Protagonis Bertopeng

Protagonis Bertopeng
Bab 4 Langkah awal.


__ADS_3

"Kenapa kau menatap ibu seperti itu?" sang ibu berusaha tetap terlihat tenang.


Melihat reaksi ibunya sudah cukup membuat Sera merasa senang, dalam sekejab ia merubah raut wajahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku, ibu. Aku terlalu senang melihat ibu masuk sampai tanpa sadar aku mendekati ibu," jawab Sera dengan mata berkaca-kaca.


"Eh! ada apa ini? apa tadi aku berhalusinasi melihat ada yang aneh darinya? Ah ya, Sera tidak mungkin berubah, hanya aku yang butuh istirahat lebih," pikir sang ibu. Ia melenggang pergi tanpa mengatakan apa pun.


"Ini menyenangkan," batin Sera menikmati aktingnya.


Setelahnya Sera keluar dari kediamannya dengan pakaian lusuh, itu adalah satu-satunya pakaian terbagus dalam lemari dan tetap terlihat tidak layak di pakai.


"Taufan, berikan aku uang," perintah Sera.


Urat kesal Taufan serasa akan putus mendengar kata itu untuk pertama kalinya, lebih mengesalkan lagi kata itu keluar dari mulut Sera.


Tanpa berpikir panjang Taufan menolak dengan nada ketus, "Tidak ada."


"Apa kalian sangat miskin sampai semua hal harus di usahakan pemain?"


"Hah? di mana urat malu mu mengatakan itu setelah meminta aku memperbaiki wajah mu beberapa saat lalu."


"Kenapa kau pelit sekali? memberikan aku uang atau apa pun itu tetap menguntungkan kalian."


"Pemain, level mu mungkin tinggi. Tapi belum ada bukti nyata jika kau bisa menang, begini saja jika kau bisa menang maka aku akan memohon pada majikan untuk menyediakan semua kebutuhan mu. Tawaran yang bagus bukan?"


"Apa tidak ada pemain lain meminta hal serupa?"


"Tentu saja tidak ada, mereka semua masih waras tidak seperti mu."


"Mereka bodoh bukan waras karena tidak tahu memanfaatkan sistem," balas Sera. 


Sikap Sera yang seperti ini membuat Taufan jadi tidak habis pikir kenapa bisa dia menjadi pemain level tinggi, bahkan Taufan tidak melihat ada aura protagonis wanita darinya.

__ADS_1


"Pengkhianatan bisa membuat orang baik menjadi jahat." Taufan teringat ucapan sistem tertinggi, ia adalah sistem yang pemainnya selalu mendapatkan kemenangan. Ia sistem yang di kagumi Taufan.


"Pemain, apa kau pernah dikhianati?" tanya Taufan, langkah Sera mendadak terhenti. Walau pun ia tidak lagi mencintai Kesha bahkan sudah membalaskan dendamnya, Sera masih saja merasa sakit jika mengingat apa yang Kesha lakukan dibelakangnya padahal dia adalah cinta pertama Sera.


"Pelanggaran kontrak, berikan kompensasinya nanti," jawab Sera seraya berjalan kembali.


Taufan menghela nafas berat karena dia lupa dalam aturan sistem tidak bisa menyelidiki atau bertanya tentang kehidupan nyata pemain. Tapi keberadaan Sera di sini membuat Taufan penasaran, seseorang dengan karma baik akan mendapatkan tempat dalam mimpi takdir agar ia dapat mengulang kehidupan dan mendapatkan pengobatan terbaik.


Sedangkan Sera mengalami kecelakan besar bukan karena karma baiknya, Taufan sampai harus berbohong jika keberadaan mereka ada untuk membantu orang dengan kecelakaan besar karena jika tidak, Sera tidak akan menerima kontraknya dan dia kehilangan pemain level tinggi.


"Kita sudah sampai," ucap Sera mengejutkan Taufan.


"Ini …." Taufan tidak percaya sekarang mereka berdiri di depan kediaman penempa pedang yang suatu hari nanti akan terkenal saat hasil tempaannya di kenal oleh dunia luar, seharusnya dalam novel yang berdiri di depan kediaman ini adalah protagonis wanita.


"Tunggu pemain!" Taufan menghalangi jalan Sera dan menghentikan waktu diarea sekitar mereka, "Apa maksudnya ini? kenapa kau bisa tahu lokasi karakter pendukung yang penting seperti Ghaisan?"


"Rahasia. Menepilah." Sera mendorong Taufan dengan dua jarinya kemudian mengetuk pintu gerbang kediaman Ghaisan.


Tok tok tok ….


