Protagonis Bertopeng

Protagonis Bertopeng
Bab 8 Kenapa belum ada?


__ADS_3

Bab 8


Semua murid bertarung dengan baik, para iblis bermunculan seolah tidak ada habisnya. Dari semua murid yang bertarung, hanya Sera yang tidak menggunakan aura pedang.


"Sial!" para murid mulai jengkel karena tidak ada titik terang dalam pertarungan ini.


"Bukankah dia cukup hebat, bisa bertahan sejauh ini tanpa aura pedang," batin Dallin tidak bisa berhenti merasa kagum pada Sera.


"Aakkhhh …." Taufan menjerit karena stres berlebihan, "Pemain alurnya tidak begini. Kau jangan bertarung terlalu lama, kau gadis lemah yang seharusnya akan ditolong Dallin."


Sera diam saja, ia tidak bisa bicara dalam keadaan seperti ini.


"Pemain, apa kau mendengarkan aku? kau bisa saja mendapatkan hukuman saat ini jika membuat kesalahan," ancam Taufan.


Mendengar kata hukuman Sera terkejut karena sistem tidak melihat kondisinya saat ini. Oleh karena itu, Sera salah menampak saat melangkah mundur akibatnya ia terperosok ke dalam jurang.


"Hei!" Dallin berteriak melihat Sera. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun untuk menolong Sera karena dirinya sendiri terjebak.


"Pemain …." Taufan berteriak memanggil Sera didasar jurang yang gelap.


"Ini salah ku, bagaimana jika nanti dia dimakan oleh iblis? sialnya aku," ucap Taufan pada dirinya sendiri.


"Pemain, di mana kau? apakah kau mendengarkan ku?" teriak Taufan berharap ada jawaban dari Sera.


Tidak lama raut wajah Taufan kembali ceria saat melihat pedang Sera berada ditanah. Namun, keceriaan itu hilang saat ada banyak darah didekat pedang tersebut.


Taufan dengan cepat memeriksa lokasi Sera, sayangnya sistem mengalami gangguan.


"Kenapa harus sekarang? bagaimana uni lokasi pemain tidak terlacak," kesal Taufan sambil mengigit sapu tangannya, "Eh! jika pedangnya ada di sini maka …."


Taufan terbang ke atas pohon, di sana ia mendapati Sera dalam keadaan terluka parah dan sedang menggunakan bajunya untuk membalut luka.


Sera jatuh ke atas pohon dan lengannya tertusuk oleh kayu runcing yang memang tumbuh pada kayu tersebut, luka parah dari itu membuat Sera tidak bisa menggunakan tangan kirinya untuk sementara. Karena cemas dengan darah dari lukanya beberapa saat lalu Sera sampai lupa kalau dia telah kehilangan pedangnya.


"Pemain …." Taufan terbang mendekati Sera.

__ADS_1


"Jangan mendekat." Sera mengacungkan ranting pohon ke wajah Taufan, Taufan pun terdiam seketika.


"Pemain, luka itu bisa disembuhkan oleh sistem. Jangan khawatir," ucap Taufan berniat untuk memberikan bantuan.


"Lupakan saja! tidak ada yang akqn berakhir baik jika menyangkut kalian. Apa masuk akal saat kalian memberikan misi tanpa syarat. Tapi masih saja ingin semua hal berjalan sesuai alurnya, aku bingung entah apa masalahmu dengan rencanaku," balas Sera, ia membuat Taufan tersadar jika ia terlalu menuntut pada Sera.


"Sial! ini hanya mimpi. Tapi rasa sakitnya begitu nyata," batin Sera.


"Anu …." Taufan ingin mengatakan sesuatu hanya saja tatapan Sera membuatnya terintimidasi.


"Pergilah! kau bisa kembali jika ingin memberikan aku hukuman, aku tidak membutuhkan mu saat ini. Sistem dan pemain sampai akhir tetap tidak akan berteman, bagi kalian kami hanyalah alat dan bagi kami kalian hanyalah sesuatu yang tidak nyata," pungkas Sera.


Setelah mengatakan itu, Sera langsung turun dari pohon untuk mengambil pedangnya kemudian ia pergi mencari jalan menuju keatas jurang.


Bug!


Taufan terkulai lemas setelah Sera pergi, kata-kata Sera mengingatkan Taufan akan pemain yang pertama kali menjalin kontrak dengannya. Pemain itu meninggal karena Taufan terlalu percaya padanya dalam membuat rencana, lalu ia putus asa karena rencana mereka gagal dalam salah satu novel dan pada akhirnya ia membatalkan kontrak. Ia pun menerima hukuman dari mimpi takdir, yakni kembali ke dunia nyata tanpa bantuan medis padahal dirinya mengidap kanker stadium 3.


