
Melihat gadis berwajah bayi hampir berlari, Dias terdiam beberapa saat kemudian dia
memutuskan harus memperlambat jalannya. Dia tidak ingin menakut-nakuti orang lain.
Melihat rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja, gadis itu masih di jalan yang sama dengan
Dias
Yang membuat Dias semakin tidak menyangka adalah bahwa gadis itu berhenti di gerbang
rumahnya. Gadis itu mengeluarkan kunci lalu membuka pintu dengan tergesa-gesa. Tapi karena
rasa takutnya kepada Dias yang semakin dekat, dia menjadi berantakan. Gadis itu gagal
memasukkan kunci ke dalam lubang kunci.
Melihat ini, Dias sangat senang karena dia tiba-tiba menyadari, bahwa gadis di depannya adalah
penyewa yang belum pernah dia lihat sebelumnya, perawat bernama Nita.
Melihat Dlas berjalan ke gerbang rumah, Nita bersandar ke sudut dengan ketakutan. Dia
mengangkat kunci di tangannya sambil berkata, "Apa yang ingin Anda lakukan, mengapa Anda
mengikuti saya? Saya beri tahu kepada Anda bahwa ada polisi yang tinggal di rumah ini, dan saya
.... Tuan tanah saya tahu seni bela diri, dan jika dia keluar, Anda akan mati.
Tuan tanah tahu seni bela diri.
Mendengar ini, Dias melirik Nita dan tidak bisa menahan tawa. Gadis itu terkejut, tetapi dia tidak
dapat berbicara.
Dias tidak repot-repot
Cpot-repot henjelaskan. Dia hanya mengeluarkan kunci lalu memasukkannya ke
dalam lubang kunci dan membuka pintu dengan mudah. Mata Nita membelalak kaget.
"Kamu... bagaimana kamu mnemiliki kuncinya. Siapa kamu?
Nita langsung tertegun dan mnenganggap Dias sebagai orang mesum yang sudah lama
merencanakannya.
Dia gemetar ketakutan kemudian menjulurkan leher ke dalam rumah sambil berteriak di pintu,
"Mbak Ajeng. Mbak Alisa, ke sini, ada orang cabul" Tidak berapa lama, terdengar hentakan kaki
dari arah dalam rumah yang bergegas mendekat. Terlihat Alisa berlari keluar lebih dulu, dia
membawa sebuah pistol hitam di tangannya. Di belakangnya telihat Ajeng yang juga terlihat
sangat tegas membawa pisau dapur.
Mereka berdua keluar, melewati Dias lalu berjalan ke Nita sambil melihat ke luar, Nita, di mana
si cabul itu? Orang mesum itu akan aku tembak" Alisa bertanya kepada Nita sambil mengangkat
pistol dengan ekspresi galak.
Nita melihat bahwa dua penyelamat yang dia panggil langsung mengabaikan Dlas membuatnya
terkejut. Nita kemudian menunjuk ke Dias sambl berkata, "Orang mesum itu ada di sini, tidak
bisakah kamu melihatnya? Ajeng dan Alisa memandang Dias lalu mereka terdiamn beberapa saat.
Mereka akhirnya menyadari bahwa itu adalah kesalahpahaman.
"Nita, dia adalah Dias yang aku beritahukan padanu, yaitu pemilik rumah ini, tuan tanahmu
Ajeng memperkenalkan Dias kepada Nita.
__ADS_1
"Ah! Dia Dlas!"
Nita berseru, kemudian dia ingat bahwa dia berbicara omong kosong tentang keterampilan seni
bela diri tuan tanahnya. Nita merasa terlalu malu, dan yang ebih memalukan lagi, dia benar-
benar menganggap tuan tanahnya sebagai orang mesum.
Meskipun masih meragukan kesalahpahaman ini, Alisa jelas tidak mau membiarkan Dias begitu
saja. Alisa menodongkan pisaunya lagi lalu bicara dengan cepat, "Dias, apa yang kau lakukan?
Mengapa Nita begitu takut padamu?
"Dia tidak melakukan apa-apa, mbak. Saya sendirl yang terlalu penakut." Nita dengan cepat
menjelaskan sebelum Dias bisa berbicara.
Melihat Nita tidak menyalahkan Dias, Alisa tidak lagi menodongkan pistolnya kepada Dias. Alisa
mendengus lalu berbalik menuju halaman kemudian berjalan ke dalam rumah.
"Mari kita masuk dulu. Masakanku belum matang, sayur di panci nanti bisa gosong karena
kompornya belum kumatikan" Setelah Ajeng selesai berbicara, dia berbalik lalu memasuki rumah
meninggalkan Dlas dan Nita berdiri di pintu. Tinggal mereka berdua yang saling memandang
Nita tersenyum canggung, lalu berkata kepada Dias, "Maaf, saya tidak tahu Anda adalah tuan
tanah. Saya hanya salah paham"
"Tidak apa-apa Dias tidak mengambil hati. Dia ingin berbicara dengan Nita beberapa hal lagi
lagi tapi Nita tampaknya sedikit malu-malu. Nita diam-diam meliriknya, lalu berlari menuju
kamarnya.
