Pria Biasa Pemikat Hati Wanita Cantik

Pria Biasa Pemikat Hati Wanita Cantik
Bab 31 Pembalasan


__ADS_3

Melihat Dias dan Retno tergeletak di atas meja, Andre mencibir sambil berdiri lalu berkata, "ldiot,


dia pikir aku akan benar-benar melepaskan Dias. Sekarang kalian berdua telah meminum obat


dalam anggur merah dan nasib kalian berdua kini ada di tanganku. Huh, Dias. Kau hanya orang


miskin berani-beraninya memukulku, aku tidak akan membiarkanmu mati begitu mudah. Kamu


harus dikurung dan disiksa perlahan-lahan.


Andre menatap Dias dengan dingin sambil menyentuh luka di dagunya.


Selama beberapa hari ini, Andre telah merencanakan bagaimana membalas Dias, tetapĂ­ tanpa


diduga Retno berinisiatif untuk menghubunginya. Retno memohon padanya untuk melepaskan


Dias


Wanita cantik dan menggoda seperti Retno telah lama dimasukkan dalam daftar target


perburuan oleh Andre, jadi Andre langsung berpura-pura setuju dengan ide Retno. Andre


memutuskan untuk mengambil kesempatan ini untuk menyingkirkan Dias dan membawa Retno


ke dalam pelukannya.


Melihat segala sesuatunya berjalan begitu lancar pada saat ini, hati Andre penuh dengan


kegembiraan.


Tentu saja, selanjutnya, dia akan melakukan sesuatu yang membuatnya lebih bersemangat.


Andre melirik Retno yang sedang berbaring telentang di kursi lalu menggosok tangannya. Andre


mengeluarkan kamera mini dV dari bawah meja makan lalu meletakkannya di bufet di


sebelahnya. Andre menyesuaikan sudutnya hingga sesuai dengan seluruh ruangan.


Setelah melakukan semua ini, Andre berjalan menuju Retno dengan ekspresi penuh nafsu, "Sial,


wanita ini terlalu mempesona. Setiap kali aku melihatnya, pikiranku penuh dengan ****. Aku


tidak bisa mendapatkanmu sebelumnya. Tapi kali ini kamu sendiri yang berinisiatif mengirimkan


dirimu sendiri kepadaku. Jangan salahkan aku karena melakukannya terlalu keras!


" Persetan, aku akan langsung melakukannya dt sini dulu, lalu aku akan membawanya ke kamar


untuk terus melakukannya! "Andre menjilat beberapa bibir keringnya sambil mulai melepaskan


sabuk dan celananya.


Setelah melepas celananya, Andre menatap Retno yang wajahnya memerah. Andre hanya bisa


mengutuk, "Sialan, wanita secantik ini hanya peduli pada Dias, anak itu benar-benar beruntung"


Andre mendengus dingin kemudian dia langsung bergegas menuju tubuh Retno.


Saat itu juga, tiba-tiba sebuah suara datang dari belakang. "Ayo, putar kepalamu lebih ke


belakang, bagus. Taruh wajahmu ke depan, tersenyum sedikit lebih cabul lagi, dan buka pahamu


sedikit lagi"


Andre bergidik ketika dia mendengar suara itu hingga nembuat 'miliknya' yang tadinya berdiri


tegak sekarang melunak.


Andre buru-buru melihat ke belakang dan dia terkejut karena melihat bahwa Dias sudah


memegang kamera dV di tangannya sambil mengambil gambar dirinya dengan serius.


"Kamu... kamu tidak pingsan?"


Kulit Andre berubah tiba-tiba, dia langsung melirik gelas kosong di sampingnya.


Dias mengabaikan pertanyaannya Andre, lalu dia lanjut memindahkan kamera dV di tangannya


ke bawah mengarah ke ************ Andre. Dlas berkata sambil tersenyum, "Aku sudah melihat


milikmu, tapi aku takut bahkan bayi yang baru lahir masih lebih bagus de

__ADS_1


"Persetan kau, cari mati!


Andre langsung marah lalu dia meraih piring di atas meja. Andre melenpar piring itu ke arah


kepala Dias.


daripada milikmu"


Kamera dV di tangan Dias terus menyoroti aksi Andre, tapi tangan satunya dengan mudah


menangkap piring yang dilempar Andre. Aksi Dias yang gesit itu terlihat seperti hantu. Dias


kemudian langsung mendekati Andre.


"Kamu... Jangan datang ke sini!"


Andre buru-buru mundur karena sangat takut, dia berteriak dan mundur ke arah pintu.


Dua pria besar berbaju hitam yang menjaga di pintu mendengar suara itu lalu buru-buru


mendorong pintu dan masuk ke dalam. Ketika mereka melihat tuan mereka tidak mengenakan


celana, mereka terkejut tapi kemudian mereka bergegas menuju Dias.


"Brengsek" Dias berteriak dengan dingin, lalu dengan kaki kanannya, Dias menendang dua pria


besar berbaju hitam itu hingga membuat mereka berdua menghantam meja makan.


"Cepat bangun dan pukul dia!"


Andre berteriak pada kedua pria itu, tetapi kedua pria itu tidak bereaksi karena langsung


pingsan.


