Pria Biasa Pemikat Hati Wanita Cantik

Pria Biasa Pemikat Hati Wanita Cantik
Bab 15 Bukan Lawan Sepadan


__ADS_3

"Apa? Membiarkan Tuan Wiro datang menemuinya?


Nona Sekar mengulangi perintah dari pria bengkok itu, dia tidak bisa mempercayai telinganya.


Dia kira telinganya yang salah dengar.


Pria dengan hidung bengkok itu semakin cemas lalu berteriak, "Kau panggil Wiro sekarang.


cepatlah!"


"Ya, ya. Nona Sekar menjawab sambil tergagap karena ketakutan. Dia melirik Dias sebentar lalu


berlari ke lantai atas. Sepatu hak tingginya terdengar saling bersautan menggema di aula paviliun


yang kini sunyi.


Di bawah tatapan tajam lebih dari tiga puluh penjaga keamanan, Dias masih bersikap sangat


tenang sambil tetap duduk menghisap rokoknya sendiri. Dia menghembuskan asap dengan pola


yang berbeda-beda sambil menunggu Wiro Suryo datang.


Tidak lama kemudian, sekelompok besar orang berlari menuruni tangga. Ada sekitar lima puluh


orang yang ikut bergabung dengan kerumunan penjaga yang lebih awal mengelilingi Dias.


Segera setelah itu, suara lift yang terbuka terdengar. Kemudian sebuah suara penuh amarah


berteriak, "Sialan, siapa yang berani menggangguku. Aku harus melemparkannya ke laut untuk


jadi makanan hiu. Orang-orang harus tahu diri jika ingin berurusan dengan Serigala Hitam dari


Kabupaten Bantul:


Seorang pria paruh baya berbadan gemuk dengan memakai setelan hitam dan kalung emas besar


tergantung di lehernya datang. Kerumunan puluhan orang berjas hitam itu penuh dengan aura


membunuh, sedangkan orang yang baru keluar dari lift itu jelas terlihat sebagai ketuanya.


Namun di mata Dias, suasana ini hanya seperti angin kentut baginya. Aura dan tatapan


membunuh orang-orang di sini sama sekali tidak mempengaruhi Dias.


"Apakah kamu Wiro Suryo?"


Dias yang masih duduk di atas kursi, mengangkat kepalanya dan memandang pria gemuk itu


dengan sangat tenang.


"Wah, kau berani masuk ke Paviliun Aldebaran dan memukuli geng Serigala Hitamku. Kau


sekarang menjadi begitu sombong. Apa kau tidak tahu bagaimana menulis kata-kata kematian?"


Wiro Suryo mencibir, wajahnya penuh amarah, "Kalau begitu, aku akarn mengajarimu cara


menulis kata 'kematian' Cepat, ikat dia dan lempar dia ke laut malam ini untuk memberi makan


hiu Atas perintah Wiro Suryo, anggota Geng Serigala Hitam beramai-ramai menyerang Dias.


Tapi di adegan berikutnya, anggota geng Serigala Hitam benar-benar tercengang. Dias masih


santai duduk di atas kursi sambil menghisap rokok di mulutnya. Dia bahkan tidak menggerakkan


bokongnya sama sekal.


Tapi satu persatu orang yang menyerang ke arahnya, Dias langsung menghajarn mereka semua


hanya dengan satu kaki. Gerakan satu kaki Dias sangat cepat dan tidak terlihat seperti angin. Dia


menendang semua orang yang mendekat ke arahnya, lalu sepersekian detik kemudian beberapa


orang sudah jatuh ke tanah.


Lebih dari selusin orang sudah berbaring tidak berdaya di atas tanah dalam sekejap, sedangkan


anggota Geng Serigala Hitam lain yang belum menyerang langsung berhenti. Mereka semua


sangat tercengang dan tidak berani mendekat lagi. Mereka langsung merasakan hawa dingin di


sekujur tubuh mereka.


"Wiro Suryo, apakah kau menjamu tamu seperti ini?" Dias mencibir sambil mengibaskan abu

__ADS_1


rokoknya. Sorot matanya penuh jik meremehkan Wiro Suryo yang semakin marah.


