
Paviliun Aldebaran dibangun dengan konstruksi bangunan yang megah dan desain interior dan
eksterior yang mewah. Paviliun ini memiliki reputasi yang bagus di Kota Yogyakarta.
Alasan mengapa paviliun ini begitu terkenal adalah karena paviliun ini digunakan khusus untuk
kelompok konsumen kelas atas dengan kualitas layanan seperti hotel bintang lima. Tempat ini
memang sesuai dengan latar belakang geng serigala hitam yang sering dibicarakan.
Saat mendekati paviliun, Dias memandang dua pria besar berpakaian hitam yang berdiri tegap di
pintu. Masing-masing memiliki mata yang tegas dan tatapan yang dingin, tatapan mata itu tidak
sama dengan anggota gangster biasa.
"Tampakrnya geng serigala hitam benar-benar memiliki kekuasaan. Anjing gila yang memungut
biaya keamanan di kampus sebenarnya hanyalah anggota yang tidak penting
Dias diam-diam berkata kemudian menghentikan sepedanya tepat di pintu masuk Paviliun
Aldebaran. Dias tururn dari sepedanya kemudian berkata kepada Retno, ¢Bu Retno, paviliun ini
pasti berbahaya. Anda tidak perlu ikut saya ke dalam. Jika ada hal buruk yang terjadi, bagaimana
kita berdua bisa selamat di dalam? Jadi saya pikir lebih baik Anda menunggu di luar. Saya akan
masuk sendiri dan berbicara dengan mereka
Retno awalnya tidak bisa meninggalkan Dias menghadapi gangster itu sendirian. Retno
tersenyum pahit, bagaimana jika mereka tidak mau menjelaskan alasan Dias?
Tapi kemudian Retno berubah pikiran dan merasa Dias benar. Dia tetap di luar, jika sesuatu
benar-benar terjadi, Retno bisa memanggil polisi untuk menyelamatkan Dias. Tetapi jka
keduanya terjebak, mereka tidak akan bisa melarikan diri.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Jika kamu tidak keluar selama setengah jam, aku akan
memanggil polisi: Retno mengangguk dan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Jangan khawatir, Bu Retno, saya hanya akan meminta maaf kepada mereka, dan memberi tahu
mereka dengan baik Mereka seharusnya tidak mempermalukan saya:
Dias tampak percaya diri, kemudian dia berjalan menuju Paviliun Aldebaran dengan kepala
terangkat tinggi.
Tapi saat Dias berbalik, ekspresi baiknya berubah. Hanya ada jejak dingin yang muncul drastis di
matanva.
Lelucon macam apa ini, geng di Kota Yogyakarta ingin membuat Tuhan yang ditakuti meminta
maaf kepada mereka. Apakah ini mungkin?
Mengenai apa yang dikatakan Dias, dia harus berbicara dengan baik, tentu saja, tetapi dia selalu
Suka mengalahkan orang lain terlebih dahulu dan kemudian berbicara dengan baik.
"Dias, hati-hati!"
Melihat punggung tinggi Dias, Retno mengejar ke depan dua langkah sebelum berteriak lalu
berhenti.
Saat ini, Retno merasa bahwa meskipun Dias adalah mahasiswa yang miskin, dia memiliki rasa
keadilan yang tinggi dan menghadapi bahaya sendirian. Sikap Dias membuat Retno merasa
kagum sekaligus tertekan.
Tiba-tiba, Retno merasa ujung hidungnya sedikit sakit dan dia hanya bisa berdoa dalam hati,
__ADS_1
"Dias, semoga tidak terjadi apa-apa terhadapmu. Jika tidak, sebagai seorang dosen aku tidak akan
pernah merasa tenang dalam hidup ini.
Di bawah perhatian berderet pria kulit hitam, Dias berjalan nenuju Paviliun Aldebaran tanpa
ditemani siapa pun dengan ekspresi tenang, seolah-olah dia tidak melihat orang-orang ini sama
sekali.
Orang-orang besar berbaju hitam ini telah lama memperhatikan Dias. Mereka melihatnya
mengendarai sepeda rusak, tetapi membawa seorang wanita cantik yang menawan. Mereka iri
dan cemburu, saat ini mereka benar-benar ingin mengalahkan Dias.
Melihat Dias mengabaikan mereka saat ini, membuat mereka semakin tidak senang.
Jika Paviliun Aldebaran tidak membebaskan membuka pintu untuk menyambut tamu, mereka
sudah dari tadi mengalahkan Dias. Tetapi meskipun mereka terikat peraturan, bukan berarti
mereka tidak bisa mengalahkan Dias
Tidak berapa lama, dua orang berpakaian hitam berjalan cepat menuju Dias. Para pria itu
mengelilingi Dias, menjauh darinya, menatapnya dengan tatapan bengis seolah-olah ada roh
jahat yang akan memakan Dias di dalam tubuh mereka.
Dias mencibir dengan jijik tapi dia tidak takut sama sekali. Dias telah mengalami saat-saat antara
hidup dan mati yang tak terhitung jumlahnya. Dia juga telah bertemu seorang ahli yang paling
tidak tertandingi di dunia ini. Beberapa bajingan di depannya ingin menakut-nakuti dan
menghalangi jalannya, itu hanya hal remeh bagi Dias.
