
Bab 10
Taufan berjalan memasuki ruangan berkumpul para sistem, di sana semua sistem berkumpul untuk membahas masalah yang terjadi.
"Selamat sore semuanya," sapa Taufan, para sistem langsung berpaling padanya.
"Selamat sore," jawab beberapa sistem.
"Pemain mu lumayan hebat juga rupanya," sindir sistem kelima yakni Tako sih kucing jantan penghasut.
Taufan menaikan sebelah alisnya mendengar ucapan itu, "Pemain ku? apa kau menyelidiki tentang dia?"
"Kenapa kau bertanya seolah aku adalah penjahat? pemain mu itu … bisa di mimpi takdir bukan karena karma baik bukan, justru karena itu aku curiga dan mencari tau tentangnya. Bisa saja dia penyusup dari organisasi hitam, bahkan melawan pemain lawan dia sepertinya tidak kesulitan atau mungkin diberi kemudahan."
"Hahahah. Kau sangat aneh, senior. Dia datang bukan karena karma baik? bagaimana mungkin, dia bisa ke sini karena tertabrak mobil hingga mengalami koma. Lalu kau bilang dia penyusup karena murni mencemaskan mimpi takdir atau hanya cemburu karena pemain ku lebih berbakat dari pemain mu, bagaimana senior?"
"Jangan besar kepala dulu, sistem rendahan," cemooh sistem kedua, Luana sih harimau betina pada Taufan.
"Senior Lu, Senior Tako yang memulai segalanya kenapa malah mencemooh ku? fakta jika pemain ku bi …."
Byur!
Luana menyiramkan segelas teh hangat pada Taufan, "Hanya pemain level A, apa yang perlu dibanggakan? bersama mu semua pemain hanya akan menjadi tidak berguna."
"Hentikan kalian," teriak Stefon. Semua sistem langsung diam tertunduk.
"Semua sistem mimpi takdir sudah aku perbaiki. Tapi ada satu hal yang perlu aku katakan pada Taufan, kau harus menjaga jarak dengan protagonis pria dalam novel. Kenapa? karena kesadaran pria itu adalah majikan," lanjutnya membuat semua sistem nyaris tidak percaya.
"Kenapa majikan masuk ke dalam mimpi takdir? ini bukan sesuatu yang bisa dibiarkan oleh kami," sanggah Ron menatap tajam Taufan, "Terlebih lagi dalam novel yang dijalani oleh sistem kelas rendah."
"Dia akan menjadi sistem level tinggi tidak lama lagi, karena pemain yang dia dampingi olehnya adalah … pemain lebih cerdas dari pemain sistem pertama." tegas Stefon.
"Bagaimana mungkin, pengawas?" Ron mendongkak untuk menyampaikan protesnya. Namun ia terkena serangan petir, karena mendongkak tanpa izin pengawas atau majikan adalah pelanggaran bagi sistem.
"Cukup sampai di sini, kembali bertugas." Stefon mengakhiri pesannya dan semua kembali tenang.
__ADS_1
Taufan pun bergegas meninggalkan ruangan untuk menemui Sera, ia melihat Sera saat ini sedang duduk merajut sesuatu.
"Ah!" Sera menyadari keberadaan Taufan.
Ia tersenyum kecil seraya berkata, "Selamat datang, tupai bau berdasi."
"Dia adalah pemain yang istimewa? sulit dipercaya wanita kasar ini istimewa," batin Taufan merasa lucu sendiri.
"Taufan tolong sembuhkan bengkak di pipi ku, Camelia tadi menampar ku," ucap Sera.
"Menampar mu? sebenarnya apa yang kau lakukan saat aku tidak ada?" teriak Taufan yang hanya mendapatkan senyuman dari Sera.
*****
Keesokan harinya ….
"Saya sudah bilang ini bukan untuk anda," tegas Ghaisan karena Camelia lagi-lagi datang mengganggunya.
"Berikan pedang itu pada ku, kenapa kau keras kepala?" Camelia kali ini sudah tidak sabar, ia pun memutuskan untuk merebut pedang itu dengan paksa.
"Kembalikan …." Ghaisan berusaha merebut pedang itu, Camelia menedang kakinya agar diam untuk beberapa saat.