"Kau benar-benar cari mati!"


Wiro Suryo melihat bahwa Dias tidak bisa dianggap remeh, dia benar-benar seorang master. Dla


berteriak dengan geram dan ekspresi mengerikan terlihat di wajahnya. Wiro meraih sesuatu di


pinggangnya kemudian mengeluarkan sebuah benda besi. Pistol.


Wiro Suryo menduga, mau sekuat apapun anak kecil di depannya ini, dia pasti tidak bisa


menghentikan sebuah peluru panas yang berkecepatan tinggi ini.


Saat Wiro Suryo hendak menarik pelatuknya, seorang pria dengan rambut abu-abu karena sudah


banyak beruban darn memiliki wajah khas pria Jawa memegang tangan Wiro Suryo kemudian


berkata dengan suara yang dalam, "Wiro Suryo, berhenti:


"Tuan Jarot Wiro Suryo kembali menatap pria beruban itu sambil berkerut. Wiro menurunkan


alisnya lalu perlahan melepaskan pistolnya.


Menghadapi pria yang bernama Jarot ini, Wiro Suryo tidak berani untuk tidak menghormatinya


karena kedudukan Jarot di Geng Serigala Hitam adalah yang kedua setelah bos. Bahkan untuk


beberapa alasan khusus, Jarot lebih unggul dibandingkan bos.


Jarot berjalan beberapa langkah ke depan sambil menatap tajam ke arah Dias setajam mata elang.


Jarot meletakkan tangannya ke dalam saku celananya lalu berkata, "Aku adalah teman bicara


Wiro Suryo, Jarot Gumelar. Kau siapa, adik kecil?"


Dias melihat pria itu dari atas hingga ke bawah, kemudian dia tersenyum lalu berkata, "Aku ingin


bertanya dengan Wiro Suryo, bukan kau"


DOWNLOAD


"Adik laki-lakiku itu terlalu besar bagimu. Apa kau tidak tahu sebenarnya ada gunung di dalam


GET


"Adik laki-lakiku itu terlalu besar bagimu. Apa kau tidak tahu sebenarnya ada gunung di dalam


pegunungan dan ada orang yang lebih kuat di dunia ini?


Ekspresi wajah Jarot berubah, sendi dan tulang di tubuhnya meledak seolah-olah dia


mengeluarkan aura yang dia sembunyikan di balik tubuhnya. Jarot mendekati Dias dengan energi


kuat yang tak terlihat yang juga menyelimuti seluruh ruangan ini.


Melihat Dias yang masih duduk di atas kursi, Jarot sangat marah lalu bergegas melangkah


menuju Dias. Jarot memutuskan untuk mengajari pemuda yang tidak tahu diri ini.


Tanpa bicara lagi Jarot langsung melesatkan pukulan mautnya memecah udara, terdengar suara


berderak di penjuru ruangan. Kecepatan pukulan tangan itu memnbuat anggota Geng Serigala


Hitam di sekitarnya ketakutan.


Melihat gerakan Jarot, Dias tersenyum di sudut mulutnya. Dengan tenang, Dias memindahkan


puntung rokoknya ke sudut kanan mulutnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya


mengepal ke arah lawan tanpa terburu-buru.


Bang! Boom!


Terdengar suara keras seperti guntur atau seolah ada dua mobil bertabrakan.


Detik berikutnya, Jarot hanya bisa menunjukkan ekspresi ngeri dan langsung merasakan


kekuatan besar datang dari tinju Dias. Jarot hilang kendali atas seluruh tubuhnya, dia langsung


terbang ke arah geng Serigala Hitam di belakangnya, kemudian menabrak meja kayu yang


langsung patah dan berhenti setelah menabrak meja marme.

__ADS_1


Untuk sesaat, seluruh oran yang ada di aula Paviliun Aldebaran terdiam seribu bahasa. Melihat


kemampuan Dias, sebuah pertanyaan mnuncul di benak semua orang, apakah orang ini manusia?


"Tuan Jarot!"