Kini, Dias mulai melepaskan auranya yang sebenarnya. Aura pembunuh berdarah dingin yang
Pria berpakaian hitam yang masih sombong barusan tiba-tiba mengubah raut wajah dan tanpa
DOWNLOAD
sadar mundur beberapa langkah karena ketakutan. Ketika Dias memasuki Paviliun Aldebaran,
mereka tidak bisa bertindak selain berkeringat
Dias memasuki ruangan paviliun khusus, kemudian ada seorang wanita berpakaian pelayan
namun terlihat sangat seksi datang ke arahnya. Ketika wanita itu melihat Dias yang berpakalan
blasa saja, tatapan wanita itu terlihat meremehkan tapi dia langsung menyunggingkan senyuman
seperti biasanya, "Apa yang Anda butuhkan? Jika Anda ingin menggunakan kamar mandi, maaf
kami tidak menyediakannya di sini
"Panggil Wiro Suryo untuk datang menemui saya Dlas langsung megucapkan satu kalimat dan
mengabaikan Nona Sekara yang tercengang
Dias kemudian duduk dengan percaya diri di atas kursi di aula. Dia mengangkat satu kakinya
yang ditumpu dengan kaki lainnya, kemudian mengeluarkan sebatang rokok lalu langsung
menghisap rokok dengan tenang.
Melihat itu, Nona Sekar mengerutkan kening kemudian melangkah mendekai Dias sambil
berkata, "Tuan ini, Anda yakin ingin bertemu dengan Tuan Wiro? Jika Anda ingin bertemu
dengannya, Anda perlu membuat jani. Selain itu. jika Anda ingin membuat masalah, saya dengan
ramah mengingatkan Anda. Kemarin, ada pelanggan mabuk yang membuat masalah dengarn Tuan
Wiro dan pemabuk itu sekarang masuk rumah sakit. Kata dokter bahkan dia butuh tiga bulan
__ADS_1
untuk bangun dari tempat tidur.
Dias tersenyum ketika mendengar ancaman dari wanita itu. Dia masih merokok dengan tenang
sambil mengeluarkan asap berbentuk cincin," Katakan pada Wiro Suryo, saya dari Universitas
Gajah Mada. Dias, saya datang kepadanya secara khusus.
* Hei, kau hanya seorang mahasiswa."
Nona Sekar mengipasi asap di udara dengan jijik. Dia kemudian berbalik memutar badannya
dengan kesal lalu pergi.
Setelah beberapa saat, keluar seorang pria paruh baya berwajah kurus dengan hidung bengkok
memakai setelan biru tua berjalan mendekat.
Dia melirik ke arah Dias, yang sedang duduk diam di atas kursi, dengan ekspresi tidak senang di
wajahnya, "Apakah kau mahasiswa yang memukuli anjing gila? Haha, aku tidak tahu apakah dia
bisa duduk diam setelah memasuki Paviliun Aldebaran. Kamu masih mengatakan kamu jugoan?
Dlas mengabaikan kata-kata prla tua itu lalu bertanya, " Apakah kau Wiro Suryo?"
"Kau ingin bertemu Tuan Wiro? Apa kau pikir dirimu memenuhi syarat? Berikan aku uang, lalu
kau ikuti aku ke atas untuk berlutut dan minta maaf pada anjing gila yang telah kau pukuli. Baru
setelah itu kau bisa keluar ..."
Plak
Sebelum pria itu selesal berbicara, Dlas menampar lawan dengan keras dan cepat seperti kilat.
Pria dengan hidung bengkok itu hanya merasakan dunia berputar. Pipinya langsung berubah
merah dan bengkak, darah mengucur dari muutnya karena dua giginya copot.
Saat Dias sedang menampar pria itu, terdengar banyak langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
Para penjaga keamanan di Paviliun Aldebaran berkumpul di sekelillngnya. Kini ada lebih dari 30
orang yang mengepung Dias.
Dias bergeming, lalu dengan santai berkata, "Kesempatan terakhir, biarkan Wiro Suryo datang
menemuku;
"Cepat bunuh dia!" Penjaga keamanan Pavilitun Aldebaran itu semuanya merupakan anggota Geng
Serigala Hitam. Mereka sudah lama tidak melihat orang sombong seperti Dias di Pavilitun
Aldebaran, karena itu mereka semua semakin geram.
Melihat penjaga keamanan itu bergegas menuju Dias yang duduk di atas kursi, pria dengan
hidung berngkok yang sedang dipapah oleh Nona Sekar itu berterlak, Hentikan"
Semua penjaga keamanan itu berhenti dan melihat pria dengan hidung bengkok itu..
Mata pria hidung bengkok itu kini sedang menatap Dias dengan tatapan ketakutan. Saat Dias
menamparnya, pria itu langsung merasakarn aura pembunuh yang kuat di diri Dias.
Bukannya pria itu tidak pernah membunuh siapapun, pria itu juga pernah bertemu dan melihat
seorang pembunuh profesional. Tapi tidak ada pembunuh manapun yang pernah dia temui yang
memiliki aura pembunuh sekuat Dias. Aura kuat Dias seolah-olah seperti baru saja berjalan
keluar dari lautan darah.
"Cepatlah dan blarkan Tuan Wiro datang
Pria hidung bengkok itu gemetar sambil berkata kepada Nona Sekar yang ada di sampingna.
__ADS_1