Saat Nita berlari, sesuatu jatuh dari tasnya. Itu adalah sebuah majalah yang jatuh dari kantong
Dlas yang melihat majalah itu jatuh, langsung memnungut majalah itu. Karena terkena sorotan
lampu halaman, Dias bisa melihat bahwa sampul majalah menyajikan gambar wanita cantik dan
seksi yang memakai kamisol renda warna hitam. Tubuh indah wanita itu membungkuk, tangan
kirinya memegangi pinggulnya, jar-jari tangan kanannya di bibir, dan matanya dikedipkan
sebelah. Gaya wanita di sampul majalah itu terlihat sangat provokatif.
Tulisan judul di sampul majalah itu bahkan lebih provokatif.
"Apa kau tahu betapa bersemangatnya pria?"
"Tiga puluh enam teknik memberi isyarat untuk membuat pasanganmu terbang ke langit
Jika kau menggigit atau tidak, wanita itu yang memutuskan"
Dias terkejut saat mnelihat kata-kata ini. Dias melihat sampul majalah itu lagi, lalu semakin
terkejut karena maalah itu juga berisi gambar-gambar kehidupan pribadi pasangan yang
terkenal.
"Nita terlihat sangat Iugu, terlalu membosankan untuk membaca majalah semacam inl, tap...
hehe, aku sangat menyukainya"
Dias diam-diam tersenyum di dalam hatinya. Dia melangkah lalu memanggil Nita, "Nita,
majalahmu."
Melihat Dias memegang majalah di tangannya, Nita tersenyum pahit karena melihat majalah
__ADS_1
yang ada di tangan Dias adalah majalah yang jelas jatuh dari kantong kertasnya.
Nita melirik gambar wanita seksi di sampul majalah, pipinya memerah karena malu. Nita
menggigit bibirnya lalu berjalan ke Dias sambil berbicara dengan tergagap. "Majalah ini bukan
milikku ..
"Bukan milikımu?" Dias menatap Nita kemudian melirik sampul majalah lalu melirik Nita lagi.
Pipi Nita semakin merona karena malu. Nita takut jika Dias berpikir macam-macam kemudian
melambaikan tangannya sambil berkata, "Tidak, tidak, itu majalah saya, tapi bukan majalah saya
sendiri, dokter rumah sakit yang memberi saya
"Ada rumah sakit masih memiliki majalah semacam ini? Rumh sakit macam apa itu? "Dias
berpurapura terkejut.
Melihat kesalahpahaman Dias, Nita buru-buru berkata, "Aku bekerja di rumah sakit blasa. Jangan
menebak-nebak. Majalah ini diberikan kepada saya oleh direktur departemen kami. Dia berkata
bahwa kita bisa mempelajari psikologi pria dan wanita untuk menghindari pelecehan oleh pasien
pria. "
"Mempelajari psikologi pria dengan membaca majalah semacam ini?" Dlas mengernyitkan
dahinya kemudian berkata lagi, "Saya pikir direktur departemen Anda yang justru melecehkan
Anda
Nita mengerutkan kening lalu berkata dengan sedikit malu, "Saya tidak tahu. Saya melihat
sampulnya sedikit lalu saya hanya memasukkannya ke dalam tas. Saya belum membaca isinya.
Apa yang tertulis di situ?
Dias melihat ekspresi Nita yang gugup. jadi dia tidak menggodanya lagi. Dias berkata sambil
tersenyum, "Tulisarn di dalamnya berisi kehidupan pria dan wanita setelah menikah. Kamu
seorang perawat, apa kamu tidak mengerti hal seperti itu?"
"Hah? Apakah hal semacam itu?" Nita berseru sangat terkejut.
Nita melihat ke sampul majalah di tangan Dlas, lalu dia membaca teks tullsan di sampul itu yang
benar-benar ada hubungannya dengan ****. Tiba-tiba Nita mengangkat matanya kemudian dia
menunjuk ke teks di majalah dan bertanya kepada Dias, "Apa artinya tulisan ini?
"Gigit atau tidak, wanita yang memiliki keputusan akhir
Dlas mengikuti jari Nita yang mengarah pada tulisan itu lalu matanya menjadi cerla. Dlas berkata
kepada Nita, "Cobalah untuk membaca kata-kata itu secara terpisah"
"Katakar secara terpisah?. . Ah, inl sangat menjiikkan."
Nita akhirnya memahami isi majalah itu. Kini pipinya benar-benar merah, dia mengambil majalah
itu dari tangan Dias lalu melemparkannya ke tempat sampah dengan marah "Direktur itu benar-
benar besar kurang aja, dia mau membodohiku dengan memberiku majalah semacam ini."
Dias menatap Nita yang marah,kemudian berkata ramah untuk mengingatkan, Dia ingin
memberimu petunjuk, kamu harus berhati-hati dengannya nanti."
Terima kasih." Nita sangat berterima kasih kepada Dias karena jika Dias tidak nemberitahunya,
__ADS_1
dia akan dilecehkan secara seksual oleh Direktur Erwin sialan itu.
Saat ini, suara Ajeng datang dari restoran: "Dias, Alisa, Nita, cepat kemari dan makan malam"