Prajurit Kecil Clan Senju

Prajurit Kecil Clan Senju
*Chapter 8* Kota Tanzaku


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tujuh!"


"Tujuh! "


"Tujuh!"


keringat imajiner mengalir didahiku. Lelah melihat kelakuan Bibi Shizune yang tak henti-hentinya menggumamkan kata tujuh.


mengalihkan pandanganku kedepan. suara mesin bertuliskan Jackpot menggema ditelingaku. Jantungku ikut berdetak kencang menunggu angka terakhir dimesin itu berhenti berputar,berharap akan mendapatkan angka 7 .


"Ini dia! " teriak Shizune bahagia karena angka yang dia tunggu akhirnya muncul.


Suara operator tempat game itu menggema, mengumumkan kemenangan Tsunade


"Nona Tsunade, anda akhirnya bisa menang! , " Bibir Shizune melengkung ke atas mengucapkan selamat kepada Tsunade, walau ucapannya terdengar agak aneh ditelingaku.


Aku yang berada di sebelah Bibi Shizune turut berbahagia mendengar suara dentingan koin berjatuhan dari mesin itu.


Namun berbeda dengan reaksi kami ,Mata Tsunade melebar kaget. Tidak ada raut bahagia yang ditunjukannya walaupun telah berulang kali mendapatkan angka 7.


'3 angka 7 untukku? ' Alis nya mengkerut curiga.


"WOAHHH kau sangat hebat nona."


"kau menang lagi!! "


"Ku harap aku beruntung sepertimu nona. "


Para pemain disebelah kami mendekat dan berdecak kagum saat melihat tumpukan koin yang berhasil Tsunade menangkan.


"Hore, dapat rever lagi! " cengir Shizune melihat nonanya mendapat angka 7 lagi.


'orang sepertiku menang besar seperti ini...


firasat ku buruk.'


Tsunade tetap mempertahankan raut wajah tenang nya sampai akhir walau orang orang di sekelilingnya terus memujinya, bahkan dengan koin yang mengalir deras dan telah tertumpuk dibawah kakinya, tidak mengubah raut wajahnya menjadi senang sedikitpun.


Tsumaki mengedipkan matanya bingung,menepuk pelan bahu Tsunade yang sedari tadi terdiam menatap mesin dihadapannya.


"Bibi Tsunade, kau tidak apa? Sepertinya bibi tidak terlihat senang? Apakah ada sesuatu yang salah," Tanya Tsumaki khawatir.


tersentak pelan, Tsunade tersenyum kecil


'ponakanku yang manis sangat peka ternyata'


"hm, aku tak apa. mari kita tukarkan semua koin ini ." Beranjak dari duduknya sambil membawa 2 baki penuh koin. diikuti Tsumaki dan Shizune yang membantu membawa baki koin lainnya.


...----------------...


Tsumaki pov


Bahkan sampai kini, bibi masih terlihat menghawatirkan sesuatu.Aku menatap belakang punggung bibi Tsunade yang tengah berjalan beberapa langkah didepanku dengan tatapan meneliti.


"Tunggu aku Nona Tsunade, Tsumaki-chan,"Panggil Bibi Shizune.


Berhenti berjalan, namun Bibi Tsunade masih melanjutkan jalannya,hanya memperlambat lajunya.


Menghampiri Bibi Shizune dan menawarkan bantuan untuk membawa beberapa barang.Bibi berterimakasih seraya menaruh beberapa barang yang ringan di tanganku.


"Ada apa nona? Nona menang sebanyak ini sudah seperti keajaiban loh ,tapi nona malah terlihat tidak senang, " ungkap bibi Shizune bingung.


Aku bersweatdrop, memangnya sesering apa bibi kalah hingga Bibi Shizune berkata seperti ini?


akhirnya bibi Tsunade menghentikan langkahnya dan berbalik kearah kami.


"Kota ini..., aku merasakan firasat buruk. Mari kita bergegas dan pindah," perintah bibi Tsunade.

__ADS_1


"Bibi..., bahkan aku belum sempat melihat lihat, "ujarku lesu.


Aku semakin lesu ketika mengingat kejadian kemarin, dimana bibi Tsunade menolak permintaanku untuk menyembuhkan teman nya Naruto.Tapi dia tidak memberikan alasan yang jelas, yang hanya membuatkan tambah kesal.


" Tsumaki-chan benar nona Tsunade. kota ini merupakan sarangloka turis loh. Kita harus menyempatkan mengunjuki kastil terkenal dan tempat lainnya, " terang Bibi Shizune semangat.


Aku yang merasa dibelapun mengangguk anggukan kepala setiap kali mulut bibi Shizune bergerak.