Wiro Suryo adalah orang pertama yang bereaksi, lalu buru-buru berlari untuk membantu Jarot


yang langsung lemas.


Wiro Suryo tahu kehebatan Jarot yang telah banyak mnembantu melancarkan aksi banyak pihak,


jadi Wiro mengundang Jarot untuk bertugas di Geng Serigala Hitam, tetapi seseorang sehebat


Jarot saja bahkan tidak bisa berkutik lagi di depan Dias.


"Uhuk.."


Jarot batuk darah lalu dia mencoba berdiri terhuyung-huyung. Jarot memandang Dias dengan


serius kemudian berkata dengan suara yang dalam, "Siapa kamu?"


Dias menekan puntung rokoknya di atas meja lalu mengangkat kepalanya, "Melihat postur


tubuhmu, kau pasti keturunan langsung dari keluarga Gumelar di Semarang Aku ingat ada


seorang kenalan yang bernama Gatot di keluarga Gumelar. Apa hubungannya denganmu?


Jarot menghela nafas lega begitu tahu ada sebuah hubungan di antara mereka, "Benar-benar


sebuah kebetulan. Gatot Gumelar adalah kakekku. Adik kecil, sesuai dengan usiamu, jadi mari


kita memperlakukan satu sama lain sebagai paman dan keponakan:


"Sial; Dias terlihat tidak senang, "Aku memanggil Gatot Gumelar kakak laki-laki. Jika kau adalah


cucunya, maka kau juga harus memanggilku Kakek Dias


Jarot menatap Dias dengan kesal dan ingin mengatakan bahwa Dias telah mempermainkannya.


Tapi kemudian Jarot berpikir, Dias bahkan lebih kuat dari kakeknya, sangat mungkin bagi mereka


untuk berbicara selayaknya teman. Terlebih lagi, orang-orang di Jawa sangat menghormati para


guru mereka. Mungkin nenek moyang Dias punya kedudukan tinggi, jadi meskipun dia masih


muda tapi keturunannya berstatus tinggi.


Tapi tetap saja, Jarot tidak benar-benar memanggil Dias kakek. Jarot kemudian berbalik lalu


berbisik kepada Wiro Suryo, "ini sangat tidak terduga, kita tidak menyelidiki secara menyeluruh


sebelumnya tentang anak ini. Pastikan untuk tidak berbuat sesuatu yang menyinggungnya,


berusahalah untuk membuatnya tenang


Wiro Suryo langsung pucat, lalu mengangguk dan menyetujui perkataan Jarot. "Ya, Tuan Jarot."


"Aku akan naik ke atas untuk menyembuhkan lukaku. Setelah aku merawatnya, aku akan datang


menemuimu Jarot berbicara kepada Dias lalu berjalan menuju tangga.


Melihat punggung arot, Dias mencibir, "Haha, kau tidak bisa memanggilku kakek, kan. Jika kau


benar-benar keturunan asli Gatot Gumelar, kau setidaknya sudah bisa mematahkan satu lengan.


Sekarang kau pergilah, lain kali saja kita bertemu. Selamat tinggal, salam untuk Gatot Gumelar:


Jarot berhenti, tapi bagaimana pun juga dia tidak bisa memalukan dirinya lagi. Dia lanjut


melangkah ke atas.


Wiro Suryo tidak menyangka akan berada dalam situasi buruk seperti itu. Dia menunjukkan


senyum terpaksa lalu berkata, "Tuan Dias, maaf. Semuanya hanyalah salah paham.


"Salah paham? Bukankah kamu baru saja mengatakn ingin melemparku ke laut? Dimakan hiu?"


Kata Dias dingin.


Wiro Suryo seakan tercekik keras tidak bisa bicara. Dia dengan cepat membubarkan bawahannya


yang masih mengelilingi Dias. Wiro kemudian berdiri di samping Dias dan menundukkan

__ADS_1


kepalanya sambil berkata, "Tuan Dias, saya memang tidak tahu. Tapi sebagai permintaan maaf,


tolong sebutkan keperluan Anda saat ini. Saya pasti akan memenuhinya."


__ADS_2