
Setelah pembacaan aturan baru, yang bikin melongo. Kini karyawan - karyawati itu sedikit merasakan gemblengan. Dimana mereka tidak boleh mangkir untuk melakukan pekerjaan mereka, sesuai divisi mereka masing-masing.
Disini yang mereka takjubkan adalah, Presdir baru nya tidak suka basa-basi.
Menjadi trending topik one in only.
Seperti saat ini, menjelang makan siang ini. Mereka malah asyik berghibah ria.
"Kita nggakbisa leha-leha ni. Harus kejar target. Ngeri juga ya, dibalik sifat banyol Presdir baru kita. Dia juga bisa serius. Untung tampan, kalau kagak. Ogah ya, ngedengerin dia."
"Ya, loe bener. Untung tampan. Kaya Pak Demian ya, XiXixixixi ...jadi ingin di lamar deh. Upss!!"
"Huss!. Ngawur kamu. Kalau mau embat anaknya saja, jangan bapaknya. Mengerikan .... (dengan bernada tuk dalang)."
Sontak mereka yang ada didalam ruangan terbahak. Merasa ber-gosip tentang Presdir baru, sangat menyenangkan. Bagi mereka sosok Dafi dengan Demian sedikit berbeda. Dulu, Ayah nya si kembar itu sangat dingin dan kaku. Ini anaknya malah lebih luwes dan sedikit banyaknya, bisa diajak bercanda. Meski jantung tetap berdegup sih. Haha.
🔹🔹🔹🔹🔹
_Ruang Presdir_
"Apakah disini sudah dibersihkan?. Semua alat sudah kau ambil, wahai saudaraku yang tak kalah tampan dariku?." Tanya Dafi dengan nyeleneh.
"CK, kau ini. Nie sudah ku ambil semuanya. Tenang saja. Nanti kita beri pelajaran bersama. Aku tahu siapa orangnya." Balas Devan, yang memang sedang mampir ke perusahaan pusat Ayah nya kini.
"Oke, terserah kau saja. Aku serahkan semua ini padamu. Aku pusing . Aku mau kencan besok. Bisakah kau carikan aku, cewek?!. Hah?!."
CTAK!!
"OWW SHITT!!. Pala gue benjol nie . Uda gue hormatin loe. Nggakpakai Loe-Gue. Ternyata Loe gini. Sakit taugggg!!!. Dasar gondrong!." Umpat Dafi saat kepalanya terkena lemparan pulpen dari Devan.
"Yaelah. Makanya gue heran sama Loe. Tumben-tumbenan pakai Aku - Kamu. Pasti ada maunya kan. Nah, itu feeling gue bener. Loe mau, gue untuk cariin cewek buat loe."
"Tapi, nggak gini juga kali.. GONDRONG!!."
Lelaki berambut gondrong dan bermuka sama persis serta plek-ketiplek dengan Dafi pun hanya terkekeh. Mendengar ocehan kembaran nya. Baginya , Dafi adalah adiknya yang lucu. Gemeshin, pingin gue tampol mukanya. Bathin Devan.
"Gondrong juga tampan, kan?."
"Dih, Narsis!."
"Loe juga narsis tuh sama karyawan loe semua. Nggak nyadar loe!!!."
Dafi nampak terdiam. Seketika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Mulutnya menyengir seperti kuda.
Devan yang sedang menyandarkan dirinya ke badan sofa pun. Sedikit mendesah. Pasalnya dia juga tidak pernah pacaran, mengapa dia harus mencarikan kembarannya pacaran. Aneh kan.
"Dev, loe tau nggak..-"
"Enggak!!." Sarkas Devan langsung.
"Haiss!!..Loe nyebelin banget sih!!."
__ADS_1
"Yaudah Apa!!."
Dafi merasa ragu ingin mengatakan ini semua.
"Gue sebenarnya jatuh cinta sama si Sar-Sarrahh."
Upss!!
Dafi langsung menutup mulutnya dengan cepat.
"Uhuk.. Uhuk.. Uhukk...!!!" Devan yang sedang bersandar santai tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri.
Devan pun langsung menegakkan badannya. Menoleh ke arah sang saudara kembarnya itu. Dengan tatapan yang mengintimidasi. Dafi yang di pandang pun mencoba senyum untuk menetralkan jantungnya. Dia juga tak tahu, mengapa harus anak dari Unclenya yang harus ia cintai.
"Loe, serius?!. Loe cinta sama Sarah?. Anak Uncle Diego?."
Dafi mengangguk pelan.
"Oh May, Oh May!. Daf, Loe sejak kapan cinta, ehmmm maksud gue. Suka sama Sarah, sejak kapan?".
"Sejak lama Dev, Sejak kita masih kanak-kanak sampai sekarang."
Brak!!
"Astaghfirullahal Adzim!!... "
Dafi langsung terjingkat kaget saat Devan memukul meja kerjanya sangat keras. Kedua bahunya di cengkram dengan kuat. "Loe, tahu kan si Sarah itu udah punya kekasih, Dafi. Gue merasa kasihan sama Loe. Mengapa harus Sarah, coba."
🔹🔹🔹
Flashback!