Andre gemetar ketakutan sambil menatap Dias. Andre berbalik dengan cepat lalu berlari ke arah


pintu dengan terburu-buru. Dia tidak sempat memikirkan dirinya yang pergi tanpa imerngenakan


celananya.


Tapi kenudian Dias menghentikan Andre, Dias mendorong pintu dengan tumitnya lalu dengan


Tamparan itu menimbulkan suara yang tajam. Andre berbalik sambil terhuyung kemudian dia


berdiri diam. Tiba-tiba Andre muntah darah, dan gigi palsu yang baru saja dia tanam rontok


seketika.


Andre menyentuh pipinya yang panas lalu dia menunjuk ke arah Dias, "Kamu berani memukulku,


tahukah kamu siapa ayahku?"


"Apakah dia Prabowo?"


Dias berkata mencibir sembari punggung tangannya menampar wajah Andre lagi dengan keras.


Membuat wajah Andre seakan terbang langsung ke Venus.


"Kamu pasti akan mati, ayahku pasti tidak akan melepaskanmu!"


Andre, sebagai anak dari pemimpin Geng Serigala Hitam, tidak pernah dimarahi oleh siapa pun


apalagi dipukuli. Tetapi sekarang, dia dipukuli oleh Dias terus menerus. Andre benar-benar tidak


tahan ingin segera membunuh Dias.


"Aku akan memberimu pelajaran, ayahku pasti tidak akan membiarkanmnu pergi. Apakah kamu


mash berani kepadaku?"


Dias mengabaikan ancaman Andre sama sekali. Dia menampar wajah Andre lagi dengan keras


hingga membuat telinga Andre berdengung


"Kau akan mati. Aku benar-benar akan membunuhmu!"


Plak.


"Ayahku adalah bos geng serigala hitam, kamu pasti mati:


Plak

__ADS_1


"Aku membencimu.


Plok


"Aku... aku salah, jangan pukul aku, tolong biarkan aku pergi"


Setelah beberapa tamparan, pipi Andre membengkak dan seluruh wajahnya berubah menjadi


merah. Andre tidak berani menjadi sombong lagi, dia akhirnya tidak berhenti untuk memohon


belas kasihan Dias.


Saat ini, Andre memandang Dias seolah-olah melihat iblis. Iblis yang tidak takut terhadap apapun


bahkan akan latar belakang keluarganya


Andre merasa tidak berdaya untuk pertama kalinya. Dia bahkan merasa bahwa gelar Tuan Muda


Geng Serigala Hitam tidak lagi berguna.


"Bukankah kamu baru saja mengatakan bahwa ketika menghadapi musuh yang kuat, kamu lebih


baik mati daripada menyerah?"


Dias memandang Andre yang memohon belas kasihan kepadanya dengan jlk.


"Jika aku tidak pensiun, orang-orang sepertimu tidak akan kubiarkan hidup barang tiga detik


saja" Dias menendang Andre ke tanah lalu berkata dengan dingin, "Tapi saat ini kau masih


beruntung karena masih bisa menghindari kematian"


Sepuluh menit kemudian, Dias membawa Retno keluar dari Hotel Aston. Ketika Dias berjalan


keluar pintu, dia melihat kembali ke arah jendela di lantai lima.


Dias melihat ke arah tiang panjang yang mencuat dari jendela. Di atasnya telah tergantung


seorang pria telanjang yang wajahnya bengkak sebesar kepala babi.


Kecuali sepotong kain yang melewati ketiak yang menggantungnya di tiang, tidak ada sehelai


pakalan yang menutupi pria itu, benar-benar memperlihatkan penampilan terburuknya.


Terutama serangga kecil yang berada di antara kedua kaki itu terlihat sangat kecil.


"Wow, saya pernah nelihat pakaian mengering, tapi saya belum melihat orang yang mengering"


Di antara orang yang lewat, seseorang akhirnya muncul di lantai ima dan berseru.


Orang-orang di bawah Hotel Aston melihat pemandangan itu langsung bereaksi dan semua


melihat ke "pemandangan menakjubkan" di lantai 5. Mereka semua mengeluarkan ponsel mereka


untuk mengambil gambar lalu menyebarkannya dengan cepat di lingkaran teman.


"Wajah anak ini begitu besar karena bengkak sehingga hanya matanya yang dijahit."


"Cerita yang aneh, pasti berita utama besok


"Slapa yang begitu kejam menggoda orang seperti ini, tapi aku sangat menyukainya


Kerumunan tersebut riuh membicarakan kejadian itu. Seorang anggota Geng Serigala Hitam


yang bertanggung jawab menjadi supir Andre juga berdiri di tengah kerumunan, dia juga


menyaksikan pemandangan itu dengan gembira.


Tapi tiba-tiba dia baru menyadari bahwa lelaki telanjang itu terlihat tidak asing. kemudian dia


melihat ke jendela lantai lima, kamar yang menghadap ke timur, yang ketiga


"Brengsek, bukankah itu tuan muda?"


Para anggota Geng Serigala Hitam bereaksi dan bergegas ke atas.


Dias melihat ke arah kerumunan yang semakin banyak sambil melirik Andre yang tergantung di


udara dan sedikit bergoyang mengikuti angin. Dias kemudian meletakkan Retno di sepedanya


lalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2