"Apa anda adalah Tuan Ghaisan yang menempa pedang?" tanya Sera. Ghaisan hanya mengangguk, ia terlalu malu untuk berbicara saat melihat wajah cantik Sera.


"Kalau begitu … permisi." Sera menerobos masuk ke dalam kediaman Ghaisan yang kecil dan sederhana.


"Nona, jika wanita secantik anda masuk ke kediaman saya takutnya akan membuat anda jijik. Jika perlu pedang maka pergilah ke tempat penempa terbaik, buatan saya masih terlalu buruk untuk dibeli orang," ucap Ghaisan. Sebagai penempa pedang yang buruk rupa, Ghaisan bukan hanya sekali menerima hinaan entah itu dari sesama penempa pedang atau pembeli yang datang.


"Bagaimana bisa gadis berpakaian lusuh seperti ku bisa merasa jijik? lagi pula sama seperti mu aku juga tinggal di tempat yang kecil," jawab Sera membuat Ghaisan tersadar jika pakaian Sera tidak jauh lebih buruk darinya. Namun wajah cantik Sera menutupi penampilannya, entah kenapa Ghaisan tidak bisa memalingkan pandangannya dihadapan Sera.


"Ba-baiklah ayo masuk," ajak Ghaisan. 


Begitu kaki Sera menapak di dalam kediaman Ghaisan ia langsung terpukau, ada begitu banyak pedang sekaligus berbagai macam model dipajang pada dinding.


"Indahnya." Sera terkagum-kagum melihat semua pedang itu, "Orang bodoh macam apa yang membeli pedang buruk di pasar, dan mengabaikan pedang sebagus ini. Jika aku meminta ditempa satu pedang sabuk di sini maka … itu pasti akan menjadi sangat indah."

__ADS_1


Deg!


Untuk pertama kalinya ada orang menyukai bahkan sampai memujinya tanpa henti, itu membuat jantung Ghaisan berdetak tidak karuan.


"Pedang ini luar bisa hebat. Tapi yang bisa membuatnya terlihat seperti ini, jauh lebih hebat," gumam Sera. Namun terdengar jelas oleh Ghaisan. 


Tok tok tok


Tidak lama kemudian ada suara ketukan di gerbang masuk, Sera tersenyum karena ia sudah tahu siapa yang datang.


"Tolong tunggu sebentar, aku akan segera kembali." Ghaisan pergi terburu-buru, ia tidak mau membuat Sera menunggu lebih lama bahkan jika ditanya ia tidak mau meninggalkan Sera.


"Taufan, apa kau bisa menggunakan teleportasi?" tanya Sera, Taufan hanya mengangguk walau kebingungan.


*****


"Maaf nona, anda tidak bisa menerobos masuk begitu saja. Nona, tunggu sebentar!" Ghaisan berusaha mencegah seorang wanita cantik untuk masuk, jujur Ghaisan kebingungan karena tindakan wanita ini sama seperti Sera.


Begitu masuk ke dalam kediaman, Ghaisan tersentak karena tidak mendapati Sera di dalam.


"Indahnya." Wanita itu berteriak kagum menatap semua pedang Ghaisan dari tempat yang sama dengan Sera, "Orang bodoh macam apa yang membeli pedang buruk di pasar, dan mengabaikan pedang sebagus ini. Jika aku meminta ditempa satu pedang sabuk di sini maka … itu pasti akan menjadi sangat indah."


Ghaisan semakin tidak mengerti apa yang terjadi, mulai dari tindakan, sikap, bahkan ucapan mereka sama.


"Aku tidak mungkin berhalusinasi tadi. Nona itu nyata, senyumannya nyata, lantas ke mana dia? kalau dia keluar dari pintu depan seharusnya aku bisa melihatnya? bagaimana ini, dan siapa wanita ini?" batin Ghaisan menjadi panik.


"Nama ku Camelia, aku akan membeli pedang buatan mu. Aku harap kau bisa memberikan satu untukku," ucap Camelia bertingkah imut. Camelia adalah nama dari protagonis wanita.


"Eh! ucapannya yang kedua tidak sama jadi nona tadi itu nyata. Aku harus mencarinya," pikir Ghaisan.


"Maaf!" ucap Ghaisan dengan nada meninggi pada Camelia, "Hari ini saya tidak menerima pelanggan."


Respon Ghaisan tidak seperti yang Camelia harapkan, seharusnya Ghaisan merasa terharu dengannya sama seperti dikehidupan sebelumnya.

__ADS_1


*****


Silakan tinggalkan jejak and dukung selalu author, karena dukungan kalian sangatlah berarti😘


__ADS_2