Melihat keantusiasan kami akhirnya Bibi Tsunade pun menyerah dan setuju untuk berkeliling terlebih dahulu.


Aku berlari dengan semangat mendahului mereka, saat bibi Tsunade menegur supaya tidak berlarian, barulah aku berjalan berdapingan dengannya.


Perasaan hangat mengalir dengan cepat saat aku merasakan ada sebuah tangan yang menggandeng tanganku. menengadah melihat Bibi Tsunade yang ternyata sedang melirik kearahku


Aku pun membalas lirikannya ,tersenyum manis dengan sedikit rona merah di pipiku. Bibi Tsunade memalingkan wajahnya langsung.


Aku tersenyum semakin manis ketika bibi mengeratkan genggaman tangannya.


...----------------...


Tsumaki terperangah melihat sebuah kastil megah yang berada dihadapannya. Dengan lengan yang masih bertaut Tsunade tersenyum kecil melihat respon Tsumaki.


Namun itu tak bertahan lama karena Tsunade kembali merasakan perasaan buruk yang telah dirasakannya sedari tadi.


menarik pelan tangan Tsumaki, untuk kembali berjalan dengan sedikit tergesa. mengabaikan Shizune yang sudah protes dibelakangnya menyuruhnya untuk memperhatikan kemegahan dari salah satu warisan dunia yang berada di depannya.


jika saja dia tidak merasakan pirasat buruk ini, pasti ia akan membiarkan Tsumaki lebih lama dikota ini, dia sebenarnya tak tega melihat raut memelas keponakannya yang seakan meminta untuk tinggal lebih lama.


Namun keselamatan lebih penting, dia percaya akan instingnya yang selalu benar.


Tsumaki yang diseret hanya pasrah walau dihatinya tak rela.


"heum? " Tsumaki menengok heran kearah bibinya yang tiba tiba menghentikan langkahnya.


"Nona Tsunade? " tanya Shizune.


'hawa dingin apa ini? ' Batin Tsunade. perasaan khawatir kini semakin menyelimuti hatinya.


Tsumaki merasakan hawa dingin yang dirasakan Tsunade. Sekarang dia paham kenapa sedari tadi bibinya selalu terlihat gelisah .


......................


Asap mengepul menutupi atap kastil.


Terlihat siluet 2 orang tengah menaiki seekor ular berwarna ungu yang sangat besar.


"Itu.. " Shizune membelalak-kan matanya terkejut ,menyadari siapa yang sedang menaiki ular itu.


"Tsumaki ,pergilah sejauh mungkin! Dan gunakan jutsu mu untuk menghilangkan keberadaanmu! " perintah Tsunade.


"Tapi, bagaimana dengan bibi dan bibi Shizune!?" Teriak Tsumaki tak setuju.


"Cepat lakukan saja!!" sentak Tsunade.


Tsumaki tertegun dengan perkataan Tsunade. Dia tidak ingin pergi dan meninggalkan mereka, pikiran² buruk akan trauma masa lalu tiba tiba saja terulang jelas di pikirannya , tidak! Dia tidak mau sendiri lagi!


"Jangan khawatirkan kami Tsumaki-chan,Kami akan segera menyusulmu.Percayalah pada kami, " Shizune yang peka dengan apa yang dirasakan Tsumaki menyentuh bahunya dan mengalirkan chakra menenangkan kepada Tsumaki.


Akhirnya Tsumaki mengangguk lesu dan segera beranjak pergi, walau dihatinya ingin sekali membantah dan tetap disini, namun Tsumaki memutuskan untuk percaya pada bibinya.Bibinya kuat, dia pasti akan baik-baik saja.


Tsumaki percaya itu.


...----------------...


pov Tsumaki


Aku pergi sambil mengaktifkan jutsuku. kuputuskan untuk menunggu diatas atap kastil yang lumayan jauh dari tempat kami tadi.


Namun aku masih bisa melihat jelas walau jaraknya cukup jauh. Aku memanipulasi mataku sendiri dan memaksakan kinerjanya supaya bisa melihat lebih jauh. Aku sudah mengasah kekkei genkai ku dan inilah sedikit dari hasil latihanku selama ini.

__ADS_1


Walau ada efek samping pusing selama beberapa saat aku tidak perduli yang terpenting sekarang keselamatan bibi Tsunade dan Shizune.


memicingkan mataku, dan memfokuskan pada satu titik. Kulihat ada 2 orang asing yang sedang berbincang dengan bibi.


"Akh sial. aku belum bisa memanipulasi 2 organ dalam satu waktu. Jadi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan," sungut ku kesal.