"Bagus pemain, sesekali kau harus menggunakan kekuasan dari pada bersikap manis," batin Dora merasa puas, ia juga sudah tidak senang pada Ghaisan.
"Pemain, kau mau diam dan mengamati sampai kapan? pria itu kesakitan, kau lihat kan?" tanya Taufan pada Sera, pasalnya mereka sudah sejak tadi berada di atas pohon dekat kamar Ghaisan.
"Kita akan ke sana saat Camelia pergi, harus ada kesan baik dimata Ghaisan," jawab Sera. Taufan tidak berkata apa apa lagi, karena dia sudah berjanji akan patuh mendengarkan rencana Sera.
"Sebagai hukuman telah membuat ku kesal maka kau akan … dikirim ke tempat cuci baju," ucap Camelia. Ia kemudian pergi membawa pedang Ghaisan.
"Gawat! gawat! wanita itu sangat berbahaya, bagaimana ini? aku tidak ku …."
"Tuan Ghaisan," panggil Sera, ia berlari mendekati Ghaisan yang terbaring ditanah, "Kau baik-baik saja?"
Ghaisan tidak menjawab ia malah menggegam erat tangan Sera, "Kau selalu muncul saat keadaan ku memburuk, apa kau malaikat yang dikirim tuhan?"
__ADS_1
"Apa yang anda katakan? Aku Sera, murid baru ketua sekte. Hari itu maafkan aku karena pergi tanpa mengatakan apa pun, tapi kenapa kau bisa ada di sini?"
"Eh! jadi kau benar-benar manusia hidup. Syukurlah, aku tidak masalah saat kau pergi karena kau sekarang ada dihadapan ku. Aku sudah mencari mu selama ini, kau tahu ada yang aneh dengan Camelia. Dia meniru kata-kata mu saat itu, aku pikir dia wanita berhati lembut dan kenyataannya dia berbahaya. Dia sudah menipu banyak orang dengan si …."
"Ssttt, aku tahu jadi jangan teruskan atau ada yang akan mendengarkan mu. Sekarang ikutilah aku!" Sera menarik tangan Ghaisan, keduanya pergi dengan cara sembunyi-sembunyi menuju kamar Dallin.
Tok tok tok ….
"Dallin, ini aku," ucap Sera dari luar kamar, tidak lama Dallin keluar dengan jubah mandi.
"Kenapa kau datang ke mari?" tanya Dallin dengan ekspresi datar. Ia bukan tidak senang Sera datang, hanya saja jika mengingat kejadian Sera ditampar sementara dia tidak bisa berbuat apa pun membuatnya malu bertemu Sera.
"Bantu aku, sembunyikan dia di kamar mu." Sera mendorong Ghaisan dengan lembut ke dalam kamar.
"Tu-tunggu dulu." Dallin mencegahnya, "Siapa pria ini? kenapa harus di kamar ku?"
"Dia adalah teman ku, tolong bantu aku hanya untuk malam ini saja biarkan dia di kamar mu," pinta Sera.
"Dia adalah pria yang bersama Camelia kan? kenapa bisa jadi teman mu? jangan harap dia bisa masuk ke kamar ku!"
"Dia terpaksa bersama senior, senior mengawasinya jadi dia harus bersembunyi dulu. Ceritanya panjang jadi akan ku jelaskan nanti."
"Sera, kau ini bodoh atau apa. Dia terluka kau peduli, sementara diri mu terluka siapa yang akan peduli bahkan aku tidak bisa melakukan apa pun," batin Dallin.
"Pria ini mau atau tidak? aku akan membawa Ghaisab ke kamar ku kalau dia menolak nanti," batin Sera.
"Kalau kau tidak mau, dia bisa juga menginap di kamar ku malam ini." Sera sengaja mengancam Dallin, karena ia tahu tingkat rasa suka Dallin padanya sudah semakin banyak.
"Kata siapa aku tidak mau, masuklah." Dallin dengan cepat menarik Ghaisan ke dalam kamarnya, "Kau bisa pergi sekarang, sampai nanti."
Brak!
Dallin membanting pintu tepat dihadapan Sera, masalah bagian Ghaisan sudah teratasi ia hanya tinggal menunggu besok pagi untuk rencana berikutnya.
*****
__ADS_1
Bersambung.
Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