Prajurit Kecil Clan Senju

Prajurit Kecil Clan Senju
*chapter 6* perjalanan


__ADS_3

...----------------...


Setelah kemarin kami bersenang senang (hanya Tsunade dan Shizune) berbelanja baju, tiba masanya kami untuk berangkat ke desa selatan.


Karena ini perjalanan jauh pertama Tsumaki, dia cukup cemas dan ragu pada awalnya, namun perasaan itu seketika hilang saat matanya menangkap siluet punggung Tsunade yang terlihat kokoh dan kuat. Meskipun ia tahu bahwa, punggung itu telah memikul beban yang sangat berat sedari dulu.


Dia sudah memutuskan untuk menjadi kuat. Oleh karena itu ia tidak boleh ragu sekarang, karena perjalanan ini merupakan langkah awal untuknya menjadi lebih kuat seperti keluarganya yang lain.


Kini mereka sudah menempuh setengah perjalanan, dan sedang beristirahat di bawah pohon yang cukup rindang.


"Bibi," suara imut Tsumaki memecah keheningan diantara dia dan Tsunade, sedangkan Shizune sudah dari 5 menit yang lalu ijin mencari air di sungai untuk mengisi perbekalan air minum untuk mereka.


kerutan perempatan tercetak di dahi Tsunade.


"Sudah ku bilang panggil saja aku Ne-san," kesalnya.


Sedari awal Tsunade memang keberatan dengan panggilan "bibi" yang telah di sematkan Tsumaki padanya. Hei! dia masih pantas di panggil dengan sebutan ne-san, lagian dia tak suka di sebut"bibi" itu membuatnya merasa tua.


Mengabaikan protes dari Tsunade.


Tsumaki lanjut bertanya.


"Bi, apakah menurut mu aku harus membalaskan dendam ayah dan ibu?."


"Tapi ayah berpesan untuk dihidup sesuai dengan keinginanku dan dia juga dia berkata bahwa balas dendam itu tidak akan memberikan hasil yang baik," jelasnya.


"Balas dendam hanya akan melahirkan kebencian dan pertumpahan darah, di satu sisi aku ingin membunuh orang yg telah membuat kami hidup menderita. tapi disisi salin perkataan ayah selalu menghantuiku dan membuatku berpikir ulang tentang balam dendam." Tangan terkepal erat melampiaskan segala rasa sakit yang ia alami selama ini .


Tsunade yang berada di sisi pohon yang lain hanya bisa tertegun ketika mendengar Pertanyaan yang begitu berat bahkan untuk ukuran orang dewasa sepertinya.


Hatinya tersayat ketika mendengar pertanyaan ini keluar dari mulut bocah kecil yang baru lancar menulis kemarin, yang baru kemarin memberikan senyum manis padanya sambil memegang kertas berisi tulisan namanya.


Ia kira Tsumaki tidak memikirkan hal ini karena yang dia tunjukan padanya hanya wajah riang anak kecil. SepertinyaTsunade terlalu cepat merasa lega.


Menghela napas sejenak, dia akui, dia memang bukan orang baik. Dan dia juga sangat tau akan busuknya dunia ninja ini. Jadi dia tidak bisa memberikan saran baik sebagaimana kakaknya menasihatinya dulu.


"Nak, ikutilah kata hatimu. Jika kau ingin maka lakukanlah, namun jika ada setitik keraguan didalam hatimu maka jangan lakukan itu." Mengelus pelan surai sehitam jelaga dengan campuran warna abu dibawahnya yang membuatnya nampak semakin indah.


...----------------...


pov Tsumaki


Aku tersentak kaget ketika ada sebuah tangan hangat mengelus rambutku dengan lembut.


mendongngak-kan kepalaku seketika netraku bertabrakan dengan iris mata yang indah, seindah batu safir hijau tengah menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang.


tak terasa bulir bulir air telah membanjiri pipiku entah sejak kapan.


Aku dengan panik berusaha menghapus air mata nakalku yang tidak ingin berhenti keluar, sampai ada sepasang tangan lentik menghapusnya perlahan.