Mataku melotot ketika Bibi Shizune mulai menyerang salah satu diantara mereka yang berambut abu dan berkacamata.


Satu orang lagi berkulit sangat putih dan wajahnya tidak jelas karena tertutup rambutnya yang panjang.


Aku merinding melihatnya, org itu terlihat seperti hantu. Sangat menyeramkan!


Setelah menahan diri begitu lama untuk tidak melompat turun dan menghanjar 2 orang itu. Mrk tiba² menghilang dari penglihatannya setelah berbincang dengan bibi Tsunade lalu orang yang mirip hantu itu menggigit tangannya sendiri sampai berdarah dan menyodorkannya kearah depan. Tubuh bibi Tsunade langsung gemetar ketakutan melihat darah yang mengalir di jari pria hantu itu.


Tanpa babibu aku langsung melesat pergi kearah tempatku tadi dan menghampiri Bibi Tsunade saat sudah memastikan 2 orang tafi telah benar-benar pergi.


"Bibi, kau tak apa-apakan!? " Aku memeluk bibi lembut sambil menyalurkan ninjutsu medisku, berharap dengan ini akan meredakan rasa takutnya akan darah.


Setelah bertahun² bersama, aku menyadari bahwa bibi Tsunade mengidap hemofobia . Aku mengetahuinya ketika tidak sengaja melihatnya gemetar saat mencoba mengobatiku yang terluka karena latihan.


Setalah beberapa saat terus mengalirkan ninjutsu medisku, Bibi Shizune mengarahkan ku untuk mendudukan Bibi Tsunade kesebelah tembok yang tidak roboh karena pukulan Bibi Tsunade tadi.


Bibi Tsunade menggenggam tanganku lalu berujar pelan.


"Kenapa kau tidak menurutiku untuk pergi dan bersembunyi, bagaimana jika orang itu menyadari kehadiranmu!?. "


"Aku tidak mungkin meninggalkan kalian berdua dan berlindung sendiri, aku tidak akan mengulangi kesalahan ku dimasalalu yang meninggalkan ayah dan bersembuyi lagi seumur hidupku.


sekarang aku sudah cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri, Lagipun aku yakin pria seram tadi tidak menyadari kehadiranku," ujarku selembut mungkin dengan nada menenangkan.


Aku menyadari bibi Shizune tersenyum mendengar ucapanku dan bibi Tsunade hanya menyenderkan kepalanya di bahuku tanpa membalas ucapanku tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


malam telah tiba


"Oyaji, beri aku sake lagi! " Ujar Tsunade yang terlihat sudah mabuk karena meminum banyak sake.


"Nona Tsunade, kau sudah terlalu banyak minum! " Shizune mengingatkan.


menepis kasar tangan Shizune yang menyentuh bahunya. Tsunade tidak memperdulikan ucapan Shizune dan terus minum untuk menghilangkan beban pikirannya.


Tsumaki hanya diam memerhatikan sambil memasang wajah khawatir. Setelah sedikit tenang mereka langsung pergi dari tempat tadi lalu masuk ke bar ini. sudah sejak saat itu Tsunade mabuk-mabukan.


Tsumaki sudah gemas ingin bertanya perihal kejadian tadi namun tetap bungkam karena tau ini bukan waktu yang tepat. Bibinya masih terlihat tertekan dia tidak ingin menambah beban Tsunade dengan menanyakan peristiwa tadi.


Memandang makanan di depan nya tidak selera. Padahal ini mochi isi buah kesukaannya, namun dia terlalu khawatir dengan keadaan bibinya hingga tak menyentuh makanannya sedikitpun.


Tak tahan lagi, dia pun hendak berdiri untuk menghentikan bibinya menuangkan sake yang entah sudah botol keberapa.


Tiba-tiba Tsumaki menoleh kearah pintu masuk saat dia merasakan chakra yang tidak asing memasuki bar.


Benar saja itu Naruto, yang sedang berdebat dengan seseorang beramput putih seperti landak disampingnya.


Kami pun bertatapan ketika ia menoleh kearah mejaku.


"KAU! TSUMAKI !?, kenapa kau bisa disini?! "Teriaknya kaget.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! " Jawabku yang sama kagetnya.


Orang dewasa yang melihat kami hanya terheran heran saat mendengar percakapan kami.


"Naruto, kau mengenal nona manis itu? " Tanya pria rambut landak itu heran pada naruto.Yang hanya dibalas anggukan oleh Naruto.


'Siapa gadis kecil itu, Chakranya cukup besar dan terasa tidak asing' batin pria landak dengan tatapan menyelidik.


...****************...


Bersambung

__ADS_1


bung


bung


__ADS_2