
"Bungh,bungh,"Arsen kembali menampar ayah tirinya tanpa ampun lagi,hingga ayahnya terkapar tidak berdaya lagi.Wajah membiru dan memerah karena darah yang keluar dari hidungnya.
Di sisi lain....
Sosok anak kecil berusaha melepaskan tali yang ada di tangan Dira dan di kakinya,sosok tersebut sangat bersemangat membantu melepaskan tali itu,sedangka Dira hanya melihatnya saja karena tubuhnya sudah semakin melemah tidak berdaya,setelah cukup lama,tuyul itu melepaskan tali dari tubuh Dira ia membopong tubuh Dira untuk keluar dari rumah menyeramkan itu.
"Terima kasih sudah menolongku,"lirih Dira.Tuyul itu hanyak menganguk tersenyum.
Kemudian Tuyul tersebut mengambil jalan pintas lain dari belakang karena ia tau di depan sedang ada orang.
"Tunggu!,"ucap Dira kepada tuyul itu,lalu tuyul itu pun berhenti.
"Dimana Arsen?"tanya nya.
"Dia ada didalam,"jawabnya singkat.
"Kau kembalilah terlebih dahulu,aku ingin menyusulnya,"ucap Dira,namun tuyul tersebut mengelengkan kepalanya mengatakan bahwa jangan.
"Kenapa?"tanya Dira,tetapi tuyul tersebut menarik paksa Dira berjalan hingga ke tempat Vivi berserta lainnya menunggu.
"Diraa,kamu tidak apa-apa kan?"tanya Vivi.
"Vi,aku ingin menyusul Arsen di dalam sana."
"Jangan keadaan mu saat ini tidak memungkin kan Dir."
"Tapi Vi aku sangat mengkhawatirkan dia,aku harus kesana sekarang juga."
"Tunggu,biar aku saja yang menyusul Arsen kesana,"ucap Riko yang tiba-tiba datang dari belakang mereka.
"Kamu kenapa lama sekali perginya?"tanya Rika.
"Lawan ku kali ini cukup kuat, jadi aku sedikit kesusahan,"jelas Riko.
"Oh baiklah, cepat kamu susul Arsen sana dan bawa dia kembali dengan selamat,"perintah Rika.
"Siap bosku,"ucap Riko lalu pergi meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Riko,Dira mengistirahatkan dirinya di bawah pohon,ia sangat lega karena sudah berhasil keluar dari rumah yang mengerikan itu.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa kan?"tanya Vivi lagi.
"Iya aku benar-benar tidak apa-apa kok,cuman aku sangat lapar dan haus saja."ucap Dira.Vivi tanpak berpikir sejenak dan akhirnya ia memiliki ide cermerlangnya.
__ADS_1
"Eh tuyul kamu bisakan membantuku?"tanya Vivi dan tuyul itu mengaguk patuh.
"Tolong kamu ambilkan makanan minuman ya dan bawa kesini secepat mungkin,"perintah Vivi dan tuyul itu langsung menghilang dari padangannya.
"Kamu kenapa menyuruhnya Vi?"
"Aku hanya ingin minta sedikit pertolangan kok Dir,dari pada ia mencuri uang kan mendingan menyuruhnya ambilkan makanan dan minuman untuk kamu,"jelas Vivi.
"Terserah kamu saja,aku ingin istirahat sebentar aku sangat lelah,"ucap Dira lalu berbaring di tumpukan dedaunan lalu bersandar di pohon.
"Prankkkkk,"suara pecahan yang berada di dalam rumah tua itu.Seseorang yang sedang membanting barang-barang yang berada di rumah tua itu,siapa lagi kalau bukan Dianto pamannya Arsen,ia sangat marah karena Dira kabur dari tawanannya.
"Kenapa? kamu marah?"tanya Arsen menatap pamannya itu.
"Tidak,"ucapnya berusaha tenang di depan Arsen.
"Paman kamu memang harus melepaskannya,karena dia tidak mempunyai urusannya lagi denganmu.Yang seharusnya paman urus adalah ini,"ucapnya menatap kuntilanak yang sedang menyamar sebagai VIvi itu.Kuntilanak itu hanya diam saja dari awal ia binggung mau melakukan apa,karena ia takut ketahuan juga.
"Baiklah kemarikan dia."