"Jangan di gosok dengan keras, lihat!.pipi mu jadi merahkan, " ujarnya disertai kekehan kecil yang entah mengapa terdengar sangat merdu dan menenangkan.


"Jangan berpikiran terlalu jauh, pokus lah untuk terus tumbuh tinggi dan bertambah kuat. Leherku sakit jika harus terus menunduk ketika melihatmu bocah," ledeknya dengan senyum menyebalkan ketika Bibi Tsunade selesai menghapus air mataku.

__ADS_1


suasana haru pun hilang seketika aku mendengar ejekan tentang tinggi badanku.


"Hei! ini karena aku masih kecil tau! nanti jika aku sudah besar aku akan tumbuh tinggi melebihi dirimu! " dengan geram aku bangkit sambil bertopang tangan,bibirku mencebik kesal.


Tidak ada yang boleh menghina tinggi badanku. Itu mutlak!


Saat aku sibuk dengan rumput tak berdosa dikakiku yang tengah kuinjak² dengan kasar , terdengar suara tawa yang cukup kencang dari arah bibiku.


Ahh, ini pertama kalinya aku melihat bibi tertawa selepas ini. Biasanya aku meilihat bibi suka memasang wajah sendu dengan sorot mata kosong.


Aku juga pernah memergokinya menangis sendirian di tengah malam.


Terdiam selama beberapa saat,Aku pun membalas suara tawanya dengan tawa riang terbaikku, tak apalah, aku rela di sebut pendek jika itu bisa membuat bibi tertawa lepas seperti ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya setelah memakan waktu 2 hari perjalanan yang cukup melelahkan. Kami sampai juga di sebuah desa yang terasa sangat asri dan menyegarkan.


Didesa ini belum memiliki banyak penduduk, kebanyakan hanya orang tua dan beberapa ibu serta anak kecil. Jarang ada pemuda disini, kata penduduk setempat sih pemuda disini pergi pergi merantau ke negara lain dan bekerja sebagai ninja banyaran disana.


Terlihat sekali bahwa penduduk didesa ini ramah² ,karena saat kita berjalan di tengah desa banyak yang menyapa sambil memberikan senyum, mrk juga dengan senang hati menuntun kami ke penginapan satu² disini.


...----------------...


"Woahhh, indah sekali pemandangan dari balkon ini," gumamnya terkagum kagum.


"hmm, kau benar. Udaranya sejuk sekali disini," ujar Tsunade


menunduk seraya tersenyum kecil, lalu Bibi Tsunade mengelus rambut ku "Apa kau sudah sangat tidak sabar? " Ujarnya.


"Tentu saja!! " teriakku semangat.


"Tsumaki-chan, kemarilah," panggil bibi Shizune dari arah tempat tidur.


"Bibi, aku kesana dulu yaa," Ucapku meminta ijin.


Bibi Tsunade hanya mengangguk sebagai balasan.


segera aku berlari menghampiri Bibi Shizune yang terlihat sedang menata beberapa gulungan ninja.


"Bibi, apa itu? " Tanyaku penasaran.


"Ini gulungan yang berisi tetang segala hal berbau medis, " jelasnya sembari menyerahkan satu gulungan kepadaku.


menatap gulungan beraksara kanji di tangan ku dengan berbinar.


"Nah, pelajaran pertamamu. pelajari dan hapal semua gulungan itu, " ucap bibi Tsunade yang tiba tiba saja sudah ada di pinggir tempat dudukku sedang memperhatikan interaksi kami sambil bersidekap dada.


"Haik! " balasku.


...----------------...


Kami menetap di desa dengan kurung waktu yang cukup lama. karena ternyata memang sangat banyak hal tentang medis yang membantu pembelajaran Tsumaki disana.Jadi Tsunade memutuskan untuk menetap di desa ini.

__ADS_1


Selama itu juga orang yang biasa meneror Tsumaki tiba tiba menghilang entah kemana. Apakah mungkin mereka takut dengan bibi, batinku bertanya tanya heran.


