
Pagi, para pembaca Budiman. Kenalin gue Dafi Isa Dominique. Gue anak nomor dua setelah selisih menit dengan kembaran gue , si Devan Ibrahim Dominique. Gue kembar, tapi tetap gantengan gue dong. CK!.
Oh ya, pagi ini Ayah nyuruh gue, untuk pergi ke perusahaannya. Hari ini tepatnya, hari paling bersejarah buat gue. Ya, kenapa bersejarah. Gue mau menjabat jadi Presdir di perusahaan Ayah gue.
Kalian pasti kenal dong sama Ayah gue. Ayah tampan gue. Dia, Ayah Demian Dominique. Laki-laki tampan yang bisa bersanding hanya dengan Ibu gue.
Lucu kan, gue gaul tapi panggilnya Ayah-Ibu?. CK,CK. Emang berasa biar kalem aja, kata Ibu.
Gue gugup nie. Doain Gue supaya hari ini. Hari yang paling berkesan buat gue bro dan mbak sist semuanya.
"Sayang, Dafi. Kamu sudah bersiap Nak?. Ayah,mu sudah menunggu tuh." Seru Ibu gue memanggil.
"Iya, Ibuku cantik. Ini Dafi sudah siap mau turun kok. Ibu tunggu aja di bawah. " Balas Gue.
"Baiklah.. Ibu dan yang lain. Ada di bawah." Tukas Ibu ke gue.
"Bismillahirrahmanirrahim.. Ya Allah.. Semoga Hamba Mu yang tampan ini bisa!. Go!." Seru gue dengan kedua tangan mengepal dan meninju ke udara.
Satu langkah, dua langkah hingga berlangkah-langkah. Gue akhirnya sampai di ruang keluarga. Semua sudah pada nunggu Gue. Ah gue jadi terharu.
Ayah yang melihat gue, terasa amat bangga. Tatapan nya penuh harap. Entah mengapa gue sangat terharu saat melihat sendu Ayah gue.
"Ayah, Ayah sedih ya?." Tanya Gue.
__ADS_1
"Jangan sedih dong. Ayahku sayang. Nanti Dafi ikut sedih ni." Lanjut Gue menggelayut di lengan Ayah.
Ayah yang melihat dan mendengar gue berkata seperti itu tersenyum. Meski sudah mau memasuki kepala lima. Ayah gue tetep ganteng dong. Kharisma nya bisa ngedapetin gadis usia 20 tahunan. CK,CK.
"Kamu gagah, Nak." Puji Ayah ke gue nie.
Gue tersipu malu, sedangkan Devan kembaran gue hanya menatap datar ke gue. Padahal dia juga sama bobroknya. Tapi, tidak terlalu mencolok seperti gue. Haha.
"Kamu udah siap kan gantiin Ayah?. Ayah ingin menikmati masa tua bersama Ibu,mu. Kasihan dia, menagih Ayah untuk berkencan berdua terus."
"Ngawur Ayah mah. Siapa juga yang mau berkencan. Kita ini sudah tua. Bisa boyok pegel kebanyakan kencan."
"Tuh,kan ketularan nenek kamu."
"Jelas, Wong kamu hanya cintakuu. Milikku Barbara Annovra. Ibu Susu-ku!."
Plak!
Pukulan keras melayang tepat di lengan sebelah kanan Ayah gue. Karena Ayah gue yang tidak bisa mengerem dan mengontrol ucapannya. Ibu pun gue lihat, mukanya langsung merah menahan malu dong. Haha. Lucu banget.
"AWw.. Sakit Sayang. Kamu ini. Main tampol saja. Kalao mau tampol-tampolan yuk di kamar." Celetuk Ayah gue, semakin membuat Ibu gue tersipu malu.
"Mas!. Kamu ini. Disini banyak anak-anak. Ucapannya di jaga! Mas. Heran aku sama kamu."
__ADS_1
"Untuk kalian, tidak usah di dengar. Ini ucapan dua puluh satu tahun ke atas!. Mengerti!." Omel Ibu gue, menunjuk ke arah gue dan Devan.
Devan yang stay cool pun malah tersenyum. Melihat aksi banyolan kedua orangtua gue. Yang semakin hari semakin mesra saja. Sungguh Gue pun ingin mempunyai alur percintaan dan hubungan rumah tangga yang harmonis seperti Ayah dan Ibu. Aamiin dong ya.
Aaamiinn ya Allah.
"Ibu, mau ikut tidak ?." Tanya Gue.
Ibu menggeleng keras. Memang begitu typenya. Dari dulu kalau di ajak tempat yang notabennya berhubungan dengan bisnis Ayah semacam perusahaan. Pasti langsung menolak. Katanya malu. Hihi. Memang beda ibu gue ini. Senggol dong.
"Bu, kami berangkat dulu. Doain Dafi biar bisa mimpin. Nggak cuman bikin rusuh saja." Bisik Devan kepada Ibu. Tapi, gue masih ngedenger loh.
"Kamu ini, yaudah sana. Hati-hati!. Ingat!. Jaga Mata! . Jaga tangan dan hati!. Tidak usah pada jelalatan. Tundukkan pandangan kalian jika berhadapan dengan wanita yang terlalu seksi!." Peringat Ibu dengan penuh penekanan.
"Berarti kalau misal, tidak seksi boleh di pandang ya, Bu?." Tukas gue ni.
"Sembarangan!. Yang penting jaga diri dan paham sendiri lah. Semangat!." Ujar Ibu gue dan memberi gue cayo-cayo semangat.
Kami pun menyalami tangan ibu gue yang cantik ini. Rambut khas berwarna merah dan ibu gue itu sangat seksi menurut Ayah gue. Ya begitulah.
Tak lupa Ayah gue, ©!um pipi kanan-kiri. Dan ©!um kening dan trabas ©1um bi**r ibu gue. Dasar mereka, bikin iri gue!.
"Assalamualaikum...!!!!" Seru kami bertiga meninggalkan, bidadari Ayah.
__ADS_1