Presdir Nelangsa (Menjadi Ibu Susu-mu) Season 2

Presdir Nelangsa (Menjadi Ibu Susu-mu) Season 2
HARI PERTAMA KERJA


__ADS_3

"Hah, akhirnya gue bisa juga duduk di kursi ini." Helaan nafas terdengar dengan gumamannya sembari menepuk-nepuk kursi kebesaran yang ia duduki.


Dari tempat yang berbeda, ada seseorang yang telah mengamati pola tingkah sang Presdir baru itu, rekaman yang ia tangkap dari CCTV yang sengaja ia pasang. Untuk mengamati gerak-gerik Presdir.


Senyum licik pun terbit dari orang tersebut. "Hanya beberapa hari saja, kau tak akan betah. Wahai bocah tengik." Ucapnya.


Dafi bukannya tak tahu. Dia justru sudah mengetahui apa yang ada di dalam ruangan kerja sang Ayah. Pantas Ayah nya selalu mewanti-wantinya.


"Kau harus hati-hati, banyak musuh yang menginginkan kita jatuh. Meski kita tak pernah mengusiknya. Namanya orang yang tak suka, tetap saja tak suka. Waspadalah."


Begitulah ucapan sang Ayah kepadanya. Jadi Dafi tahu. Dia sudah mengetahui jika di ruangan ini sudah di pasang banyak alat penyadap dan mini camera.


Berkat jam tangan yang canggih. Pemberian dari kembarannya. Semua yang ada di ruangan ini terdeteksi. Sungguh Dafi sekarang benar-benar dibuat heran. Siapa musuh dalam selimut yang mencoba menjatuhkan keluarganya.


Bahkan di hari pertama kerja pun . Ada yang ingin membuat masalah dengan gue. Gue ikuti permainan Loe. B@j!n9@n!. Bathin Dafi dengan punggung menyandar ke kursi kebesaran dengan memejamkan mata serta bibir tersenyum smirk.


Dibalik layar itu pun merasa heran. Mengapa yang menjadi target lebih tenang dan tanpa beban. Sama persis dengan Presdir terdahulu.


"Bahkan kau sama bodohnya dengan bapak kau itu!." Ujarnya.


Saat Dafi sedang memejamkan matanya dengan tenang. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


Tok. Tok. Tok.

__ADS_1


"Masuk!." Titah Dafi masih dengan posisi yang sama.


"Permisi Pak." Ucap seorang wanita yang tak lain adalah sang sekretaris Dafi saat ini.


"Hmmm.. Ada apa?."


"Ini pak, saya hanya ingin memberikan berkas yang harus bapak tanda tangani."


"Baiklah.. Bawa sini. Mmmm-mbak?..-"


"Latusa, Pak."


"Ehmm iya Mbak Tusa."


"Hmmm. Nie sudah Tu-sa."


Latusa yang di hadapkan dengan sang Presdir pun hanya diam merasa gagu sedikit sebal pula. Dafi yang menyadari kegaguan sang sekretaris, tiba-tiba tersenyum dan timbul ide jahil.


Latusa yang melihat senyuman yang nampak seperti seringaian itu pun, heran. Dih, aneh banget tuh Presdir senyam-senyum sendiri. Katanya dalam hati.


"Latusa."


Latusa yang di panggil pun, langsung menegakkan kepala. Menatap mata sang Presdir. Sekilas, wanita bermata hazel itu pun membius Dafi.

__ADS_1


Mata indah dan bulu mata yang lentik, bibirnya bagai ceri. Uh menggoda. Gumamnya di hati.


"Pak?. Halo?. Pak?." Telapak tangan Latusa melambai tepat di depan wajah Dafi. Badan yang sedikit membungkuk, membuat Dafi bisa melihat jelas belahan bongkahan gunung kembar montok milik Latusa. Dan....


Glek!


Dafi meneguk ludahnya sendiri. Merasa dikerjai sendiri akan tingkah sekretarisnya. Padahal salah dia juga mengapa harus terbius akan kecantikannya.


Sesak rasanya. Mengapa dia sedekat ini!. Gerutunya lagi dalam hati.


"Ehem!!. Latusa!. Bisakah kamu mundur sedikit. Saya sesak nafas ini."


Latusa yang mendengar ucapan sang Presdir langsung tersadar dan menegakkan tubuhnya dan mundur satu langkah. Dia merasa malu dan kaku saat ini.


"Ma-maafkan Sa-saya Pak!." Tukasnya.


"Ya, tak apa. Kamu sana keluar. Ini sudah saya tanda tangani semua."


Latusa langsung melongo. Aneh benar nih Presdir baru!. Untung gue sabar. Bathinnya.


Saat Latusa sudah menghilang dari balik pintu. Dafi mengembuskan nafas dengan kasar.


"Ya Allah.. ini ujian hari pertama kerja. Sabarkan hamba dan tebalkan iman hamba."

__ADS_1


__ADS_2