Pria Biasa Pemikat Hati Wanita Cantik

Pria Biasa Pemikat Hati Wanita Cantik
Bab 66 Interogasi Polisi


__ADS_3

"Ambergris, tanduk gunung, Iumut darah .. Melihat kertas keriput dengan nama bahan obat di


tangannya, Ginanjar merasa sangat bingung. Dia sama sekali tidak tahu bahan obat tersebut.


Hendra memintanya untuk menemukannya. Kemana dia akan pergt?


Setelah keluar dari ruangan itu, Ginanjar baru bisa menunjukkan wajah aslinya yang sangat


bingung, Ginanjar tidak mengatakan sesuatu yang membuatnya malu. Jika tidak, citra dirinya


akan benar-benar rusak.


Dan bagaimana menemukan bahan obat yang tidak diketahui ini, dia hanya memikirkan satu


orang, tuannya Joko Tantular.


Melihat tidak ada yang memperhatikan,Ginanjar diam-diam keluar dari lingkungan dan pergi


menelepon gurunya di Kanada.


Hendra mengatur agar Ginanjar menemukan bahan obat, dan langkah selanjutnya adalah


menemukan Dias, dan sekarang dia ingin menyelamatkan Sugiono, Dias adalah kuncinya.


"Alisa, dimana Dias? Hendra menatap Alisa dan bertanya, nadanya imenjadi lebih lembut.


Karena situasinya saat ini mendesak, Alisa tidak punya waktu untuk berdebat


t dengan


keluarganya. Dia hanya menjawab, "Dia seharusnya bersama Rfki.mungkin ada di kantor polis


sekarang. Aku hanya tidak tahu lokasi spesifiknya. Anda bisa menelepon untuk bertanya pada


Rifki Ketika Hendra mendapat jawaban ini. Hendra berjalan keluar dari bangsal dan berteriak di


koridor, "Bonar"


Seorang pria berseragam polisi keluar dari kerumunan. Pria ini memiliki wajah dengan karakter


khas orang Batak, alis tebal dan mata besar. Sosok ini bernama Bonar, direktur Biro Keamanan


Umum Yogyakarta.


Bonar berasal dari faksi keluarga Sugiono dan juga anak didik Sugiono. Setiap Sugiono dalam


bahaya, dia telah siap menjaga di koridor.


Melihat Bonar, Hendra mengatur untuk berkata, "APakah kamu bisa menghubungi Rifki di biro


keamananmu dan bertanya kepada Rifki apakah Tuan Dias ada bersamanya"


Sekarang ketika dia ada maunya kepada Dias, perangai Hendra telah berubah. "Saya harus


mengatakan bahwa orang ini terlalu sombong, dan perilakunya sangat menjjkan, membuatku


merasa mual: Alisa hanya membatin.


"Iva


Bonar mengangguk kemudian dia membuat panggilan telepon. Setelah menutup telepon, dia


mengerutkan kening lalu berkata, "Pak Walikota, kasus serius telah terjadi di tambang yang


ditinggalkan di Gunung Kidul. Baru saja Rifki memimpin seseorang dan lupa ponselnya di sana.


Dia me


mencurigai Tuan Dias telah melakukan pembunuhan, dia membawa Tuan Dias kembali ke


kantor untuk diinterogasi.


" Apa, dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi? Ini gawat. Ayo pergi, ayo kita segera menemui

__ADS_1


dia." Hendra berkata dengan cemas dan berjalan menuju lift.


Setelah hanya dua langkah, dia kembali nenatap Alisa lalu berkata dengan suara yang dalam,


"Alisa, ikut denganku


Hendra tahu bahwa dari karakter yang diperlihatkan Dias kemarin, dia adalah tipe orang yang


mau mendengarkan kata-kata lembut tapi tidak keras. Kemarin, semua keluarga Sugiono


menghina Dias dan bahkan ingin melukai Dias. Dapat dikatakan bahwa mereka sangat


menyinggung dokter ajaib ini. Bahkan meski Hendra adalah walikota, dia mungkin tidak bisa


membujuk Dias untuk keluar sekarang, jadi satu-satunya cara adalah dengan meminta bantuan


Alisa.


Alisa tahu masalah itu penting. jadi dia mengangguk lalu ikut masuk ke lift bersama Hendra dan


Bonar.


Dlas dibawa ke kantor polisi. Dia tidak melakukan perlawanan apapun selama seluruh proses,


malah dia tertidur di dalam mobil polisi. Ketika dia tiba di tempat tujuan, polisi memanggilnya.


Dias terbangun dari mimpinya sambil mengusap matanya, "Apakah kamu tidur?"


Polisi di dalam mobil yang bersamanya tidak bisa berkata-kata ketika melihat ini, dan anak itu


sama sekali gugup, Dicurigai melakukan pembunuhan, tapi anak ini masih bisa tidur nyenyak di


dalam mobil polisi. Apakah dia pikir dirinya di sini sebagai turis wisata?


Dias mengikuti langkah polisi masuk ke kantor polisi. Rifki menatapnya dengan mencibir dan


melambaikan tangannya, "Kirim dia ke ruang interogasi saya. Saya akan menginterogasinya


nanti, Saya pasti tidak akan memblarkan pembunuh ini melanggar hukum"


Dias tersenyum dengan ekspresi acuh tak acuh. Dia melihat ke kantor polisi sambil berkata


dengan jijik," Saya sudah lama tidak memnasuki kantor polisi. Saya tidak menyangka akan masuk


kali ini. Kantor ini sangat kecil dengan kualitas rendah.