Malam Minggu, malam nya pada ngapel pacarnya yak. Gini ni sama dengan para muda-mudi. Namun, tak seperti kembaran Demian dan Barbara. Mereka anti pacaran. Umpama ada yang suka. Cuman di ungkapkan tetapi tak berani menjalani seperti keluar masuk hotel atau sekedar nongki. Terlalu ekstrim untuk mereka berdua. Pikirnya semua itu hanya membuang waktu dan dekat dosa.
Tepat disaat kedua kembar itu sedang bersantai dengan keluarga. Tiba-tiba di malam Minggu yang syahdu. Mereka kedatangan tamu. Ya, tamu itu adalah Sarah. Sarah adalah anak sulung dari Diego dan Laura.
Tanpa mereka duga, ternyata si Sarah itu. Membawa gebetannya. Sontak membuat semua yang sedang bersantai kaget dong. Terutama si Dafi.
"Assalamualaikum!!.."
Sontak semua menoleh dan menjawab salam. "Waalaikumsalam." Jawab mereka semua yang tengah berada di ruang keluarga bersamaan.
"Eh, Sarah.. Sini sayang.." Ajak Barbara kepada Sarah yang sudah ia anggap anak sendiri.
Sarah pun menghampiri sang Aunty yang masih saja mempertahankan rambut merah nya. Seperti ayam warna-warni. Hihi.
"Aunty, apa kabar?. Maaf ya ni aku ganggu. Numpang neduh. hehe..".
"Nggakpapa Sayang, mau nginep juga boleh."
Seketika mata Barbara fokus dengan seorang pemuda yang berdiri tepat di belakang Sarah. Yang ditatappun menghampiri ibu dua anak itu dan menyalami punggung tangan perempuan yang akan menginjakkan kepala empat namun masih tetap cantik dan segar itu, dengan takzim.
__ADS_1
Ibu dua anak itu langsung menoleh ke arah Sarah. Dengan tatapan seperti memiliki banyak pertanyaan. Sarah pun akhirnya menjelaskan, siapa pemuda itu.
"Ehmmm Maaf Aunty. Ini adalah Brain. Dia pacar aku." Bisik Sarah namun masih bisa didengar oleh Demian dan kedua anaknya.
Deg!
Pacar?. Sarah bawa pacar?!. Bathin Dafi yang sedari tadi ikut menyimak dan selalu memperhatikan dua insan yang sedari tadi berdiri.
Barbara hanya tersenyum penuh arti. Mempersilahkan mereka berdua untuk duduk, bergabung. Dan menyuruh maid untuk membawakan beberapa camilan serta minuman.
"Uncle, apa kabar?."
"Uncle sehat, Alhamdulillah Sarah. Daddy mu tahu. Kalau kau sedang bersama ke-ka-sih-mu itu?!." Tanya Demian dengan menatap tajam ke arah pemuda yang dibawa anak mantan asistennya, yang ia anggap saudara sendiri.
Sarah sedikit gugup. Merasa keluh untuk mengatakan. Bahwa sebenarnya, sang Daddy belum tahu akan hal ini.
"Belum kan, ya?." Tebak Demian.
Sarah mengangguk canggung. Demian memang sangat waspada jika ada seseorang yang dekat dengan keluarga mereka, membawa orang asing. Seperti Sarah yang memang sangat akrab dengan keluarganya. Jadi, wajar saja. Jika dia juga mengkhawatirkan keselamatan mereka.
"Tolong, kalau mau bawa anak orang. Izin dulu. Jangan main bawa saja!." Tegas Demian dengan menatap tajam Brain.
Brain yang berprofesi sebagai TNI itu pun. Hanya diam dan menunduk sedikit. Dia juga merasa bersalah. Karena belum izin kepada kedua orangtua Sarah. Saat akan membawa anak gadis mereka bawa.
Sarah dan Brain pun sama-sama mengangguk dan gugup. Barbara yang mendengar kalimat tegas suaminya, hanya bisa diam. Merasa benar apa yang di bicarakan oleh sang suami.
"Silahkan Nyonya, Tuan." Ucap Maid yang menaruh camilan serta minuman ke meja ruang keluarga tersebut.
"Terimakasih Bi." Sahut Barbara.
Maid pun segera memutar tumit dan meninggalkan ruang keluarga dengan memeluk nampan.
"Sudah, ayo diminum dulu."
"Ba-baik Aunty. Terima kasih."
Lima menit berlalu. Hening....
Tidak ada yang mau membuka obrolan terlebih dahulu. Hingga, Devan membuka omongan yang membuat semua menoleh.
"Ehmm.. Loe tugas dimana?." Celetuk Devan.
Brain yang mendengar ucapan Devan langsung tertegun. Pasalnya, dia pun belum memberitahukan apa profesinya. Kenapa pemuda seusianya itu, malah bisa menebak. Seakan tahu, apa pekerjaannya.
Demian yang mendengar ucapan Devan hanya tersenyum tipis. Dia sudah hafal dengan anak sulungnya. Semua informasi dengan mudah ia dapatkan, melalui anggota nya.
"Saya bertugas di perbatasan Khatulistiwa."
Devan manggut-manggut. Lain lagi dengan Dafi. Yang sekarang malah mengerutkan dahinya. Merasa belum mengetahui apa-apa.
"Jaga Sarah dengan baik. Uncle Diego dan Aunty Laura, orang baik. Jangan aneh-aneh."
__ADS_1