karena menurutku baju yang ku pakai sudah lebih dari cukup, dan aku puj masih punya 2 pasang lagi yang serupa.
Tapi sesaat sesudaah aku berkata seperti ini, Bibi dan Bibi Shizune memandangaku dengan pandangan miris. Aku bingung, apakah ada yang salah dari kata kataku?
__ADS_1
ku rasa tidak...
Akhirnha setelah beberapa paksaan dari 2 bibi ku yang baru yang bersikeras membelikanku baju baru, akupun menyerah dan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka suka.
Dan berakhirlah aku disini, dijadikan boneka oleh mereka dan beberapa pegawai toko yang setia memekik gemas ketika aku dipakaikan beberapa baju imut.
"bibi... ini kapan selesainya..." ujar ku lesu
"sebentar lagi." ucap bibi Tsunade
"Nahh, coba kau berputar sedikit Tsumaki-chan, " ucap bibi Shizune setelah memakaikan ku dress lucu ,dengan atasan sweter warna biru dan rok mini berwarna cream
berputar cepat, hmm aku suka dress yang ini. simple dan terlihat cocok dengan ku
"Kyaaaa, nona kau imut sekalii." Teriak gemas para pegawai.
Kulihat bibi Tsunade dan bibi Shizune yang mengangguk setuju dengan wajah yang puas.
"bungkus yang ini dan semua yang sudah dicoba tadi," ucapnya enteng sembari mengeluargan sejumlah uang di dalam dompetnya. Mau melarang pun percuma, pasti bibi tidak akan mendengarkan ucapanku, jadi kubiarkan saja.
Lagian aku menyukai perasaan hangat yang menyeruak masuk ke dalam hatiku ketika melihat seberapa antusias bibi memilihkan aku baju.
...----------------...
bersambung
bung
__ADS_1
bung.