Pernah sekali aku bertanya padanya, namun hanya dibalas elusan kepala dengan senyum kecil.Seolah olah menyuruhku untuk tak usah khawatir. Karena itulah setelah sekian lama akhirnya aku bisa tertidur nyenyak setiap malam.


Walau memang aku masih harus sedikit waspada karena terkadang aku merasakan ada seseorang yang memperhatikan ku dari jauh.


......................


Sudah terhitung 2 tahun mereka menetap di sana. Dan sudah beribu ribu kegagalan yang Tsumaki rasakan ketika belajar medis.


Entah sudah berapa ikan yang harus ia makan karena kegagalannya untuk menyembuhkan ikan itu. Rasanya ia trauma dengan rasa ikan sekarang.


Namun semua perjuangannya membuahkan hasil, dia sekarang sudah bisa megendalikan chakranya dengan dangat baik dan sudah sangat ahli dalam meracik obat serta membedakan obat²tan.


Bahkan sekarang ia sudah mengetahui Kekkei genkai rahasia milik clan ibunya yang diwariskan padanya. Dan Ia menebak kemungkinan besar jutsu inilah yang membuatnya di incar.


berawal ketika ia tengah frustasi saat percobaan ke 100 menyembuhkan ikan,dengan tanpa sengaja ia malah mengubah bentuk ikan itu menjadi sangat aneh.


Betapa terkejutnya Tsunade dan Shizune ketika menyadari bahwa organ dalam si ikan ternyara ikut berubah juga.Tsumaki sempat terpuruk ketika Tsunade mengatakan bahwa itu adalah sebuah kekkei genkai yang sangat berbahaya karena bisa mengubah struktur tubuh makhluk hidup dan membunuh nya dalam sekejap (kek kekuatan si mahitod jjk gitulah pokonya).


Namun Tsunade segera menenangkannya dan berkata.


"Semua kekuatan itu akan berbahaya jika berada di tangan yang salah, bahkan selemah apapun itu. jadi kau hanya perlu menggunakan kekkei genkai itu untuk hal yang baik," Ujar Tsunade dengan nada yang menenangkan.


Dari sanalah aku mulai belajar mengembangkan Kekkei genkai itu untuk kepentingan medis, dan ya walau sudah tak terhitung berapa kali aku gagal tapi aku mulai menemukan titik terang bahwa Kekkei genkai ini akan sangat berguna dalam operasi atau penyembuhan organ dalam.


Atau bahkan mungkin aku bisa menumbukan anggota badan yang hilang jika terus kukembangkan?!


yaa semoga saja begitu. karena aku tidak cukup yakin, sangat sulit untuk berlatih jutsu ini sebab aku harus melakukannya sendiri. bibi Tsunade dan Bibi Shizune hanya bisa memberikan tips² kecil karena mereka pun tidak tau akan jutsu ini.


......................


Tak terasa sudah 3 tahun berlalu, dan sekarang umurku 12 tahun. Aku sudah mahir taijutsu dan menguasai beberapa elemen seperti angin dan air berkat bimbingan bibi Shizune .


Teknik medisku pun patut di acungi jempol karena aku langsung belajar dari ahlinya yaitu salah satu sari sannin legendaris SENJU TSUNADE bibi tercintaku.


Sekarang kami dalam perjalanan ke desa lain setelah acara perpisahan yang cukup menguras air mata dengan para penduduk desa dan paman penjual mochi kesayangan ku.


'Aku akan merindukan mu paman mochi,' batinku berlebihan sambil menghapus air mata palsu di sudut mataku.


"Ada apa dengan bocah itu? apa karena kebanyakan makan mochi dia jadi gila sekarang? " Pertanyaan kejam bibi Tsunade seakan membuat panah menembus jantungku.


Dilanjut dengan tawa garing Bibi Shizune melihat percakapan antar keluarga yang sudah sangat tidak asing di matanya .


...----------------...


bersambung


bung


bung


bung

__ADS_1


__ADS_2