"Kamu harus mengikutinya sekarang dan kamu harus cari cara keluar dengan sendiri.karena aku juga tidak bisa membantu mu lagi,"bisik Arsen dan kuntilanak itu melotot tajam ke arah Arsen,ia tidak menyangka Arsen bermain curang dengannya.
"Oh ayo lah,kau itukan hantu bisa lenyap kapan saja yang kamu mau,jangan marah seperti itu,dan sebelum itu kamu harus kasih obat tidur yang aku berikan itu kepadamu jangan melupakannya,"bisik Arsen lagi dan akhirnya seketika ia merasa lega mendengar perkataan Arsen barusan.
"Kemarilah sayang,"ucap paman Arsen lalu memegang tangan kuntilanak itu.
"Arsen,"panggil seseorang dari belakang.
"Riko,ada apa?"
"Kita sebaiknya cepat pulang,"perintah Riko.
"Baiklah,"Arsen kemudian melangkah hendak keluar,namun tiba-tiba saja berhenti lalu berbalik.
"Dan kau urusan kita belum selesai,"ucapnya pada ayah tirinya Arsen.Dengan tersenyum devilnya itu menatap ayahnya itu yang sedang menahan amarah kepadanya.
"Hahah,akan aku tunggu kedatangan mu lagi,"sahutnya dalam keadaan yang cukup mengenaskan.
"Pak,apa bapak tidak apa-apa?"tanya Vivi dan Arsen hanya menganguk.Dira yang mendengar suara itu langsung bangun dan melihat ke arah suara itu.
"Arsen kau tidak apa-apa?"tanya Dira.
"Aku tidak apa-apa?"balasnya.
__ADS_1
"Oh syukurlah,"ucap Dira.
"Bagaimana keadaanmu?"tanya Arsen sambil mengelus bibir Dira yang sedang terluka itu dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa,"ucapnya.
"Ayo kita pergi dari sini,Dira naiklah keatas punggung ku,"perintah Arsen.
"Tapi aku sangat berat."
"Aku tidak akan mati hanya mengendong tubuh cebol mu itu Dira."
"Kau meledek ku?"
"Oh ayolah,sebaiknya kita cepat pulang atau mereka akan menangkap kita lagi,"ucap Riko menyela pembicaraan mereka.
"Cepat naik?"perintah Arsen yang sudah berjongkok dan Dira pun akhirnya menurut saja.
"Apa aku berat ?"tanya Dira.
"Sudah ku bilang,badan mu itu cebol jadi tidak ada rasa berat sama sekali,lain kali kalau makan,makan yang banyak,"ucap Arsen mengejek Dira dan Dira hanya mengerucut bibirnya cemberut.
Setelah sekian jam mereka menyusuri hutan belantara itu mereka akhirnya memilih untuk istirahat karena mereka cukup kasian dengan Arsen yang sudah ngos-ngosan mengendong Dira.
"Katanya aku tidak berat sama sekali,tapi kenapa seperti anak anjing yang sedang kehausan habis berlari saja,"ledek Dira.
"Ku akui badan mu yang cebol itu memang sangat berat,sebaiknya kamu diet saja,"ucap Arsen terengah-engah.
"Ciiihhh badan ku bukan sangat berat,tapi ideal kau jangan seenaknya berbicara seperti itu,"kesal Dira.
"Kalian berdua ini,selalu berdebat saja.Hati-hati entar jodoh bagaimana?"sindir Vivi.
"Amit,"ucap Dira dan Arsen serempak.
"Tuh kan serempak,"ucap Vivi,sedangkan Rika dan Riko mereka menikmati dunia mereka berdua saja ,dari pada pusing melihat dan mendengar dua manusia yang tidak bisa habis-habisnya berkalahi itu,mereka berdua memilih untuk bermesraan layaknya mereka semasa hidup dulu.
"Aku merasa seperti obat nyamuk saja disini,"batin Vivi,ia tidak mungkin gabung dengan para segerombolan hantu itu yang sedang asik dengan dunia mereka sendiri juga.
"Srrrkkkk,srkkkkkk,"suara dedaunan yang seperti terkena injak seseorang saja.
"Vi itu suara apa?"tanya Dira.
"Aku juga tidak tau,"cicit Vivi yang sudah ketakutan.
__ADS_1
"Ar kamu mendengar suara itu?"tanya Dira.
"Iya aku mendengarnya,"balas Arsen.