Presdir Nelangsa (Menjadi Ibu Susu-mu) Season 2

Presdir Nelangsa (Menjadi Ibu Susu-mu) Season 2
MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN


__ADS_3

Kini sudah dua hari berlalu setelah Dafi sang Presdir mengumumkan peraturan baru. Dafi adalah se-simple-simple nya type. Seperti saat ini .


Ketika Dafi harus, dihadapkan dengan semua berkas. Dan ia harus bawa pulang, karena ini waktunya libur karena tanggal merah. Presdir baru itu tak lagi santai dan langsung gerak cepat mengerjakannya.


Sesuai janjinya kepada sang Ibu . Kini Dafi sudah menyelesaikan kerjaan kantor dengan cepat. Ya, maklum ya. Presdir baru . xixixixi :V.


"Alhamdulillah ... Ya Allah .. Ya Robbi . Akhirnya hari ini selesai . Sekarang harus siap megengan bersama Ibu, Ayah dan saudara kembarku yang ganteng." Gumamnya dengan kepala menyandar di bahu kursi, yang berada di ruang kerjanya.


Megengan atau yang disebut juga Menahan. Acara yang bersifat seperti antusias kita untuk menyambut kedatangan bulan suci ramadhan.


Dafi memang libur, secara tanggal merah kan. Hari Raya Nyepi, jadi otomatis PT. NYAWANG PENAK harus libur dong. Presdir kece ini juga, ngasih libur satu hari. Karena mau menyambut bulan suci ramadhan.


Menurut Dafi, awal puasa tanpa kerja itu sangat hikmat. Apalagi merilexkan diri untuk tidak terlalu dalam dan kelihatan ambisius dalam bekerja. hehe ..


Apose :V.


Dafi yang sekarang berada di ruang kerjanya itu. Tiba-tiba termenung. Mengingat ucapan sang saudara kembarnya, tentang Sarah.


Bagaimana bisa, kedekatan antara dirinya dan wanita yang sudah ia anggap lebih dari apapun, tidak bermakna sama sekali :(.

__ADS_1


Gue cinta Loe, Sar. Bathinnya memilu.


.


.


Tok


Tok


Tok


Ceklek!


Perempuan paruh baya berambut merah dengan rupa yang masih terlihat cantik. Masuk dan menghampiri sang putra bungsunya. Dimana putra bungsunya malah masih duduk anteng di atas kursi kerjanya.


Senyum yang lembut, ia tampakkan kepada sang bungsu. "Sayang, mengapa kamu lama sekali. Ibu sudah menunggu mu loh. Apa kamu sakit?."


Jelas Barbara menanyakan seperti itu. Wong anaknya terlihat lesu sekali. Selama ini kedua anaknya tidak pernah menyembunyikan sesuatu. Entah kenapa ,rasanya dua hari ini si bungsu terlihat lebih banyak diam. Ketimbang usil seperti biasa.

__ADS_1


Helaan nafas pelan terdengar dari Dafi. Dia yang tadinya menyadarkan badannya ke kursi,segera beranjak bangun untuk memeluk wanita yang sudah melahirkannya, memberikan kasih sayang penuh. Tanpa pilih kasih antara dirinya dan kembarannya itu.


"Its no Ibu. Dafi baik-baik saja. Maafin Dafi yang tidak segera datang menghampiri Ibu tadi." Lirihnya dengan lembut, merasa bersalah karena sudah membuat wanita yang begitu lembut itu mengkhawatirkannya.


"Alhamdulillah... Baiklah.. Ibu percaya jika kamu baik-baik saja. Tapi, ibu mohon. Jangan sembunyikan apapun itu. Kamu anak Ibu. Ibu merasa bersalah sangat jika, kamu tak memberitahu Ibu. Apa yang kamu rasakan saat ini." Ujar Barbara kepada sang bungsu.


Dafi merasa terharu. Dia sangat senang dan bersyukur. Di kelilingi oleh orang-orang yang sayang dengannya, tanpa mau menginterupsi setiap ucapan. Sangat keluarga yang hangat dan idaman.


"Baiklah .. Ibuku cantik. Ayo kita keluar untuk megengan. Aku takut , ayah nanti marah dan nge-reog. Haha....."


Plak!


Pukulan pelan mendarat di lengan sang bungsu yang kini sedang memeluknya. "Huss!. Kamu ini!. Itu Ayahmu sendiri Lo!. Hiihi....." Tukas Ibu.


"Baik-baik kekasih Aaaaaa_______Yah"


"Dasar!!!. Ayo keluar!"


Sungguh pemandangan epik bukan?. Sejatinya, orang yang paling bisa mengerti kita dan memahami kita. Ya, keluarga sendiri, terutama Ibu.

__ADS_1


__ADS_2