Setelah mendengar penghinaan Dias yang ditujukan untuk kantor wilayahnya sendiri, ekspresi


Rifki menjadi dingin lalu membalas perkataannya, "Bawa dia. Jaga dia dulu, saya akan kembali lagi


nanti, dan saya harus membuatnya mengaku bersalah. Anak ini seolah punya sembilan nyawa


"Selama kasusnya terselesaikan, kami akan mlakukan pekerjaan dengan baik, lalu kami pasti


akan dipuji oleh dewan kota. Selain itu, semua orang akan memiliki kesempatan untuk


dipromosikan." Anak buah Rifki semua bersemangat dan berkata seperti itu dengan mata lick.


Mereka sama sekali tidak merasakan betapa buruknya sikap mereka. Benar-benar tidak tahu


malu.


Jadi wajar saja, tingkat deteksi kejahatan di kantor polisi mereka bergantung pada trik seperti ini.


Ini adalah pendekatan yang telah teruji oleh waktu. Sejauh ini, tdak ada yang mampu menahan


pukulan-pukulan mereka sehingga semua orang dipaksa mengakui kejahatan yang bahkan tidak


Imereka buat.


Setelah beberapa saat, Dias dibawa ke ruangan yang remang-remang. Seorang polisi kurus


menjepit tangannya di belakang punggung dan memborgolnya ke kursi besi.

__ADS_1


Selama seluruh proses, Dias hanya menyaksikan aksi pihak lain dengan senyuman, tidak


melakukan perlawanan apapun dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Polisi kurus itu bingung dengan tawanya hingga dia berpikir bahwa anak ini orang gila.


Bagaimana dia bisa tertawa saat dinterogasi seperti ini.


"Nak, kali ini aku biarkan kau tertawa, aku tidak akan membuatmu tertawa nanti:


Polisi kurus itu mengutuk dalam hati, kemudian duduk di hadapan Dias. Dia menyinari Dias


dengan senter secara tiba-tiba karena ingin membubarkan konsentrasi Dias. Tetapi Dias tidak


menghindar sama sekali, kelopak matanya bahkan tidak berkedut. Penglihatannya matanya tidak


terganggu oleh cahaya yang terang itu.


"Masih sangat kuno. Trik ini sudah sering dilakukan di banyak film action. Apakah tidak ada trik


baru?" Dias bersandar di kursinya sambil memandang polisi kurus dengan ekspresi main-main,


seolah-olah Dias adalah pihak yang menginterogasi saat ini, dan polisi kurus adalah tersangka.


"Kau benar-benar berani menertawakankıu? Tahukah kau konsekuensi dari orang yang


menertawakanku terakhir kali, aku membuat pingsan lelaki dewasa dan merontokkan delapan


giginya"


Polisi kurus itu menampar meja lalu berdiri geram. Dla mencabut tongkat dari pinggangnya lalu


mencibir sambil berkata, "Saya tidak perlu menulls catatan tentangmu untuk berurusan


denganmu. Meskipun aku menyakitimu, aku bisa dengan mudah mengatakan bahwa tubuhnya


memar karena dipukuli oleh anggota Geng Serigala Hitam


Setelah selesai berbicara, polisi kurus itu menepuk telapak tangannya dengan tongkat dan


berbalik ke arah Dias mendatangi tempat duduk Dias.


"Kamerad polisi, Anda sepertinya lupa mematikan peralatan video dan perekam" IDias tersenyum


dengan ekspresi jlik di wajahnya, lalu berkata, "Bahkan jika Anda ingin menyiksa orang untuk


memaksanya mengaku, Anda juga harus profesional, oke? Anda sekarang masih sangat amatir,


saya bahkan mengira Anda sedang meremehkan saya.


Polisi kurus itu tertegun. Kemudian ketika dia melihat peralatan perekam itu masih menyala, dia


mengutuk diri dan berkata; Sial, itu kesalahanku." Setelah itu, dia berjalan keluar dari ruang


interogasi, kemudian mematikan semua alat perekam dan lampu kamera pengawas juga mati.


Dias duduk di kursi dan melihat perangkat yang mati itu dengan seringai di sudut mulutnya.


Kemudian polisi kurus itu kemball ke ruang interogasi dengan seorang polisi gemuk di


belakangnya.


Polisi gemuk itu membanting pintu hingga tertutup. Dia melirik ke arah Dias dengan penuh


semangat lalu berkata sambil tersenyum, "Saya sudah lama tidak mengalami kecanduan tangan.


Anak ini mash muda dan seharusnya bisa bertarung sejenak."


"Anda jangan memukul terlalu keras. Jika Anda membunuhnya, Anda bisa terkena masalah,


karena nanti tidak ada yang akan melimpahkan kesalahan padanya lagi.


Polisi kurus itu mengingatkan sambil berjalan ke kaca transparan. Dla menutup tirai lalu tiba-

__ADS_1


tiba ruang interogasi tenggelam dalam kegelapan dengan hanya terdengar nafas yang dalam.


__ADS_2