"Huwa …." Tangis Taufan pecah dalam sekejab, "Bukan itu maksud ku, aku hanya ingin kau tidak berjuang terlalu keras sampai waktu yang tepat tiba. Rencana mu adalah yang terbaik, hanya kau … hanya kau pemain yang tidak bergantung pada sistem. Aku hanya menakuti mu saja saat itu. Maafkan aku pemain, maafkan aku."


"Lain kali minta maaf didepan orangnya. Maafkan aku juga …." Sera mengendong Taufan lalu menempelkan dahi mereka, "Aku juga salah karena berkata kasar pada mu, Taufan."


"Ya." Taufan memeluk Sera, ia menyembunyikan wajahnya dileher Sera.


"Taufan bisa kau sembuhkan tangan ku? ah! bantu aku juga naik ke atas," pinta Sera. Taufan hanya tersenyum dan menyetujuinya.


Sera berjalan keberbagai sudut dalam hutan untuk mencari jalan keluar, Taufan mengatakan jika ia tidak bisa membantu Sera sekarang karena ada masalah pada sistemnya. Sera sebenarnya kesal. Tapi karena ada kompensasi maka dia diam saja, ia terlalu lelah berjalan membuatnya diam.


"Bau apa ini." Seorang wanita cantik berjalan keluar dari balik pohon yang  letaknya tidak jauh dari Sera dan Taufan.


"Dia iblis tingkat rendah dengan akal sehat, pemain kau harus menggunakan aura pedang padanya." Taufan memberikan peringatan pada Sera karena aura iblis wanita itu berbeda.


"Manusia? bau mu membuat ku lapar. Aku akan memakan mu tanpa mengatakan apa pun lagi. Diamlah tanpa memberontak." Iblis itu mengarahkan tangannya ke depan seiringan dengan itu akar-akar pohon dalam jumlah banyak keluar dalam tanah mengarah pada Sera.


"Aura pedang kehampaan, tebasan kilat." Sera mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat menebas semua akar yang datang kearahnya.

__ADS_1


"Pemburu? sial! kenapa bau mu tidak sama dengan pemburu lain? kau menipu ku? tapi lupakan saja, kekuatan ku tidak sama dengan kekuatan mu yang busuk itu." Sang iblis menerjang kearah Sera, kuku jarinya memanjang. Sera menangkis serangan itu dengan pedang. Namun pedangnya berkualitas rendah miliknya langsung rusak, kuku iblis itu sampai menggores lehernya.


"Belum berakhir." Iblis itu tersenyum saat Sera menghindarinya. Sera yang tidak sadar berada dalam bahaya hanya terdiam saat, 3 akar berujung runcing muncul dari kaki iblis itu mengarah ke kepala Sera.


"Perubahan." Taufan mengambil wujud manusia kemudian melesat kearah Sera, ia memeluk Sera lalu mereka terbang ke atas pohon.


"Terbang? ck! cara terbang macam apa itu," kesal sang iblis.


"Taufan kau …. bagaimana bisa?" Sera masih tidak percaya jika pria tampan berambut coklat muda ini adalah Taufan.


"Kesempatan," ucap Taufan mendorong Sera ke bawah.


Sera terkejut setengah mati karena Taufan mendorongnya saat ia sendiri tidak tau harus berbuat apa, ia menyerang tanpa pedang bagaimana mungkin.


"Tanpa pedang, jantung," teriak Taufan membuat Sera teringat jurus ketiga aura pedang kehampaan.


"Aura pedang kehampaan." Sera menempelkan kedua tangannya kedepan, "Angin luka tanpa pedang." 


Sera menebas kearah iblis itu diringi hembusan angin kencang. Sang iblis yang tidak bisa mendengar suara Taufan tidak tau jika dirinya telah diserang, ia hanya berdiri setelah angin itu menerpa wajahnya.


"Apa yang kau laku … eh!" tiba-tiba tubuh iblis itu terbelas menjadi dua, bahkan jantungnya ikut terbelah.


Serangan Sera seperti menggunakan pedang yang tidak terlihat, hanya ada hembusan angin dari jurus itu tanpa disadari oleh siapa pun jika serangan itu berbahaya sampai ia mengenai targetnya.


Iblis itu menjerit kesakitan sampai tubuhnya menghilang jadi debu. Pengalaman pertama Sera membunuh seseorang tetap terasa sakit dalam hati, walau pun itu adalah iblis.


"Ayo!" Taufan memeluk Sera dari belakang lalu membawanya terbang ke atas jurang.


"Tangan ku tiba-tiba terasa sakit lagi," batin Sera.


*****


Bersambung.


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘

__ADS_1


__ADS_2