Presdir Nelangsa (Menjadi Ibu Susu-mu) Season 2

Presdir Nelangsa (Menjadi Ibu Susu-mu) Season 2
JANGAN DISINI


__ADS_3

"Kalian sudah siap?."


"Siap dong Ayah!."


Seru Barbara dan si bungsu. Mereka terlihat kompak. Beda dengan si gondrong ,Devan. Yang sering mengantongi dua tangannya ke dalam saku.


Huh.. Dasarr! Aslinya dia itu banyol!, bar-bar. Tapi, kenapa bisa seperti itu. Sok Cool. Bathin Dafi mengomel ketika melihat raut wajah saudara kembarnya yang datar.


Devan yang dilirik Dafi pun hanya tersenyum remeh. Seakan tahu, apa yang ada dipikirkan sang Presdir baru itu.


"Bu, kita tuh mau megengan kemana?. Nie sudah sore loh. Uda nggakbisa nie. Pakai megengan segala lagi." Gerutu Dafi ketika melihat cuaca sedikit mendung.


Membuat ia urung untuk keluar. Rasanya masih berat, seperti ada yang mengganjal di hati. Entah apa itu.


Apa karena si Sarah?.


Oh may!.


Barbara dan Demian yang mendengar si bungsu mengomel terus. Hanya diam,tanpa mau menjawab. Sama halnya dengan Devan yang malah mengangkat kedua bahunya. Seakan tidak tahu, arah tujuan kedua orangtuanya.


"Udah, ikut saja!. Cerewet sekali sih!." Tegur Barbara kepada si bungsu tampan itu.

__ADS_1


Mau tak mau, si Presdir tampan harus ngikut masuk kedalam mobil. Dia duduk di jok belakang bersama Devan. Sedangkan sang Ayah berada di belakang kemudi, dan Ibunya berada tepat di samping Ayahnya.


Mengapa tak salah seorang dari kembar saja yang menyetir?.


Entahlah.. Pasangan susuan itu benar-benar lucu.


Sebelum berangkat mereka mengutamakan keselamatan dong. Sealbelt harus terpasang, dan saat itu juga. Jeng .. jeng ... jeng..


Demian malah mesra sekali bersama Barbara. Membuat Dafi panas, dan ingin rasanya memiliki pasangan saat ini juga. Beda dengan Devan malah tersenyum melihat kedua orangtuanya yang semakin tua semakin mesra. Berarti hubungan keduanya sangat baik.


Jelas Dafi panas, mau pasang sealbelt saja. Demian harus mendekat ke Barbara dengan mencondongkan badannya tepat di depan istrinya itu, dengan jarak dekat dan sehingga kedua hidung mancung mereka bersentuhan. Lalu ..


Cup!


Ada kedua anaknya di belakang, tak membuatnya merasa malu sedikit pun.


"Ish... Mas!. Ada anak-anak di belakang." Barbara membuang muka ke arah lain, merasa sudah benar-benar malu.


"Biarkan saja!. Toh mereka sudah besar!." Balas Demian dengan enteng.


Dafi dan Devan pura-pura tidak dengar dan mereka memilih untuk fokus ke arah jendela luar.

__ADS_1


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


_Kediaman Utama Dominique_


"Cucu-ku. Maa syaa Allah .. Kalian kesini?. Ah Nenek kangen kangen banget." Ucap Nenek Zahira dengan merentangkan kedua tangannya.


Di usia yang sangat sepuh ini. Nenek Zahhira hidup bersama dengan sang bungsu. Luna dan suaminya Gio. Mereka memang telah sepakat untuk mengurus sang Mommy. Katanya, anak perempuan sendiri. "Biarkan aku yang mengurusnya, Kak."


Begitulah ucapan Luna. Sedangkan sang Kakek. Sudah lama meninggal. Kakek meninggal, karena komplikasi. Jadi, beginilah sekarang. Generasi Dominique di gantikan oleh sang anak dan cucunya mereka.


Pug!


Pelukan hangat, Dafi berikan untuk sang Nenek. Bergantian dengan Devan pula.


"Ayo masuk, Sayang-sayang nya Nenek."


"Baiklah.. Ayo masuk Nek!."


Ketika kedua anaknya sudah masuk, berbeda pula dengan Barbara dan Demian. Mereka malah masih asik bertukar saliva di mobil. Merasa benar-benar dunia hanya milik mereka berdua.


"Mumpung belum puasa. Jadi halal untuk ber©Umbu mesra, Sayang." Celetuk Demian.

__ADS_1


Membuat Barbara salah tingkah saja.


"Mas, lebih baik kita masuk. Jangan disini. Mending di kamar."


__ADS_2